NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Dunia, Dia Menemukan Tempatnya

Di Antara Dua Dunia, Dia Menemukan Tempatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:245
Nilai: 5
Nama Author: M.Liss

Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".

Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.

Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Bayangan hitam itu perlahan berdiri. Tingginya mencapai lebih dari dua meter, tubuhnya dipenuhi perisai alami berwarna merah gelap seperti bekuan darah kental. Matanya menyala merah menyala, dan dari mulutnya meneteskan air liur hijau yang mengeluarkan asap korosif saat menyentuh tanah.

Itu adalah Iblis Darah. Spesies iblis tingkat menengah yang dikenal sangat ganas dan suka meminum darah makhluk hidup.

Lisa yang melihatnya langsung terbelalak kaget. Tangannya yang siap melepaskan sihir sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena keterkejutan.

'Iblis Darah?! Bagaimana bisa ada monster level ini ada di tempat pemukiman warga?!' batin Lisa berteriak.

'Walaupun dia masih tergolong muda dan belum dewasa, seharusnya makhluk macam ini hanya tinggal di area terdalam hutan atau di gurun tandus yang beracun. Tidak mungkin dia nekat datang ke dekat pemukiman manusia sendirian. Ini sangat tidak wajar... sangat mencurigakan!'

Lisa menoleh sedikit ke arah Floyen, dan melihat kakaknya itu juga memasang wajah serius. Mereka berdua menyadari hal yang sama: Ada sesuatu yang salah di sini.

🧊 POV WU-YUAN: TEKANAN YANG MEMATIKAN

Di sisi lain, Wu-yuan yang berdiri di barisan paling belakang hanya menyilangkan tangan di dada. Wajahnya datar, tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun. Justru dia melihat reaksi murid-muridnya dengan pandangan kritis.

'Hah, cuma Iblis Darah biasa. Levelnya memang cukup buat bikin prajurit biasa ketakutan setengah mati, tapi buat kalian yang murid Akademi Kekaisaran... jangan sampai kelihatan lemah,' batin Wang-Lin menilai.

Dia bisa merasakan aura mematikan yang dipancarkan monster itu. Tekanannya berat, sangat berat. Seperti ada gunungan batu besar yang menimpa dada setiap orang yang menghirup udara di sekitarnya. Suasana menjadi begitu padat dan dingin, membuat bulu kuduk siapapun yang merasakannya akan berdiri tegak dan merinding sekujur tubuh.

Namun bagi Wu-yuan, itu cuma angin lalu.

"Hey, anak-anak," suara Wu-yuan terdengar tenang tapi menggema jelas di tengah keheningan yang mencekam itu. "Jangan diam saja melamun. Buat formasi pertempuran sekarang. Jangan biarkan tekanan itu menguasai akal kalian."

⚔️ FORMASI YANG KOKOH

Seketika, seolah tersadar dari hipnotis, Floyen, Lisa, dan Fredrin bergerak serentak!

TRING!

Fredrin melangkah lebar ke depan, menghentakkan kakinya kuat-kuat. Perisai bundar berukuran besar langsung terpasang di tangan kirinya, sementara pedang panjang di tangan kanannya ditarik keluar dengan suara berisik. Dia menjadi tameng terdepan.

"Serahkan bagian depan padaku! Aku yang akan menahan serangannya!" teriak Fredrin dengan suara lantang untuk membakar semangat.

Di belakangnya, Floyen segera memutar tongkat sihirnya. Lingkaran sihir biru muda muncul di bawah kakinya. Dia mulai melafalkan mantra pendukung dan pertahanan.

"Lisa, fokus pada serangan jarak jauh! Jangan biarkan dia mendekat! Aku akan jaga celah pertahanan kita!" perintah Floyen sigap.

"Siap!" jawab Lisa singkat.

Lisa mundur sedikit, memposisikan diri di sisi kanan. Matanya yang tadi sedikit terkejut kini kembali tajam dan dingin. Aura merah menyala mengelilingi tubuhnya. Api sihirnya mulai berkobar hebat, melawan hawa dingin yang dibawa oleh iblis itu.

