Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1—Permainan Kotor Sang Senior
Naufal berjalan terburu-buru untuk kembali ke toko, Ia hanya punya waktu istirahat tiga puluh menit, dan ia harus segera kembali ke toko. Sisa keringat dingin masih membasahi dahinya setelah menerima telepon dari rumah sakit mengenai biaya kontrol ibunya. Sebesar 5 juta rupiah … bagi naufal yang hanya seorang fresh graduate dan hanya bekerja sebagai sales handphone itu merupakan uang yang nominalnya cukup besar apalagi tenggat pembayaran tinggal beberapa hari lagi.
Namun hari ini adalah harapannya, seorang pelanggan tetap sudah berjanji akan datang untuk mengambil dua unit R-14, seri flagship terbaru dengan komisi yang tinggi, sekali dia jualan dua unit itu target dia akan tutup. Dan untuk sales yang tutup target dan dengan penjualan dua seri flagship baru sudah bukan rahasia lagi dia bakal dapat gaji diatas UMR Jogja. Uang itu pasti dia dapat, dengan uang itu ia akan menggunakan untuk mengobati sang ibu.
Akan tetapi harapan seakan memberikan ilusi bagi Naufal, dunia tidak seindah itu untuk berjalan sesuai kehendak manusia, apalagi untuk bocah yang baru saja lulus SMK itu … saat kakinya melangkah masuk ke area toko, jantungnya seakan berhenti berdetak. Di meja negosiasi, ia melihat Andre—sales senior yang paling ia benci—sedang tertawa lebar di depan seorang pria yang sangat Naufal kenali.
Itu adalah pelanggan janjiannya!
"Nah, Pak, percaya sama saya. R-14 itu cuma menang iklan. Kalau Bapak mau yang benar-benar gahar, ambil A-56 ini. Ini produk unggulan brand saya, teknologinya jauh di atas yang ditawarkan anak magang tadi," ucap Andre sambil menyodorkan unit demo miliknya. “Dia itu cuma anak baru, pak … saya lebih senior dan paham mengenai HP, jadi percaya saja pada saya.”
Apa-apaan ini? Bapak itu adalah klien janjian dia! Dan semua orang di toko tahu akan hal itu, Andre juga seharusnya tahu karena dia baru saja melakukan probing (pengenalan produk) dan deal tepat di mata senior sombongnya–barang akan diambil hari ini.
Tapi si Andre malah menghasut bapak itu ke produk lain … asal kalian tahu itu merupakan tindakan nista dan pelanggaran di dunia sales, dia melanggar aturan utama … jangan merebut pelanggan janjian milik seseorang.
Naufal tidak bisa menahan diri lagi. Masalahnya senior ini tidak sekali dua kali melakukan hal ini, akibatnya naufal selalu tidak tutup target selama 3 bulan bekerja sebagai sales HP dan efeknya, dia sudah kena SP 1, bahkan 2! Jika dia tidak tutup target lagi bulan ini, dia kena sp3 alias di pecat!
Ia melangkah maju dengan wajah memerah. "Kak Andre! Apa-apaan ini? Ini pelanggan janjian saya! Bapak ini sudah sepakat mau ambil R-14 dua unit sama saya tadi pagi!"
Andre menoleh pelan, senyum sinis tersungging di bibirnya. Tanpa rasa bersalah, ia menepuk bahu Naufal dengan keras. "Oh, Naufal? Sori ya, tadi Bapak ini kelihatan bingung, jadi sebagai senior yang baik, gue bantu jelasin. Lagian, lo tadi nggak ada di tempat. Di sini hukumnya jelas: siapa cepat, dia dapat."
"Tapi Kak, ini user janjian! Kakak sudah melanggar etika!" suara Naufal meninggi. “Aku bahkan sudah jauh-jauh dari cabang pusat untuk mengambil dua stok ini, rela istirahatku kepotong juga!”
Pria pelanggan itu tampak tidak enak hati. "Duh, Mas Naufal, maaf ... Kayaknya saya gak jadi beli R-14 … Mas Andre juga bilang kalau stok R-14 lagi bermasalah, jadi saya ditawari A-56 ini yang katanya lebih bagus."
