Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
Inilah awal dari...
LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
Biarkan dunia bersujud pada sang naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
“Diam… jangan mendekat!” Citra berseru. Suara Arka benar-benar mengacaukan pertahanannya. Sebagai ahli yang telah menyentuh Alam Raja, ia justru merasa panik saat Arka semakin dekat.
Namun sebelum ia sempat menghindar, sepasang lengan telah melingkari pinggangnya dari belakang dengan erat namun lembut. Tubuh Citra membeku seketika.
“Aku tahu kau tidak mungkin meninggalkan padepokanmu begitu saja,” bisik Arka tepat di telinganya. “Tapi sebelum aku cukup kuat untuk membawamu pergi dan menghancurkan semua penghalang kita… tolong jangan lupakan satu hal.”
“Selain menjadi Citra dari Padepokan Awan Beku, kau punya identitas lain… yaitu Peri Kecilku.”
Arka kemudian berdeham ringan, suaranya berubah menjadi sedikit jahil. “Lagipula, kau yang mengambil kesucianku waktu itu! Masa setelah selesai kau mau pura-pura lupa dan tidak bertanggung jawab?”
BRAK!
Pintu kamar terbuka paksa oleh ledakan energi dingin. Tubuh Arka terlempar keluar dalam posisi terbalik. Meski berhasil mendarat dengan selamat, wajahnya sedikit pucat. Pintu di belakangnya tertutup kembali dengan dentuman keras.
“Kau membuatnya marah?” tanya Ratna yang sejak tadi menunggu di luar dengan tatapan aneh.
“Mana mungkin,” ujar Arka serius, meski napasnya masih sedikit sesak. “Dia hanya… mengantarku keluar dengan cara yang sangat bersemangat setelah menerima ucapan terima kasihku.”
Ratna menatap suaminya dengan curiga, namun memilih diam. “Besok kau akan menghadapi Yogi. Guruku bilang, meski Yogi terlihat polos, dia adalah jenius sejati yang melampaui kakaknya sendiri. Berhati-hatilah.”
“Terima kasih, Ratna. Tapi lawanmu besok—Yoga—jauh lebih sulit,” Arka berhenti sejenak, lalu menoleh. “Istriku, pernahkah kau mendengar tentang ‘Hati Kaca Berlapis Salju’ atau ‘Tubuh Indah Sembilan Misteri’?”
Ratna mengernyitkan alis. “Aku belum pernah mendengarnya.”
Arka mengangguk, mengonfirmasi dugaannya. Sebelum pergi, ia berkata penuh keyakinan, “Besok, aku ingin kau yang menang melawan Yoga. Agar di partai final nanti, lawan yang harus kuhadapi adalah kau.”
......................
Sementara itu, di bagian lain vila yang mewah, Kresna—utusan dari wilayah pusat yang statusnya ditakuti di negeri ini—sedang sendirian di kamarnya. Ia mengeluarkan sebuah giok pusaka berwarna ungu kebiruan, alat transmisi suara yang sangat langka.
Cahaya lembut memancar dari giok itu saat sebuah suara terdengar dari sisi lain.
“Senior Kresna? Ada berita apa sampai Anda menghubungi saya?”
“Tuan Muda Aula,” sahut Kresna perlahan. “Saya ingin menawarkan sebuah transaksi yang pasti akan membuat Anda sangat tertarik.”
“Katakan.”
“Hehe… saya dengar dalam beberapa tahun terakhir Anda sedang mencari seorang gadis dengan ‘Tubuh Indah Sembilan Misteri’. Kebetulan sekali, saya baru saja menemukannya di negeri kecil ini.”
“Apa?!” Suara di seberang sana langsung menegang. “Kalau benar itu Tubuh Indah Sembilan Misteri yang hanya muncul sepuluh ribu tahun sekali, kenapa Anda tidak menggunakannya sendiri?”
Kresna tersenyum licik. “Saya tahu diri. Saya tidak punya nyali untuk menikmati tubuh ilahi seperti itu. Jika saya menyerahkannya pada Penguasa Suci saya, saya hanya dapat jasa. Tapi jika saya memberikannya pada Anda, saya yakin imbalannya jauh lebih besar.”
“Hahaha! Anda benar-benar orang yang cerdas. Sebutkan hadiahmu.”
“Seribu lima ratus gram Kristal Ilahi Urat Ungu.”