Dalam hitungan detik, formasi segitiga sempurna terbentuk. Fredrin sebagai penyerang depan & pertahanan, Floyen sebagai pendukung & kontrol medan, dan Lisa sebagai unit serangan utama jarak jauh.

Melihat formasi yang rapi itu, Wu-yuan mengangguk pelan puas. 'Bagus. Setidaknya pelatihan keras kalian tidak sia-sia. Kalian masih bisa berpikir jernih di bawah tekanan seberat ini.'

Iblis Darah itu sepertinya tersinggung melihat makanan potensialnya justru bersiap memburunya. Dia menghentakkan kakinya yang besar dan kasar ke tanah.

BUUUUM!!!

Getaran kuat menyebar ke segala arah, membuat reruntuhan kayu di sekitar mereka bergetar.

"MANUSIA-MANUSIA KECIL!!" raungnya dengan suara yang seolah berasal dari dalam gua yang dalam. "Kalian berani masuk ke wilayahku?! Kalian berani mengganggu makanku?!"

Iblis itu menunjuk raksasa ke arah mereka. "Penduduk desa ini sudah menjadi milikku! Darah mereka segar, tulang mereka keras... dan sekarang... giliran kalian!"

Dia tidak menyerang langsung. Dia berputar sedikit, memamerkan tumpukan tulang-belulang yang sangat banyak di sudut balai desa. Itu adalah sisa-sisa penduduk desa yang malang. Melihat pemandangan mengerikan itu, dada Lisa terasa sesak oleh amarah.

"Dasar monster kejam..." geram Lisa menahan emosi.

"Jangan terpancing emosi, Lisa," ingat Floyen pelan. "Dia sengaja bikin kita marah supaya kita ceroboh."

PERTARUNGAN DIMULAI!

Tanpa aba-aba lagi, Iblis Darah itu melompat tinggi! Tubuhnya yang besar ternyata memiliki kecepatan yang mengejutkan.

"AMBIL INI!!"

Tangan kanannya membesar dan berubah menjadi cakar raksasa, dia menebas ke arah Fredrin!

DOR!!

"BRAKK!!"

Fredrin mengangkat perisainya dengan sekuat tenaga. Benturan dahsyat terjadi! Fredrin terdorong mundur beberapa langkah, kakinya menancap dalam di tanah sampai membentuk parit kecil, tapi dia tidak jatuh!

"Ku-kuat sekali!" seru Fredrin terengah-engah. Otot lengannya menegang keras menahan beban serangan itu.

"Jangan cuma bertahan! Serang balik!" teriak Wu-yuan dari jauh sambil bersantai duduk di atas tembok yang setengah hancur.

Fredrin menggeram, lalu dengan cepat menangkis cakar iblis itu ke samping dan langsung mengayunkan pedangnya!

SYAAA!!

Coretan pedang meninggalkan goresan dangkal di perut iblis. Darah hitam pekat menetes keluar.

"ARGH! MANUSIA SIALAN!!" Iblis itu marah besar.

"SEKARANG LISA!!" teriak Floyen.

"MENERIMA!!"

Lisa tidak menyia-nyiakan kesempatan. Saat iblis itu lengah karena serangan Fredrin, Lisa sudah menyiapkan sihir level menengah di tangannya.

"Terimalah ini... API NERAKA MERAH!!"

Bola api raksasa berwarna merah gelap meluncur cepat bagai komet menuju tubuh Iblis Darah!

BOOOOOOMMMM!!!

Ledakan besar terjadi! Asap hitam dan debu beterbangan ke mana-mana, menutupi pandangan seluruh area balai desa. Suara ledakan itu begitu keras hingga mengguncang pepohonan di sekitar desa hingga daun-daun berjatuhan berguguran.

Fredrin segera mundur kembali ke posisi semula sambil mengatur napas. Wajahnya berkeringat dingin.

"Dapatkah itu membunuhnya?" tanya Fredrin panik.

Floyen mengerutkan kening, mencoba memindai situasi di balik asap tebal itu. "Tunggu... Aura dia tidak hilang. Dia masih hidup!"

