Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Lantunan ayat suci Al-Qur'an yang mengalun merdu dari bibir Humairah perlahan terhenti saat suara gema adzan subuh mulai berkumandang, saling bersahutan dari masjid-masjid di sekitar area pasar kota.
Fathan dan Humairah menghentikan aktivitas mereka sejenak, menjawab panggilan adzan dengan khusyuk di dalam hati.
Setelah adzan selesai berkumandang, Fathan kembali berdiri tegak di depan sajadahnya sebagai imam.
Mereka melanjutkan ibadah dengan melaksanakan shalat subuh berjamaah.
Di fajar yang tenang itu, gerakan demi gerakan mereka lakukan dengan penuh ketakziman, mengharapkan ridha Allah atas babak baru kehidupan yang sedang mereka rintis.
Usai mengakhiri shalat dengan salam dan memanjatkan doa bersama, Humairah perlahan melipat sajadahnya.
Ia bergerak pelan, lalu melepaskan mukena putih bersihnya, menampilkan rambutnya yang hitam lebat dan wajah asrinya yang kini tampak jauh lebih segar.
Ia menatap Fathan yang sedang merapikan sarungnya.
"Abi..." panggil Humairah lembut, mencoba mencairkan suasana.
"Apakah Humairah sudah boleh mengajar hari ini? Anak-anak kemarin sepertinya sudah sangat rindu ingin setoran hafalan."
Fathan menoleh, lalu menggelengkan kepalanya dengan lembut namun tegas.
Ia mendekat dan mengusap pelan puncak kepala istrinya.
"Lusa saja ya, Sayang. Hari ini kamu istirahat total saja di rumah agar kondisimu benar-benar pulih seratus persen. Biar Abi yang bekerja dan mengurus urusan di luar hari ini," jawab Fathan dengan nada manja sekaligus protektif, tidak ingin menyia-nyiakan kesehatan istrinya yang baru saja membaik.
Tepat saat Humairah hendak membalas ucapan suaminya, terdengar ketukan pelan di pintu penghubung ruang tengah.
Tok... Tok... Tok...
"Ustadz...Neng Humairah..." suara Bibi Ningsih terdengar dari luar, memanggil dengan sopan.
"Maaf mengganggu, Bibi mau bertanya, untuk sarapan pagi ini ingin dimasakkan apa, ya?"
Humairah tersenyum kecil. Ia bergegas melangkah menuju pintu dan membukanya, mendapati Bibi Ningsih yang sudah rapi dengan celemeknya.
"Biar saya saja, Bi, yang memasak untuk sarapan dan bekal untuk Abi hari ini," ucap Humairah dengan nada ramah, langsung menolak halus tawaran tersebut.
Sebagai seorang istri yang ingin berbakti sepenuhnya, ia ingin masakan pertamanya di rumah ini mengalirkan berkah untuk suaminya.
"Bibi tidak perlu repot memasak. Bibi cukup temani saya ke pasar saja sekarang untuk belanja bahan-bahannya. Bagaimana, Bi?"
Bibi Ningsih sempat tertegun melihat kemandirian dan kelembutan nyonya mudanya itu, lalu dengan cepat menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
"Oh, baik, Neng Humairah. Bibi siap menemani ke pasar depan!"
Fathan yang sejak tadi menyimak percakapan di ambang pintu hanya bisa tersenyum takjub melihat semangat sang istri.
Meski hatinya masih diliputi rasa posesif untuk terus melindungi Humairah dari rasa lelah, ia tidak ingin mematikan binar kebahagiaan yang baru saja kembali di wajah wanita itu.
Fathan segera melangkah masuk ke dalam kamar, mengambil dompet kulitnya di atas nakas, lalu kembali menghampiri Humairah.
Ia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan menyodorkannya langsung ke jemari istrinya.
"Ini untuk belanja hari ini, Sayang," ucap Fathan memberikan nafkah untuk belanja dengan tatapan penuh tanggung jawab.
Humairah menunduk, menatap lembaran uang di tangannya lalu terbelalak kecil.
"Terima kasih, Abi. Tapi sepertinya ini terlalu banyak kalau hanya untuk belanja menu sarapan," ucap Humairah merasa sungkan karena jumlahnya yang jauh melampaui perkiraan belanja dapur.
Fathan terkekeh pelan, lalu menggenggam jemari Humairah agar uang itu tetap tersimpan aman di sana.
"Tidak apa-apa, Humairah. Gunakan saja. Sisanya untuk kamu beli kue kesukaanmu atau pakaian baru yang kamu inginkan. Jangan hemat-hemat untuk dirimu sendiri, ya?"
Mendengar perhatian suaminya yang begitu melimpah, Humairah menganggukkan kepalanya dengan patuh seraya mengulas senyum manis.
Setelah berpamitan dan mencium punggung tangan Fathan, Humairah segera bersiap memakai hijab instannya dan melangkah menuju ke pasar kota yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari rumah mereka, ditemani oleh Bibi Ningsih yang membawa keranjang belanjaan.
Suasana pasar pagi itu sangat ramai dan riuh oleh aktivitas jual-beli.
Humairah melangkah anggun, memilah bahan makanan dengan teliti.
Rencana menunya pagi ini sudah bulat; ia ingin membuat hidangan spesial untuk mengapresiasi kerja keras suaminya.
