NovelToon NovelToon
ISTRI BERCADAR MAFIA

ISTRI BERCADAR MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
​Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.

​Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.

​Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.

Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Bab 31: Garis Takdir di Atas Sajadah yang Sama.

​Matahari pagi itu tidak hanya mengusir kabut yang menyelimuti perbukitan, tetapi juga seolah membilas sisa-sisa aroma mesiu dan kebencian yang sempat menyesakkan napas. Pesantren Al-Ikhlas kembali ke fitrahnya: sunyi, damai, dan penuh lantunan doa. Namun bagi Alaska, pagi ini adalah awal dari babak kehidupan yang benar-benar baru. Ia bukan lagi sang "Naga" yang berdiri di atas tumpukan harta haram, melainkan seorang musafir yang baru saja menemukan pintu rumahnya.

​Luka yang Menjadi Saksi.

​Di selasar masjid yang terbuat dari kayu jati tua, Alaska duduk menyandarkan punggungnya. Bahunya telah dibalut perban putih bersih oleh tim medis yang dibawa Bara. Luka tembak itu tidak dalam, namun perihnya menjadi pengingat yang nyata bahwa masa lalu akan selalu mencoba mengetuk pintu, menuntut bayaran.

​Bara mendekat dengan langkah pelan, membawa secangkir teh hangat dan beberapa dokumen.

"Tuan, semua sudah terkendali. Dante telah diserahkan ke unit khusus. Dan mengenai dewan direksi... aset-aset mereka mulai disita oleh negara atas bukti anonim yang kita kirimkan."

​Alaska menyesap tehnya, matanya menatap jauh ke arah lembah.

"Bara, lihatlah tempat ini. Siapa yang sangka, pria yang dulu ingin kuhabisi karena mengkhianati bisnisku, kini menjadi mertua yang mendoakan keselamatanku."

​Bara mengangguk takzim. "Tuan Hasan—maksud saya Kyai Yusuf—telah benar-benar meninggalkan dunia hitam sejak Anda memaafkannya tahun lalu, Tuan. Nama 'Yusuf' adalah pilihannya untuk mengubur identitas 'Hasan' sang informan. Beliau membangun pesantren ini di atas tanah pemberian Anda sebagai bentuk pertobatan total."

​"Aku ingin membersihkan sisa asetku juga," potong Alaska cepat. "Alihkan semua ke yayasan. Bangunkan panti asuhan atau sekolah gratis. Aku ingin setiap sen yang dulu didapat dari air mata orang lain, kini kembali sebagai senyuman bagi mereka yang membutuhkan."

​"Lalu, bagaimana dengan keamanan Anda, Tuan?" tanya Bara khawatir.

​Alaska tersenyum tulus. "Aku akan tinggal di sini sementara waktu. Membantu Kyai Yusuf memperbaiki atap yang bocor atau mengajar anak-anak. Keamanan terbaik bukan lagi penjaga bersenjata, Bara, melainkan doa-doa tulus dari orang-orang di sekitar kita."

​Dialog di Antara Pinus.

​Siang harinya, Alaska berjalan perlahan menuju taman belakang, tempat Sania biasanya mengumpulkan anak-anak yatim. Ia berhenti di jarak yang sopan, menatap sosok bercadar yang dulu ia seret secara paksa ke pelaminan hanya untuk membalas dendam pada ayahnya.

​Sania menyadari kehadirannya. Ia menutup buku di tangannya dan mendekat, namun tetap menjaga jarak.

"Luka Anda... apakah masih terasa sakit?"

​"Luka di bahu ini akan sembuh, Sania. Tapi luka di hati karena telah membawa kekacauan ke tempat ini... itu yang membuatku sesak," jawab Alaska menyesal.

​Sania menatap langit-langit pohon pinus. "Anda tidak membawa kekacauan, Tuan Alaska. Jika dulu ayahku adalah awal dari kegelapan hidupmu karena pengkhianatannya, maka izinkan pesantren ini menjadi awal dari cahaya itu. Tempat ini ada untuk menghadapi ujian."

​Alaska menunduk pahit. "Aku masih ingat malam itu di mansion. Saat aku menodongkan Beretta ke arahmu dan memaksamu menandatangani akad nikah sebagai penebus hutang nyawa ayahmu. Aku adalah monster yang menggunakan agama untuk menindasmu."

​"Dan monster itu telah mati," sela Sania lembut. "Ayahku sudah membayar dosanya dengan pengabdian di sini, dan aku sudah memaafkan caramu membawaku. Kini, tidak ada lagi hutang nyawa. Yang ada hanyalah dua jiwa yang sedang berusaha pulang kepada-Nya. Apa rencana Anda sekarang?"

