NovelToon NovelToon
SAH TAPI TIDAK SELESAI

SAH TAPI TIDAK SELESAI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menikah Karena Anak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.

Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.

Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.

Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.

Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENIDURKAN FIRASAT DENGAN KEBOHONGAN

Damira mencoba mempertahankan nada suaranya agar tetap terdengar seperti saran kasual seorang teman, meskipun sebenarnya dadanya terasa sesak oleh kecemasan yang meluap. "Saran saja sih, Sat. Kali saja bisa dipikirkan lagi atau mungkin didelegasikan ke tim kamu yang lain," ucap Damira sambil berusaha mengulas senyum tipis yang tampak tidak wajar. Ia menyadari bahwa alasannya tentang kuman terdengar sangat lemah, namun ia tidak punya pilihan lain untuk menjauhkan Satya dari kemungkinan pertemuan buruk itu. "Maksudku, kamu kan baru pegang proyek besar di sini, jangan sampai energi kamu terkuras di tempat yang auranya suram seperti rumah sakit. Fokus di sini dulu saja, siapa tahu setelah ini ada tawaran di tempat yang lebih menyenangkan, seperti hotel atau kafe."

Satya meletakkan gelasnya, menatap Damira dengan saksama selama beberapa detik—sebuah tatapan yang membuat Damira merasa seolah pria itu bisa membaca ketakutan di balik matanya. "Tumben banget kamu cerewet soal kerjaan aku, Mir," balas Satya sambil terkekeh pelan, meski ada sedikit rasa heran yang tersirat di wajahnya. "Tapi tenang saja, aku sudah terbiasa dengan medan apa pun. Lagi pula, kontraknya sudah ditandatangani. Aku nggak bisa mundur begitu saja tanpa alasan profesional."

Farhan yang melihat interaksi itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Mira ini kayaknya lagi kurang tidur, Sat. Makanya pikirannya ke mana-mana, sampai urusan kuman rumah sakit pun dibawa-bawa," canda Farhan yang langsung disambut tawa kecil oleh teman-teman yang lain. Di tengah tawa riuh di meja makan itu, Damira hanya bisa tertunduk lesu, menyesali ketidakmampuannya untuk mencegah badai yang semakin mendekat. Ia tahu, dengan keras kepalanya Satya dan keterikatan kontrak itu, peluang pria ini bertemu dengan Azzura yang sedang memeriksakan kandungannya menjadi sangat besar, dan Damira tidak tahu apakah ia sanggup menyaksikan kehancuran Satya saat rahasia itu akhirnya terungkap di lorong-lorong dingin rumah sakit nanti.

Langkah Damira terhenti tepat di depan pintu lift yang masih tertutup. Jantungnya berdegup kencang saat merasakan tepukan pelan di bahunya. Ia berbalik dan mendapati Satya berdiri di sana dengan raut wajah yang jauh berbeda dari keceriaannya di meja makan tadi. Kini, sorot mata pria itu tampak redup, penuh dengan kegelisahan yang mendalam yang selama ini ia coba tekan di depan orang lain.

"Mir, tunggu," suara Satya merendah, memastikan Farhan dan teman-teman lainnya sudah berjalan jauh di depan. "Aku tahu kamu mungkin nggak kenal Azzura secara pribadi, tapi apa Nayaka nggak ada cerita apa-apa ke kamu? Dia ambil handphone Azzura atau gimana? Kok dia benar-benar nggak bisa dihubungi sama sekali? Aku takut dia kenapa-napa, Mir."

Pertanyaan itu menghantam Damira seperti gada besi. Ia berdiri terpaku, menatap wajah Satya yang tampak begitu tulus mencemaskan wanita yang baru saja meneleponnya sambil menangis histeris. Damira merasa lidahnya kelu; ia tahu persis di mana ponsel Azzura berada—mungkin sedang disita atau dihancurkan oleh Nayaka—dan ia tahu persis kondisi Azzura yang sedang menderita. Namun, mengingat pesan Azzura yang memohon agar ia tetap diam, Damira terpaksa menelan kebenaran itu bulat-bulat hingga tenggorokannya terasa perih.

"Sat... aku," Damira menjeda kalimatnya, mencoba mengatur napas agar tidak terdengar gemetar. "Nayaka nggak banyak cerita soal urusan rumah tangganya. Kamu tahu sendiri kan dia orangnya tertutup? Aku juga udah lama ga ketemu Nayaka"

Satya mengusap wajahnya dengan kasar, tampak frustrasi. "Aku punya firasat buruk, Mir. Sejak semalam perasaanku nggak enak. Azzura itu bukan tipe orang yang menghilang tanpa kabar kalau nggak ada sesuatu yang besar terjadi. Kalau sampai Nayaka berbuat kasar sama dia..." Satya tidak melanjutkan kalimatnya, namun kepalan tangannya yang mengeras di samping tubuh sudah cukup menjelaskan kemarahan yang tertahan.