Naufal terbelalak. "Bermasalah? Stok kita melimpah di gudang, Pak! Kak Andre bohong—"
"Jaga mulut lo, bocah!" Andre berdiri, matanya melotot tajam. "Lo mau bikin keributan di depan customer? Mau gue laporin ke Manajer karena nggak sopan sama senior? Ingat kita ini cuma numpang tempat di toko, kita bawaan brand hp masing-masing … kalau lo gue laporin buat masalah, lo bisa langsung dipecat!”
“Tapi, kak mainnya juga gak gitu dong—”
“Maaf, mas Naufal,” sela bapak itu. “Saya baru saja menelpon putri saya … dia lihat desain dari A-56 dan katanya dia lebih tertarik dengan produk ini, jadi maaf ya, mas.”
Naufal terpaku. Kata-kata pelanggan itu bagaikan palu godam yang menghancurkan sisa-sisa harapannya. Ia menatap kotak R-14 yang masih terbungkus plastik rapi di atas meja, barang yang ia ambil dengan susah payah dari gudang pusat, kini hanya menjadi saksi bisu kegagalannya.
Andre tertawa menang. Tanpa membuang waktu, ia segera menggiring pria itu ke meja kasir. "Nah, itu pilihan pintar, Pak! Putri Bapak pasti senang. Mari Pak, lewat sini, saya urus administrasinya sekarang juga."
Sembari berjalan, Andre sengaja menyenggol bahu Naufal dan berbisik dengan nada mengejek, "Gue bilang juga apa, Fal? Dunia sales itu keras. Nggak ada tempat buat pecundang yang cuma modal 'janjian' tapi nggak becus jaga user. Makanya besok-besok main DP biar aman, itu saran dari senior lo.”
Naufal mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih. Amarahnya memuncak, namun ponsel di genggamannya bergetar kembali. Panggilan dari area miliknya, tim leader—atasan dari brand hp Naufal (anggap aja bos). Dengan napas memburu, ia menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Naufal! Apa-apaan laporan penjualanmu ini?!" Suara Pak Eko, sang Area Tim Leader are yogyakarta, meledak di seberang sana. "Targetmu kurang 12 juta lagi untuk mencapai minimum target! Dan ini sudah H-2 penutupan bulan!”
"M-maaf Pak, barusan pelanggan janjian saya direbut oleh sales lain—"
"HALAH ALASAN KLASIK! KEMARIN ITU ITU AJA ALASANMU! SAYA TIDAK MAU DENGAR ALASAN SAMPAH!" bentak Pak Eko. "Saya sudah kasih kamu toleransi selama dua bulan kemarin. Aku anggap kamu baik-baik karena masih anak baru lulus kemarin sore, Tapi ini sudah bulan ketiga! Selama tiga bulan kerja lo gak pernah target! Lo udah kena SP beberapa kali gak kapok juga?!”
Naufal menunduk. “Maaf pak, saya akan usahakan—”
“Jangan menjawab! Dasar ini kenapa saya malas sama anak fresh graduate, anak gen Z bermasalah semua! Inget ya, Kukasih toleransi besok, sampai malam jika laporan tidak berubah, jangan repot-repot datang ke kantor besok. Saya akan kirimkan surat PHK dan SP-3 lewat kurir! Perusahaan tidak butuh benalu yang cuma jago beralasan!"
Klik. Sambungan diputus secara sepihak.
Naufal lemas. Lututnya seakan tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. 12 juta... nominal yang sekarang terasa mustahil dicapai dalam hitungan jam, apalagi pelanggan janjian nya baru saja 'dirampok' tepat di depan matanya.
Padahal satu unit R-14 itu 6 juta kalau dia jadi beli 2 unit. Dia sudah tutup target. Sekarang? Dia cuma dapat hikmah doang.
Nana yg merupakan sales dari kredit ikut campur, mencibir juga.
“Hahaha kasihan banget ya ampun. Jaga pelanggan aja gak benar, sudah miskin kerja gak niat lagi … pantes saja kamu di sp nak nak!”
