NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Dicari Mafia Kejam

Delapan Tahun Dicari Mafia Kejam

Status: tamat
Genre:Single Mom / Mafia / Anak Genius / Tamat
Popularitas:41.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.

Delapan tahun berlalu.

Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Kelahiran Kailan Elvaro

Tubuh Alena hampir terhuyung ke lantai, sebelum akhirnya pintu itu terbuka. Seorang bidan paruh baya, langsung terkejut melihat kondisi Alena yang sudah pucat pasi dengan pakaian yang basah kuyup.

  "Ya Tuhan...," Bidan itu langsung menopang tubuh yang hampir ambruk.

"Cepat masuk!"

Alena bahkan sudah hampir tidak sanggup lagi untuk melangkah kakinya lemas, rasa sakit akibat kontraksi datang bertubi-tubi seolah tidak ada celahnya.

"Ngghh... sakit," ucap Alena sambil meringis kesakitan.

"Tenang Nak, tarik nafas dulu," sahut Bidan itu seolah mengerti.

Bidan itu segera membantu Alena masuk ke ruangan kecil sederhana yang hangat. Bau minyak kayu putih dan obat-obatan langsung memenuhi penciumannya.

Akan tetapi rasa sakit di perutnya jauh mendominasi dari semuanya, Alena menggigit bibir bawahnya cukup keras, tangannya perlahan mencengkeram seprei putih ranjang persalinan itu.

  "Tuhan rasanya sakit sekali," gumamnya lirih.

  Sementara bidan itu mulai memeriksa bagian intim Alena dengan hati-hati Refleks ibu hamil itu langsung membuka pahanya lebar-lebar.

  "Baru pembukaan 8 sudah mendekati pembukaan 9, sabar dulu ya," katanya dengan sabar.

  Alena seperti tidak menghiraukan lagi ucapan dari bidan itu, karena rasa sakit yang terus menghantam seolah tidak mengenal ampun, ingin rasanya ia menangis berteriak sekencang mungkin. Namun di sisi lain kesadarannya masih penuh. Ia tahu di sini dia hanya sendiri tidak ada keluarga yang menjabatani, tidak ada suami yang harus menjadi orang nomor satu yang mendampinginya saat ia melahirkan generasi penerusnya.

  Alena hanya bisa merasakan rasa sakitnya ini sendirian. Hanya sendirian.

"Aaah ...."

Tubuh Alena mengangguk diatas ranjang persalinan, keringat bercampur air hujan membasahi wajah pucatnya.

  "Suami Ibu dimana?" tanya Bidan itu.

Alena terdiam seketika saat nama itu mulai terucap kembali. "Aku gak punya suami Bu."

Jawaban lirih itu membuat bidan terdiam sesaat, wanita paruh baya itu tidak bertanya lagi. Ia hanya mengusap lembut kepala Alena penuh iba.

“Kamu kuat ya, Nak.”

Air mata Alena kembali jatuh, sudah selama ini ia mencoba terlihat kuat di depan semua orang tapi malam ini, ia benar-benar takut. Takut sesuatu terjadi pada bayinya, takut jika ia tidak bisa melewati semua sendirian.

Seketika kontraksi datang, kali ini jauh lebih cepat dan menyakitkan, hingga tanpa terasa teriakannya kembali terdengar memenuhi ruangan.

“AAHHH…!”

Tangannya mencengkeram pegangan ranjang besi itu, begitu kuat sangking dahsyatnya sakit yang ia rasakan.

“Napas… tarik napasnya!” ucap bidan mencoba menenangkan.

“Tolong… sakit sekali…”

Air mata terus mengalir tanpa henti. Di tengah rasa sakit luar biasa itu, bayangan hidupnya bermunculan satu per satu.

Panti asuhan. Malam kelam itu. Penolakan Kael. Kesendiriannya selama ini. Dan entah kenapa… malam ini semua rasa sakit itu terasa bercampur menjadi satu.

“Nak…” tangis Alena pecah. “Jangan tinggalin Mama… tolong…”

Bidan itu menggenggam tangannya erat.

“Tidak akan. Anakmu kuat.”