Benar saja, asap perlahan menipis. Terlihat sosok Iblis Darah itu berdiri dengan tubuh yang sedikit gosong dan berasap, tapi dia tidak roboh. Justru matanya kini terlihat lebih ganas dan buas dari sebelumnya!

"Hahaha... Panasnya enak juga! Tapi sayang... belum cukup buat membakar kulitku!" ejek iblis itu sambil menjilat darah hitam di luka tangannya sendiri.

Situasi jadi semakin genting. Serangan gabungan mereka ternyata hanya membuatnya marah, bukan mati.

👁️WU-YUAN YANG MASIH MENONTON

Wu-yuan yang melihat perkembangan pertarungan itu kini tersenyum miring.

'Bagus. Kerjasama timnya sudah mulai nyambung. Tapi Iblis Darah ini memang punya pertahanan fisik yang gila. Kalau begini terus, mereka yang akan kehabisan tenaga duluan.'

"Floyen!" panggil Wu-yuan.

"Ada, Guru!" jawab Floyen cepat.

"Jangan cuma pakai sihir biasa! Cari titik lemahnya! Dia pakai tulang dan daging keras sebagai perisai, tapi di mana letak inti energinya? Pikirkan!"

Floyen tertegun sejenak, lalu matanya membelalak seolah mendapat pencerahan. Dia melihat kembali ke arah iblis itu, memperhatikan setiap gerakannya.

Benar! Iblis jenis ini biasanya menyembunyikan inti kekuatan mereka bukan di jantung, tapi...

"Di leher! Atau di bagian belakang kepala!" batin Floyen menyadari.

"Fredrin, Lisa! Dengarkan rencanaku!" Floyen segera berbisik cepat memberikan instruksi baru. "Kita harus membalikkan posisi! Fredrin, pancing dia supaya memunggungimu! Lisa, siapakan tembakan terkonsentrasi paling tajam! Aku akan bantu ganggu penglihatannya"

"Oke! Siap!" sahut mereka kompak.

"ji-na,carl,xioyan perhatikan lah dan kalian ambil pelajaran dari pertarungan mereka!." ucap wu-yuan tegas.

Pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai! Iblis Darah itu meraung keras, siap melancarkan serangan mematikan berikutnya yang bisa saja langsung membunuh salah satu dari mereka jika terkena!

Iblis Darah itu menghentakkan kakinya kembali ke tanah, kali ini dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Tanah di sekitarnya retak-retak seperti kaca yang dipukul palu raksasa, dan aura mematikan yang ia pancarkan seolah menekan udara di dada setiap orang hingga terasa sulit bernapas. Darah hitam pekat masih menetes dari luka di perutnya, berjatuhan ke tanah dan membuat rumput serta tanah di bawahnya berasap dan berlubang, begitu beracunnya cairan tubuh makhluk itu.

"Kalian kira goresan kecil dan api hangus itu bisa menghentikanku?!" raung Iblis Darah, suaranya menggelegar hingga membuat telinga berdenging. "Kalian hanya makanan kecil yang berisik! Biar aku ajarkan rasa hormat pada makhluk yang lebih tinggi derajatnya!"

Dengan kecepatan yang hampir tidak bisa ditangkap mata telanjang, raksasa itu melesat maju. Angin kencang tercipta dari pergerakannya, membawa bau amis darah dan bau belerang yang menyengat hidung. Fredrin mengertakkan gigi, menegapkan tubuhnya di barisan paling depan. Sesuai rencana yang disampaikan Floyen, ia tidak boleh mundur selangkah pun, tapi ia juga tidak boleh berusaha bertahan mati-matian seperti sebelumnya. Kali ini, tugasnya adalah memancing dan mengarahkan.

"Sini kau, makhluk menjijikkan!" teriak Fredrin, memukulkan pedangnya ke perisai hingga menimbulkan bunyi nyaring yang memecah udara. "Aku belum selesai dengan kulit tebalmu itu!"

Taktik itu berhasil. Amarah Iblis Darah langsung tertuju sepenuhnya pada Fredrin yang berani menantang dengan cara begitu. Matanya yang merah menyala membelalak lebar, penuh dengan kebencian dan keinginan untuk merobek tubuh manusia itu menjadi kepingan terkecil.

