Taqi Bassami, hanya karena ia seorang anak angkat, pria itu harus mengorbankan hidup selamanya. Taqi menukar kebebasannya demi membayar balas budi. Berkat sang ayah angkat, hidupnya yang terpuruk di jalan, kini menjadi sukses.
Bila balas budi bisa dibayar dengan uang, Taqi pasti melakukan hal itu. Tapi bagaimana, jika Taqi harus menikahi wanita pilihan keluarga angkatnya itu untuk membalas jasa. Belum lagi latar belakang Taqi yang perlahan mencuat ke permukaan. Siapa sebenarnya Taqi? Ketika banyak pihak mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
The Lost Mafia Boy Bagian 27
Oleh Sept
"Ceritakan pada Abah, selama ini kamu ke mana Taqi?" tanya abah Yusuf ketika Taqi masih memeluk erat Nada.
Seketika Taqi melepas pelukannya tersebut. Pria itu tersadar atas apa yang sudah ia lakukan. Apalagi dilihatnya Nada, istrinya itu nampak canggung.
"Ceritanya panjang Abah, nanti Taqi ceritakan di rumah," Taqi menatap semuanya. Lalu tatapan matanya kini mengarah pada stroller bayi yang sejak tadi tidak ia perhatikan.
Taqi kemudian mendekat stroller, di mana di situ Naqiyyah sudah terlelap. Ditatapnya wajah Naqi yang terlelap, kemudian mengusap lembut pipinya.
'Aku pikir juga tidak bisa melihatmu, Naqi,' batin Taqi saat menatap Naqiyyah dengan intense.
"Semalam dia rewel sekali, alhamdulillah ... di pesawat tadi Naqi tertidur," seru ummi sembari mendekati keduanya. Ummi ikut mengusap pipi lembut cucunya tersebut.
Karena keluarganya sudah menjemput, dengan berkas-berkas yang abah bawah dari Indonesia. Dan beberapa salinan dokumen asli, akhirnya Taqi bisa meninggalkan negara itu.
Tidak menunggu besok, malam harinya mereka langsung terbang balik ke Jakarta. Setelah persyaratan dokumen lengkap, Taqi tidak mau menunggu. Ia ingin semuanya langsung balik. Barangkali insting Taqi mengatakan bahwa ia masih diincar oleh orang suruhan pria yang mengaku sebagai ayahnya.
***
Sepanjang penerbangan, Taqi duduk di sebelah Nada. Sedangkan abah dan ummi duduk di seat belakang mereka. Sepanjang perjalanan pula Taqi dan Nada hanya diam. Sesekali Taqi basa-basi, tapi Nada sepertinya masih canggung bicara pada dirinya.
Hingga beberapa jam kemudian, pas sampai Jakarta, hujan turun dengan deras. Mereka semua pun menunggu di Bandara. Sekalian makan dulu. Ummi sampai heran saat memperhatikan Taqi makan. Seperti orang puasa tiga hari tanpa sahur. Entah lapar atau doyan.
Nada pun heran, apa selama ini suaminya tidak makan. Pria itu makan dengan lahapnya. Padahal, Taqi sedang menikmati menu kebebasannya. Makan bersama keluarga penuh kehangatan.
Mungkin kemarin hidangan yang diberikan terhitung mewah dan mahal, mungkin juga rasanya enak seperti menu hotel bintang lima. Hanya saja, Taqi menemukan perbedaan yang mencolok. Bukan apa yang dia makan, makanan serasa lebih enak ketika dengan siapa dia makan. Perasaan seperti itu yang kini ia rasakan.
"Pelan-pelan Taqi ... apa kamu selama ini tersasar di tengah hutan?" canda abah yang ingin mencairkan suasana.
Taqi hanya tersenyum tipis kemudian menjawab, "Makanan di sini enak, Bah!"
Ummi merasakan sesak, tatapan Taqi tidak biasa. Sepertinya banyak hal buruk yang dialami oleh putra angkatnya itu. Meski bukan ibu kandungnya, ummi bisa merasakan. Ada gurat kesedihan di mata Taqi.
"Makan yang banyak," seru ummi lalu memberikan lauknya untuk Taqi.
"Sudah Ummi!"
"Gak apa-apa, makan saja. Ummi senang melihatmu lagi Taqi," ucap ummi sendu. Tangannya tanpa sadar mengusap sudut matanya. Mungkin ummi pikir sudah kehilangan putra lagi. Begitu mendengar kabar Taqi selamat, ummi merasa sangat bahagia.
"Maaf ... sudah membuat Ummi khawatir!" Taqi menggengam tangan ibu angkatnya itu. Merasakan kesedihan yang sama.
Sedangkan Nada, ia sempat kepergok beberapa kali mencuri pandang pada suaminya. Nada pun heran, apa suaminya selama ini kelaparan. Tanpa ia sadari, perlahan mulai penasaran dengan apa yang terjadi pada Taqi.
