NovelToon NovelToon
Bestie,KUA Di Sebelah Mana?

Bestie,KUA Di Sebelah Mana?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Karakter Utama:

​Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.

​Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Kemewahan yang Mengasingkan dan Topeng yang Terbuka

Sisa-sisa aroma parfum mawar dari buket bunga wisuda dan riuhnya suara ucapan selamat di auditorium kampus tadi siang seolah menguap tanpa bekas, digantikan oleh keheningan mencekam di dalam kabin mobil sedan hitam mewah yang kini melaju membelah jalanan protokol kota.

Kinar duduk dengan tubuh kaku di kursi penumpang bagian belakang. Tangannya meremas kain kebaya wisudanya yang anggun hingga kusut, sementara matanya tak berkedip menatap interior mobil yang dilapisi kulit premium beraroma mahal. Di sampingnya, Arga duduk bersedekah dada, menatap lurus ke luar jendela dengan rahang yang mengeras rapat. Jubah toga hitam mereka berdua tergeletak begitu saja di bagasi belakang, laksana kulit ari masa lalu yang baru saja mereka tanggalkan secara paksa.

Setengah jam yang lalu, tepat setelah perayaan wisuda selesai dan Mama pulang lebih dulu menggunakan taksi, pria paruh baya bersetelan jas formal yang sempat diintai Kinar tadi langsung melangkah tegap menghampiri mereka. Pria itu membungkuk hormat sembilan puluh derajat di depan Arga, lalu mengucapkan satu kalimat yang sukses membuat dunia Kinar serasa berputar terbalik: “Tuan Muda Arga, jajaran direksi dan Komisaris Utama sudah menunggu kepulangan Anda di kediaman besar.”

Kinar mengembuskan napas pendek, lalu menoleh tajam ke arah Arga. "Ga, lo utang penjelasan gede banget sama gue. Ini maksudnya apa? Tuan Muda? Kediaman besar? Jangan bilang lo abis ikutan syuting acara prank tersembunyi ya?" bisik Kinar dengan nada mendesak, menahan suaranya agar tidak terdengar oleh pria berjas yang kini fokus mengemudi di depan.

Arga tidak langsung menjawab. Dia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu menoleh menatap Kinar dengan sepasang mata elangnya yang kini pancarkan sorot penuh rasa bersalah. "Gue gak pernah bermaksud bohongin lo, Nar. Gue cuma... nunggu waktu yang pas. Dan sialnya, waktu yang pas itu adalah hari ini."

"Nunggu waktu yang pas?" Kinar terkekeh sinis, matanya mulai berkaca-kaca bukan karena sedih, melainkan karena merasa bodoh. "Belasan tahun kita temenan dari zaman ingusan, Ga! Kita tinggal di kontrakan sempit yang kalau ujan gentengnya bocor, kita makan nasi goreng mentega darurat berdua karena dompet kita kering! Dan sekarang lo mau bilang kalau semua itu cuma sandiwara?"

"Itu bukan sandiwara, Kinar Anindita!" potong Arga dengan suara baritonnya yang rendah namun penuh penekanan, membuat Kinar tersentak. Arga meraih jemari Kinar yang gemetar, menggenggamnya erat-erat seolah takut gadis itu akan melompat keluar dari mobil. "Hidup susah di kontrakan itu nyata. Perjuangan gue kuliah sambil kerja serabutan itu juga nyata. Gak ada yang palsu dari semua keringat gue selama ini."

"Terus mobil mewah ini? Pria yang manggil lo Tuan Muda ini apa?!" cecar Kinar, suaranya naik satu oktaf.

Sebelum Arga sempat membalas, laju mobil perlahan melambat. Mobil sedan hitam itu berbelok memasuki sebuah kawasan residensial elit tersembunyi di pinggiran kota yang dijaga oleh pagar besi hitam menjulang setinggi tiga meter. Begitu gerbang otomatis terbuka, pemandangan di balik pagar sukses mengunci mulut Kinar rapat-rapat.

