NovelToon NovelToon
Aku Tak Sempurna

Aku Tak Sempurna

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Meitania

Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.

Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.

"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....

......

Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...

Semoga suka dengan cerita baru nya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Putri Kebanggan

Setelah mengantarkan pasangan Angel dan Kevin, Feri mengantarkan Dita. Di sepanjang perjalanan menuju rumahnya Dita hanya diam melihat ke arah luar. Feri selalu memperhatikannya lewat sudut matanya.

"Maaf ya aku malah jadi bikin kaget Mami kamu." Ucap Feri memulai obrolan.

"Hah! Oh, ngga apa-apa kok." Dita

"Ini kita jalan berdua gini ngga ada yang marah kan?" Tanya Feri lagi.

Dita hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

"Kamu ngga kangen anak-anak?" Feri memancing obrolan lagi.

"Hm... Anak-anak memang selalu punya cara agar kita selalu mengingat mereka. Tingkah mereka yang kadang terasa menjengkelkan tapi semua membuat kita rindu." Dita.

"Besok ketemu anak-anak mau ngga?" Ajak Feri.

"Besok... Dita masih ada kerjaan di rumah sakit. Tadi di bajak Angel soalnya." Dita.

"Pulang dari rumah sakit gimana?" Feri.

"Liat nanti deh ya." Dita.

"Nih..." Feri menyodorkan ponselnya.

"Apa?" Tanya Dita.

"Masukin no kamu biar aku bisa menghubungi kamu." Feri.

"Oh,, Oke." Jawab Dita kemudian Dita menuliskan no ponselnya do ponsel milik Feri.

"Udah aku save ya." Dita.

"Save dengan nama siapa?" Feri.

"Cari aja, kalo ketemu jempol deh buat pak polisi." Dita.

"Eh, meragukan aku sebagai polisi nih." Feri.

Tanpa terasa mobil Feri sudah sampai di halaman rumah Dita. Feri mematikan mesin mobilnya dan ikut turun bersama Dita.

"Kenapa?" Tanya Dita yang melihat Feri turun.

"Ketemu Mami kamu dulu." Feri.

"Eh, ngapain? Ngga usah. Nanti aku bilang aja deh sama Mami." Dita.

"Ngga boleh ah. Serah terima dulu baru pamit pulang." Feri.

"Tapi,"

"Udah ayo.."

Dita di buat salah tingkah dengan sikap Feri apalagi saat ini tangannya di genggam oleh Feri. Dita belum pernah mengalami hal seperti ini membuat Dita merasa canggung. Ini juga interaksi pertamanya dengan lawan jenis. Jujur perasaan Dita tak karuan rasanya panas dingin. Jika di suruh memilih antara ujian koas dan keadaan saat ini dirinya lebih memilih ujian koas.

Saat hampir sampai depan pintu rumah tiba-tiba pintu terbuka lebar menampilkan Dokter Wijaya dengan pakaian santainya. Dokter Wijaya keluar karena mendengar suara mobil yang datang. Dan ya pemandangan pertama yang di lihatnya putrinya datang dengan seorang laki-laki bahkan bergandengan tangan.

"Papi..."

"Malam Om."

"Malam... Silahkan masuk." Ucap Dokter Wijaya mempersilahkan Feri masuk.

Genggaman tangan Feri masih betah belum mau di lepaskan. Mereka berdua pun masuk mengikuti Dokter Wijaya.

"Silahkan duduk nak Feri. Sayang, panggil Mami ke sini Nak sekalian ambilkan minum untuk nak Feri." Titah Dokter Wijaya.

"Tapi Pi ini.."

Belum sempat Dita menjawab Feri kembali menjawab.

"Terima kasih Om."Ucap Feri kemudian duduk. Sebelum duduk tak lupa Feri melepaskan genggaman tangannya membiarkan Dita masuk ke dalam.

Tak lama Ibu Rani dan Dita keluar bersama Bibi yang membawakan minuman dan kue untuk di sajikan. Ibu Rani menyambut hangat kedatangan Feri yang memang sudah di kenalnya saat kasus Dita beberapa waktu lalu.

"Apa kabar nak Feri?" Tanya Ibu Rani.

"Lebih baik dari kemarin Tante. Tante apa kabar?" Tanya Feri balik.

"Seperti yang kamu lihat. Tante selalu baik apalagi ada putri kesayang Om dan Tante ini." Ucap Ibu Rani memeluk Dita dari samping.

