NovelToon NovelToon
The Blackstone: The Indentity Agent'S War

The Blackstone: The Indentity Agent'S War

Status: tamat
Genre:Action / Penyelamat / SPYxFAMILY / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Iris11

Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.

Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.

Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Bekerja di Vanguard Logistics membutuhkan fokus total. Markov, pria yang mengepalai operasional di sini, adalah tipe orang yang bisa mencium kebohongan dari jarak sepuluh meter. Aku harus menjadi Arthur yang sempurna, pendiam, jenius, dan tentu saja tidak punya kehidupan pribadi.

Setiap hari, aku menghabiskan 10 jam membedah kode-kode enkripsi kartel ini. Aku membangunkan mereka sistem keamanan yang paling hebat, yang sebenarnya adalah sangkar yang suatu saat nanti akan kuhancurkan dengan tanganku sendiri.

Namun, saat jam kerja usai dan malam tiba di Zurich, aku berubah kembali menjadi Ghani yang merindukan Ghea. Aku jatuh cinta pada Ghea dalam hitungan detik, saat-saat bersamanya hanya aku habiskan dalam beberapa hari, tapi aku harus mempertaruhkan nyawaku seumur hidupku hanya untuk melindunginya. Aku membiarkan Ghea untuk bertemu dengan lelaki lain sedangkan aku hanya mampu mencintainya dalam gelap dan selalu menjadi penjaganya dalam bayangan. Apakah ini adil? Entahlah. Aku juga yang membawa Ghea jatuh dalam pusaran bahaya ini. Walaupun aku sudah membuat pertahanan terbaik untuknya tentu saja rasa khawatir sering mengerjap hatiku.

 Aku duduk di balkon, menatap kegelapan, dan membuka layar khusus yang memantau kamera CCTV publik di dekat rumah Ghea. Aku melihatnya pulang dari kuliah, melihatnya mengunci pintu, dan melihat lampu kamarnya padam.

Terkadang, aku melihatnya berdiri lama di jendela, menatap jalanan seolah sedang menunggu seseorang. Hatiku hancur setiap kali melihat itu. Apakah dia merindukanku? Ataukah dia hanya sedang menikmati kebebasannya dariku? Aku tidak akan pernah tahu. Dan aku juga tidak boleh tahu.

Aku butuh uang bukan untuk membeli rumah mewah di Swiss. Aku butuh uang untuk membayar informan di Indonesia, untuk menyewa perlindungan pribadi anonim yang akan mengikuti Ghea dari jarak aman, dan untuk memastikan bahwa meskipun kami sudah putus, dunianya tidak akan pernah runtuh.

Tiga bulan pertama di Zurich adalah tentang memantapkan posisi. Aku telah mendapatkan kepercayaan Markov. Aku telah mendapatkan gaji pertamaku yang besar. Dan yang paling penting, aku telah berhasil menjaga Ghea tetap aman selama 90 hari terakhir tanpa sekali pun muncul di hadapannya.

Aku menutup laptop saat matahari mulai terbit di ufuk timur Zurich. Aku lelah, tapi kehangatan cinta itu tetap ada, membungkus hatiku yang beku.

"Selamat pagi, Ghea," gumamku sambil menatap layar monitor yang menampilkan titik GPS rumahnya di Yogyakarta. "Penjagamu masih di sini. Dan dia tidak akan pernah pergi."

Ternyata lamunanku pada Ghea harus terhenti sejenak. Perintah itu datang di suatu Selasa pagi yang berkabut. Markov meletakkan sebuah koper berat di meja kerjaku.

"Protokol keamanan siber yang kau bangun di sini sangat mengesankan, Arthur. Tapi teori tidak ada gunanya jika gagal di lapangan. Kita punya pengiriman fisik ke wilayah perbatasan timur. Komunikasi di sana sangat buruk, dan radar otoritas sangat agresif. Aku ingin kau ikut untuk memastikan koper ini tetap 'tak terlihat' oleh satelit mana pun."

Aku tahu ini adalah ujian loyalitas sekaligus ancaman terselubung. Jika aku menolak, kedokku akan terbuka. Jika aku ikut, aku akan memasuki zona tanpa hukum yang bisa saja merobek topeng "Arthur".

"Bayarannya?" tanyaku singkat, menjadi nada pragmatis Arthur.

"Tiga kali lipat dari gajimu. Cukup untuk membeli kebebasanmu sendiri suatu hari nanti," jawab Markov dengan senyum tipis yang tidak pernah sampai ke matanya.

Aku menyanggupinya. Dalam benakku angka-angka langsung berputar. Bonus itu bukan untuk kebebasanku di masa depan, tapi untuk "Dana Perlindungan Ghea". Uang itu akan kugunakan untuk membayar lapisan keamanan anonim ketiga yang mengawasi Ghea di Yogyakarta dan dari Jakarta, sebuah tim yang tidak mengenal satu sama lain, namun memiliki satu perintah, pastikan wanita itu aman, tanpa dia sadar sedang diawasi.