Jam demi jam berlalu, terasa cukup lama. Hujan di luar masih turun deras seolah menemani perjuangan Alena malam ini. Tubuh perempuan itu mulai melemah. Napasnya tersengal. Tenaganya hampir habis. Namun saat mendengar suara bidan berkata,

“Sedikit lagi…”

Alena kembali menangis sambil mengumpulkan seluruh sisa kekuatannya.

“AAAHHHH…!”

Hingga beberapa detik kemudian. Tangisan bayi akhirnya pecah memenuhi ruangan kecil itu.

Deg!

Dunia Alena seakan berhenti, air mata jatuh semakin dalam, mendengar tangisan anaknya untuk yang pertama kali.

“Ba…yi laki-laki,” ucap bidan dengan senyum haru.

Tubuh Alena gemetar hebat. Bayi kecil itu perlahan diletakkan di pelukannya. Masih hangat, kecil dan begitu rapuh namun saat tahu bibir mungil itu mulai mencari-cari sumber makanannya tangis Alena semakin pecah.

“Halo…” bisiknya lirih sambil mencium kepala bayinya berkali-kali. “Mama di sini…”

Bayi kecil itu bergerak pelan lalu menggenggam jari Alena dengan tangan mungilnya.

Dan saat itu juga… Semua luka yang selama ini menghancurkan hidup Alena seolah berubah menjadi alasan baru untuk bertahan hidup.

“Nak…” suaranya bergetar penuh tangis. “Mulai hari ini… kita keluarga.”

Ucapannya masih terdengar bergetar, bahkan rasa sakit di area putung karena hisapan sang anak, tidak seberapa dibanding dengan rasa bahagianya malam ini.

  "Hisap yang kuat Sayang, selagi Mama bisa, maka Mama akan penuhi setiap asupan gizi yang masuk dari mulutmu," ucapnya penuh dengan haru.

Alena masih mengASIhi bayinya tanpa sadar ia mendongakkan kepalanya keatas merasa bersyukur Tuhan masih menyayanginya.

🍀🍀🍀🍀🍀

Pagi harinya…

Suara pintu rumah bidan terbuka cukup keras, langkah perempuan itu tergesa seolah tidak sabar ingin menengok ponakan pertamanya hadir di dunia ini.

“Lena!”

Alena yang sedang memeluk bayinya langsung menoleh kaget.

Matanya langsung membesar saat melihat Rina berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan mata sembab.

“R-Rina…”

Tanpa menunggu lagi, Rina langsung memeluk Alena hati-hati sambil menangis.

“Kamu jahat…” isaknya pecah. “Lahirannya malah nggak bilang…”

Air mata Alena ikut jatuh lagi. “Aku nggak mau merepotkan kamu…”

“Diam!” Rina langsung mengusap air matanya kasar. “Kamu itu sudah berjanji jika bayi itu lahir maka aku orang pertama yang melihatnya."

"Iya-iya aku salah," akui Alena. "Kamu tahu gak saat kontraksi itu datang seketika aku lupa semuanya kecuali dia," tunjuk Alena pada bayi merah itu.

"Tuh kan Sayang, kamu dengar sendiri kan Mama mu itu tega," ucap Rina seolah merajuk pada bayi Alena.

Suasana hangat itu semakin terasa saat Anne dan Senna ikut datang membawa berbagai perlengkapan bayi.

“Aduh akhirnya lahir juga ponakan kita!” seru Senna penuh semangat.

“Ya ampun ganteng banget…” Anne langsung menatap bayi kecil itu gemas.

Alena menatap satu per satu orang di sekelilingnya dadanya terasa hangat. Selama ini ia pikir hidupnya hanya dipenuhi luka.

Namun ternyata… Tuhan tetap mengirimkan orang-orang baik untuk menemani langkahnya. Tangannya perlahan mengusap wajah kecil putranya.

“Kai…” bisiknya pelan.

Rina tersenyum. “Namanya Kai?”

Alena mengangguk sambil menatap bayi itu penuh cinta.

“Iya… Kailan Elvaro."

Bayi kecil itu tertidur hangat di pelukan Alena, merasa anteng seolah tahu jika hidupnya di kelilingi oleh tante-tante cantik dan super baik hati.