"MATI!!"

Cakar raksasa itu kembali diayunkan, kali ini bukan satu kali, melainkan bertubi-tubi! Tebasan demi tebasan menghantam perisai Fredrin dengan kekuatan seperti palu godam raksasa. Bunyi benturan logam yang bergesekan dengan kulit keras dan tulang raksasa itu terdengar mengerikan. Fredrin terus terdorong mundur, kakinya menggaruk tanah, keringat dingin membasahi seluruh wajah dan punggungnya. Tulang-tulangnya terasa seolah akan copot karena guncangan hebat dari setiap serangan yang ia tahan. Namun, ia tidak membalas serangan. Ia hanya terus mundur perlahan, mengubah posisi berdiri sedemikian rupa agar punggung Iblis Darah perlahan-lahan berputar menghadap ke arah Lisa.

Di belakang mereka, Floyen bergerak dengan sangat lincah. Ia tidak diam saja melihat kawannya diserang. Tongkat sihirnya berputar cepat di tangannya, dan lingkaran sihir berwarna biru muda yang bercampur warna ungu mulai bermunculan di udara.

Sekejap kemudian, puluhan anak panah cahaya berwarna biru melesat keluar dari lingkaran itu, menembak ke arah mata dan wajah Iblis Darah. Itu bukan serangan yang memiliki kekuatan besar untuk melukai, tapi cukup tajam dan cepat untuk mengganggu penglihatan serta konsentrasi musuh.

"Kecil-kecil mengganggu!" geram Iblis Darah, terpaksa menundukkan kepalanya dan mengibaskan tangan kiri ke arah wajahnya untuk menepis anak panah cahaya itu. Saat pandangannya terhalang sesaat oleh gerakan tangannya, Floyen segera berteriak keras, suaranya melengking menembus suara bising pertempuran.

"LISA! SEKARANG JUGA! TITIK LEMAHNYA DI DASAR LEHER BAGIAN BELAKANG! TAPI KAU HARUS TEMBAK MENUBUS KE DALAM! KULITNYA KERAS, TAPI DALAMNYA LEMBEK DAN BASAH! GUNAKAN SEMUA KEKUATANMU!"

Lisa yang sejak tadi sudah bersiap dengan kedua tangannya terangkat tinggi di udara, mendengar perintah itu, matanya yang berkilat dengan nyala api merah semakin memancarkan cahaya terang. Di sekelilingnya, udara terasa semakin panas, berkebalikan dengan hawa dingin yang dibawa iblis itu. Rambutnya berkibar tertiup angin akibat energi besar yang ia kumpulkan. Di kedua telapak tangannya, bola api yang awalnya seukuran kepala manusia kini membesar, berubah bentuk menjadi sebilah tombak raksasa yang seluruhnya terbuat dari api murni berwarna merah tua, hampir mendekati warna hitam di bagian tengahnya.

Ini bukan lagi sihir api biasa. Ini adalah teknik penembakan sihir terkonsentrasi yang diajarkan di tingkat lanjutan Akademi. Alih-alih melepaskan energi secara meledak dan menyebar luas seperti sebelumnya, energi itu dipadatkan, dipersempit, dan dipertajam hingga menjadi senjata penusuk yang daya tembusnya bisa menembus baja tebal sekalipun.

"Api Neraka: TUSUKAN MERAH ABADI!" seru Lisa dengan suara bergetar, bukan karena takut, tapi karena beban energi besar yang ia pegang. Urat-urat di lengannya menonjol, dan kakinya menancap kuat ke tanah agar ia tidak terlempar oleh daya dorong sihirnya sendiri.

Saat itu juga, Fredrin melihat peluang. Iblis Darah itu baru saja selesai menepis serangan Floyen dan hendak kembali menyerang ke depan. Punggung dan leher belakangnya kini terbuka lebar sepenuhnya, tepat menghadap ke arah posisi Lisa. Fredrin dengan sigap melompat ke samping, menjauh dari garis lurus pandangan, membuka jalan tembak yang bersih tanpa penghalang sedikit pun.

