NovelToon NovelToon
Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.

Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Pagi itu berjalan seperti biasa, setidaknya bagi siapa pun yang melihat mansion keluarga Halstrom dari luar. Rumah besar itu tetap mempertahankan kesan elegan yang selama ini selalu terlihat sempurna. Pelayan bergerak sesuai jadwal, suara langkah mereka terdengar pelan di sepanjang lorong marmer, taman belakang dirawat seperti biasanya, dan aroma bunga segar bercampur kopi hangat memenuhi udara pagi.

Tidak ada yang tampak berubah.

Namun justru karena semuanya terlihat terlalu normal, perubahan kecil menjadi jauh lebih mudah disembunyikan.

Di balik ketenangan rumah besar itu, sesuatu sedang bergerak perlahan. Sangat rapi, sangat hati-hati, dan hampir tidak meninggalkan jejak. Bedanya, kali ini Seraphina tidak lagi berdiri di sisi yang salah.

Ia bukan lagi wanita yang menunggu pengkhianatan datang tanpa sadar.

Bukan pula seseorang yang hanya bereaksi setelah semuanya terlambat.

Sekarang, ia bergerak lebih dulu.

Di ruang kerja pribadinya, Seraphina duduk tenang dengan secangkir teh hangat di samping meja. Uap tipis masih terlihat mengepul dari cangkir porselen putih, sementara cahaya matahari pagi jatuh lembut melewati jendela besar di belakangnya. Ruangan itu sunyi, hanya sesekali terdengar suara halaman dokumen yang dibalik perlahan.

Di hadapannya terdapat satu map hitam yang sejak tadi belum benar-benar ia tutup.

Map itu berisi sesuatu yang selama beberapa hari terakhir berhasil dikumpulkan secara diam-diam oleh Evelyn Hart dan Alden Verrow.

Proyek investasi rahasia milik Darius.

Tidak tercatat langsung di bawah perusahaan utama keluarga Halstrom. Nama perusahaan itu bahkan tidak pernah muncul di laporan resmi yang biasanya dibahas saat rapat internal. Kalau diperhatikan sekilas, semuanya tampak legal. Bersih. Aman.

Namun semakin dalam ditelusuri, semakin jelas pola yang muncul.

Dana tetap bergerak.

Jumlahnya besar.

Dan terlalu teratur untuk disebut kebetulan.

Seraphina membaca ulang halaman terakhir dengan tenang. Matanya bergerak pelan mengikuti angka, nama perusahaan bayangan, alur investasi, serta pihak ketiga yang digunakan untuk menyamarkan kepemilikan.

Darius memang selalu berhati-hati.

Pria itu tidak pernah bermain terlalu terang-terangan. Semua dibuat berlapis, seolah tidak berhubungan langsung dengannya. Investor luar dijadikan tameng, beberapa nama dipinjam melalui perusahaan kecil, bahkan jalur transfer uang dibuat memutar.

Namun satu hal yang sulit disembunyikan adalah pola.

Dan pola uang hampir selalu mengarah pada pemilik aslinya.

Darius Halstrom.

Nama itu mungkin tidak muncul secara resmi, tetapi jejaknya terlalu jelas kalau seseorang benar-benar mencarinya.

“Apa semua data ini sudah dipastikan?” tanya Seraphina tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen.

Evelyn yang berdiri di dekat meja mengangguk kecil. Wanita paruh baya itu tetap membawa pembawaan tenangnya seperti biasa, meski belakangan ekspresinya sering berubah lebih serius.

“Sudah dicek dua kali, Nyonya,” jawabnya. “Alden juga memastikan semuanya valid. Kalau proyek ini sampai terganggu, kerugiannya cukup besar.”

Seraphina menyandarkan tubuh perlahan ke kursi.

Jari telunjuknya mengetuk map hitam itu pelan. Sekali. Dua kali. Lalu berhenti.

“Skala investasinya?”

“Lumayan agresif,” jawab Evelyn. “Kalau berhasil, keuntungannya besar. Tapi kalau gagal, dampaknya juga tidak kecil. Sepertinya Tuan Darius terlalu percaya diri.”

Seraphina menatap keluar jendela beberapa detik.

Taman belakang terlihat damai.

Angin bergerak pelan.

Suara air dari kolam kecil terdengar samar.

Semuanya terasa terlalu tenang dibanding isi kepalanya.

Dulu, menemukan sesuatu seperti ini mungkin akan membuatnya hancur. Ia mungkin akan langsung memanggil Darius, meminta penjelasan, bertanya kenapa suaminya menyembunyikan begitu banyak hal.