Di hari sesuai perintah Markov, perjalanan dimulai dari Zurich menuju sebuah titik di pegunungan terpencil yang berbatasan dengan zona konflik. Aku tidak lagi mengenakan kemeja rapi, namun mengenakan jaket tactical berat dan sepatu bot yang kaku. Di dalam truk kargo yang berguncang melewati jalanan berbatu, aku duduk diam, memeluk tas laptopku yang berisi perangkat pemancar frekuensi rendah.

Kepalaku mulai terjaga, kewaspadaanku yang terlatih bertahun-tahun menjadikanku untuk selalu bersiap. Insting predatorku mendata setiap tikungan jalan, menghitung jarak tembak dari tebing-tebing tinggi, dan menilai kemampuan tempur dua pengawal bersenjata yang duduk di depan. Namun, Aku, sebagai James, menekan perasaan itu, karena aku sekarang enggan untuk menarik pelatuk. Selain itu aku harus tetap menjadi Arthur, si kutu buku yang terlihat gelisah namun cerdas.

"Kau terlihat tegang, Arthur," ejek salah satu pengawal bernama Fedor.

"Aku lebih suka menghitung algoritma daripada menghitung lubang di jalan ini," jawabku, mataku tetap menatap layar monitor kecil yang memantau signal masking di sekitar konvoi.

Sebenarnya, keteganganku bukan karena takut pada maut. Keteganganku berasal dari fakta bahwa di wilayah tanpa sinyal ini, aku tidak bisa memantau Ghea. Untuk pertama kalinya dalam empat bulan, aku buta terhadap kondisi Ghea. Kehangatan yang biasanya menenangkan hatiku kini terasa seperti api yang membakar karena rasa cemas yang menghantui.

Konvoi kami terjebak di sebuah pos pemeriksaan ilegal yang dikuasai oleh milisi lokal. Mereka adalah tentara bayaran yang tidak peduli pada logo Vanguard. Mereka hanya peduli pada apa yang ada di dalam koper tersebut.

Fedor dan rekannya sudah meletakkan tangan di gagang senjata. Suasana memanas. Salah satu milisi menodongkan moncong senapan ke arah kaca depan truk.

Aku merasakan otot-ototku menegang. Refleks Sam-ku yang biasa dipenuhi dengan kekerasan hampir meledak keluar. Namun, aku melihat bayangan Ghea di balik kelopak matanya. Jika aku melakukan itu, aku bisa saja menjadi monster yang membuat Ghea ketakutan. Bayangan Ghea yang pucat di pulau Karang itu mengganggu pikiranku. Aku menarik napas panjang, membiarkan kehangatan cinta menjadi rem bagi insting pembunuhku.

"Tunggu," Aku segera keluar dari truk dengan tangan terangkat, gemetar secara sengaja agar terlihat seperti Arthur yang ketakutan. "Aku... aku bisa memberikan kalian sesuatu yang lebih berharga dari koper ini."

Aku berjalan mendekati pemimpin milisi itu dengan laptop di tanganku. Dengan kecepatan jari yang luar biasa, Aku meretas frekuensi radio militer resmi yang beroperasi di wilayah itu. Aku memutar rekaman suara, yang merupakan hasil manipulasi AI cepat, yang mensimulasikan perintah penyerangan udara yang akan segera terjadi di koordinat tersebut, yang sudah kupersiapkan sebelumnya sesaat sebelum keberangkatan.

"Dengar," kataku sambil menunjukkan layar monitor yang menampilkan radar palsu berisi titik-titik merah yang mendekat. "Dalam lima menit, skuadron udara akan menyapu bersih area ini karena mereka mendeteksi sinyal ilegal kalian. Jika kalian membiarkan kami lewat sekarang, aku akan mematikan sinyal pelacak yang aku 'sengaja' pancarkan ke arah kalian."

Para milisi itu panik. Teknologi adalah sihir bagi mereka yang tidak memahaminya. Pemimpin milisi itu menatapku dengan tajam, lalu menatap langit, dan akhirnya memerintahkan anak buahnya untuk membuka palang jalan.

Konvoi kami meluncur pergi. Fedor menatapku dengan rasa hormat yang baru. "Kau punya otak yang berbahaya, Arthur."

Aku hanya menyandarkan kepalaku ke jok kursi yang keras. Jantungku berdegup kencang. Aku baru saja memenangkan pertempuran tanpa menumpahkan setetes darah pun. Aku telah menjaga tanganku tetap bersih untuk Ghea, meskipun Ghea mungkin tidak akan pernah tau.

1
Wawan
Satu iklan buat intelejen Rusa 💪👍
Iris Aiza: terima kasih 😍
total 1 replies
Wawan
Uhuuuuy... lope... sekuntum mawar terkirim buat Ghea 😍
Iris Aiza: terima kasih 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal "Sam" 😍
Iris Aiza: Terima kasih Kak /Smile/
total 1 replies
Mh_adian7
semangat terus kaka💪
Iris Aiza: Terima kasih ^_^
total 1 replies
T28J
hadiir kakk 👍
Iris Aiza: Terima kasih sudah menemani perjalanan Ghani dan Ghea sampai di sini Kak 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!