Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NGIDAM SANG RATU DAN TANDA DI LEHER SANG GUS
Memasuki minggu kedelapan kehamilannya, Mentari mulai merasakan perubahan yang luar biasa dalam dirinya. Jika ibu hamil pada umumnya mendambakan mangga muda atau makanan tertentu di tengah malam, Mentari justru mengalami fase "ngidam" yang jauh lebih menantang bagi kewibawaan Gus Zikri. Hormon kehamilannya justru membuatnya menjadi jauh lebih manja dan posesif terhadap suaminya.
Pagi itu, Gus Zikri baru saja bersiap untuk berangkat memimpin rapat besar para pengurus pondok mengenai pembangunan gedung asrama baru. Ia sudah mengenakan baju koko putih bersih yang disetrika rapi oleh Mentari, lengkap dengan sarung sutra dan aroma kayu gaharu yang maskulin.
"Mas... jangan pergi dulu," rengek Mentari sambil menarik ujung baju koko Zikri saat pria itu hendak memakai pecinya.
Zikri berbalik, menatap istrinya dengan lembut. "Hanya sebentar, Sayang. Kasihan para pengurus sudah menunggu di kantor pusat. Nanti Mas bawakan camilan sepulang dari sana, ya?"
Mentari menggeleng kuat. Matanya mulai berkaca-kaca senjata andalan ibu hamil. "Nggak mau camilan. Aku mau Mas di sini. Aku... aku lagi pengen sesuatu."
Zikri menghela napas, ia berlutut di depan Mentari yang duduk di tepi ranjang. "Pengen apa? Seblak? Burger? Katakan saja, nanti Mas minta Bondan atau Hafizah carikan."
Mentari menunduk, wajahnya merona merah namun jemarinya mulai bermain di kancing kerah baju Zikri. "Aku nggak mau makanan. Aku mau... aku mau Mas, tapi aku yang memimpin."
Zikri tertegun. Ia menelan ludah, menyadari bahwa "ngidam" istrinya kali ini adalah ujian berat bagi profesionalitasnya sebagai pemimpin pesantren.
Mentari tidak memberikan ruang bagi Zikri untuk protes. Dengan gerakan yang penuh percaya diri sisi "bar-bar"-nya yang dulu seolah bangkit kembali namun dalam balutan kasih sayang yang halal ia menarik Zikri agar duduk di sampingnya.
"Mentari, ini masih pagi... para pengurus..." suara Zikri melemah saat Mentari mulai menyandarkan kepalanya di bahunya, menghirup aroma leher suaminya dengan dalam.
"Ini permintaan bayi kita, Mas. Dia mau dekat sama Abinya," bisik Mentari manja.
Zikri akhirnya menyerah. Ia tahu, melawan keinginan istri yang sedang hamil muda hanya akan berakhir dengan tangisan yang sanggup meruntuhkan pertahanan hatinya. Ia membiarkan Mentari mengambil kendali.
Mentari mulai mengecup rahang Zikri dengan lembut, lalu turun ke area leher. Keberaniannya membuat Zikri memejamkan mata, tangannya mencengkeram sprei ranjang untuk menahan gejolak di dadanya. Mentari seolah ingin menandai miliknya. Dengan sedikit tekanan yang intens, ia memberikan kecupan dalam di sisi leher Zikri, meninggalkan jejak kemerahan yang sangat kontras di kulit putih sang Gus.
"Mentari... astaghfirullah," bisik Zikri tertahan saat merasakan sensasi hangat yang membara di lehernya.
"Biar semua orang tahu kalau Mas itu punya aku," gumam Mentari penuh kemenangan sambil melihat hasil karyanya sebuah tanda "cupang" yang menyala kemerahan tepat di atas kerah baju koko Zikri.
Zikri akhirnya keluar rumah dengan terburu-buru setelah Mentari merasa puas dengan "ngidam"-nya. Ia mencoba menarik kerah baju kokonya setinggi mungkin untuk menutupi tanda itu, namun tanda itu berada di posisi yang sangat strategis sehingga sulit disembunyikan sepenuhnya.