Mungkin ia juga akan menangis.

Merasa dibohongi.

Mencoba mencari alasan agar semuanya tetap masuk akal.

Namun sekarang, emosinya terasa jauh lebih tenang.

Bukan karena luka itu hilang.

Melainkan karena rasa sakit sudah terlalu lama mengendap sampai berubah bentuk.

Yang tersisa sekarang hanyalah logika.

Perhitungan.

Dan kesabaran.

“Bagaimana status perizinannya?” tanyanya lagi.

Evelyn membuka tablet di tangannya.

“Masih menunggu satu validasi internal. Jalurnya cukup sensitif. Kalau tertahan sedikit saja, proses berikutnya ikut melambat.”

Sudut bibir Seraphina bergerak tipis.

Hampir tidak terlihat.

Namun cukup untuk membuat Evelyn memahami arah pikirannya.

“Bagus,” ucap Seraphina pelan.

Evelyn terdiam sesaat.

Kalau ini adalah Seraphina beberapa tahun lalu, wanita di hadapannya mungkin masih akan ragu. Mungkin masih mempertimbangkan apakah tindakan ini terlalu jauh untuk dilakukan pada suaminya sendiri.

Namun sekarang tidak.

Tatapan Seraphina terlalu tenang.

Terlalu dingin.

Dan justru karena itu terasa jauh lebih serius.

“Aku tidak ingin sesuatu yang mencolok,” lanjutnya sambil menutup map perlahan. “Buat semuanya terlihat seperti masalah bisnis biasa. Jangan sampai ada yang bisa menghubungkannya padaku.”

“Dipahami.”

“Dan jangan tinggalkan jejak.”

Nada suaranya tetap lembut.

Namun ketegasan di balik kalimat itu sangat jelas.

Evelyn mengangguk tanpa bertanya lebih jauh.

Karena belakangan ia mulai memahami satu hal.

Nyonya rumah ini memang berubah.

Bukan menjadi seseorang yang lebih kejam.

Namun lebih berhitung.

Lebih waspada.

Dan jauh lebih sulit dipermainkan.

---

Tiga hari kemudian, masalah pertama mulai muncul.

Pagi itu Darius sedang duduk di ruang rapat kecil kantor pusat Halstrom Holdings. Jas gelapnya masih terlihat rapi, kopi di meja bahkan belum benar-benar disentuh ketika asistennya masuk dengan langkah cepat.

Ekspresi pria itu terlihat tegang.

“Tuan…”

Darius mengangkat kepala perlahan dari dokumen di tangannya.

“Ada apa?”

“Ada sedikit masalah dengan proyek Meridian.”

Kalimat itu langsung membuat alis Darius mengeras.

Proyek Meridian bukan proyek biasa.

Itu investasi besar.

Salah satu rencana yang sudah ia siapkan selama berbulan-bulan.

Dana sudah masuk.

Investor sudah bergerak.

Orang-orang tertentu sudah dibayar untuk memperlancar proses.

Semua hampir selesai.

“Masalah apa?” tanyanya lebih serius.

“Perizinannya tertunda.”

“Tertunda?”

Nada suaranya berubah.

Lebih dingin.

Lebih tajam.

Karena itu tidak masuk akal.

Semuanya seharusnya berjalan lancar.

Ia sudah menghitung risiko dari awal.

“Kenapa bisa tertunda?”

Asistennya tampak sedikit gugup.

“Kami belum mendapat validasi akhir.”

“Dari siapa?”

“Masih dicek, Tuan.”

Darius mendecakkan lidah pelan.

Kesal.

Namun masih berusaha menjaga ekspresi.

Ini cuma hambatan kecil, pikirnya.

Masih bisa diperbaiki.

Masih bisa diselesaikan.

Ia belum sadar bahwa seseorang sedang mencabut fondasi rencananya sedikit demi sedikit.

Tanpa suara.

Tanpa jejak.

---

Di sisi lain kota, Seraphina sedang duduk di restoran kecil privat bersama Lysandra.

Atau lebih tepatnya, mendengarkan putrinya mengeluh hampir tanpa jeda.

“Mama tahu kan aku butuh tambahan sponsor buat acara charity itu?” keluh Lysandra sambil memainkan sedotan minumannya.

Nada suaranya manja.

Sangat familiar.

Dulu, Seraphina akan langsung mengalah. Ia pasti menawarkan bantuan, bahkan mungkin membayar semuanya tanpa berpikir dua kali.

Namun sekarang ia hanya menyesap teh dengan tenang.

