"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.
Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.
Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.
Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"
Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.
Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.
Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 KALUNG LIONTIN CINTA
Suasana di meja makan itu sangat panas, tampak Citra dan Raka serta Ayah bingung harus bagaimana.
"Najel. Udah udah,," sahut Raka sambil merangkul pundak kakaknya, agar kembali duduk.
"Ibu juga, jangan terlalu emosi." tambah Citra melerai.
"Oke.. kita lanjutkan makan ya. Selamat makan!" sahut Ayah mencoba mencairkan suasana.
Setelah dirasa situasi mulai seperti biasanya, Citra pun mulai berangkat kerja sedangkan Ana dan Raka libur sekolah karena telah selesai ujian akhir.
Ana yang tidak memiliki teman, hanya diam didalam kamar dan membaca novel horor dan novel fantasi favoritnya.
[pesan dari : Raka]
"Hei! Ada ceker pedas manis, mau kubelikan? Tapi pinjamkan buku horor dan gitar listrik-mu. Deal?",
"Terserah. Makan aja cekernya, aku ngga mau barang- barang punyaku dipinjamkan ke orang yang ceroboh." balas Ana, ditambah dengan emoji menjulurkan lidah.
"Dasar, kakak pelit!" balas adiknya.
Tiba - tiba, suara ketukan yang berasal dari pintu kamarnya.
"Iya?"
"Putriku.. ini pakaian-mu, Ouh ya tadi ada paket kakakmu di teras depan."
"Oh, sebentar Ayah..." sahutnya, sambil beranjak dari tempat tidur.
CEKLEK!
"Makasih Ayah, paket Kak Citra simpan aja di kamarnya." balas gadis itu, sambil melirik ke kotak paket milik Citra.
"Oh... Dia beli peralatan olahraga lagi." tambahnya.
"Pantas aja berat,," pekik Ayah, terkekeh begitupun juga Ana.
"Baiklah, kalau gitu Ayah mau ke kedai ibumu. Kamu jaga rumah ya." sebelum Ayah beranjak pergi, Ana lebih dulu membalas permintaan Ayahnya itu.
"Aih. Kenapa aku harus jaga rumah? Rumahnya ngga akan lari - lari yah." celetuk gadis itu mencoba membuat selera humor setara Ayahnya.
"Putriku bisa nge-receh juga." timpalnya.
Membuat Ana yang semula terkekeh jadi manyun.
"Huft.. yasudah aku akan jaga rumah, lagi pula aku ngga akan kemana - mana."
"Bagus, Ayah pergi dulu ya." sahutnya lalu pergi.
Ana menutup kembali pintunya sambil membawa seragam sekolah yang baru di setrika Ayahnya.
"Um... Ikat pinggangnya dimana ya?" Gumamnya.
Melirik ke kolong kasur tempat tidur, yang terlihat hanya ada sepotong cookies.
"Iih.. jorok banget kamar gadis." baru sadar, ia ternyata tidak Se-rapi itu keliatannya.
"Disini juga ngga ada, duh dimana ya?"
Membuka lacinya, bukan ikat pinggang yang ia temukan.
Kotak kecil berwarna pink berbahan dasar kayu. Yap, kotak itu ada harta karunnya.
Ana membuka kotak itu yang terlihat sedikit usang.
[ Liontin bentuk hati / cinta / love ]
"Wuah.. 10 tahun sudah berlalu, aku simpan hadiah kecil ini. Aku jadi ingat bocil cengeng itu lagi."
// FLASHBACK 10 TAHUN LALU.
Hari itu terasa lebih gelap dari biasanya, Anabella kecil meloncat - loncat di sekitaran taman bermain yang sering ia kunjungi.
Lala la lala la lala la laaa...
Bersenandung ria, tapi saat akan melewati sebuah ayunan di taman tersebut..
"Huaahh... Ayah, Ibu! Aku dimana ini, aku mau pulang!" berdiri seorang anak laki - laki umur 8 tahun sebaya dengannya.
"Dia lagi apa disitu? Hei!"
"(Tersedu - sedu) A-apa?" tanya bocah itu sambil melirik ke belakang yang dimana, Anabella berlari ke arahnya.
"Kamu lagi apa disini? Dimana orang-tuamu?" tanya Ana.
"Aku nyasar, terus apalagi selain itu?Hem." tepis bocah laki - laki itu, jutek.
"Ish aku pikir kamu jatuh dan luka. Tapi kalau kamu nyasar,, baiklah aku pergi." jawab Ana lalu berbalik badan hendak pergi meninggalkan bocah laki - laki itu.