​"Aku ingin membangun 'Benteng Cahaya'," ujar Alaska mantap. "Sebuah yayasan rehabilitasi mantan narapidana. Aku ingin mereka tahu bahwa kegelapan hanyalah ketiadaan cahaya."

​Sania tertegun, binar kekaguman muncul di matanya. "Itu janji yang mulia. Dan di sini, kami selalu membutuhkan tangan yang bersedia bekerja untuk sesama."

​Sebuah Janji di Balik Kabut.

​Minggu-minggu berikutnya, Alaska bertransformasi. Ia membelah kayu bakar, membantu dapur umum, dan duduk paling belakang di shaf shalat dengan khusyuk. Santri yang awalnya takut pada bekas luka di lengannya, kini mulai menaruh hormat saat melihat sang mantan mafia mengajari mereka memperbaiki mainan dengan sabar.

​Suatu malam, di bawah bulan purnama, Alaska bertemu kembali dengan Sania di teras masjid.

​"Sania," panggil Alaska. "Jangan panggil aku Tuan lagi. Nama Alaska adalah pemberian ibuku, satu-satunya hal suci yang tersisa."

​Sania mengangguk kecil. "Baiklah... Alaska."

​Alaska menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian yang lebih besar daripada saat menghadapi kartel.

"Dulu aku memilikimu lewat selembar kertas dan ancaman senjata. Aku memilikimu karena dendam pada pengkhianatan ayahmu. Tapi di sini, aku belajar bahwa kekuatan sesungguhnya adalah menjadi lembut."

​Ia berhenti sejenak, menatap bayangan Sania di bawah lampu temaram.

"Aku masih punya banyak dosa. Tapi jika kau mengizinkan... aku ingin kau menjadi kompas dalam perjalananku. Bukan lagi sebagai tawanan atau penebus hutang, tapi sebagai istri yang ridho. Aku tidak menjanjikan hidup yang tenang tanpa badai, karena dunia ini memang tempatnya badai. Tapi aku berjanji akan menjadi tembok yang melindungimu, dan belajar menjadi imam yang layak untuk membimbingmu menuju jannah-Nya."

​Keheningan menyergap. Sania menatap langit malam yang luas sebelum menjawab.

​"Menjadi kompas bagi seseorang yang berhijrah adalah amanah berat," ucap Sania lirih. "Tapi ayahku, Kyai Yusuf, mengajarkan bahwa pintu taubat tak boleh ditutup. Alaska... aku tidak mencintai masa lalumu, dan aku tidak mencintai hartamu."

​"Aku tahu," sela Alaska.

​"Aku mencintai cahaya yang kulihat di matamu saat kau bersujud tadi malam," lanjut Sania hampir berbisik. "Jika kau bersedia bersabar, mari kita bangun benteng itu bersama. Sebagai dua jiwa yang saling menguatkan menuju-Nya."

​Tangan Alaska gemetar. Kebebasan sesungguhnya bukanlah saat ia keluar dari penjara, melainkan saat ia diterima apa adanya, dengan segala luka dan sisa kegelapannya.

​Musuh yang Tersembunyi.

​Namun, di tengah kedamaian itu, di sebuah ruangan gelap di pinggiran Jakarta, sebuah layar monitor menyala. Gambar satelit yang mengarah ke pesantren terlihat jelas.

​Seorang pria dengan tangan penuh tato simbol kuno menyesap cerutunya.

"Dia pikir bisa pensiun setelah menghancurkan kerajaan yang kita bangun? Alaska mungkin sudah menjadi domba, tapi domba tetap memiliki daging yang enak untuk dikuliti."

​Ia mematikan cerutunya di atas foto Alaska dan Sania.

"Kirimkan 'Utusan' itu. Kita tidak butuh tentara. Kita hanya butuh satu pengkhianat di dalam sana untuk menghancurkan segalanya dari dalam."

__Masa lalu hanyalah tempat singgah untuk belajar, bukan tempat tinggal untuk meratapi. Sebab, seberapa pun gelapnya malam yang telah kita lalui, fajar selalu tahu cara untuk kembali membawa cahaya__

​__Taqdir tidak pernah salah mempertemukan dua jiwa; terkadang ia menggunakan luka untuk memaksa kita sujud, dan menggunakan cinta untuk menuntun kita pulang ke jalan yang lurus__

​__Kekuatan sejati bukanlah saat tangan mampu menggenggam senjata atau menguasai harta, melainkan saat hati mampu melepaskan dendam dan dahi bersujud dalam ketulusan taubat__

​__Di atas sajadah yang sama, dua doa yang berbeda bisa menjadi satu tujuan: bukan untuk menjadi sempurna tanpa dosa, melainkan untuk saling menguatkan hingga tiba di pintu surga__

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!