Di kantor pusat, Bondan, Hafizah, dan beberapa pengurus senior sudah berkumpul. Zikri masuk dengan wajah yang sedikit kaku dan terus menunduk.
"Assalamualaikum, maaf saya terlambat," ucap Zikri singkat sambil duduk di kursi utama.
"Waalaikumsalam, Gus. Wah, wajahnya segar banget pagi ini, tapi kok kerahnya ditarik-tarik terus? Gerah ya?" tanya Bondan dengan nada polos namun penuh selidik.
Rapat dimulai dengan serius. Namun, saat Zikri sedikit menoleh untuk menjelaskan denah bangunan, kerah bajunya sedikit bergeser.
Mata Bondan membelalak. Ia hampir tersedak air mineral yang sedang diminumnya. "G-gus... itu di leher..."
Hafizah yang duduk di samping Bondan ikut menoleh, lalu segera membuang muka dengan wajah merah padam. Pengurus senior yang lain pun terdiam, mencoba bersikap sopan meski mata mereka sulit untuk tidak melirik tanda merah yang "berteriak" di leher sang Gus.
Bondan berbisik kencang pada Hafizah, "Fiz, itu bukan digigit nyamuk kan? Nyamuknya pasti gede banget dan pinter bikin pola simetris gitu!"
Zikri yang menyadari arah pandangan mereka langsung menutup lehernya dengan tangan, wajahnya yang biasanya tenang kini memerah hingga ke telinga. "Kita... kita lanjutkan bahas anggarannya," ucapnya dengan suara yang bergetar karena malu.
Sepulang rapat, Bondan dan Fahma langsung menghadang Zikri di depan rumah. Fahma membawa sebuah kotak yang isinya salep kulit.
"Gus! Tadi aku liat di leher Gus ada merah-merah! Pasti itu kena ulat bulu ya waktu lewat kebun?" tanya Fahma dengan wajah yang sangat khawatir. "Nih, aku bawain salep. Nanti biar Tari yang olesin."
Bondan tertawa sampai memegang perutnya. "Fahma, itu bukan ulat bulu! Itu namanya 'ulat cinta'! Ulatnya cuma ada di kamar Mentari!"
Mentari keluar dari pintu sambil membawa segelas jus jeruk, wajahnya tampak sangat segar dan bahagia. Melihat suaminya yang tampak sangat malu, ia justru tersenyum lebar.
"Gimana rapatnya, Mas? Lancar?" tanya Mentari tanpa dosa.
Zikri menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan antara gemas, cinta, dan ingin protes. "Lancar, Mentari. Sangat lancar sampai semua pengurus sepertinya lupa cara membaca laporan karena fokus ke hal lain."
Bondan mendekati Mentari. "Tari, lo bener-bener ya! Kasihan Gus Zikri, tadi beliau pas rapat kayak lagi disidang sama malaikat maut gara-gara tanda itu!"
Mentari tertawa renyah. "Habisnya dia ganteng banget pagi ini, aku nggak tahan."
Zikri hanya bisa menggelengkan kepala. Ia mendekati Mentari, lalu berbisik pelan di telinganya sehingga hanya mereka yang dengar, "Lain kali, ngidamnya jangan di tempat yang terlihat orang, Sayang. Mas bisa kehilangan wibawa dalam sekejap."
Mentari memeluk lengan Zikri. "Iya deh, Mas Imam. Maaf ya."
Sore itu, di bawah tatapan jail Bondan dan kepolosan Fahma, Zikri menyadari bahwa memiliki istri seperti Mentari adalah petualangan tanpa akhir. Meskipun tanda di lehernya akan menjadi bahan gosip di kalangan pengurus selama seminggu ke depan, Zikri tidak keberatan. Karena bagi seorang Gus, kebahagiaan istri yang sedang mengandung buah hatinya adalah hukum tertinggi di rumah mereka.