Kemudian Ibu Rani duduk di samping Dokter Wijaya dan Dita di sofa tunggal di dekatnya.

"Sebelumnya saya minta maaf Om Tante atas kejadian sore ini yang membuat Om dan Tante khawatir. Saya juga tanpa ijin bawa Putri Om dan Tante makan di luar. Sekali lagi saya minta maaf Om Tante." Ucap Feri.

"Iya Nak ngga apa-apa. Terima kasih ya Dita nya sudah di antarkan lagi." Dokter Wijaya.

"Sama-sama Om, sudah keharusan saya mengantarkan Dita pulang." Feri.

"Kalo begitu saya pamit pulang Om Tante sudah malam saya belum lihat anak-anak saya." Feri.

"Loh, kamu sudah menikah?" Tanya Dokter Wijaya berbasa-basi. Padahal dirinya sudah tau cerita Feri dari Ibu Rani.

"Pernah Om." Feri.

"Maksudnya?" Dokter Wijaya.

"Istri saya meninggal kurang lebih dua bulan yang lalu Om satu minggu setelah melahirkan putri saya." Jelas Feri berterus terang.

"Eh, kamu duda jadi?" Dokter Wijaya.

"Iya Om. Maaf saya lancang deketin putri Om." Feri.

"Eh, ngga masalah. Duda perjaka itu hanya sebuah status nak. Hebat kamu single father berarti ya. Tetap semangat ya." Dokter Wijaya.

"Terima kasih Om." Feri.

Dalam percakapan itu Dita hanya diam menunduk. Ibu Rani memberi kode lirikan pada Feri dan Feri mengerti itu. Dita terlalu canggung untuk berinteraksi dengan orang luar apalagi lawan jenis. Dita benar-benar menutup dirinya sari lawan jenis.

"Ya sudah saya permisi Om Tante." Pamit Feri lagi.

"Oh, iya Nak Feri hati-hati. Sekali lagi Om ucapkan terima kasih ya sudah mengantarkan Dita.

"Iya Om sama-sama. Mari Om Tante.." Feri.

"Dita, aku pamit dulu ya." Ucap Feri pada Dita.

Dita menatap Feri kemudian tersenyum dan mengangguk.

"Terima kasih." Ucap Dita lirih.

Sepertinya Feri Dita tetap diam menunduk. Ibu Rani dan Dokter Wijaya saling tatap kemudian Ibu Dita mendekati putrinya dan mengusap pelan punggung Dita.

"Ada apa?" Ucap Ibu Rani lembut.

"Mami...." Rengek Dita kemudian menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ibu Rani membuat Ibu Rani kewalahan.

Ibu Rani tersenyum tipis sambil mengusap lembut punggung putrinya. Dokter Wijaya yang mengerti segera meninggalkan istri dan putrinya berdua saja.

"Papi masuk dulu ya besok ada operasi pagi. Kalian lanjutkan saja." Ucap Dokter Wijaya kemudian mengecup puncak kepala Ibu Rani dan Dita bergantian.

Setelah di pastikan Dokter Wijaya masuk Dita melepas pelukannya dan tertunduk.

"Ada apa?"

"Mami,, Dita malu.."

"Loh, kok malu?" Ibu Rani.

"Mami,,, masa tangan Dita di pegang sama Pak polisi tadi Mi." Dita.

"Pak polisi? Feri?" Ibu Rani.

"Iya Mi. Aduh, Dita deg degan Mi." Dita.

Ibu Rani mengerti keadaan Dita. Wajar saja Dita memberi reaksi berlebihan pasalnya Dita memang tak pernah dekat dengan lawan jenis apalagi sampai sedekat ini sampai berpegang tangan.

"Ngga apa-apa sayang. Itu tandanya dia bertanggung jawab menjaga kamu." Jelas Ibu Rani menenangkan hati putrinya.

"Tapi Mi. Tadi Papi liat Mi. Dita malu." Dita.

"Eh, kok Papi liat Mami ngga sih?" Goda Ibu Rani.

"Mami..."

"Ngga apa-apa sayang. Biar Papi tau seberapa besar tanggung jawab Feri buat jaga kamu." Ibu Rani.

"Dita malu Mi..."

"Ngga usah malu. Pokoknya Putri Mami sama Papi harus bahagia jangan jadi apa dan siapa cukup jadi diri kamu putri kebanggaan kami." Ibu Rani.

1
farah
baru awal cerita sdh bikin penasaran, ada apa dgn dhita?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!