Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17
"Kak Rama. Kamu yakin menunda pernikahan kalian?"
"Tentu saja aku yakin, Ris. Kenapa? Tidak percaya dengan ku?"
"Bukan tidak percaya, kak Rama. Sebaliknya, aku sangat percaya sama kamu, tau? Makanya akan nanya sekali lagi. Kamu beneran yakin, milih menunda pernikahan ini?"
"Kenapa aku nggak yakin, Risa? Karena kenyataannya, aku memang masih sangat muda, bukan? Aku masih ingin menikmati waktu-waktu bebas tanpa ada yang mengekang."
"Terus, gimana dengan nona Sinta? Dia pasti akan sangat kesal sama keputusan yang telah kamu ambil, Kak."
"Dia kesal? Lalu, dia bisa apa? Dia sudah berharap menikah dengan ku sangat lama. Tentu saja dia akan tetap menunggu aku. Dua bulan itu waktu yang telah ia tetapkan. Maka aku tunda dua bulan lagi. Cukup adil, bukan?"
Risa mengangguk pelan. Namun dalam hati, wanita itu sedang sangat bahagia. Dua bulan waktu penundaan. Setidaknya, waktu itu sangat cukup untuknya memikirkan lagi rencana berikutnya untuk memisahkan Rama dan Sinta.
"Kamu ini, kak. Kasihan nona Sinta yang sudah lama menunggu, tapi kamu malah menunda lagi. Tapi ... pilihan yang kamu buat juga baik sih. Mungkin dengan cara menunda pernikahan, nona Sinta bisa lebih menghargai kamu lagi. Bisa lebih menyayangi kamu dengan sepenuh hati."
Rama tersenyum lebar sangat bahagia.
"Jika untuk rasa sayang, aku tidak perlu meragukan perasaan sayang Sinta padaku," ucap Rama dengan nada penuh rasa yakin.
"Sinta menyayangi aku dengan segenap jiwa dan raganya. Perasaan itu tulus." Rama menambahkan lagi pujiannya buat Sinta dengan mata yang berbinar senang.
Tentu saja, Risa tidak suka akan hal itu. Susah payah Risa menahan hati agar tidak memperlihatkan ekspresi kesal gara-gara pujian Rama untuk Sinta barusan. Dia akan menjaga citra baik yang selama ini sudah dia bangun dengan susah payah.
"Mm ... kamu sangat memahami dia ternyata." Risa berucap dengan enggan.
Rama mengangguk cepat. "Tentu saja aku sangat memahami Sinta. Kami bersama sejak kecil hingga dewasa. Jadi, aku yakin, Sinta sanggup menunggu aku selama apapun."
Risa langsung memperlihatkan wajah sedih yang berusaha ia sembunyikan. Eitc, jangan salah sangka. Wajah yang gadis itu perlihatkan sekarang hanyalah bagian dari sandiwaranya saja. Karena perasaan Risa yang sesungguhnya bukan sedih. Melainkan, kesal.
"Iya. Nona Sinta beruntung punya kamu, kak Rama. Sayang, aku tidak seberuntung dirinya."
Nada sedih itu langsung Rama sadari. Sontak, Rama segera mendekati Risa untuk membujuk si gadis.
"Ris, kamu kenapa? Kok tiba-tiba kelihatan sedih sih?"
"Aku ... aku gak papa kok, Kak Rama. Cuma ... cuma aku agak sedih dengan nasib ku yang tidak seberuntung nona Sinta. Itu aja."
"Kamu juga beruntung kok, Risa. Kamu punya teman-teman yang sayang sama kamu. Terutama, aku. Aku akan selamanya jadi teman kamu, Ris. Selamanya. Kapan pun kamu butuh aku, aku akan selalu ada buat kamu. Percayalah."
Buliran bening jatuh sedikit di pelupuk mata Risa. Senyum manis dia usahakan untuk muncul di bibir agar Rama bisa melihatnya. Akting gadis ini memang luar biasa. Sungguh-sungguh mengesankan. Pantas Rama terpukau akan apa yang telah ia perlihatkan.
Namun, tidak sepenuhnya karena akting Risa yang bagus sebenarnya. Melainkan, karena hati Rama yang memang dasarnya lemah. Sangat mudah terpengaruh, dan terlalu gampang terbawa suasana. Hasilnya, apapun yang Risa perankan, pria ini malah melihatnya dengan sangat serius. Sungguh sangat disayangkan.