"LEWAT SINI!!" teriak Fredrin memberi tanda.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Lisa mengayunkan kedua tangannya ke depan. Tombak api raksasa itu melesat dengan kecepatan luar biasa, membelah udara sambil meninggalkan jejak asap merah yang membara. Suara mendesis keras terdengar seolah udara di sekitarnya terbakar oleh panas yang ditimbulkannya.

Iblis Darah itu seolah merasakan bahaya maut yang mendekat. Naluri hewan buasnya berteriak keras memberi peringatan. Ia berusaha memutar badannya kembali untuk melindungi bagian belakang lehernya, tapi ia terlambat. Gerakannya yang besar dan berat terhalang oleh posisi yang sudah dikunci sedemikian rupa oleh Fredrin dan Floyen.

"KAU BERANI?!" teriaknya panik, berusaha menaikkan lengan kirinya untuk menutupi leher.

DUSSZZZ!!!

Suara basah dan tajam terdengar jelas saat ujung tombak api itu menghantam sasaran tepat pada sasarannya! Kulit keras dan perisai tulang alami di bagian belakang leher iblis itu tidak ada artinya di hadapan energi api yang dipadatkan hingga setajam jarum. Tombak itu menembus masuk seolah menusuk selembar kertas basah, masuk jauh ke dalam hingga hampir separuh panjangnya lenyap terserap ke dalam tubuh raksasa itu.

Sekejap hening menyelimuti seluruh desa yang rusak itu. Bahkan angin pun seolah berhenti berhembus.

Beberapa detik kemudian...

"UUUUGGGHHH RRRAAAAAARRRRGGGGGHHHHH!!!!"

Terorian kesakitan yang mengerikan menggema hingga ke pelosok hutan di kejauhan. Iblis Darah itu mengerang kesakitan sambil berguling-guling di tanah, mencakar-cakar leher belakangnya yang kini mengeluarkan asap dan darah hitam yang memancar deras seperti air terjun. Api merah itu tidak hanya menembus masuk, tapi juga terus membakar dari dalam ke luar, mematikan saraf-saraf dan pembuluh darah di sekitar inti kekuatannya yang tersembunyi di sana. Tubuhnya yang besar bergetar hebat, kakinya menendang-nendang tanah secara acak karena rasa sakit yang tak tertahankan.

Fredrin, Floyen, dan Lisa terengah-engah hebat, bahu mereka naik turun karena kelelahan luar biasa. Keringat membanjiri tubuh mereka. Lisa bahkan sampai terhuyung ke belakang, hampir jatuh ke tanah karena kehabisan tenaga setelah melepaskan serangan terbesarnya. Floyen dengan cepat melangkah mendekat dan menopang tubuh adiknya itu.

"Kau hebat, Lisa," bisik Floyen sambil tersenyum tipis, meski napasnya pun sama beratnya. "Itu kena tepat sasaran."

Di atas tembok yang runtuh, Wu-Yuan yang sedari tadi duduk santai kini berdiri perlahan. Wajahnya yang datar sedikit berubah, muncul senyum tipis di sudut bibirnya. Ia mengangguk puas.

'Akhirnya... mereka paham,' batin Wu-Yuan. 'Kekuatan mentah saja tidak cukup. Teknik, kerja sama, dan ketajaman pikiran itulah yang membedakan prajurit biasa dengan penyihir dan ksatria sejati. Luka itu sudah mengenai inti energinya. Iblis Darah itu tidak akan hidup lama lagi.'

Namun, meski sudah terluka parah, Iblis Darah itu belum mati seketika. Makhluk tingkat menengah seperti ini memiliki vitalitas yang mengerikan. Meski inti kekuatannya hancur dan tubuhnya terbakar dari dalam, sisa-sisa insting buasnya masih mendorongnya untuk membunuh siapa saja di dekatnya sebelum nyawanya habis.