"Kai, Sayang... nanti jika ibumu melarangmu memakan coklat, maka datanglah pada Ibu Rina ya," celetuk perempuan itu, Alena hanya bisa mendengus kecil.

"Kai tampan, nanti kalau ibumu gak mau kasih es krim lari saja ke Ibu Anne," timpalnya.

"Eh... tunggu dulu, tentunya aku gak mau kalah dong," sahut Senna. "Nanti kalau ibumu marah karena kamu sibuk main layang-layang, datang ke rumah Ibu Senna ya, sudah pasti Ibu akan temani kamu bermain sampai puas."

Seketika tawa itu memenuhi ruangan kecil, Alena melihat sendiri antusias ketiga sahabatnya. Mungkin anaknya itu lahir tanpa pengakuan dari seorang ayah, tapi Tuhan menggantikannya dengan hadirnya tiga ibu angkat untuk sang anak sekaligus.

Bersambung.

1
Sugiharti Rusli
semoga karya" mu berikutnya bisa terus menghibur yah dan ada sesuatu yang didapat saat kita membacanya, meski dari hal sederhana,,,
Ayumarhumah: Aamiiin.... makasih ya kak ...
total 1 replies
Sugiharti Rusli
dan yah sekali lagi Kai berhasil membuat mereka semua bisa menyatu tanpa dendam dan saling bersapa layaknya saudara, dan Bianca juga sudah bagian dari mereka,,,
Sugiharti Rusli
semoga saja suatu saat su Rafael menyadari kesalahannya dan tidak memelihara dendamnya,,,
Sugiharti Rusli
dia pasti masih memikirkan Bianca kalo sampai menghabisi saudara satu" nya itu, meski sekarang mereka tidak sejalan
Sugiharti Rusli
bagus deh kalo pada akhirnya Kael membuat keputusan bijak dengan tidak membunuh si Rafael meski ada kesempatannya yah,,,
tia
waduh cepat skli tamat
Ayumarhumah: iya Kak ...

pengin suasana baru...
total 1 replies
Sugiharti Rusli
padahal si Rafael tahu batas kekuatannya di mana, tapi karena egonya yang tinggi maka dia sudah ambil semua resikonya termasuk kalo dia harus hancur
Sugiharti Rusli
entah akan seperti apa pertumpahan yanh akan mereka alami nanti dan siapa yang akhirnya harus kalah,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya hal itu sangat dihayati betul oleh si Rafael saat ini, dia ingin kekuasaan berada di bawah telapak kakinya sendiri
Sugiharti Rusli
kalo dalam dunia mafia siapa kuat dia yang bisa menguasai dunia yah,,,
Sugiharti Rusli
semoga Kael tidak lengah yah, apalagi dia tahu akan mendekati jalur distribusi milik Rafael,,,
Sugiharti Rusli
dan alasan agar adiknya tidak jadi korban karena sikap Kael, hanya jadi alasan saja sih sebenarnya dan sekarang dapat validasi buat konfrontasi sama kelompok Kael,,,
Sugiharti Rusli
dalam egonya si Rafael dia selalu berada di bawah bayang" Kael baik dari segi kekuasaan maupun cinta dari orang" yang mereka sayangi,,,
Sugiharti Rusli
sejak awal tujuan si Rafael memang mengalahkan Kael apapun caranya,,,
Sugiharti Rusli
dan si Rafael sudah jadi pembunuh berdaraj dingin dan baru puas kalo yang dianggap musuh musnah di tangannya,,,
Sugiharti Rusli
tapi sepertinya pemikiran si Rafael hanya penuh dendam semata dan sepertinya adiknya sendiri akan dijadikan musuh
Sugiharti Rusli
apalagi menjadikan seorang sebagai target buat menghantam temannya sendiri yah
Sugiharti Rusli
padshal kan maksud Bianca bukan seperti itu, dia ingin abangnya menghentikan pertumpahan darah yang tidak perlu,,,
Sugiharti Rusli
kalo sudah dasarnya hatinya gelap, apapun yang si Rafael lihat selalu dianggap melukai hatinya,,,
Sugiharti Rusli
kira" di mana tempat persembunyian si Rafael yah, apa si Bianca memiliki petunjuk mungkin karena dia adiknya🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!