Tidak pernah terbayang sebelumnya. Lelaki yang dulu sangat mencintainya kini berubah drastis setelah pernikahan terjadi.
Pernikahan yang seharusnya penuh kebahagiaan justru berbanding terbalik dari angannya selama ini.
Tidak tau mengapa suaminya tiba-tiba bersikap dingin terhadapnya. Bahkan di malam pertama mereka suaminya meninggalkannya begitu saja.
Suamiku Membenciku....
Follow Akun Ig saya: lisa_gultom
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elizabetgultom191100, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Shara begitu cantik hari itu. Menurutku tidak ada wanita lain yang lebih cantik darinya.
Jantungku berdetak semakin kencang ketika dia berjalan dituntun oleh Ayah. Aku bisa melihat kebinaran di wajahnya. Mungkinkah dia juga bahagia hari ini, hatiku bertanya-tanya. Mengingat foto itu kembali membuat pikiranku terpecah.
Rasanya ingin sekali aku menarik Shara dari tempat ini, menanyakan semuanya kepadanya. Namun aku tidak ingin gegabah, aku menarik nafasku pelan, berusaha meredakan emosiku.
Terlalu lama dalam lamunanku, aku sampai tidak menyadari mereka sudah sampai di depanku. Ayah memanggil namaku. Memberikan tangan Shara ke dalam genggamanku. Beliau memintaku menjaga putri satu-satunya ini, wanita yang telah berhasil merebut hatiku.
Kulihat wajah Ayah bercampur antara bahagia dan sedih. Ayah pasti sedih melepas putri satu-satunya ini menikah denganku.
Tidak butuh waktu lama, kami sudah sah menjadi pasangan suami istri. Bergantian kami mengucap janji suci atas nama Tuhan.
Aku begitu lega, akhirnya aku telah memiliki Shara. Pikiranku tentang foto itu seolah lenyap dari pikiranku. Yang ada hanyalah rasa bahagia sekaligus haru dalam hatiku.
Aku mengakui bahwa aku sudah cinta mati pada wanita ini. Bahkan sebesar apapun kesalahannya, aku tetap tidak bisa membencinya.
Pendeta memintaku mencium wanita yang telah sah menjadi istriku. Dengan jantung yang berpacu dengan kencang, kukecup bibir hangatnya dengan lembut yang disambut dengan sorak kebahagian para tamu undangan.
Saat itu juga aku merasakan air mata Shara jatuh menetes di antara bibir kami yang saling bertautan. Aku tidak tau, apakah itu air mata kebahagiaan atau apa, tapi aku tetap mengusap air mata itu dengan lembut dari wajahnya.
Setelah para tamu undangan pamit pulang satu persatu, aku dan Shara diarahkan oleh pelayan hotel ke kamar pengantin. Di sepanjang menuju kamar, Shara memeluk lenganku dengan hangat. Senyum malu-malu di wajahnya muncul saat Mama dan Kak Angel menggodanya di ballroom tadi.
Aku sudah mempersiapkan hatiku, setelah ini aku akan memperjelas semuanya dengan Shara. Memperjelas pesan ambigu itu.
Kami masuk ke kamar beriringan. Kulihat wajahnya masih malu-malu.
"Mas..."
Deg.
Aku tertegun mendengar panggilan itu. Panggilan yang belum pernah kudengar dari bibirnya.
"Ingin mandi terlebih dahulu?"
"Kau saja duluan." Jawabku tanpa melihatnya.
Mungkin dia terkejut akan sikap ketusku, tapi aku tetap membiarkannya. Aku mendudukkan tubuhku di sofa di kamar itu, mengambil ponselku berniat ingin menghubungi anak buahku yang masih melacak pengirim pesan itu.
Bukan kabar baik yang kuterima, malah anak buahku mengirimkan beberapa foto yang tentunya membuatku murka. Lagi-lagi beberapa foto Shara dengan seorang pria yang tidak kukenal sedang bergandengan dengan mesra.
Amarahku kembali memuncak, apalagi melihat wajah Shara terlihat begitu sumringah dalam foto itu. Aku menyuruh anak buahku menyelidiki pengirim foto itu. Dan sialnya, lagi-lagi pengirim itu menghilang tanpa jejak.
Aku masih fokus melihat foto-foto itu, berusaha mengingat wajah pria itu, tapi nihil, aku memang belum pernah melihatnya.
Beberapa saat kemudian, aku masih fokus memperhatikan foto itu, terdengar suara perempuan yang beberapa jam lalu sah menjadi istriku.
Aku mendongak, melihat Shara berdiri di hadapanku. Aku tertegun melihatnya, tubuh mungilnya yang hanya ditutupi oleh lingerie seksi, memperlihatkan tubuhnya dengan jelas. Ketika dia berjalan mendekatiku, aku masih tetap menatapnya.
"Mas... tidak ingin mandi?" Shara bertanya dengan nada sensual. Jujur saja tubuhku bergejolak saat itu. Hampir saja aku terbuai ketika tangan mungilnya menelusup mengusap dadaku dengan lembut.
Tapi aku segera tersadar. Mungkin jika tidak ada foto itu, dengan senang hati aku akan menyeret Shara ke atas ranjang sana. Tapi ini berbeda, pikiranku mulai melayang kemana-mana. Apakah dia juga seperti ini kepada pria lain?
Amarahku kembali menghampiri. Kuhempaskan tangannya dari tubuhku.
"Dasar murahan." Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutku.
Tapi percayalah setelah mengatakan itu, penyesalan muncul di hatiku.
TBC ☘️☘️☘️
kan govlok,,baru lihat foto aja langsung percaya tanpa tahu kebenaran nya,,seharusny kau selidiki dulu kebenaran foto itu,,asli atau editan,,kapan perlu kau panggil too ahli telematika untuk melihat asli ato palsu,, cape' deh,,olang kaya tapi GOBLOK🙉🙊🙈