Sebuah kompleks mansion megah bergaya arsitektur Eropa klasik berdiri dengan kokoh di tengah-tengah hamparan taman rumput hijau yang sangat luas. Air mancur marmer berbentuk patung lumba-lumba menari dengan anggun di halaman depan, dikelilingi oleh jajaran mobil-mobil sport super mahal yang terparkir rapi di bawah kanopi khusus. Kemewahan di tempat ini begitu pekat, begitu mengintimidasi, hingga membuat Kinar mendadak merasa seperti sebutir debu yang salah masuk ke dalam istana raja.

Mobil berhenti tepat di depan tangga lobi utama mansion. Pria berjas di depan segera turun dan membukakan pintu untuk mereka berdua.

"Silakan turun, Tuan Muda, Nyonya Muda," ucap pria itu dengan takzim.

Mendengar sebutan 'Nyonya Muda' diarahkan kepadanya, bulu kuduk Kinar langsung meremang hebat. Dia melirik Arga yang kini sudah turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya ke arah Kinar—mengajak Kinar untuk menghadapi badai di dalam sana bersama-sama. Dengan sisa-sisa keberanian yang dia miliki, Kinar menyambut tangan Arga, melangkah turun dengan anggun meski hatinya dirayapi rasa cemas yang luar biasa.

Begitu pintu ganda berlapis emas setinggi empat meter itu terbuka, mereka disambut oleh barisan pelayan berseragam rapi yang membungkuk serentak. Di ujung aula utama yang megah, di atas sebuah kursi roda berbahan kayu jati berukir mewah, duduk seorang pria lansia berambut putih perak sepenuhnya. Meskipun fisiknya tampak sepuh, sorot mata pria tua itu masih memancarkan aura otoritas dan kekuasaan yang sangat kuat, khas seorang penguasa tunggal dunia bisnis.

Dialah Hendra Mahendra, sang nakhoda utama Mahendra Group, salah satu gurita bisnis terbesar di negeri ini, sekaligus kakek kandung dari Arga Mahendra.

"Akhirnya... kau pulang juga, Arga," suara parau namun berat milik sang Kakek menggema di aula yang luas, memecah keheningan. Tatapan tajam sang Kakek beralih dari Arga, lalu turun menatap lekat ke arah Kinar yang berdiri kaku di samping cucunya. "Dan ini... gadis dari masa lalumu yang berani kau nikahi tanpa izin dariku?"

Arga melangkah maju satu babak, dengan berani memosisikan tubuh tegapnya sedikit di depan Kinar, bertindak sebagai tameng pelindung seperti yang biasa dia lakukan. "Kinar adalah istri sahku, Kakek. Dan aku datang ke sini bukan untuk meminta restu atas pernikahan yang sudah terjadi, tapi untuk menepati janji lama kita."

Sang Kakek terkekeh hambar, sebuah suara yang terdengar dingin dan penuh kepuasan. "Janji untuk menyelesaikan kuliahmu dengan usahamu sendiri tanpa sepeser pun uang dari keluarga Mahendra? Kau sudah menepatinya, Arga. Kau lulus dengan predikat terbaik di fakultas teknik menggunakan namamu sendiri. Mentalmu sudah tertempa di luar sana, persis seperti yang kuinginkan."

Kinar yang mendengar percakapan itu merasa otaknya seperti dihantam gada besar. Jadi... Arga sengaja hidup miskin dan mandiri di kontrakan itu semua karena syarat ujian dari kakeknya?

Sang Kakek kemudian memberi isyarat dengan tangannya. Seorang pria paruh baya lainnya yang mengenakan pakaian rapi—yang belakangan diketahui Kinar sebagai notaris resmi keluarga—melangkah maju sembari membawa sebuah koper kulit hitam. Di atas meja kaca besar di tengah aula, notaris itu membuka koper dan mengeluarkan beberapa bendel dokumen tebal berlapis map beludru merah.