“Gunakan dana yang sudah ada.”

Lysandra langsung mengembuskan napas panjang.

“Mama berubah banget akhir-akhir ini.”

Seraphina tersenyum kecil.

“Mungkin Mama mulai belajar realistis.”

Lysandra mengernyit samar.

Jawaban itu terasa aneh.

Ibunya memang lebih dingin akhir-akhir ini, meski tetap terlihat tenang di luar.

Sebelum percakapan berkembang lebih jauh, ponsel Seraphina bergetar pelan di atas meja.

Pesan dari Evelyn.

Tahap pertama berhasil.

Tatapan Seraphina turun sesaat ke layar.

Tidak ada perubahan ekspresi.

Ia hanya mengunci ponsel kembali lalu mengambil cangkir tehnya.

Namun di dalam dirinya, ada rasa puas yang sangat tenang.

Karena semuanya berjalan sesuai rencana.

---

Masalah Darius ternyata tidak berhenti di situ.

Seminggu berikutnya, salah satu investasi sampingan mulai menunjukkan penurunan angka.

Awalnya kecil.

Hanya sedikit keterlambatan distribusi.

Kemudian satu mitra bisnis mundur.

Lalu muncul masalah administratif yang membuat proses tertahan.

Satu demi satu.

Pelan.

Namun konsisten.

Anehya, semua terlihat sangat wajar.

Tidak ada sesuatu yang cukup besar untuk disebut sabotase.

Tidak ada kesalahan fatal.

Semua hanya terlihat seperti nasib buruk yang datang berturut-turut.

Namun bagi Darius, semuanya mulai terasa terlalu aneh.

Sore itu ia duduk di ruang kerja kantor dengan rahang mengeras sambil membaca laporan terbaru.

“Bagaimana bisa rugi sebanyak ini?”

Asisten keuangannya tampak gugup.

“Pasar berubah cukup cepat, Tuan.”

“Omong kosong.”

Map di tangannya jatuh sedikit lebih keras ke meja.

“Semua ini sudah dihitung sejak awal.”

“Tapi ada beberapa keputusan internal yang berubah…”

“Lagi-lagi internal.”

Nada suara Darius semakin dingin.

Karena akhir-akhir ini semuanya terasa salah.

Terlalu banyak hambatan.

Terlalu banyak masalah.

Dan tidak ada jawaban yang benar-benar masuk akal.

Saat malam tiba dan ia pulang ke mansion, pikirannya masih penuh tekanan.

Namun begitu masuk ke ruang keluarga, langkahnya sedikit melambat.

Seraphina ada di sana.

Duduk tenang sambil membaca buku.

Ekspresinya santai.

Anggun.

Seolah hidup berjalan biasa saja.

“Pulang cepat?” tanya Seraphina pelan.

“Lumayan.”

“Kamu kelihatan capek.”

Tanpa banyak bicara, wanita itu menuangkan teh ke cangkir kosong di depannya.

Gerakannya tenang.

Lembut.

Persis seperti istri penuh perhatian.

“Masalah kantor?” tanyanya lagi.

Darius mengembuskan napas pendek.

“Sedikit.”

Seraphina mengangguk kecil.

“Semoga cepat selesai.”

Kalimatnya sederhana.

Tulus di permukaan.

Dan justru karena itu Darius semakin sulit membaca situasi.

Karena mustahil.

Mustahil Seraphina terlibat dalam sesuatu serumit ini.

Namun entah kenapa, perasaan aneh terus mengganggunya.

Ada sesuatu yang terasa tidak cocok.

Sesuatu sedang bergerak.

Dan ia mulai yakin…

Ini bukan kebetulan.

1
Ma Em
Bagus Seraphina kamu bisa semua yg Darius ambil dari perusahaan mu bisa Seraphina ambil kembali secara pelan tapi pasti agar Darius dan anak2 mu tdk curiga .
Ma Em
Sudah waktunya kamu jatuh Darius makanya jgn suka ngambil yg bkn milikmu Darius , Darius serakah mau menguasai harta Seraphina untung saja Seraphina cepat bergerak dan cepat menyadari kesalahan nya kalau terlambat sedikit lagi Seraphina bakal dibuang .
Ma Em
Seraphina kamu hrs kuat dan hati2 menghadapi mereka karena itu sangat berbahaya untukmu Seraphina , meskipun itu dgn anak2 mu juga suamimu Seraphina tetap hrs hati2 jgn sampai terulang lagi anak-anak dan suamimu meracuni kamu Seraphina .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!