NovelToon NovelToon
ISTRI BERCADAR MAFIA

ISTRI BERCADAR MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
​Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.

​Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.

​Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.

Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Bab 3: Ujian dari Sang Ratu Sosialita.

​Suara ketukan heels mahal bergema di lantai marmer mansion Alaska, memecah keheningan pagi yang biasanya hanya diisi oleh suara kicauan burung. Pintu utama terbuka lebar tanpa diketuk, menampilkan sosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan terawat, namun memiliki sorot mata yang angkuh. Dia adalah Elina, ibu kandung Alaska Ravendra.

​Di ruang tengah, Sania sedang merapikan meja setelah sarapan. Alaska sudah berangkat ke kantornya, meninggalkan Sania dalam kesendirian yang menyesakkan di rumah besar itu.

​Elina berhenti melangkah saat melihat sosok bergamis hitam sedang mengelap meja. Alisnya yang terukir sempurna menukik tajam.

​"Hei, pelayan baru!" seru Elina lantang. "Sejak kapan Alaska mempekerjakan orang sepertimu? Di mana kepala pelayan?"

​Sania menghentikan aktivitasnya. Ia meletakkan lap, lalu membalikkan badan dan menunduk hormat. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengenali wajah wanita ini dari foto keluarga yang terpajang di ruang kerja Alaska, meskipun di foto itu Elina terlihat lebih muda.

​"Maaf, Nyonya. Saya bukan pelayan," jawab Sania lembut. "Saya Sania, istri Alaska."

​Hening.

​Mata Elina membelalak tak percaya. Ia melangkah mendekat, menatap Sania dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan jijik, seolah sedang melihat kotoran yang menempel di sepatunya.

​"Istri?" Elina tertawa sinis. Tawa yang menusuk telinga. "Jangan bercanda. Anakku, Alaska Ravendra, miliarder dan penguasa bisnis, menikahi buntalan kain sepertimu? Kau pasti wanita murahan yang menjebaknya, kan?"

​"Tolong jaga bicara Anda, Nyonya," Sania berusaha tetap tenang, meski hatinya terasa nyeri. "Pernikahan kami sah di mata agama dan negara."

​"Sah?" Elina mendengus, lalu tangannya bergerak cepat hendak menarik cadar Sania.

​Sania sigap mundur selangkah, menutupi wajahnya dengan tangan. "Jangan sentuh saya!"

​"Kenapa? Kau malu karena wajahmu jelek?" bentak Elina. "Buka kain pel itu! Di rumah ini, kita tidak menyembunyikan apapun. Kau terlihat seperti teroris di rumah anakku!"

​"Cadar ini bukan kain pel, Nyonya. Ini adalah bentuk ketaatan saya pada Rabb saya," suara Sania bergetar, namun tegas. "Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 59 tentang kewajiban mengulurkan jilbab. Saya menjaga diri saya dari pandangan yang bukan haknya."

​"Simpan ayat-ayatmu itu!" Elina semakin berang. Ia merasa ditantang oleh gadis antah berantah. "Kau pikir kau siapa menceramahiku? Kau hanya parasit! Alaska pasti diguna-guna sampai mau menikahi wanita kampungan sepertimu. Dengar baik-baik, aku akan pastikan kau keluar dari rumah ini secepatnya!"

​Tepat saat tangan Elina melayang tangan hendak menampar Sania, sebuah tangan kekar menahannya di udara.

​"Cukup, Ma!"

​Suara bariton itu membekukan suasana. Alaska berdiri di sana. Ia ternyata kembali karena ada berkas yang tertinggal. Wajahnya datar, namun matanya menyiratkan peringatan keras.

​Elina menarik tangannya kasar.

"Alaska! Jelaskan pada Mama, makhluk apa yang kau bawa ke rumah ini? Kau mempermalukan keluarga Ravendra! Teman-teman sosialita Mama akan menertawakan kita jika tahu istrimu seperti ninja!"

​Alaska berjalan santai, berdiri di antara ibunya dan Sania. Ia tidak menatap Sania, tapi posisi tubuhnya jelas melindungi istrinya itu.

​"Dia istriku, Ma. Pilihan Alaska Ravendra tidak pernah salah," ucap Alaska dingin. "Dan aku tidak peduli dengan pendapat teman-teman arisan Mama yang bermuka dua itu."

​"Tapi dia tidak pantas untukmu! Lihat dia!" Elina menunjuk Sania dengan telunjuk gemetar. "Dia tidak punya kelas, tidak punya selera fashion. Dia akan membuatmu tampak bodoh di pesta bisnis!"

​Sania menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia tahan sekuat tenaga. Ia teringat sabda Nabi: "Barangsiapa yang menahan amarah, padahal ia mampu meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan para pemuka makhluk pada hari Kiamat..." (HR. Tirmidzi).

​"Ma," Alaska menatap ibunya tajam. "Ini rumahku. Peraturanku. Jika Mama datang hanya untuk menghina apa yang jadi milikku, silakan keluar!"

​Elina ternganga. Anak semata wayangnya mengusirnya demi wanita bercadar ini? Kemarahannya memuncak. Ia mengambil vas bunga kristal yang ada di meja konsol, lalu membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping tepat di depan kaki Sania.

​PRANG!

​Pecahan beling berserakan. Sania tersentak kaget.

