NovelToon NovelToon
Su Yu Memberontak Takdir

Su Yu Memberontak Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Epik Petualangan
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.

Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.

Ia memilih yang kedua.

Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Kembali ke Dunia Fana

Su Yu masih terdiam saja, meratapi nasib yang menimpanya. Belum sempat ia membalaskan dendam, tetapi kini terjerat dalam permainan licik yang dirancang entah sejak kapan. Kedua tangannya mengepal lemah di sisi tubuh, sementara pandangannya jatuh lurus ke lantai batu yang dingin.

Tiba-tiba rantai hitam di punggungnya bergetar hebat. Getaran itu menyebar ke seluruh tubuh dalam sekejap, lalu rantai tersebut lenyap begitu saja tanpa suara. Kehilangan penopang yang selama ini menahannya, Su Yu langsung terjatuh berlutut, kedua telapak tangannya menekan lantai untuk menjaga keseimbangan.

Belum sempat ia memahami keadaan, cahaya putih keemasan menyelimuti tubuhnya dari atas. Hangatnya menjalar pelan ke setiap sudut daging, seperti aliran air pegunungan yang membasuh luka-luka lama. Lututnya yang tadi nyaris remuk kini tidak lagi terasa sakit. Telapak tangannya yang penuh lecet ikut pulih tanpa bekas.

"Ada apa ini?" bisiknya sambil menatap kedua telapak tangannya sendiri. "Lukanya... hilang."

Kemudian suara terdengar di kedalaman kesadarannya, bergema lembut namun sarat wibawa.

"Selamat datang, penjaga suci. Kau terpilih karena memiliki darah yang tidak biasa. Itulah syarat utama menjadi penjaga suci."

Su Yu menutup matanya. "Syarat? Darah macam apa yang kau maksud?"

"Setiap penjaga harus memiliki keistimewaan darah, dan kau memiliki lebih baik daripada penjaga sebelumnya. Oleh sebab itu, kau akan mendapatkan kekuatan sebagai penjaga."

Suara itu berhenti sesaat, memberi ruang bagi Su Yu untuk mencerna.

"Tetapi kekuatan ini berlaku hanya di dalam dimensi ini saja. Empat bulan dari sekarang, kau akan memiliki kekuatan tersebut sebagai hak dari penjaga suci. Untuk sekarang, tunggulah dengan tenang."

Begitu suara itu mereda di kesadarannya, Su Yu membuka kedua matanya. Ruangan luas yang sebelumnya dipenuhi tangga batu raksasa kini berubah menjadi bilik sempit berdinding batu abu-abu. Tidak ada lagi altar bertingkat, hanya ruangan kosong seluas beberapa langkah kaki saja.

Di tengahnya masih berdiri batu persegi tempat palu dewa melayang. Xioutian tampak terhuyung-huyung di udara, kedua sayapnya mengepak tak beraturan akibat keterkejutan atas perubahan mendadak tersebut.

"Ahyoyoyo... kepalaku pusing sekali!"

Burung kecil itu akhirnya mendarat dengan canggung di lantai batu, lalu menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk menstabilkan diri. Begitu pandangannya tertuju pada Su Yu yang sudah berdiri tegak, napasnya yang memburu perlahan mereda.

"Tuan, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba semuanya berubah? Di mana pria tua itu?" tanyanya bertubi-tubi tanpa jeda.

Su Yu mengepalkan tangannya di sisi tubuh.

"Kau benar, Xioutian. Kita dijebak."

Burung itu mendekat dengan langkah-langkah kecil. "Sial tebakanku benar. Tapi... terjebak seperti apa?"

Su Yu menghela napas panjang sebelum melanjutkan. Ia menceritakan semuanya, mulai dari rantai yang masuk ke tubuhnya, pria tua yang berubah menjadi pria muda, pengakuan tentang penjaga palu dewa, hingga suara agung yang menyapanya sebagai Penjaga Suci.

Xioutian mendengarkan tanpa menyela. Ketika cerita selesai, burung itu menyentuh kepalanya dengan ujung sayap kanan, ekspresinya berubah lesu.

"Ahyoyoyo... Setahun saja rasanya sudah seperti siksaan, apalagi harus menunggu seribu tahun? Ahk, lebih baik aku mati saja."

Suara burung itu melemah di akhir kalimatnya, seolah tenaganya ikut terkuras oleh keputusasaan.

Su Yu menundukkan kepalanya. "Maaf karena menyeretmu ke dalam masalah ini."

"Lupakan saja."

Xioutian ikut menunduk lemah, lalu matanya bergerak menatap palu yang masih melayang diam di atas batu persegi.

"Tuan bilang ini palu dewa, bukan? Coba saja ambil dan hancurkan belenggu sialan itu."

Su Yu memandang palu tersebut beberapa saat. Usul Xioutian sebenarnya tidak sepenuhnya masuk akal, tetapi tidak ada pilihan lain yang tersisa. Ia melangkah menuju batu persegi di tengah ruangan dengan hati hati, ketika sampai, ia mengulurkan jarinya kedepan.

