Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.
Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.
Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.
Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAFAS NONIK DIUJUNG TANDUK
Rani memegang dahi Nonik. Panasnya belum turun. Sejak sore, Nonik terus menggigau. Nafasnya nguk-nguk berat Selang oksigen menempel dihidungnya. Kadang jantungnya berdegub kencang, buat Rani hampir nangis.
“Mbak, bocah ini harus ke rumah sakit.”
Kata dokter Sapto pelan.
“Aku nngak bisa nanganin lebih dari ini.”
Rani menoleh cepat.
“Dok, apa kau nngak bisa sembuhin dia disini?”
“Maaf, mbak. Ini bukan spesialisasiku.”
Jawab dokter Sapto sambil menggeleng.
“Aku cuma bisa meredakan. Kalau mau sembuh, harus ke rumah sakit. Alatnya nngak ada disini.”
Rani terdiam. Dadanya sesak, Dia tidak bisa tenang kalau begini. Di rumah, Ibu dan adik-adiknya masih menunggu. Mereka butuh dia. Walau adik-adiknya sudah kerja. Tapi adik-adiknya semua laki-laki.Tidak ada yang tahu merawat ibu yang sakit.
“Aku………diawasi mereka.”
Bisik Rani. Suaranya gemetar.
Dokter Sapto menatapnya lama.
“Kalau mbak setuju, aku bisa bantu.”
Rani berpikir keras. Madun kekasihnya, Dia harus tahu. Lagipula transferan tidak masuk. Dia tidak bisa menunggu.
“Aku bicara dulu sama Madun!”
Suara Rani tegas.
Dia tidak mau bawa Nonik ke rumah sakit diam-diam. Itu bisa jadi masalah besar. Madun harus tahu dulu.
“Baik, mbak.”
Kata dokter Sapto mengangguk pelan. Dia tidak berani membujuk Rani lagi. Dia takut Darto marah kalau tahu dia yang membujuk Rani bawa Nonik ke rumah sakit.
Rani keluar dari kamar. Dadanya masih sesak. Diluar, dia lihat Madun baru keluar rumah, Wajahnya tegang, seperti lagi ada masalah besar.
“Madun.”
Panggil Rani pelan.
Sebelum Madun sempat menoleh, Rani memeluknya dari belakang. Matanya terpejam. Hangat itu……udah lama dia rindukan.
“Ada apa.”
Suara Madun serak.
“Aku mau pulang nengok ibu.”
Jawab Rani. Suaranya pelan, tapi gemetar.
Madun menggeser tubuhnya,lalu berbalik menghadap Rani.
“Apa kau bilang.”
Rani menahan nafas. Jantungnya berdegub pelan. Dia mendekat ke telinga Madun, berbisik pelan.
“Bocah itu sakit. Aku mau dia dirawat yang layak.”
Madun terdiam. Matanya menatap Rani dalam-dalam.
“Kau tau, apa akibatnya.”
Suaranya berat.
Rani menelan ludah. Dia tahu, satu kata salah dan semuanya bisa meledak.
“Lihat bocah itu, Dun.”
Kata Rani pelan tapi tegas.
“Dia butuh perawatan yang intensif. Bukan disini. Di rumah sakit.”
Madun berdiam. Matanya menatap tanah kering dibawahnya. Dia tahu Rani benar. Kalau dibiarkan disini, bocah itu tidak akan bertahan lama.
“Tapi kita diincar Ran.”
Bisik Madun.
Petugas keamanan tidak akan diam.
“Dokter Sapto bisa bantu.”
Mendengar nama itu, rahang Madun mengeras.
“Dokter Sapto? Jadi dia yang bujuk kau?”
“Stop!”
Rani melangkah maju.
“Jangan salahkan dokter Sapto.”
BLAK!
Tinju Madun menghantam dinding kayu. Rumah itu bergetar. Debu berjatuhan dari atap.
“Boss, jangan dihantam! nanti rubuh!”
Teriak seseorang dari dalam. Darto.
“Ran, kau mau diambil oleh keamanan kota.”
Rani mundur selangkah. Nafasnya tercekat.
