Kelahiran Senja Putri Baskara bukanlah awal, melainkan akhir.
Awalnya, ia adalah janin yang dikandung ibunya, janin yang membawa badai-badai kehadirannya merenggut nyawa kakak laki-lakinya, Fajar Putra Baskara, menghancurkan bisnis keluarga, dan melenyapkan kebahagiaan sang ibu. Sejak hari pertama dirinya hadir, Senja adalah bayangan yang dicap sebagai pembawa sial.
Satu-satunya cahaya di hidupnya adalah sang ayah. Pria yang memanggilnya 'Putri' dan melindunginya dari tatapan tajam dunia. Namun, saat Senja beranjak dewasa, cahaya itu pun padam.
Ditinggalkan sendirian dengan beban masa lalu dan kebencian seorang ibu, Senja harus berjuang meyakinkan dunia (dan dirinya sendiri) bahwa ia pantas mendapatkan kebahagiaan.
Apakah hati yang terluka sedalam ini bisa menemukan pelabuhan terakhir, ataukah ia ditakdirkan untuk selamanya menjadi Anak pembawa sial? ataukah ia akan menemukan Pelabuhan Terakhir untuk menyembuhkan luka dan membawanya pada kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Pagi itu, suasana di kantor pusat Saputra Corp terasa mencekam. Damar duduk di kursi kebesarannya, menatap layar monitor yang menampilkan grafik penurunan saham secara tidak wajar. Penurunan ini bukan karena sentimen pasar, melainkan karena ada ribuan transaksi mikro yang terorganisir untuk menjatuhkan nilai perusahaan.
"Ini bukan serangan biasa, Pak Damar," ujar Hadi, kepala keamanannya. "Seseorang memiliki data internal kita, dan mereka menggunakan algoritma tingkat tinggi dari Eropa."
Damar memijat pelipisnya. Ia tahu siapa di balik ini. Grup Valerio. Paramita akhirnya mulai bergerak menggunakan tangan miliarder Eropa itu untuk menghantam fondasi finansialnya.
Malam harinya, rumah Tiga Cahaya berubah menjadi pusat komando. Damar membawa pulang data mentah transaksi tersebut. Ia tidak lagi menganggap anak-anaknya hanya sebagai "anak kecil". Di depan mereka, Damar membentangkan masalahnya secara jujur.
Binar Mentari (7 tahun), dengan kacamata berbingkai perak, segera menghubungkan laptop khususnya ke server kantor. Jemarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang sulit diikuti mata biasa.
"Papa, ini bukan serangan manusia. Ini adalah High-Frequency Trading Bot," ujar Binar datar. "Mereka mencari celah di detik ke-0.5 saat bursa dibuka. Tapi mereka melakukan kesalahan pola. Mereka menggunakan algoritma berbasis deret Fibonacci yang dimodifikasi. Sangat artistik, tapi terbaca."
Fajar Arun melihat struktur kode yang ditampilkan Binar. "Polanya mirip dengan komposisi warna lukisan Renaisans, Papa. Orang yang membuat algoritma ini memiliki selera seni yang tinggi. Ini pasti pengaruh Nenek Paramita."
Sementara kedua kakaknya sibuk dengan angka dan kode, Cahaya Surya memperhatikan daftar nama investor yang mendadak menarik modal.
"Papa, mereka tidak hanya menyerang lewat mesin, tapi juga lewat kepercayaan," ujar Cahaya dengan nada bicara yang sangat tenang. "Orang-orang ini menarik modal karena mereka mendapat surat kaleng yang mengatakan Papa akan bangkrut. Kita tidak perlu membalas dengan kemarahan."
Cahaya mengambil tabletnya dan menyusun sebuah draf pernyataan pers yang sangat jenius. Ia menggunakan kata-kata yang halus namun mengandung ancaman hukum tersembunyi, sekaligus memberikan rasa aman bagi investor. "Gunakan diplomasi 'Cermin Retak', Papa. Biarkan mereka berpikir mereka menang, sampai mereka masuk ke jebakan yang disiapkan Binar."
Damar menatap ketiga anaknya dengan rasa bangga sekaligus ngeri. Darahnya yang merupakan seorang jenderal perang, bersinergi dengan kecerdasan mereka, menciptakan sebuah mesin perang yang sempurna.
"Lakukan, Binar. Aktifkan jebakannya," perintah Damar.
Binar menekan tombol enter. Malam itu, algoritma buatan Binar yang diberi nama "Cahaya Pelita" mulai bekerja. Algoritma ini tidak menghentikan serangan Grup Valerio, melainkan "menelan" semua transaksi mereka dan memutarnya kembali untuk membeli saham mereka sendiri di harga rendah.
Di Florence, Italia, Paramita dan Marcus Valerio menatap layar mereka dengan panik. Uang jutaan Euro yang mereka gunakan untuk menyerang Damar tiba-tiba menghilang ke dalam lubang hitam digital.
"Siapa yang melakukan ini?!" teriak Marcus.
"Tidak mungkin sistem keamanan Indonesia bisa menandingi algoritma Eropa!"
Paramita terdiam, wajahnya pucat. Ia melihat sebuah tanda air (watermark) kecil muncul di layar monitoringnya: sebuah gambar sketsa bunga matahari kecil tanda tangan Fajar Arun.
Hanya dalam waktu empat jam, sabotase itu berbalik menjadi bencana bagi Grup Valerio. Mereka kehilangan likuiditas besar-besaran. Damar, atas petunjuk strategi dari Cahaya, segera melakukan panggilan konferensi dengan para investor utama.
"Kami tidak hanya bertahan," ujar Damar di depan layar, suaranya menggelegar penuh otoritas. "Kami telah mengamankan aset kalian dan sekarang, Saputra Corp secara resmi mengajukan tawaran untuk mengambil alih aset Grup Valerio yang sedang goyah."
Itu adalah skakmat. Paramita tidak hanya gagal menghancurkan Damar, tapi ia justru memberikan jalan bagi Damar untuk mengekspansi bisnisnya ke Eropa.
Pukul tiga pagi, badai ekonomi itu reda. Damar menemukan ketiga anaknya tertidur di atas meja perpustakaan, di kelilingi oleh tumpukan kertas dan laptop yang masih menyala.
Senja masuk dengan selimut di tangannya. Ia menyelimuti satu per satu hartanya yang paling berharga.
"Mereka baru saja menyelamatkan kerajaanmu, Damar," bisik Senja.
"Tidak, Senja," jawab Damar sambil memeluk istrinya. "Mereka baru saja membuktikan bahwa masa depan kita tidak bisa dibeli oleh siapa pun. Paramita telah kehilangan segalanya malam ini uangnya, pengaruhnya, dan yang terpenting, dia sadar bahwa dia tidak akan pernah bisa menyentuh anak-anak ini."
Damar melihat ke jendela. Ia tahu, di luar sana Paramita mungkin sedang menangisi kekalahannya. Namun di sini, di bawah atap Saputra, cahaya tetap bersinar terang, dilindungi oleh sang Jenderal dan para pewarisnya yang tak terkalahkan.
"Tujuh tahun... dan malam ini aku melihat bagaimana 'Pelita' kecilku telah berubah menjadi mercusuar yang mampu menenggelamkan kapal-kapal besar yang berniat jahat. Terima kasih, Damar, karena telah memberikan mereka keberanian untuk bercahaya." ucap Senja dengan rasa bangga dan syukur
Gak suka lah/Cry/