Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.22
Setelah beberapa saat duduk termenung, Harlan menghela nafas kasar sebelum akhirnya bangkit dari duduknya.
“Ayo. Kita pulang.” ucapnya, sembari menjulurkan tangan ke arah Alisa.
Alisa menoleh, lalu mengangguk pelan. Perlahan, ia pun ikut bangkit dan menyambut uluran tangan Harlan. Keduanya berjalan berdampingan, menelusuri kembali ruangan yang sebelumnya mereka masuki.
Tepat di ambang pintu utama, Alisa tiba-tiba menghentikan langkahnya. Jemarinya mengerat, menahan tangan Harlan agar pria itu juga ikut berhenti.
“Ada apa?” tanya Harlan, menatapnya dengan bingung.
“Kita… belum berpamitan, Mas.” jawab Alisa lirih, menoleh sedikit ke arah dalam rumah yang sudah tampak sepi. Tidak ada siapapun di sana.
Harlan tersenyum tipis, namun ada sesuatu yang tertahan di balik ekspresi itu. Ia kemudian menarik lembut tangan Alisa, mengajaknya kembali melangkah.
“Tidak usah. Tidak apa-apa. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertemu mereka lagi. Lebih baik kita pulang dulu… dan kembali ke sini setelah mendapatkan izin atau undangan dari Kakek,” ujarnya pelan.
“Tapi…” Alisa mencoba menyela, namun Harlan langsung menghentikannya.
“Ssttt… jangan dilanjutkan. Ada beberapa aturan di rumah ini yang tidak boleh dilanggar. Aku akan menjelaskan semuanya nanti… setelah kita tiba di rumah.” potong Harlan lembut, mengangkat jari telunjuknya dan menahannya tepat di depan bibir Alisa.
Alisa terdiam. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia ungkapkan, namun ia memilih menahannya dan memberikan Harlan waktu untuk menjelaskan semua, padanya. Perlahan, ia pun akhirnya mengangguk, patuh.
“Baiklah.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, keduanya pun melangkah keluar. Meninggalkan rumah mewah itu, beserta seluruh isinya.
Termasuk keluarga yang saat itu berkumpul di salah satu ruangan, berdiri di balik jendela besar dengan tirai tipis yang menutupi jendela berukuran raksasa itu.
Tatapan mereka mengikuti langkah Harlan dan Alisa yang perlahan mulai menjauh, lalu menghilang dari pandangan.
Di dalam ruangan itu, suasana masih menyisakan ketegangan yang belum sepenuhnya mereda.
“Jangan terlalu keras kepada mereka. Semua ini juga bukan sepenuhnya salah Harlan atau gadis itu. Mereka hanya… terjebak dalam permainan orang-orang serakah yang menghalalkan segala cara demi keuntungan.” ucap seorang wanita paruh baya, suaranya begitu lembut, tenang namun sarat makna.
Ia bersandar tenang di kursi santai, meski sorot matanya menunjukkan kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan.
Pria tua yang duduk di balik meja kerjanya terdiam sejenak. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja, seolah tengah memikirkan sesuatu.
“Gadis itu… bagian dari keluarga yang sudah mempermalukan keluarga kita. Wajar kalau sedikit emosi saat berhadapan langsung dengannya,” jawab pria tua itu.
“Aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ini. Tapi… tidak adil juga jika kita melampiaskan kekecewaan dan kemarahan kita kepada gadis itu. Dia juga korban, Mas,”
“Aku tahu, sayang. Aku hanya ingin melihat, bagaimana gadis itu memperlakukan Harlan setelah mendapatkan sedikit intimidasi dari kita.”
Hening sejenak menyelimuti ruangan. Sampai akhirnya, seseorang dari mereka membuka suara.
“Kalau dilihat-lihat… Gadis itu manis juga, ya, Kak. Sikapnya pun tidak seperti Marisa,” sela seorang wanita yang lebih muda, masih berdiri di dekat jendela.
“Aku yakin, Kak Hesti tidak akan mengambil keputusan yang gegabah. Apalagi… ini menyangkut masa depan Harlan. Aki yakin… Kak Hesti pasti merasa, kalau gadis itu adalah pilihan yang tepat buat Harlan. Iya, kan, Kak?” lanjutnya, menoleh ke arah sang Kakak yang berdiri tidak jauh darinya.
“Aku juga tidak tahu kenapa, saat melihat wajahnya. Penolakan yang awalnya ingin aku lontarkan, tertahan begitu saja. Meski belum sepenuhnya yakin, tapi setidaknya… nama baik keluarga kita selamat karena gadis itu. Kita belum benar-benar mengenalnya, karena itu, kita harus mencari tahu siapa dia sebenarnya. Dari mana asalnya, dan… bagaimana kehidupannya sebelum menikah dengan putraku.” jawabnya tegas, namun tetap tenang.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam.
“Baru setelah itu… kita bisa memutuskan apakah dia layak berada di sisi Harlan, atau tidak.”