“Permintaan yang besar… tapi dibandingkan dengan Tubuh Indah Sembilan Misteri, kristal itu tak ada artinya. Baik, dalam dua tahun aku akan menyiapkannya. Jangan mengecewakanku, Senior Kresna.”
Cahaya pada giok itu padam. Kresna menatap langit malam dengan senyum tipis yang mengerikan. “Tak kusangka, tubuh ilahi yang bisa menjadi inkubator kultivasi paling sempurna di dunia lahir di tempat seperti ini. Langit benar-benar berpihak padaku.”
......................
Hari ini adalah hari kesepuluh Turnamen Peringkat.
Pagi masih sangat dini, dan langit bahkan belum sepenuhnya terang. Di Arena, pertandingan penentuan peringkat kelima hingga kedelapan sudah dimulai. Meskipun mereka adalah para peserta yang gugur di perempat final kemarin—Umar, Ratih, Guntur, dan Fikri—mampu menembus delapan besar sudah cukup membuktikan bahwa mereka adalah talenta puncak generasi ini.
Fikri, yang menderita luka berat setelah serangan pengecutnya terhadap Arka tempo hari, memilih untuk tidak ikut serta. Tanpa kehadirannya, peringkat akhir pun ditentukan dengan cepat: Ratih di posisi kelima, Umar keenam, Guntur ketujuh, dan Fikri di posisi kedelapan.
Ini adalah catatan sejarah baru. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, Perguruan Wijaya dan Perguruan Langit Membara terdepak dari posisi empat besar. Penyebab utamanya hanya satu—kelahiran kuda hitam terbesar dalam turnamen ini: Arka Yudistira.
Matahari mulai naik, dan suasana di sekitar arena justru jauh lebih membara. Semifinal akan segera dimulai.
Dari empat orang yang masuk ke semifinal, selain Yoga yang sudah diprediksi, tiga lainnya adalah kejutan besar. Terutama karena tiga peserta lainnya—Yogi, Ratna, dan Arka—semuanya berusia tidak lebih dari tujuh belas tahun. Sebuah fenomena yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah turnamen.
Perhatian seluruh penonton kini tertuju pada pertandingan pertama: Arka Yudistira vs Yogi Pangestu.
Yang satu adalah praktisi Alam Sejati tingkat sepuluh yang secara ajaib menembus empat besar. Yang lainnya adalah remaja enam belas tahun yang kekuatannya sanggup membuat petarung tingkat sembilan alam bumi menyerah tanpa syarat. Ini adalah duel antara pemilik tenaga dalam terendah melawan peserta termuda sepanjang masa.
Arka sudah berdiri di atas arena. Tak lama kemudian, Yogi berjalan santai menyusulnya. Berdiri sekitar enam puluh meter di depan Arka, ia menyapa dengan senyum nakal yang khas.
“Hehe… Bos, selamat pagi.”
Suara Yogi tidak keras, tapi cukup untuk membuat kaki Wayan, sang wasit, terasa lemas. Wayan hampir saja jatuh terjungkal mendengar cara putra pemilik perguruan nomor satu itu memanggil Arka.
“Oh?” Arka tersenyum lebar. “Ternyata kau masih ingat harus memanggilku Bos. Kupikir kau pura-pura lupa pada utang janjimu.”
Yogi mendongakkan hidungnya. “Aku, Yogi, adalah lelaki sejati! Setiap kata yang kuucapkan adalah janji suci. Tidak mungkin aku ingkar.”
“Benarkah?” Arka memandangnya dengan ekspresi jahil. “Aku sudah di sini lebih dari sepuluh hari, tapi kau tidak pernah menjengukku. Sepertinya kau belum berbakat jadi adik yang baik.”
“Eh…” Yogi membelalak, suaranya mengecil. “A-aku ingin datang, tapi Kak Yoga bilang itu tidak sopan… jadi bukan salahku!” Ia buru-buru mengganti topik. “Tapi kalau kau ingin aku benar-benar jadi adikmu dengan sepenuh hati, kau harus mengalahkanku di arena ini saat aku menggunakan kekuatan penuhku!”
Yogi menyentuh cincin pusakanya. Sebuah kotak pedang dari giok putih murni muncul di tangannya. Senyum nakal di wajahnya perlahan berubah menjadi tajam dan dingin.
“Aku ingin dunia mengingat pesona seorang Yogi!”