Saat ujung jarinya hanya berjarak sejengkal dari permukaan gagang...

BZZRRTT!

Semburan energi merah menyambar telapak tangannya dan langsung melemparkan tubuh Su Yu ke belakang.

BRAK!

Punggungnya menghantam dinding batu dengan keras. Rasa sakit menjalar dari tulang belakang hingga ke bahu, membuatnya meringis sambil memegangi sisi tubuhnya.

"Ughh! Sial..."

"Tuan!"

Xioutian terbang panik ke arah tuannya, kedua matanya melebar. "Tuan, kau tidak apa-apa?"

Su Yu mengangkat tangannya, memberi isyarat agar burung itu berhenti mendekat. "Itu pilihan yang buruk."

Xioutian menundukkan kepalanya, bulu-bulunya tampak kusut oleh rasa bersalah.

"Maaf, Tuan. Aku yang menyarankan sesuatu yang salah."

Su Yu menggeleng pelan. "Tidak apa. Sekarang... kita hanya bisa menunggu sampai empat bulan lagi. Setelah itu, setidaknya kita tidak terlalu terkekang di satu bangunan saja."

Xioutian menghela napas panjang, lalu mengangguk lemah.

"Empat bulan... baiklah."

Su Yu menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu meluncur turun hingga duduk di lantai dengan kepala tertunduk. Xioutian mengambil posisi di sampingnya, ikut bersandar pada dinding yang sama sambil menundukkan kepala kecilnya.

Keduanya tampak begitu putus asa. Helaan napas terdengar berulang kali di antara mereka berdua. Suasana berubah menjadi kelam, seperti sebuah penjara yang tidak lagi menyisakan secercah harapan.

DERRTT!

Getaran tiba-tiba muncul dari arah batu persegi. Su Yu dan Xioutian langsung menoleh bersamaan, mata mereka menatap palu hitam kemerahan yang kini bergetar lebih hebat dari sebelumnya.

"Ada apa lagi..." bisik Xioutian dengan bulu-bulu yang berdiri tegak.

Beberapa tarikan napas kemudian, lingkaran dimensi terbentuk di udara, tepat di atas palu tersebut. Lingkaran itu berdenyut dengan cahaya putih yang berputar lambat, menyerupai mulut gua yang menganga lebar.

Wush!

Palu itu tersedot masuk ke dalam lingkaran dimensi, lalu lingkaran tersebut menutup dan lenyap tanpa bekas. Ruangan itu kembali sunyi, tetapi kini tanpa kehadiran palu yang selama ini menjadi pusat dari segala keanehan.

Su Yu dan Xioutian saling berpandangan dengan raut kebingungan yang sama.

"Apa yang barusan terjadi, Tuan?" tanya Xioutian lirih.

Su Yu menggeleng pelan. "Aku tidak tahu..."

Belum sempat mereka bertukar pikiran lebih jauh, suara agung yang sama kembali menyentuh kesadaran Su Yu.

"Selamat, Penjaga Suci. Tugasmu selesai. Sekarang kau bisa kembali ke dunia, karena telah menyelesaikan tugas dan dimensi ini akan segera menghilang."

Su Yu terpaku mendengar pengumuman itu. Ia menoleh ke arah Xioutian, tetapi burung tersebut tampaknya tidak mendengar apa pun. Xioutian hanya menatap heran ke arah tuannya yang tiba-tiba terdiam.

Wush!

Cahaya putih menyeruak dari segala arah, memenuhi seluruh ruangan hingga pandangan mereka berdua tertutup sepenuhnya. Su Yu merasakan tubuhnya ditarik oleh kekuatan tak terlihat, melayang tanpa arah, lalu kehilangan pijakan.

Ketika cahaya itu mereda, Su Yu merasakan tanah keras di bawah telapak kakinya. Ia membuka mata dan mendapati dirinya berdiri di tengah hutan yang sama dengan tempat mereka pertama kali menemukan lorong dimensi. Batang-batang pohon besar menjulang di sekelilingnya, sementara sinar fajar menyusup dari sela dedaunan.

Xioutian sudah berada di sampingnya, mengepakkan sayap untuk menjaga keseimbangan. "Kita kembali...?"

Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama.

Di sekitar mereka, para pendekar yang sebelumnya masuk bersama-sama ke dalam lorong dimensi kini bermunculan satu per satu. Wajah mereka masih menyimpan amarah dari pertempuran perebutan harta di dalam kota kuno tadi. Beberapa di antaranya mencengkeram senjata erat-erat, menatap sekeliling dengan kewaspadaan tinggi.

"Keluar juga akhirnya..." gumam salah satu pendekar sambil mengedarkan pandangannya.

"Di mana harta yang kudapatkan?!" seru pendekar lain yang baru tersadar bahwa tangannya kosong.