Pria tua itu mengangguk pelan, menyetujui setiap kata yang baru saja diucapkan oleh putri sulungnya.
“Kalau begitu, lakukan dengan hati-hati. Jangan sampai mereka menyadari kalau kita sedang mencari tahu tentang gadis itu,” ujarnya tegas, yang dijawab sebuah anggukan kecil oleh Bu Hesti.
“Tentu saja. Papa tidak perlu khawatir, aku tidak akan gegabah,” jawabnya.
Suasana kembali hening. Namun kali ini, bukan karena ketegangan lagi… melainkan karena mereka tengah tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
***
***
Disisi lain, mobil yang dikendarai Harlan melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang ramai oleh pengemudi lainnya. Senja perlahan turun, menyisakan warna jingga yang memantul di kaca depan mobil.
Alisa duduk diam di kursi penumpang. Tatapannya lurus ke depan, namun pikirannya entah ke mana. Percakapan di rumah tadi terus terngiang di benaknya.
“Buktikan.”
Satu kata itu terus saja menghantuinya. Membuatnya merasa tidak nyaman dan merasa terbebani.
Harlan melirik sekilas ke arah sang istri. Ia bisa merasakan perubahan suasana hati Alisa, meski gadis itu berusaha terlihat baik-baik saja.
“Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?” tanyanya akhirnya, memecah keheningan.
Alisa tersentak kecil, refleks menoleh, lalu menggeleng pelan.
“Tidak… tidak ada apa-apa,” jawabnya pelan.
“Yakin?” Harlan kembali bertanya, kali ini dengan nada lebih lembut.
“Eemm…” jawab Alisa hanya dengan deheman.
Suasana kembali hening, namun Harlan tidak membiarkan suasana tidak nyaman itu terlalu lama. Hingga beberapa saat kemudian, ia kembali membuka suara.
“Jangan dipendam sendirian. Aku yakin, kamu sedang memikirkan sesuatu. Katakan, apa yang mengganggu pikiranmu?” tanyanya lagi.
Alisa terdiam sejenak. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuannya.
“Aku… hanya sedang berpikir. Apa… aku layak jadi istri kamu, Mas.” ucapnya pelan, sangat pelan, namun masih bisa Harlan dengar dengan jelas.
Ungkapan itu membuat Harlan menghela nafas panjang. Ia memperlambat laju mobilnya, lalu menepi sejenak di pinggir jalan yang sepi.
Setelah terparkir, Harlan langsung mematikan mesin mobil, lalu ia mengubah posisi duduknya menjadi menghadap ke arah Alisa.
Harlan meraih kedua tangan Alisa, membawa kedua tangan mungil itu masuk ke dalam genggamannya.
“Dengar aku baik-baik. Kamu tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk diterima oleh mereka.” ucapnya serius, namun tetap lembut.
Alisa menatapnya, ada harapan sekaligus keraguan di matanya.
“Tapi…”
“Aku belum selesai, dengarkan aku dulu,” potong Harlan pelan.
“Keluargaku memang… tidak mudah. Mereka punya cara sendiri untuk menilai seseorang. Yang mereka minta bukan kesempurnaan. Mereka hanya ingin tahu… apakah orang yang ada di sampingku benar-benar tulus, atau hanya ingin memanfaatkan status dan posisiku.”
Alisa menunduk. Menatap kedua tangannya yang masih ada dalam genggaman tangan Harlan.
“Sejujurnya… aku bukan tidak yakin dengan kamu ataupun dengan keluargamu, Mas. Aku… hanya meragukan diriku sendiri. Semua ini, terlalu tiba-tiba, membuat aku sedikit kesulitan untuk mencernanya.” gumamnya lirih.
Harlan tersenyum tipis, lalu melepaskan satu tangannya, mengangkat dagu Alisa dengan lembut agar gadis itu kembali menatapnya.
“Tidak perlu terburu-buru. Bukankah… kita sudah sepakat untuk memulai semuanya dari awal. Jadi, mari kita nikmati dan jalani prosesnya dengan tenang, tanpa mengkhawatirkan apapun,”
“Tapi… apa itu bisa meyakinkan keluarga mu, kalau kita bersungguh-sungguh dengan hubungan ini?”
“Mungkin untuk sekarang tidak. Tapi… jika kita sungguh-sungguh menjalani hubungan ini. Aku yakin, perlahan, mereka akan menerimanya. Atau… bisa saja, mereka malah jauh lebih menyayangimu daripada aku sendiri.”
Deg.
Degup jantung Alisa seakan berhenti sesaat. Mata Alisa mulai berkaca-kaca, namun ia berusaha menahannya.
“Terima kasih, Mas.” ucapnya.
“Sama-sama. Sekarang kita pulang, ya. Kita lanjut di rumah.”
Alisa mengangguk pelan, lalu Harlan pun kembali menyalakan mesin mobil, lalu melaju meninggalkan tempat itu.