Madun menatap Rani tajam. Matanya merah.
“Kita pakai akal. Biar tidak ketahuan.”
Rani sedang menggendong Nonik dengan tergesa-gesa. Tubuh kecil itu lemas di pelukannya.
“Cepat, mbak!”
Kata dokter Sapto membuka pintu mobil.
Mereka melesat ke jalanan berdebu. Malam ini Nonik harus sampai ke rumah sakit. Kalau telat, nyawa taruhannya.
Mobil berhenti di depan rumah sakit. Tempat dulu Nonik dibawa. Rani berlari naik lantai 3, langsung keruang ICU, dokter Bram yang baru berbicara dengan suster jaga terkejut.
“Cepat dok!” Dia kritis!”
Nonik langsung dipindahkan ke ranjang dorong. Petugas mendorongnya masuk ICU dengan cepat.
Dokter Bram mulai menyiapkan prosedur darurat. Tangannya tidak berhenti bergerak.
Rani berdiri di luar kaca ICU. Dadanya lega sedikit. Nonik akhirnya dapat perawatan. Tapi baru mau berbalik, dua petugas keamanan menahannya.
“Mbak, jangan keluar ruangan dulu.”
Suster jaga sudah lapor keamanan. Mereka takut Rani kabur. Sementara itu dokter Sapto sudah menghilang tanpa jejak. Seperti tidak pernah ada.
“Status pasien, darurat! Nafas merah! Jantung tidak stabil!”
Suara dokter pendamping terdengar dari dalam.
Rani menutup mulutnya. Lututnya lemas.
“Harus segera operasi.”
Kata dokter Bram tegas.
“Kalau nngak, dia nngak akan bertahan sampai pagi.”
Rani menatap dokter itu. Suaranya gemetar.
“Bocah itu.”
“Aku yang tanggung.”
Seru seorang laki-laki bermata tajam.
Dody. Dia cepat-cepat ke rumah sakit begitu mendengar kabar Nonik kembali ke rumah sakit K. Untunglah anak buah Ritonga bersedia mengantar sehingga lebih cepat tiba 10 menitan.
“Biayanya 300 juta pak.”
Kata dokter pendamping. Tapi dokter Bram memotong cepat.
“Tak usah dibayar sekarang pak. Yang penting nyawa pasien selamat dulu.”
Dody memandang Rani.
“Perempuan cantik.”
Desis Dody.
“Mbak yang bawa Nonik ke rumah sakit ini.”
Rani melihat Dody. Lelaki ganteng dengan tatapan tajam menusuk. Pandangannya sedingin es. Membekukan hati para gadis. Membuat putus asa para gadis yang mau dekat dengannya.
“Ya mas.”
Jawab Rani pendek.
“Gimana mbak bisa membawa Nonik.”
Selidik Dody penuh curiga.
“Aku ketemu bocah itu di sebuah rumah ditinggalkan begitu saja, ditelantarkan mas.
Sedangkan kondisinya sedang kritis.”
Jawab Rani.
“Yang bener.”
Kata Dody tidak percaya.
“Rumahnya dimana.”
“Apa mas.”
“Rumahnya.”
“Aku tinggal di kontrakan Melati mas.”
Dody menggaruk kepalanya. Dia mau tanya Rani menemukan Nonik dimana malah dijawab tempat tinggal perempuan ini. Gimana sih.
“Bukan. Bukan itu. Rumah tempat mbak menemukan Nonik tadi.”
“O itu. Aku temukan di rumah kosong pinggir dusun Juang mas.”
Jawab Rani sekenanya. Dia tidak mungkin bicara jujur kepada Dody.
“Bukankah dusun Juang itu jauh dari kontrakan mbak.”
Dody masih mencurigai Rani. Dia tidak mudah percaya begitu saja pada perempuan yang baru dikenalnya.
“O itu. Kebetulan aku mau ketemu temenku disana malahan kesasar. Kemudian ketemu bocah ini tergeletak di kursi panjang depan rumah kosong mas.”