"Kesehatan Kakek sudah semakin menurun, Arga. Jajaran direksi Mahendra Group butuh nakhoda baru sebelum paman-pamanmu yang tamak itu menghancurkan perusahaan dari dalam," ucap Sang Kakek, nadanya mendadak berubah menjadi serius dan sarat akan keletihan fisik. "Seluruh aset, saham pengendali sebesar lima puluh satu persen, dan takhta kepemimpinan tertinggi perusahaan ini sudah kusiapkan atas namamu di dalam dokumen warisan ini."

Napas Kinar tercekat. Warisan senilai triliunan rupiah kini berada tepat di depan matanya, hanya berjarak beberapa jengkal dari jangkauan tangan Arga.

"Tapi..." Sang Kakek menggantung kalimatnya, matanya kembali menatap Kinar dengan kilat misterius yang membuat firasat Kinar mendadak memburuk. "Ada satu klausul mutlak di depan hukum yang sengaja kutambahkan di dalam akta warisan ini. Sebuah syarat yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun."

Arga mengernyitkan alisnya, rahangnya kembali mengeras. "Syarat apa lagi, Kakek? Aku sudah menyelesaikan kuliahku sesuai maumu."

Hendra Mahendra menatap cucu tunggalnya itu dengan senyuman tipis yang penuh intrik. "Takhta Mahendra Group hanya boleh diserahkan kepada seorang pria yang sudah memiliki penerus darah sah yang jelas. Syaratnya adalah... kau harus memberikan seorang anak, seorang cicit laki-laki atau perempuan untuk keluarga Mahendra dalam kurun waktu satu tahun dari sekarang bersama istri sahmu, Kinar."

DEG!

Kata 'anak' yang keluar dari mulut sang Kakek bergema laksana petir di siang bolong, menghantam telinga Kinar dan Arga secara bersamaan. Kinar merasa seluruh persendian kakinya mendadak mati rasa, sementara genggaman tangan Arga di jemarinya seketika mengencang drastis hingga terasa sedikit sakit.

"Jika dalam waktu satu tahun kalian tidak bisa memberikan penerus tersebut," sambung Sang Kakek dengan nada dingin tanpa ampun, "maka seluruh hak waris perusahaan, aset, dan rumah ini akan dialihkan sepenuhnya secara hukum kepada pamanmu yang licik itu. Dan kau... akan dicoret selamanya dari silsilah keluarga Mahendra."

Aula megah itu kembali tenggelam dalam keheningan yang mencekam dan penuh tekanan emosional yang luar biasa hebat. Di bawah pendar lampu kristal gantung yang mewah, Kinar menoleh lambat ke arah Arga dengan tatapan mata yang penuh riak kepanikan dan kebingungan mendalam.

Pernikahan kontrak Rp0 yang mereka buat di atas selembar kertas meterai kemarin, yang awalnya hanya ditujukan untuk mengelabui Mama dan mengusir mantan kekasih, kini mendadak terseret masuk ke dalam pusaran perebutan takhta konglomerat yang menuntut sesuatu yang jauh lebih nyata, jauh lebih dewasa, dan jauh lebih berbahaya bagi batasan hati mereka berdua: seorang anak.

1
Delia_Sherlyn
bola mata ap bola apa?
Markario Putra: bola matanya k,siap salah🙏😄
total 1 replies
Delia_Sherlyn
semangat ya kak, mohon izin untuk jadi refrensi🙏
Markario Putra: ok ka👍
total 1 replies
Markario Putra
Untuk sahabat ku semua yang baru membaca novel ku ini,jangan lupa untuk klik tombol IKUTI ya kawan ku semua🙏🙏
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. ceritanya masuk di aku 🤣. semangat terus ya author.


btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/
Kim Borahae: terima kasih yaa
total 2 replies
Markario Putra
Tinggalkan komentar Anda🙏🙏
Markario Putra: untuk sahabat ku,mohon tinggalkan komentar supaya sy bisa lebih semangat lagi untuk menulis🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!