Humairah membeli daging kambing muda yang segar untuk membuat nasi kebuli kesukaan Fathan, memastikan rempahnya nanti meresap sempurna.
Tidak hanya itu, ia juga membeli beberapa potong kue basah tradisional seperti jajan pasar untuk camilan di rumah, serta bumbu-bumbu dapur lainnya yang mulai menipis.
Setelah semua barang belanjaan dirasa lengkap dan keranjang yang dibawa Bibi Ningsih mulai penuh, matahari pagi mulai terasa sedikit menghangat.
Humairah yang melihat pelipis Bibi Ningsih mulai berkeringat segera menghentikan langkahnya di dekat deretan lapak kuliner pasar.
"Bi, istirahat sebentar di sana, yuk," ajak Humairah menunjuk sebuah kedai sederhana yang ramai pengunjung.
Humairah mengajak Bibi Ningsih duduk di bangku kayu panjang untuk menikmati dawet campur legendaris pasar tersebut.
Semangkuk es dawet dengan kuah santan gurih, siraman gula jawa yang kental, berpadu dengan ketan hitam dan mutiara instan langsung menghantarkan rasa segar di tenggorokan mereka.
Di tengah riuh rendah suasana pasar, Humairah tersenyum lebar menikmati momen kesederhanaan itu, merasa bahwa kebebasan dan kebahagiaan yang sesungguhnya akhirnya berada di dalam genggamannya.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di ruang makan kediaman utama Pondok Pesantren Darussalam, suasana pagi terasa begitu hambar dan tegang.
Nyai Latifah duduk di kursi makan sambil mengerucutkan bibirnya dengan raut wajah yang masam penuh kekesalan.
Di hadapannya, Kyai Umar sedang tenang menyesap kopi hitamnya sebelum bersiap menuju asrama santri.
Sejak kepergian Fathan dan Humairah kemarin, amarah dan rasa tidak terima masih menumpuk di dada Nyai Latifah.
Merasa suaminya sudah tidak sekeras kemarin, wanita paruh baya itu akhirnya kembali membuka suara dengan nada menggerutu.
"Kenapa Abah menyetujui mereka pindah?" tanya Nyai Latifah dengan suara ketus, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sekarang tidak ada yang membuat pastel di dapur. Pekerjaan rumah jadi terbengkalai semua, tidak ada lagi yang bisa disuruh-suruh sejak pagi!"
Kyai Umar meletakkan cangkir kopinya perlahan. Beliau menatap istrinya dengan pandangan mata yang sarat akan kekecewaan mendalam.
"Umi..." panggil Kyai Umar, suaranya berat dan berwibawa.
"Humairah itu menantumu, dia istri dari anak kandungmu sendiri. Humairah bukan pembantu. Dan jika Umi memang butuh pelayan untuk mengurus dapur atau membuat pastel, tinggal cari orang dan bayar jasanya. Kita mampu."
Kyai Umar menghela napas panjang, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya yang masih dipenuhi keangkuhan.
"Bukankah sebelum Humairah ada di sini, semuanya baik-baik saja? Pesantren ini berjalan, dapur kita juga tetap mengepul. Sebenarnya apa yang Umi inginkan dari anak dan menantumu sendiri?"
Mendengar pertanyaan telak dari suaminya, Nyai Latifah justru semakin menaikkan dagunya. Ego dan kebenciannya yang sudah mendarah daging membuat wanita itu secara blak-blakan menyuarakan niat busuknya.
"Umi ingin mereka bercerai!" cetus Nyai Latifah tanpa beban, matanya menyala egois.
"Umi tidak sudi punya menantu miskin seperti dia. Umi ingin Fathan menikah dengan wanita yang terpandang, anak kyai besar atau anak pengusaha kaya yang derajatnya setara dengan keluarga kita! Hanya wanita seperti itu yang pantas bersanding dengan Fathan, bukan perempuan pembawa sial itu!"
"Astaghfirullah, Umi!!"
Kalimat mengerikan itu seketika membuat dada Kyai Umar bergemuruh hebat.
Beliau beristighfar dengan suara tertahan, menatap istrinya dengan rasa tidak percaya bahwa seorang wanita yang menyandang gelar Nyai bisa memiliki hati setega itu untuk menghancurkan rumah tangga anaknya sendiri.
Kyai Umar bangkit berdiri dari kursi makannya dengan guratan lelah yang amat sangat di wajah sepuhnya.
Beliau sudah tidak sanggup lagi berdebat atau mendengarkan racun yang keluar dari lisan istrinya.
"Abah pergi ke pondok saja," ucap Kyai Umar dengan nada suara yang mendadak dingin dan datar.
Beliau membalikkan tubuhnya, melangkah pergi meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi.
"Abah lelah dengan pikiran Umi yang sudah tertutup oleh kilauan dunia. Jangan ganggu Humaira atau Umi akan tahu apa akibatnya,"
Nyai Latifah hanya bisa mendengus kesal melihat kepergian suaminya, tanpa menyadari bahwa ambisi dan kesombongannya perlahan-lahan justru mulai menjauhkan dirinya dari kebahagiaan seluruh keluarganya sendiri.
si Ratih dasar pelakor nggak tau malu🤭
kayanya bau bau mau dijodohin sama ustadzah ratih jangan sampai ya author 🙏