Damira hanya bisa menunduk, tidak sanggup menatap mata Satya lebih lama lagi. Ia merasa seperti pengkhianat bagi kedua belah pihak. Di dalam sakunya, ponselnya terasa berat karena menyimpan nomor "asing" yang baru saja meminta pertolongan padanya. "Mungkin dia cuma butuh waktu sendiri, Sat. Jangan berpikir yang macam-macam dulu. Lebih baik kamu fokus sama kerjaan kamu di sini," ucap Damira lirih, sebuah kalimat kosong yang ia benci sendiri karena ia tahu betapa bohongnya kata-kata itu di tengah badai yang sedang mengintai mereka.

Kalimat itu meluncur dari bibir Satya dengan nada yang begitu getir, membuat bulu kuduk Damira meremang seketika. Satya menyandarkan bahunya ke dinding lorong yang dingin, menatap kosong ke arah deretan kubikel kantor yang mulai kembali ramai. "Semoga dia baik-baik saja, Mir. Tapi biasanya... firasat nggak enakku ini suka jadi nyata. Aku bisa ngerasain kalau dia lagi kesakitan atau ketakutan, dan sekarang rasanya dadaku sesak banget, seolah ada yang salah tapi aku nggak bisa jangkau dia," tambahnya dengan suara yang nyaris hilang ditelan kebisingan sekitar.

Damira hanya bisa mematung, merasakan beban rahasia di pundaknya semakin menghimpit hingga ia sulit bernapas. Ia ingin sekali berteriak, mengiyakan bahwa firasat Satya memang benar, bahwa wanita yang ia cintai baru saja menelepon dengan suara hancur karena disiksa secara mental dan fisik oleh Nayaka. Namun, janji yang ia buat kepada Azzura terasa seperti jerat yang mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia terpaksa menyaksikan pria di hadapannya ini perlahan-lahan dimakan oleh kecemasan, sementara ia sendiri memegang kunci kebenaran yang bisa meledakkan segalanya.

"Sat, jangan terlalu dipikirkan..." bisik Damira, sebuah kalimat klise yang bahkan ia benci sendiri saat mengucapkannya. Ia melihat bagaimana Satya mencoba memaksakan sebuah senyum tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya, sebuah usaha sia-sia untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Iya, mungkin aku cuma capek," sahut Satya pelan sembari menegakkan tubuhnya, bersiap kembali ke lantai atas untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun sebelum pergi, ia sempat menatap Damira sekali lagi dengan sorot mata yang penuh permohonan. "Kalau suatu saat Nayaka nggak sengaja keceplosan atau kamu dengar sesuatu tentang Azzura di kantor ini, tolong kasih tahu aku ya, Mir? Aku cuma punya kamu sebagai akses ke sana sekarang." Damira hanya mampu mengangguk lemah, membiarkan Satya melangkah pergi dengan punggung yang tampak begitu berat, sementara di dalam sakunya, ponsel Damira seolah bergetar oleh beban rahasia yang semakin hari semakin mematikan.

"Iya, aku tahu Azzura baik-baik saja," ucap Damira dengan nada yang berusaha ia buat seyakini mungkin, meskipun di dalam hatinya ia merasa seperti sedang menggoreskan luka baru. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya sebagai bentuk pertahanan terakhir untuk menenangkan Satya, sekaligus untuk menepati janjinya pada Azzura agar tidak membocorkan apa pun. Namun, setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti duri yang menyangkut di tenggorokannya, karena ia tahu persis bahwa kenyataannya justru berbanding terbalik dengan ucapannya.

Melihat Satya yang sedikit mengembuskan napas lega meski raut cemasnya belum sepenuhnya hilang, Damira terpaksa memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak sanggup menatap mata Satya yang penuh harap itu terlalu lama. Di dalam benaknya, suara tangisan histeris Azzura tadi pagi masih terngiang dengan jelas, menciptakan kontras yang menyakitkan dengan kebohongan yang baru saja ia sampaikan. Damira menyadari bahwa dengan memberikan harapan palsu ini, ia baru saja membangun sebuah benteng yang suatu saat akan runtuh dan menghancurkan Satya jauh lebih parah ketika kebenaran itu akhirnya terungkap di depan mata mereka semua.

"Mungkin dia cuma lagi butuh waktu buat tenang, Sat. Kamu tahu kan, setiap orang punya cara sendiri buat menghadapi masalah," tambah Damira lirih, mencoba memperkuat alibinya. Ia memaksakan langkahnya untuk segera masuk ke dalam lift sebelum Satya sempat bertanya lebih jauh lagi. Begitu pintu lift tertutup dan ia sendirian di dalam kotak besi yang dingin itu, Damira menyandarkan tubuhnya ke dinding dan memejamkan mata rapat-rapat. Ia merasa menjadi manusia paling jahat karena harus menenangkan seseorang dengan sebuah kepalsuan, sementara ia membiarkan wanita lain menderita dalam kesunyian yang mencekam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!