​"Baik! Kau pilih dia?" Elina menatap Alaska nyalang. "Jangan harap Mama akan merestui pernikahan sampah ini. Dan kau..." Elina menatap Sania tajam, "Hidupmu tidak akan tenang selama aku masih bernapas!"

​Dengan hentakan kaki keras, Elina berbalik dan meninggalkan mansion itu, membanting pintu utama hingga bergetar.

​Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Hanya suara napas Alaska yang terdengar berat. Pria itu memijat pelipisnya yang berdenyut. Konflik dengan ibunya selalu membuatnya sakit kepala.

​Sania perlahan berjongkok, mulai memunguti pecahan beling itu satu per satu dengan tangan kosong.

​"Apa yang kau lakukan? Biar pelayan yang bersihkan," tegur Alaska ketus.

​"Tidak apa-apa, Tuan. Kasihan pelayan jika terkena beling ini," jawab Sania tanpa menoleh. "Lagipula, ini salah saya yang membuat ibu Anda marah."

​Alaska menatap punggung istrinya itu. "Kau aneh. Dia menghinamu habis-habisan, menyebutmu sampah, teroris. Kenapa kau diam saja? Kenapa kau tidak membalasnya? Kau berani melawanku, tapi kau diam di hadapan nenek sihir itu?"

​Sania berhenti memungut beling, lalu mendongak menatap Alaska. Mata indahnya tampak basah, namun teduh.

​"Karena dia adalah ibumu, Tuan," jawab Sania lembut. "Surga ada di telapak kaki ibu. Seburuk apapun perkataannya, dia tetap wanita yang melahirkanmu. Jika aku melawannya dengan kasar, aku sama saja menjauhkanmu dari surga-mu."

​Alaska tertegun. Kata-kata itu menohoknya telak. Ia terbiasa hidup di dunia di mana orang saling membalas dendam. Mata ganti mata, nyawa ganti nyawa. Tapi konsep "memuliakan orang yang menyakiti kita" adalah hal yang sangat asing baginya.

​"Tapi dia salah," bantah Alaska, egonya menolak kalah.

​"Benar dan salah itu urusan Allah, Tuan. Tugasku sebagai istri adalah menjaga kehormatan suami dan keluarganya," Sania kembali memungut beling. "Rasulullah mengajarkan kita untuk membalas keburukan dengan kebaikan. Api tidak bisa dipadamkan dengan api, tapi dengan air."

​"Aw!" Sania meringis pelan. Ujung jarinya tergores pecahan kristal tajam. Darah segar menetes dari balik tangannya.

​Tanpa pikir panjang, Alaska berjongkok, meraih tangan Sania. Ia melihat darah merah mengalir di jari lentik itu. Ada desiran aneh di dadanya. Rasa tidak suka melihat "miliknya" terluka.

​"Sudah kubilang jangan sentuh!" Alaska menarik tangan Sania, lalu menyeretnya menuju wastafel dapur. Ia menyalakan kran air, membasuh luka itu.

​Sania terdiam kaku. Tangan Alaska yang besar dan kasar memegang tangannya dengan... lembut? Tidak ada kekerasan kali ini.

​"Tuan... lepaskan..." lirih Sania, mencoba menarik tangannya.

​"Diam!" bentak Alaska, tapi nadanya tidak setinggi biasanya. Ia mengambil kotak P3K dari laci dapur, lalu dengan telaten menempelkan plester pada luka Sania.

​Setelah selesai, Alaska tidak langsung melepaskan tangan Sania. Ia menatap plester itu sejenak, lalu menatap mata Sania yang berjarak sangat dekat darinya. Aroma mawar lembut menguar dari tubuh Sania, menenangkan saraf Alaska yang tegang.

​"Lain kali..." suara Alaska terdengar serak, "Jangan sok jadi pahlawan. Kalau ada yang menghinamu, katakan padaku. Biar aku yang urus. Kau itu istri Mafia, bukan istri ustadz yang harus selalu sabar."

​Sania memberanikan diri menatap mata kelam suaminya. "Justru karena aku istri Mafia, aku harus punya sabar seluas samudera. Agar suatu hari nanti, suamiku bisa menemukan jalan pulang."

​Alaska melepaskan tangan Sania dengan kasar, seolah tersadar dari hipnotis. Ia membuang muka, menyembunyikan rona merah samar di telinganya.

​"Jangan mimpi," ketus Alaska sambil berjalan pergi. "Siapkan baju gantiku. Aku harus kembali ke kantor."

​Sania menatap punggung tegap itu menjauh. Ia tersenyum kecil di balik cadarnya. Meski Alaska masih kasar dan angkuh, Sania tahu, di balik dinding es yang membekukan hati suaminya, ada sedikit kehangatan yang mulai mencair.

​"Terima kasih, Ya Allah," bisik Sania. "Engkau Maha membolak-balikkan hati."

​Sania sadar, perjuangannya melawan ibu mertua baru saja dimulai, dan suaminya masih jauh dari kata "sholeh". Tapi hari ini, ia melihat harapan. Harapan bahwa mawar bisa tumbuh subur, bahkan di tanah yang paling gersang sekalipun.

__Kesabaran bukanlah berdiam diri saat diinjak, melainkan kemampuan menahan diri untuk tidak membalas keburukan dengan cara yang sama rendahnya__

​__Jangan membenci orang tua yang marah padamu, karena dulu mereka pernah menahan marah demi merawatmu saat kau tak berdaya__

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!