Keriuhan mulai menyebar di antara kerumunan. Su Yu menarik tudung jubahnya lebih rendah, lalu memberi isyarat kepada Xioutian untuk bersembunyi di balik kerah pakaiannya.

"Jangan menarik perhatian," bisik Su Yu nyaris tanpa suara.

Xioutian mengangguk cepat, lalu masuk ke dalam balik kerah jubah tuannya.

Di kejauhan, pemimpin Sekte Serigala Putih dan Sekte Singa Perak berdiri saling berhadapan dengan raut yang muram.

Tetua Wu menatap Tetua Bai dengan kebencian yang masih membara, sementara Tetua Bai membalas dengan senyum dingin yang tidak kalah tajamnya.

"Ini belum selesai," ujar Tetua Wu sambil menunjuk Tetua Bai dengan pedangnya.

"Kapan pun kau mau," balas Tetua Bai datar.

Su Yu tidak menunggu sampai situasi memanas. Ia melangkah mundur perlahan, menyelinap di antara batang-batang pohon, menjauh dari kerumunan yang masih diselimuti ketegangan. Setiap langkahnya terasa ringan, tubuhnya sudah pulih sepenuhnya setelah menerima kekuatan penjaga itu.

"Tuan," bisik Xioutian dari balik kerah. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?"

Su Yu menoleh ke arah selatan, menatap jalan setapak yang mulai tertutup kabut pagi. "Kita lanjutkan perjalanan. Kota Anze masih jauh."

"Dan masalah dimensi tadi...?"

"Sudah selesai, jangan dipikirkan lagi. Kepalaku akan meledak karena kebingungan."

Xioutian terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan di balik kerah jubah. "Baiklah. Aku juga merasa pusing dengan kejadian tadi."

1
septian arista
👍👍👍👍👍
septian arista
malu nggak tuh😀😀😀
septian arista
👍👍👍
septian arista
untuk mengelabuhi musuhnya Kenapa nggak lompat ke sungai terlebih dahulu baru masuk ke dalam tanah
septian arista
semoga novel ini benar-benar tamat sampai episode terakhir enggak kaya novel-novel yang sebelumnya
AAAAAA: Ya semoga aja/Grievance/
total 1 replies
septian arista
semakin bagus ceritanya
AAAAAA: Terimakasih/Determined/
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
septian arista
benar-benar menarik
Fajar Fathur rizky
bikin jika su yu sudah kuat bantai klan su sampai ke akar akarnya thor bantai tetua keempat yang menendang suyu itu dengan cara paling kejam pajang tubuhnya yang tidak bernyawa itu
Fajar Fathur rizky: thor bikin su yu tubuhnya yang baru tubuh lamanya hancur jiwanya masuk ke dalam tubuh baru yang menyimpan rahasia seperti novel sebelumnya thor tolong di jawab
total 2 replies
septian arista
apa novel yang satunya lagi nggak dilanjutin
AAAAAA: Enggak. Nanti mau di pindahkan ke tempat lain.
total 1 replies
septian arista
mau seperti apapun dia harus ingat istrinya yang sudah berjanji menunggu dia di benua Tengah
AAAAAA: Santay aja, aman/Smile/
total 1 replies
Agus Rose
Hmmm selalu ada aj perempuan muda yang belom apa2 sudah mengarah ke su yu ,semoga tidak ada kata "merah merona,menggigit bibir" karena kalo ada itu tanda2 😍❤️
AAAAAA: Enggak lah/Facepalm/
total 1 replies
septian arista
ini para pembaca yang lain ke mana ya
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔
septian arista
Ayo Terus lanjut👍👍👍
Fajar Fathur rizky
thor bikin su yu mendapatkan teknik untuk membuat klon thor bikin nanti yang ketemu istri peri cangle ketemu tubuh klone su yu
septian arista
semakin seru dan menarik Sayang kalau novel ini nggak sampai tamat
AAAAAA: Kita lihat nanti/Sweat//Cry/
total 1 replies
septian arista
ini berarti burung biru itu akan menjadi mentor bagi dia
AAAAAA: Aman itu. Nanti dapat teknik dia/Determined/
total 3 replies
septian arista
Kenapa istrinya tidak memberikan teknik beladiri kepada suaminya walaupun sedikit saja sebagai bekal
AAAAAA: Si Peri Cangle dari keluarga kelas SSS. Jadi dia gak punya teknik dasar yang normalnya manusia dana di benua Ming. Kalau author buat Cangle kasih teknik, cerita jadi gak menarik akibat Su Yu terlalu mudah nantinya. Jadi ini keputusan author aja sih. Nanti juga si Xiaotian sedikit banyaknya yang bimbing. Jadi santuy/Determined//Determined/
total 1 replies
septian arista
semoga dua novel yang baru ini nggak berhenti di tengah jalan atau dihapus lagi🥺🥺🥺
Agus Rose
Semakin menarik di tunggu kelanjutan nya.
di tambah up nya thoorrr.
AAAAAA: sip👍 Nanti siang atau sore author up 2 atau tiga bab.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!