NovelToon NovelToon
In Between Us

In Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Hhj cute

Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.

Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.

Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.

Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 3

Di depan ruang operasi, kedua orang tua Natalie dan Nisa menunggu dengan cemas. Mereka berdoa agar operasi keduanya berjalan dengan lancar.

Setelah menungggu cukup lama, akhirnya dokter Rani keluar dari ruang operasi. Sarah dan suaminya menghampiri dokter Rani dengan cemas.

"Bagaimana keadaan anak-anak saya, dok?"

"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar."

"Alhamdulillah/Alhamdulillah."

"Tapi, untuk pasien yang bernama Naura apabila saat sudah sadar nanti kemungkinan akan merasakan nyeri di area sayatan akibat pasca operasi. Tapi bapak dan ibu tenang saja, bisa di tangani. Dan jika ada keluhan lainnya bisa langsung panggil saya."

Kedua orang tua Naura membuka mulutnya tak percaya. Mereka sebelumnya yakin kalau anaknya akan baik-baik saja. Tapi setelah mendengar penjelasan dokter Rani, keduanya sedikit ragu.

"Tapi, mereka baik-baik saja kan dok?"

"Benar buk. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter Rani.

......................

Di rumah Fabian, saat ini ia sedang menatap langit yang mulai menunjukkan bintang-bintangnya. Cahaya bulan menyinari balkon kamarnya. Ia berdiri di pagar balkon kamarnya, sambil meminum segelas air putih.

Jangan salah, meskipun minum air putih bukan berarti ia tak pernah minum-minuman lain. Terkecuali minuman yang mengandung alkohol. Karena bagaimanapun umurnya masih belum cukup untuk mengonsumsi minuman yang seperti itu. Meskipun umurnya sudah cukup pun, ia tak akan pernah menyentuh minum itu.

Fabian berulang kali menghela napas panjang. Mencoba menghilangkan perasaanya yang gusar.

"Lo lagi ngapain, sih Nata. Kenapa nggak ada kabar sekali. Gue kangen sama suara Lo …."

Pyarr!!

Suara pecahan gelas membuat Fabian memejamkan matanya sejenak. Tanpa melihatnya pun ia tahu apa yang sedang terjadi di bawah sana. Apalagi kalau bukan pertengkaran kedua orang tuanya. Ia sudah terbiasa mendengar bentakan-bentakan yang kedua orang tuanya lontarkan. Semua itu menjadi makanannya setiap hari. tiada hari tanpa pertengkaran.

Semua itu berawal sejak tiga bulan yang lalu, saat mamanya memergoki papanya yang sedang berselingkuh. Tapi papanya enggan mengakui kesalahannya. Hingga akhirnya mamanya pun turut mencari laki-laki lain untuk dia jadikan selingkuhannya. Kedua-duanya salah memang. Tapi tak ada satu pun yang bisa mengalah, mereka sama-sama meninggikan ego masing-masing.

Bukankah lebih baik keduanya berpisah saja kalau sudah seperti ini? Nyatanya tidak. Keduanya masih mempertahankan keluarga kecil mereka meskipun sudah hancur berantakan. Terkadang Fabian selalu berpikir, kenapa keduanya tidak saling memaafkan saja kalau sama-sama bersalah. Bukankah itu mudah?

Nyatanya itu semua tak semudah yang ia pikirkan. Orang dewasa sering kali mempertahankan hal-hal yang menyakitkan sekalipun hanya untuk saling menguatkan. Padahal kalau memang lelah, luruhkan saja. Tak perlu di pendam begitu lama. Toh, nggak semua orang kuat dengan perihnya kehidupan.

Fabian meluruhkan tubuhnya ke lantai, berpegangan pada besi balkon kamarnya. Salah satu tangannya memegang kalung yang Natalie berikan sebagai kalung persahabatan mereka bertiga. Ia menggenggam erat kalung itu di dadanya.

Wajahnya memerah menahan Isak tangis yang ia tahan sedari tadi, membuat urat-urat leher menonjol.

"Nata … Gue butuh Lo …."

......................

Di sisi lain, di rumah Nathan berbanding balik dengan keadaan rumah Fabian yang kacau. Justru di rumah Nathan lah yang paling hangat. Seperti saat ini, Nathan dan seluruh keluarganya sedang berkumpul di ruang tamu. Mengobrol sambil bercanda satu sama lain. Begitu hangat, bukan?

"Nathan, gimana sekolah kamu?" tanya Dewi, bunda Nathan.

"Semuanya baik-baik aja kok, Bun. Selagi Nathan yang tampan ini masih sekolah di sana, semuanya aman terkendali," ucap Nathan sedikit narsis, membuat Nara, adik Nathan mual di buatnya.

"Huek! Mual gue dengernya."

"Bunda, lihat!" adu Nathan pada bundanya, yang hanya di hadiahi dengan tawa ringan.

"Asal lo tau, ya. Abang mu yang tampan dan membahana ini sangat populer di sekolah. Lo tau cewek-cewek di sekolah saat ketemu gue gimana? Mereka antri cuma buat bisa ketemu sama gue," sombong Nathan.