***
Beberapa saat kemudian, langit kembali berbintang. Hujan sudah berhenti, awan hitam yang semula menyelimuti sudah pergi habis tersapu kencangnya angin.
"Alhamdulillah, hujannya sudah reda. Ayo pulang, Bah ... Ummi. Taqi sudah ingin cepat-cepat pulang."
Nada melihat ke samping jendela, memang hujannya sudah berhenti.
Akhirnya, mereka pun pulang ke rumah bersama-sama. Dijemput oleh sopir. Sepanjang jalan, Taqi malah duduk di sebelah ummi. Mungkin kangen dengan wanita yang sudah ia anggap ibu sendiri.
Lagi pula mau duduk dan bersandar pada Nada sepertinya juga tidak mungkin. Masih ada tembok transparan diantara mereka berdua.
Tidak terasa, setelah melewati banyak gedung-gedung tinggi, akhirnya mereka sampai juga di sebuah hunian yang selama ini Taqi rindukan.
***
Rumah abah Yusuf
"Mandi dan istirahatlah, kamu pasti lelah sekali. Ceritanya besok saja!" seru abah Yusuf.
Taqi mengangguk, ummi menatap Taqi yang masuk kamarnya. Rasanya ia masih ingin bicara pada putranya itu. Tapi karena sudah larut, maka ummi memutuskan untuk besok saja.
"Ummi juga, Taqi sudah kembali. Ummi istirahat. Tidak usah khawatir lagi," tambah abah.
Terakhir adalah Nada, ia mau masuk kamar tapi bingung. Sampai ummi menegurnya.
"Naqiyyah pasti capek juga, Nad. Kalian juga istirahat saja."
Nada pun mengangguk pelan, lalu masuk ke dalam kamar. Kamar yang sama di mana di sana sudah ada Taqi.
"Maaf!" Sambil menggendong Naqiyyah, Nada reflect berpaling. Mana dia tahu kalau Taqi melepas kaos yang semula di kenakan pria itu.
Taqi mungkin juga lupa, dia sudah tidak bujang lagi. Ini bukan lagi hanya kamarnya. Sejak ia menikah, kamarnya sudah menjadi milik bersama.
"Hanya ganti pakaian!" ucap Taqi yang melihat Nada canggung.
"Maaf membuatmu kaget," tambah Taqi.
"Hemm!"
"Sudah, aku hanya ganti baju!" ucap Taqi. Seolah meminta Nada menatapnya.
Perlahan Nada berbalik, dan Taqi memang sudah ganti baju. Hampir saja jantungnya berdegup kencang. Kaget melihat Taqi main buka baju di kamar itu.
Nada merasa aneh, sekali lagi mereka harus satu ruangan. Perasaan saling canggung pun tidak bisa dihindari.
"Tidurkan Naqi di ranjang saja ..." ucap Taqi saat melihat Nada mau meletakkan bayinya dalam box.
"Aku akan tidur di sofa," tambah Taqi. Mungkin dia bisa melihat kegelisahan di wajah istrinya tersebut.
Sementara itu, Nada menurut saja. Lagian dia belum siap harus satu ranjang dengan mantan kakak iparnya itu.
Beberapa saat kemudian
Mereka bertiga sudah tidur, mungkin haus tiba-tiba membuat Naqiyyah menangis. Hal itu membuat dua orang dewasa di sana langsung terbangun.
"Kenapa dia menangis? Apa sakit?" tanya Taqi mendekat. Karena suara tangis Naqi begitu kencang.
Nada menggeleng, kemudian menjawab. "Mungkin haus!"
"Oh ... Haus?" Mengerti apa maksud tersirat dari kata haus. Taqi perlahan berbalik. Namun, saat ia kembali ke sofa, Naqiyyah belum juga berhenti menangis.
"Apa minumnya kurang?" tanya Taqi tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya.
Kaget, Nada langsung menutup apa yang tadi sempat terbuka.
Sedangkan Taqi, ia tetap berusaha untuk fokus. Kemudian mengulurkan tangan.
"Biar aku gendong!"
"Mas Taqi pasti capek, biar Nada saja."
"Tidak apa-apa ..."
Nada pun memberikan bayinya. Dan benar saja, saat digendong sang ayah. Naqiyyah anteng dan perlahan menutup mata.
Beberapa saat kemudian
"Tidurkan saja Mas!"
Karena memang lelah juga, Taqi pun meletakkan tubuh Naqi di samping Nada. Pelan-pelan ia membaringkan bayi mungil tersebut.
Setelah itu Taqi melemaskan otot-ototnya. Ia merenggangkan bagian tubuhnya.
"Tidur di sini ... di sofa pasti tambah capek."
"Kau yakin, Nada?"
DEG ....
BERSAMBUNG
Info Lebih lengkap IG Sept_September2020 cuss DM.
jawab iya salah jawab tidak juga berat
😭😭😭