Dengan sisa kekuatan terakhirnya, iblis itu bangkit berdiri dengan susah payah. Tubuhnya bergoyang-goyang, matanya yang merah menyala kini mulai meredup dan berair, namun tatapan benci di sana masih terasa tajam. Mulutnya terbuka lebar, menampakkan gigi-gigi tajam yang berlumuran lendir beracun. Ia mengangkat tangan kanannya yang gemetar, mengumpulkan sisa-sisa energi gelap yang ada di tubuhnya.

"Ka... li... an... an... usia... a..." suaranya parau dan terputus-putus, "Ka... li... an... ka... kan... ikut... ma... ti... ber... sa... ma... kuu!!"

Udara di sekitarnya berubah menjadi kelabu dan dingin secara drastis. Aura ledakan diri mulai terasa. Iblis itu berniat meledakkan seluruh sisa energinya, menciptakan ledakan racun dan energi gelap yang akan menghancurkan seluruh area desa ini beserta semua yang ada di dalamnya.

"AWAS!! DIA MAU MELEDAK!!" teriak Floyen dengan wajah pucat pasi. Jarak mereka terlalu dekat untuk lari menyelamatkan diri.

Fredrin segera berniat melompat maju kembali, berniat menahan ledakan itu dengan tubuh dan perisainya sendiri meski ia tahu itu pasti akan membawanya ke kematian. "Aku akan ta—!"

"Berhenti di tempat!"

Suara dingin dan tegas membelah udara, menindih suara raungan iblis yang hampir meledak itu.

Wu-Yuan.

Dalam sekejap mata, Wu-Yuan sudah tidak ada lagi di atas tembok. Ia bergerak begitu cepat hingga tidak ada satu pun dari mereka yang melihat bagaimana ia berpindah tempat. Dalam sekejap saja, ia sudah berdiri tepat di depan tubuh raksasa Iblis Darah itu, hanya berjarak kurang dari satu meter.

Wu-Yuan mengangkat tangan kanannya yang ramping, telapak tangannya terbuka menghadap ke dada iblis yang penuh luka itu. Ekspresinya masih sama datar, dingin, dan tenang, seolah sedang memegang secangkir teh hangat, bukan berhadapan dengan ledakan maut dari monster tingkat menengah.

"Sudah cukup mainnya," ucap Wu-Yuan pelan, namun suaranya terdengar jelas di telinga semua orang.

DENG!!

Sebuah cahaya putih keperakan yang tipis namun sangat terang menyembur keluar dari telapak tangan Wu-Yuan. Cahaya itu tidak meletus atau menghancurkan apa pun. Cahaya itu hanya menembus masuk ke dada iblis itu dengan lembut, persis di tempat jantung seharusnya berada.

Seketika itu juga, semua energi gelap yang sedang berkumpul, semua racun yang mengalir, dan semua nyawa yang tersisa di tubuh Iblis Darah itu... seolah tersedot masuk ke dalam cahaya itu dan lenyap begitu saja. Tubuh raksasa itu menjadi kaku, matanya terbuka lebar dalam kekosongan, dan aura mengancam yang tadinya memenuhi desa itu hilang sepenuhnya, digantikan oleh udara yang sejuk dan tenang kembali.

Badan raksasa itu limbung sesaat, lalu jatuh berdebam ke tanah dengan suara berat. Debu beterbangan tinggi. Iblis Darah itu kini sudah diam selamanya. Tak ada lagi gerakan, tak ada lagi ancaman. Hanya bangkai raksasa yang tak berdaya tergeletak di tengah puing-puing desa.

Wu-Yuan menurunkan tangannya, lalu memutar badan menghadap murid-muridnya yang terpaku diam dengan mulut sedikit terbuka. Fredrin, Floyen, dan Lisa saling pandang, lalu menatap kembali ke arah guru mereka yang tampak sama sekali tidak lelah, tidak berkeringat, dan tidak berubah posenya sedikit pun.

Wu-Yuan menghela napas panjang pelan, lalu mengusap ujung bajunya yang sedikit terkena debu. Ia menatap ketiga muridnya satu per satu dengan pandangan tajam namun bangga.

Bersambung.....

1
T28J
keren kak, saya subscribe, semoga ceritanya konsisten dan sampai tamat ya ✍️
Chen: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!