Sekarang dia mengerti Nana pasti juga ikut campur saat merayu pelanggan dia. Sejak awal masuk nana sudah selalu tidak suka dengannya.
Naufal menggerakkan gigi. Emosinya meluap- luap sekarang, bukan karena dia rela diinjak-injak, namun dia sabar untuk menjaga rasa profesional. Dan sekarang sudah diambang batasnya.
Dia akan mengamuk—
Mengetahui sekilas emosi itu, Siska, sales dari brand pesaing yang sedari tadi menyaksikan drama itu dari meja seberang, mendekat.
“Tenang, jangan dengerin kak nana,” ucapnya lembut. “Tarik napas dalam - dalam … tenan oke?”
Naufal menghela napas, untung dia ditahan begitu. “Iya, makasih.”
Lalu Siska balik mencibir.
"Lagian kamu juga sih … Naufal... Naufal. makannya kalau ada user janjian kamu minta DP dulu, jadi cowok kok gak berpengalaman banget.”
Meski suka mencibir dan bermulut tajam, Naufal tahu, siska itu masih mending daripada Andre serta si jalan Nanan, paling tidak dia melakukan itu untuk kebaikan Naufal.
“gue juga mau, siska cantik … Masalahnya gak segampang itu, toko ini aturannya kolot” ujar naufal.
“Gue perlu ambil stok dulu di tempat pusat, baru bisa bikin surat DP … terus, tahu sendiri R-14 itu barang baru .. di toko ini gak ada.” Naufal terlihat sangat lemas, dan seperti ingin menangis.
“Sialan padahal tanggungan juga masih banyak, pusing jadi generasi sandwich gini.”
Melihat itu siska sedikit merasa risih. “Jangan banyak ngeluh! Cowok bukan sih!”
Siska mendengus melihat wajah Naufal yang sudah seperti mayat hidup. Ia merogoh laci mejanya, mengambil sebungkus roti sobek cokelat yang sebenarnya disiapkan untuk camilan sorenya sendiri, lalu melemparnya tepat ke dada Naufal.
"Nih! Makan! Jangan bikin gue risih lihat muka lo yang pucat begitu. Kalau lo pingsan di toko, yang ada Andre makin senang karena punya alasan buat bilang lo nggak profesional," cetus Siska ketus, matanya kembali menatap layar ponsel, menyembunyikan rasa iba yang sedikit terselip.
Naufal menangkap roti itu dengan bingung. "Sis, ini..."
"Udah, jangan banyak tanya! Pergi istirahat sana ke gudang atau ke mana kek. Muka lo itu merusak pemandangan toko," potong Siska cepat.
"Dan satu lagi, besok jangan lupa bawa semangat dikit. Kalau lo dipecat, nggak ada lagi yang bisa gue cibir di sini."
Naufal tersenyum kecut. "Makasih, Sis." Lalu menatap siska hangat. “Biasanya mulut pedas dan tajam, tapi kamu baik juga ya.”
Siska memalingkan wajah. “Dih terlalu percaya diri! Gue lakuin ini bukan karena pengen juga, cuma risih aja … lagian kita juga sama-sama anak baru lulus SMK kemarin, jadi gue cuma lakuin yang semestinya.”
“Iya-iya … makasih.”
Ia melangkah ke arah gudang belakang, tempat paling sunyi yang bisa ia temukan. Ia duduk di atas tumpukan kardus kosong, membuka bungkusan roti itu, dan mengunyahnya pelan. Roti itu terasa hambar di lidahnya, tertelan bersama rasa pahit di tenggorokan akibat menahan tangis. Bayangan wajah ibunya yang pucat di rumah sakit terus membayangi setiap kunyahnya.
Target 12 juta (atau setara 5 unit hp) terakhir besok, untuk sekelas senior saja sudah mustahil apalagi dia si fresh graduate bau kencur.
“Kalau gini gue udah jelas dipecat … terus gimana dong biaya obat ibu, hah …” ia menghela napas pasrah.
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN