Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Damian Menyesal Terlambat
Malam di ballroom hotel masih ramai oleh musik dan gelas-gelas kristal yang beradu pelan, tetapi bagi Damian Moretti, semua suara itu terasa jauh.
Ia berdiri beberapa langkah dari Elara.
Orang-orang masih mengerubungi wanita itu. Investor, pejabat, media, sosialita, semua ingin mendapat perhatian darinya walau hanya satu senyum singkat.
Dulu, di rumahnya sendiri, Elara berjalan melewati lorong panjang sambil membawa nampan sarapan… dan tak seorang pun benar-benar melihatnya.
Kini seluruh ruangan menatap ke arahnya.
Dan Damian membenci kenyataan bahwa ia baru mengerti nilainya ketika orang lain lebih dulu menyadarinya.
“Elara.”
Wanita itu menoleh perlahan.
Tatapannya tenang. Tidak marah. Tidak lembut. Tidak memberi apa-apa.
“Ada lagi?”
Damian menelan napas.
Ia pria yang terbiasa memimpin rapat miliaran rupiah, menutup negosiasi besar, membuat orang lain gugup hanya dengan diam.
Namun di depan wanita ini, kata-kata sederhana terasa jauh lebih sulit.
“Aku ingin bicara jujur.”
“Kalimat yang sering datang terlambat.”
Damian menerima tusukan itu tanpa protes.
“Benar.”
Elara memandangnya beberapa detik, lalu menoleh ke arah pelayan yang menawarkan minuman. Ia mengambil segelas air putih.
“Dua menit,” katanya datar. “Setelah itu saya ada jadwal lain.”
Dua menit.
Damian, pewaris keluarga Moretti, diberi dua menit oleh perempuan yang dulu bangun paling pagi demi menyiapkan kopinya.
Ia pantas mendapatkannya.
“Aku seharusnya bicara malam itu.”
“Elaborasi yang mengejutkan.”
“Malam saat kau dituduh mencuri.”
Elara meminum airnya.
“Kau diam.”
“Aku tahu.”
“Kau diam saat ibumu menamparku.”
Rahang Damian menegang.
“Aku tahu.”
“Kau diam saat aku diusir.”
Ia menatapnya lurus.
“Aku tahu.”
Elara meletakkan gelas di meja kecil sampingnya.
“Kalau begitu kau tak butuh aku. Kau sudah tahu semua.”
Ia hendak pergi.
Damian refleks menahan langkah dengan satu kalimat.
“Aku takut.”
Elara berhenti.
Bukan karena terkesan.
Karena terkejut.
Damian menatap lurus ke depan, seolah lebih mudah bicara pada udara daripada pada matanya.
“Aku takut melawan ibuku. Takut rumah jadi perang. Takut semuanya berubah.”
Elara berbalik perlahan.
“Dan sekarang?”
“Sekarang semuanya berubah… karena aku diam.”
Hening menggantung di antara mereka.
Elara memandang pria itu lebih lama dari sebelumnya.
Damian tampak sama seperti dulu—tegap, rapi, dingin.
Namun ada sesuatu yang retak di balik wajahnya.
Penyesalan.
Terlambat, tapi nyata.
“Apa yang kau harapkan dariku?” tanyanya.
“Tidak tahu.”
“Itu jawaban buruk.”
“Aku tidak datang meminta maaf agar dimaafkan.”
“Bagus.”
“Aku datang karena aku tak tahan menjadi orang yang dulu.”
Elara menyilangkan tangan.
“Sayangnya masa lalu tidak bisa dipecat dari jabatan.”
Damian nyaris tersenyum pahit.
“Dan kau masih setajam dulu.”
“Tidak. Dulu aku hanya diam.”
Di sudut ruangan, Seraphina memperhatikan mereka dari jauh dengan dada naik turun cepat.
Selene berdiri di samping sambil memakan dessert kecil.
“Ibu kelihatan seperti mau meledak.”
“Kakakmu sedang mempermalukan keluarga.”
“Tidak.”
Selene menggigit kue.
“Dia sedang jujur untuk pertama kali.”
Seraphina menoleh tajam.
“Kau berpihak pada siapa?”
Selene tertawa kecil.
“Pada tontonan terbaik malam ini.”
Damian dan Elara berpindah ke balkon samping ballroom yang lebih sepi.
Lampu kota berkilau di bawah mereka.
Suara pesta terdengar samar dari balik pintu kaca.
Damian menghela napas.
“Setiap malam setelah kau pergi, aku turun ke dapur.”
Elara mengangkat alis.
“Untuk apa?”
“Mencari kopi.”
“Lucu.”
“Tak ada yang menyiapkannya seperti dulu.”
“Itu masalah kecil.”
“Bukan kopinya.”
Damian menatapnya.
“Aku baru sadar ada seseorang yang memperhatikan kebiasaanku tanpa pernah diminta.”
Elara memalingkan wajah ke kota.
“Aku bekerja.”
“Kau peduli.”
Ia menjawab tenang,
“Dulu mungkin.”
Satu kata itu menusuk lebih telak daripada makian.
Dulu.
Artinya waktu itu sudah habis.
Damian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan buku catatan kecil.
Elara langsung mengenalinya.
“Itu milikku.”
“Kau tertinggal di dapur.”
Ia menyerahkannya.
Elara menerima perlahan, membuka halaman terakhir, lalu menutupnya lagi.
“Kau baca?”
“Ya.”
“Semua?”
“Beberapa.”
“Kurang sopan.”
“Benar.”
Ia menarik napas.
“Tapi aku bersyukur membacanya.”
“Kenapa?”
“Karena di situ aku melihat perempuan yang tak pernah kutanya siapa dirinya.”
Elara memegang buku itu erat sesaat.
Lalu bertanya datar,
“Kalau tahu sejak awal aku pewaris Vasiliev, apa kau akan bertanya?”
Damian terdiam.
Kejujuran menuntut harga mahal.
“Ya.”
Elara tersenyum kecil.
Senyum paling dingin yang pernah ia lihat.
“Terima kasih sudah jujur.”
Ia menambahkan pelan,
“Itulah sebabnya aku lebih menghargai keterlambatan jujur daripada kepalsuan cepat.”
Di dalam ballroom, Cassian muncul di dekat Seraphina.
“Madam Moretti.”
“Apa maumu?”
“Membantu.”
“Semua orang yang bilang begitu malam ini ternyata beracun.”
Cassian tertawa.
“Kalau Damian mendekat pada sepupuku, Anda kehilangan pengaruh di rumah. Kalau dia gagal, Anda kehilangan putra.”
Seraphina menegang.
“Kenapa kau bicara ini padaku?”
“Karena panik membuat orang mudah bekerja sama.”
Ia menyelipkan kartu nama ke tangan Seraphina.
“Hubungi saya jika ingin menyingkirkan masalah.”
Seraphina menatap kartu itu lama.
Untuk pertama kali, ia mempertimbangkan bersekutu dengan musuh demi menyelamatkan dirinya.
Di balkon, Elara bersiap masuk kembali.
“Waktumu habis,” katanya.
Damian mengangguk.
“Aku tahu.”
Ia menatapnya sejenak.
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Aku tidak peduli kau pewaris atau bukan.”
Elara menatap tanpa ekspresi.
“Itu kalimat yang ingin kau percayai… atau kenyataan?”
Damian terdiam.
Ia tak bisa menjawab cepat.
Dan itu sudah cukup sebagai jawaban.
Elara membuka pintu kaca.
Sebelum masuk, ia berkata tanpa menoleh,
“Kau menyesal terlambat. Jangan tambah satu kesalahan lagi dengan berbohong pada diri sendiri.”
Pintu tertutup.
Damian berdiri sendiri di balkon.
Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya.
Acara berlanjut, tetapi pikirannya tak lagi berada di ballroom.
Ia melihat Elara berbicara dengan tamu lain.
Ia melihat bagaimana semua orang menghormatinya.
Ia melihat betapa mudah wanita itu bergerak di dunia yang dulu ia kira jauh dari dirinya.
Dan ia melihat sesuatu yang paling menyakitkan:
Elara baik-baik saja tanpa dirinya.
Selama ini Damian selalu merasa dirinya pusat banyak hal.
Di kantor.
Di rumah.
Di lingkaran sosial.
Namun di hidup Elara, ia ternyata hanya pelajaran buruk.
Saat acara selesai, tamu mulai pulang.
Iring-iringan mobil Vasiliev kembali siap di depan hotel.
Elara berjalan keluar bersama Viktor dan dua staf.
Kamera berkilat.
Orang-orang memberi jalan.
Damian mengejar beberapa langkah.
“Elara!”
Ia berhenti sebentar dan menoleh.
“Apa?”
“Aku akan memperbaiki semuanya.”
Elara memandangnya tenang.
“Mulailah dari dirimu. Dunia tidak menunggu reformasi keluarga Moretti.”
Lalu ia masuk ke mobil.
Pintu tertutup.
Mobil bergerak pergi.
Damian berdiri di trotoar hotel dengan lampu kota memantul di kaca kendaraan yang menjauh.
Ia tidak mengejar lagi.
Karena untuk pertama kali, ia paham satu hal pahit:
Ada hal yang bisa dikejar dengan uang.
Ada hal yang bisa dikejar dengan kekuasaan.
Tapi kesempatan kedua dari hati seseorang…
sering datang hanya sekali.
Di perjalanan pulang, Damian tak ikut mobil keluarganya.
Ia menyetir sendiri.
Jalan malam kosong.
Pikirannya penuh.
Saat tiba di mansion, rumah itu tampak megah seperti biasa.
Namun malam ini terasa seperti bangunan asing.
Ia masuk dan melihat Seraphina menunggu di ruang utama.
“Kita perlu bicara,” kata ibunya.
“Besok.”
“Sekarang.”
Damian menatapnya lama.
“Selama bertahun-tahun aku menuruti semuanya.”
“Karena aku ibumu.”
“Karena aku pengecut.”
Seraphina tersentak.
Damian melanjutkan,
“Malam ini selesai.”
“Apa maksudmu?”
“Mulai sekarang, bisnis dan hidupku bukan alat untuk menenangkan egomu.”
“Damian!”
“Aku menyesal terlambat pada Elara.”
Ia naik satu anak tangga, lalu berhenti.
“Tapi aku tidak akan terlambat meninggalkan cara hidup ini.”
Seraphina membeku.
Selene yang berdiri di lorong atas diam-diam menyaksikan semuanya.
Dan untuk pertama kalinya dalam rumah itu…
Damian Moretti memilih berdiri.
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