"Halah, paling juga karena ada bang Fabian," ujar Nara.

Nathan menggelengkan kepalanya tak percaya." Wah, wah. Mencoreng nama baik Nathan nih, namanya kalau gini."

Nathan berdiri dari duduknya, menghampiri adiknya yang duduk di seberang. Membuat Nara was-was melihat. Abangnya yang berdiri. Tangan Nathan sudah siap-siap untuk menggelitik adiknya itu. Tapi belum sempat tangannya mendarat, Nara lebih dulu lari darinya. Membuat Nathan mau tak mau mengejar adiknya itu.

Malam itu, di rumah yang penuh kehangatan—sebuah keluarga saling bercanda dan tertawa menghilangkan penat. Berbagi kehangatan yang tak semua orang bisa dapatkan.

......................

Di ruangan bernuansa putih bau obat-obatan memasuki indra penciuman. Baunya yang khas, membuat siapa saja enggan untuk sekedar singgah. Ruangan yang hanya terdapat satu ranjang dengan kursi di salah satu sisinya membuat siapa saja merasa nyaman.

Di atas ranjang pesakitan, Natalie masih setia memejamkan matanya. Padahal matahari sudah menampakkan dirinya malu-malu melalui celah-celah jendela. Tapi tak sekali pun mengusik ketenangan Natalie.

Ia hanya sendirian di ruangan ini, tak ada yang menemani. Kedua orang tuanya masih ada di ruangan kembaranya semenjak ia keluar dari ruang operasi.

Jari telunjuknya bergerak secara perlahan. Matanya yang semula terpejam sedikit bereaksi. Seorang suster yang sedang memeriksa Natalie pagi ini menunggu dengan sabar. Saat melihat Natalie yang akan segera membuka matanya.

Secara perlahan netranya terbuka. Pandangannya sedikit buram. Cahaya yang menerobos masuk ke dalam retinanya membuat ia menyipitkan matanya. Hingga akhirnya, semuanya kembali normal. Suster yang semula memeriksa tersenyum ke arahnya dengan ramah.

"Saya … di mana …?" tanyanya lirih.

"Anda sekarang ada di ruang rawat setelah menjalani operasi."

"Mama … Papa …."

"Mama dan Papa anda ada di ruang sebelah. Mau saya panggilkan?" tanya suster itu dengan sabar.

Natalie menggelengkan kepalanya pelan. Ia tak ingin mengganggu kembaranya dengan kedua orang tuanya, meskipun ia sendiri butuh mereka ada di sisinya sekarang.

"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap suster itu lalu pergi meninggalkan Natalie sendiri.

Setelah kepergian suster, Natalie memposisikan tubuhnya untuk duduk bersandar. tangannya dengan gemetar meraih gelas yang ada di atas nakas. Sesekali ia meringis saat merasakan nyeri di area tubuhnya bekas operasi.

Seketika ia teringat dengan kembarannya. Bagaimana keadaan Nisa, apakah dia baik-baik saja? Natalie meraih handphonenya yang tersimpan di samping gelas. Saat ia membuka hpnya, banyak notif panggilan dan pesan dari Fabian dan Nathan. Tapi yang paling mencuri perhatiannya adalah pesan dari Fabian. Dengan segera ia menelpon sahabatnya itu.

"Halo, Nat. Ada apa?"

"Seharusnya gue yang tanya. Lo … nggak kenapa-napa kan?"

"Gue … nggak apa-apa kok."

Natalie mengernyitkan keningnya saat menyadari suara Fabian yang tiba-tiba berubah.

"Beneran? Lo nggak bohong, kan?"

"Gue … Nggak tau"

"Lo di mana sekarang?"

"Gue di taman."

"Gue ke sana sekarang."

"Jangan. Kata mama Lo, Lo nggak bisa di ganggu. gue nggak apa-apa, beneran."

"Jangan ke mana-mana.*

" Tapi—"

Belum sempat Fabian melanjutkan ucapannya, Natalie langsung mematikan panggilan mereka. Sekarang ia sedang memikirkan bagaimana caranya kabur dari rumah sakit. Jujur saja, ia benar-benar nggak betah terlalu lama berada di rumah sakit.

Dengan sedikit gemetar, ia menurunkan kakinya menyentuh lantai. Melepas infus yang terpasang apik di tangannya. Berjalan dengan tertatih meskipun menimbulkan sedikit nyeri di perutnya.

"Maaf ya sus, aku lepas infusnya," ucap Natalie di akhiri kekehan kecil.

Setelah berhasil keluar dari rumah sakit, Natalie menghentikan taksi di jalan. Dengan berbekal handphone dan uang yang ada di dompetnya ia menyusul Fabian di taman.

Setelah beberapa menit, akhirnya ia sampai di taman. Ia tahu, sahabatnya itu kalau ada masalah pasti datang ke taman ini. Natalie menyapu pandangannya ke area taman, hingga akhirnya ia melihat siluet sahabatnya yang sedang duduk sendirian di bawah pohon. Dengan pelan, ia berjalan menghampiri sahabatnya itu.

"Ian," panggil Natalie, sambil menepuk pundak sahabatnya itu.

.

.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!