"Terima kasih banyak, kak Rama. Aku memang beruntung telah bertemu dengan mu. Hanya kamu yang aku punya sekarang."
"Jangan sungkan, Risa. Kita adalah teman. Teman yang tidak akan meninggalkan satu sama lain."
Risa mengangguk. Karakter gadis polos yang murni tetap ia pertahankan. Namun sayangnya, itu hanya dipermukaan saja. Karena karakter Risa yang sesungguhnya adalah gadis liar yang selalu ingin lebih.
'Kau milikku. Tentu saja aku tidak hanya ingin menjadi teman saja, Rama. Aku ingin kamu menjadi pasangan hidupku. Tuan muda keluarga terpandang yang mampu aku kendalikan. Mana mungkin akan aku lepaskan sebelum berhasil aku dapatkan apa yang aku mau.' Risa bicara dalam hati sambil tersenyum kecil di depan Rama.
*
Hari pernikahan itu semakin dekat. Sibuk-sibuk persiapan pesta pernikahan juga semakin terlihat dengan sangat jelas. Dorin yang tahu rencana Rama untuk menunda pernikahan langsung terkejut akan persiapan yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Mama. Pernikahan dua keluarga ini tetap berlanjut?" Pria itu berucap dengan wajah sangat bingung ketika dia mendatangi kediaman utama keluarga Hermawan.
Si mama langsung menoleh. Memberikan anaknya tatapan yang tak kalah bingung dari apa yang baru saja anaknya perlihatkan.
"Kenapa pula tidak berlanjut? Memangnya, ada alasan apa sampai pernikahan harus di tunda?"
"M-- mama. Mama yakin bertanya padaku seperti itu? Bukankah pernikahan ini di tunda oleh-- "
"Tunda apanya? Sejak awal penentuan tanggal. Mana ada kabar bahwa pernikahan di tunda. Ya Tuhan, Dorin. Kamu yang benar aja kalo ngomong. Jangan bikin masalah. Pernikahan sepupu mu ini adalah pernikahan yang paling penting. Ini bukan hanya menyangkut keluarga Hermawan saja, tau? Tapi ini juga menyangkut keluarga Wijaya. Jangan buat masalah, Dorin."
Dorin yang bingung malah dapat ceramah dari sang mama. Sudah ocehannya panjang kali tinggi, kali lebar pula lagi. Dorin yang bingung, akhirnya terpaku. Tidak bisa bicara sepatah katapun selama beberapa saat.
"Dorin!"
"Iy-- iya, Ma."
"Apa yang membuat kamu masih diam di sana, ha? Keluar sekarang. Ayo masuk ke dalam."
"Anu .... Ma, sepertinya aku tidak bisa ikut mama masuk sekarang. Aku ... ada hal mendesak yang harus ku lakukan. Mama masuk saja duluan. Aku harus pergi sekarang juga buat ngurus urusan ku."
Tidak menunggu mamanya menjawab lagi, Dorin kembali berucap. "Ya. Dada, mama. Aku pergi sekarang."
Anak itu benar-benar langsung menjalankan mobilnya dengan cepat. Sang mama yang dia tinggalkan hanya bisa menggelengkan kepalanya saja tanda tidak mengerti dengan ulah aneh anaknya itu.
"Dasar, anak aneh. Tiba-tiba saja berubah pikiran. Hm .... "
Sementara mamanya melanjutkan langkah masuk ke kediaman Hermawan, Dorin terus mengendarai mobil menuju kantor Rama. Dia sebenarnya tidak terlalu yakin, saat ini, Rama ada di kantor tempat dia bekerja. Namun, pikirannya tetap membawa jalan menuju ke kantor tersebut.
Sampai di depan gedung tinggi dengan beberapa lantai, Dorin baru ingat untuk menghubungi sepupunya itu. Panggilan terhubung dengan cepat.
"Kamu di mana, Ram?" Nada cemas terdengar dengan sangat jelas.
"Dorin. Ada apa?"
"Kamu di mana? Jawab saja apa yang aku tanyakan. Di mana kamu?"
"Aku masih di kantor."
"Ah, syukurlah. Aku ke ruangan mu sekarang juga."
"Ha?"
Sayangnya, panggilan itu sudah terputus. Rama yang bingung hanya bisa melihat layar ponsel yang masih menyala tanpa ada suara yang terdengar lagi.
"Dasar Dorin," ucapnya pelan.
ini juga satu dokter nya di byar brpa kmu sma Risa🙂↔️🙂↔️