Seina adalah gadis cantik yang bercita-cita menjadi aktris terkenal. Setelah lulus sekolah, hidupnya terasa sempurna ketika dia berhasil debut di dunia hiburan. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Di puncak awal kariernya, Seina justru dibunuh oleh seorang haters yang iri padanya.
Saat membuka mata, Seina tidak lagi berada di tubuhnya sendiri. Dia terbangun di tubuh Serina Elvano, seorang wanita egois yang dibenci banyak orang. Lebih mengejutkannya lagi, dia berpindah tubuh saat Serina sedang berjuang melahirkan anaknya.
Serina harus menjalani kehidupan baru sebagai istri Cristian Elvano, pria dingin dan berkuasa yang sama sekali tidak mencintai istrinya. Tidak hanya diabaikan oleh sang suami, Serina juga diperlakukan rendah oleh keluarga Elvano karena sikap buruknya di masa lalu.
Dia bertekad mengubah hidupnya, merebut kembali harga dirinya, dan membuat semua orang yang meremehkannya menyesal, terutama Cristian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Hening.
Seluruh ruangan seperti membeku dalam satu tarikan napas. Gladis yang sedari tadi tersenyum lebar, seketika kaku. Kemenangan di wajahnya luntur digantikan bingung. Itu… bukan reaksi yang dia harapkan.
Jesika bahkan sampai menggigit bibirnya, matanya melebar tak percaya dengan kata-kata yang di berikan oleh Serina barusan.
"Menceraikanmu?" Cristian mengulang pelan, seolah kata itu asing di telinganya. Tatapannya menggelap, menatap Serina yang kini menggendong Arcelio erat, seakan bocah itu satu-satunya tamengnya.
Serina tidak menunduk. Air matanya masih menggenang, tapi punggungnya tegak. Peran ‘istri yang tersakiti’ ia mainkan sempurna. Toh, selama ini dia memang selalu sendirian dalam pernikahan ini.
"Ya," suara Serina serak, tapi jelas. "Aku capek, Cris. Capek jadi wanita yang tidak pernah kamu pilih. Aku tidak akan menghalangi kalau hatimu memang untuk Gladis… atau siapa pun."
Kening Cristian makin dalam kerutnya. Dia tidak suka melihat Serina seperti ini. Bukan karena kasihan. Tapi karena… tidak seharusnya Serina yang melepaskannya lebih dulu.
"Apa kamu pikir aku akan langsung setuju?" Suara Cristian akhirnya keluar, rendah dan dingin.
Serina mengangkat wajah. Senyum sendunya makin dalam. "Tidak. Tapi aku tidak akan memohon juga, aku hanya memberimu kelonggaran."
Mochimochi di dalam kepalanya berbisik lagi. "Apa yang kamu lakukan?"
"Memainkan kartu korban. Pria macam Cristian benci ditinggal duluan, dia sekali-kali harus di beri pelajaran."
Cristian mengepalkan rahangnya. Tangan kosongnya mengepal di sisi tubuh. Arcelio sudah tidak di gendongannya lagi. Dan itu… terasa salah.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, Cristian merasa kehilangan kendali.
Dia yang biasanya membuat orang lain berebut perhatiannya, kini ditinggalkan duluan. Oleh istri yang selama ini dia anggap ‘pernikahan hampa’.
"Coba ulangi," katanya pelan, hampir berbisik. "Katakan lagi kalau kamu mau aku menceraikanmu."
Serina menatapnya lama. Lalu dia tersenyum. Senyum yang tidak lagi rapuh, tapi tajam.
"Dengan senang hati, Tuan Cristian. Ceraikan aku."
Raut wajah Cristian sangat keruh, seperti kobaran lumpur menempel di wajahnya.
Serina kembali berkata, "Aku sadar kesalahanku dulu yang menjebakmu tidak termaafkan, aku tidak meminta kamu untuk memaafkan aku tapi jika kamu ingin pernikahan kita berakhir maka ceraikan saja aku. Aku tidak akan menghalangimu lagi."
Cristian mematung melihat tatapan istrinya yang sarat akan luka, untuk pertama kalinya dia melihat tatapan seperti itu. Sebab selama ini Serina selalu menunjukan raut ceria dan bahagia jika berada di dekatnya.
Apakah dia baru saja melakukan kesalahan sampai membuat istrinya berpikir untuk cerai? Kenapa hatinya merasa tidak terima dengan permintaan itu? Dan kenapa dia mulai cemas jika Serina benar-benar meninggalkannya.
"Kenapa kamu mengucapkan kata-kata seperti itu? Apa kamu tidak memikirkan anak di gendonganmu?" Tanya Cristian.
Serina tersenyum kecut. "Jangan risau, aku akan membawa Arcelio begitu kamu menceraikanku dan aku berjanji tidak akan mengganggumu atau keluargamu lagi. Kamu bisa hidup sesuka hatimu, dan menemukan kebahagiaan yang sempat aku rusak."
Deg.
Anehnya Cristian semakin gelisah mendengar jawaban Serina yang begitu tenang, seakan dia sudah menyerah dengan pernikahan mereka.
Merasa percakapan mereka telah usai, Serina berbalik menuju arah tangga yang akan membawanya ke dalam kamar. Diam-diam dia menyunggingkan senyum puas begitu melihat keluarga Elvano diam tak berkutik.
"Mereka pikir bisa meremehkanku lagi," Serina terkekeh lirih. "Aku tidak akan pernah menjadi Serina yang bodoh seperti dulu."
"Apa yang kamu lakukan, Kak?!" Sentak Salsa pada Cristian.
Awalnya dia tidak ingin terlibat dengan perseteruan itu, tapi melihat tidak ada yang membela Serina membuat dirinya tidak terima dengan perlakuan kakaknya yang terkesan acuh pada Serina.
"Aku tidak tahu," jawab Cristian linglung.
Salsa tercengang melihat wajah kakaknya yang syok berat. "Tidak tahu? Apa kamu benar-benar berniat membuang istrimu dan menikahi wanita lain?"
Seketika Cristian tersadar dari lamunannya, dia menatap Salsa lalu keluarga Gladis dengan dingin.
"Keputusanku sudah bulat, aku tidak akan menikahi Gladis. Entah dia mencintaiku atau tidak, tapi aku sama sekali tidak menginginkannya." Kata Cristian tajam.
Gladis tak menyangka akan mendengar penolakan dari Cristian, semua usahanya selama ini untuk mendekati pria itu ternyata sia-sia. Air mata mulai berjatuhan di pipinya yang memerah.
"Kenapa... Cris?" Cicit Gladis. "Kenapa kamu melakukan ini padaku?"
Cristian menatapnya dingin. "Karena aku sudah beristri, dan kamu adalah orang yang berniat menghancurkan rumah tanggaku."
.. pelan pelan sajaaaaa 🎵🎶🎵
mulai berpihak ke serin kamu cris🫶