Rani pernah berada di dusun Juang mengunjungi saudara ibunya, jadi tahu ada rumah kosong pinggir dusun yang didepannya ada bangku panjang. Jadi dia bisa mengarang cerita biar Dody tidak curiga.
Dody tidak bicara lagi. Pandangannya berpusat pada Nonik yang sedang dioperasi darurat oleh dokter Bram dan asistennya, di kaca satu arah.
“Apa bocah itu anak mas.”
Rani tanya pelan. Jujur, dia tidak menyangka anak 5 tahun ini punya bapak seperti Dody. Dingin, keras, bikin gadis mana pun patah hati.
“Iya. Dia anakku.”
Jawab Dody singkat. Suaranya berat penuh yakin.
Ritonga masuk ruangan tergesa-gesa. Dia baru saja diberitahu anak buahnya bahwa Nonik di rumah sakit K, sedang operasi darurat.
“Dod, gimana?”
“Dia sedang operasi darurat bro. Semoga bisa lewat masa kritisnya.”
Ritonga mengangguk pelan. Lalu matanya menoleh ke Rani. Tajam. Penuh curiga.
“Kau siapa?”
“Dia yang menemukan Nonik, bro.”
Kata Dody sambil matanya meneliti Rani.
“O, kau perempuan yang bersama Nonik itu ya, di rumah kosong di daerah Harmoni.”
Ritonga menyelidik Rani
“Bukan….bukan!”
Kata Rani gugup.
“Aku menemukan bocah itu berbaring di kursi panjang, depan rumah kosong pinggir dusun Juang.”
Ritonga masih belum percaya. Dia perlu bertanya lagi tapi dokter Bram berseru dibalik pintu.
“Masa kritis sudah lewat.”
Dody gembira. Dia mau segera masuk, tapi dokter Bram menahannya.
“Jangan dulu. Biarkan dia istirahat.”
Rani memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Tapi tangan kuat menahannya. Dody.
“Kau. Mau kemana!”
Katanya dingin. Kontras ketika sebelumnya dia berbicara dengan Rani.
“Anu….mas…aku harus pulang, ibuku sakit keras.”
Kata Rani terbata-bata. Dia kesini untuk Nonik. Sampai dia harus bersitegang dengan Madun lebih dulu sebelum Madun menyetujuinya.
“Tetap disini!”
Kata Dody bagaikan es kutub yang keras, dingin membeku.
“Ta….tapi…..mas.”
Rani mencoba protes.
“Aku bilang disini, ya disini!”
Kata Dody tidak kasih celah. Tanpa perasaan.
Rani diam. Dia tidak dapat berbuat apa-apa. Tangan Dody mencengkram lengannya kuat banget.
“Mbak antik….mana mbak antik?”
“Eh bocah itu manggil aku mas. Lepaskan.”
Rani menatap Dody memohon.
Dody belum melepas. Tatapannya tajam, masih menimbang-nimbang.
“Mbak antik….sini mbak…”
Nonik manggil lagi. Suaranya makin lemah.
“Dia manggil aku, mas. Biarkan aku temui bocah itu.”
Kali ini suara Rani tegas.
Akhirnya Dody melepas cengkeramannya. Rani langsung berlari ke ranjang Nonik.
“Aku disini, sayang.”
Kata Rani membelai kepala Nonik pelan, berusaha menenangkan anak itu.
Dody melihat keakraban antara Rani dengan Nonik. Kucurigaannya makin dalam. Tidak mungkin mereka bisa sedekat itu kalau tidak kenal lama. Tapi dia memilih diam. Tidak sepatah kata pun keluar.
“Gimana mas? Operasinya. lancar.”
suara mister Chow memecah keheningan. Dia baru masuk, habis makan sebentar di warung dekat rumah sakit.
“Lancar pak. Nonik sudah melewati masa kritisnya.
Dody menjawab singkat tapi tegas.
“Syukurlah.”
Mister Chow menghela nafas panjang. Ada rasa lega yang tulus di suaranya.
“O, sudah melewati masa kritis ya!”
Sebuah suara dingin terdengar dari balik tembok luar ICU.
Bersambung