"Tu-tunggu! Bantu aku mencari jalan ke rumahku." sahut bocah itu yang sedikit memelas.
"Apa? Hem.. baiklah."
"Kalau aku tersesat, dulu aku di suruh mengingat no. Rumah dan nama ayahku. Tapi.. karena kam-" belum selesai menjelaskan, bocah laki - laki itu langsung menyambar dengan mengingat no. Rumahnya.
"A-ah aku baru ingat, tapi yang aku ngga ingat adalah arah jalannya. Disini jalan ke perumahannya banyak."
"Cih. Tadi aja dia menangis - nangis, sekarang dia yang bersemangat." gumam Ana yang masih bisa terdengar walaupun kurang jelas.
"Hah? Apa kamu bilang?"
"Ah, itu cuaca-nya semakin mendung. Ayo aku antar, aku besar disini dan aku pasti tau setiap arah jalan." jawab Ana dengan percaya diri.
"Gadis sombong." celetuk bocah laki - laki itu, sambil memajukan bibirnya.
Kedua bocah itu berjalan meninggalkan taman untuk mencari tempat tinggal bocah laki - laki itu.
Pos satpam di blok. X, menghampiri mereka.
"Kita bisa tanyakan pada paman itu." sahut Anabella.
"Ngga. Aku ngga percaya orang asing. Mereka pasti mau culik anak kecil kayak kita."
"Lalu, kenapa kamu percaya dan minta tolong padaku tadi? Aku juga orang asing. Cih." sambil melotot ke arah bocah laki - laki, yang membuatnya keberanian bocah itu menciut.
"Kalian lagi apa disini? Dimana orang tua kalian?"
Satpam itu tampak sangat khawatir, karena daerah perumahan ini sangat sepi.
"Paman! Temanku ini nyasar hehe, dia lupa jalan pulang. Tapi dari no. Rumah dan jalan yang dia sebutkan sepertinya ngga jauh dari lingkungan ini." cerdasnya Ana menjelaskan kepada Satpam itu.
Bocah laki - laki itu memandang kagum ke arah Ana.
"Gadis itu sangat pemberani.." batinnya.
'Satpam itu mendengarkan penjelasan Ana, lalu menawarkan diri untuk mengarahkan jalan.
"Baiklah paman akan mengantarkan kalian, tapi memang benar alamat ini masih di lingkungan yang sama. Bagaimana kamu tau, Nak? Kamu tinggal disini?" tanyanya lagi.
"Ngga, aku ngga tinggal disini. Aku tinggal di Perumahan Kerang Mutiara 02."
"Waduh itu jauh dari sini."
"Paman, tenang aja aku sering kemari karena sekolahku tak jauh dari sini."
Satpam itu mengangguk lalu mengantarkan mereka. Sampailah mereka di depan gerbang mewah dan itu adalah tempat tinggal bocah laki - laki itu.
"Wuah ternyata kamu anak orang kaya ya."
"Ouh iya, paman. Makasih bantuannya. Aku bisa pulang sendiri kok."
"Yakin kamu, Nak? Oke kalau gitu paman pamit ya." sambil melambaikan tangan.
"Keren kan, aku?" sahut Ana tersenyum miring.
"Hem.. baiklah, tunggu sebentar. Aku mau ambil sesuatu di dalam. Jangan kemana - mana." jelas bocah itu, lalu berlari ke dalam rumah.
Ana tak banyak bicara, ia menunggu diluar gerbang.
Tak berapa lama, bocah laki - laki itu berlari ke arahnya dan keluar dari gerbang.
"Ini untukmu? Kalau ngga ada kamu, aku ngga akan pulang ke rumah dan cuma bisa nangis sendirian di taman." mengeluarkan sebuah kalung liontin dari sakunya dan memberikannya pada Ana.
"Bu-buat aku?! Serius nih?" terkejut Ana, melihat kalung liontin itu tampak berkilau. Bentuk 'Love'.
"Iya." singkatnya.
"Ini adalah ucapan terima kasih, karena kamu udah mau menolongku." tambahnya lagi lalu tersenyum.
"Baik. Aku terima kalungnya, makasih ya. Aku pergi dulu!" jawab Ana, tersenyum sumringah.
Mereka pun saling menatap dan tersenyum dan Ana baru saja mengingat momen itu, dan berkata di masa sekarang. "Ternyata aku pernah berarti bagi seseorang.."
#Bersambung...