Kehidupan Aira yang mulanya penuh bahagia tiba-tiba mulai terbalik sejak papanya menikah lagi.
Lukanya diiris kian dalam dari orang terkasihnya. Malvino Algara, pacarnya itu ternyata palsu.
" Pa ... Aira butuh papa. "
" Angel juga butuh papa. Dia ngga punya papa yang menyayanginya, Aira. "
****
" Vin ... Aku sakit liat kamu sama dia. "
" Ngga usah lebai. Dulu lo udah dapat semuanya. Jangan berpikir kalo semuanya harus berpusat ke lo, Ra. "
" Kenapa kamu berubah? "
" Berubah? Gue ngga berubah. Ini gue yang sesungguhnya. Ekspetasi lo aja yang berlebihan. "
****
" Ra ... Apapun yang terjadi. Gue tetap ada disamping lo. "
" Makasih, Alin. "
****
" Putusin. Jangan paksain hubungan kalian. Malvino itu brengsek. Lupain. Banyak cowok yang tulus suka sama lo. Gue bakal lindungin lo."
" Makasih, Rean. "
****
" Alvin ... Aku cape. Kalau aku pergi dari kamu. Kamu bakal kehilangan ngga? "
" Engga sama sekali. "
" Termasuk kalo aku mati? "
" Hm. Itu lebih bagus. "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutia Pristika Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sengketa
Suasana berubah mencekam. Ruangan itu terasa lebih dingin. Alina tak kalah kaget. Ia menyorot tajam pada dua manusia berlainan jenis di depan mereka ini.
"Kalian ngapain disini?"
"Cuma berdua?" tanya Aira sekali lagi.
Malvino cepat-cepat mendekat. Napasnya memburu cepat seperti habis berolahraga.
"Aira? Aku— Kita—"
"Apa?" potong Aira masih sepenuhnya bertanya.
"Kak Malvino cuma bantuin aku kak." sahut Angel cepat. Membuat Malvino menghirup nafas lega.
Sementara, Aira masih dalam keterkejutannya. Sungguh! Ia tak bisa berfikir positif sekarang. Keberadaan Malvino dan Angel dalam ruangan ini ditambah akan jarak yang begitu intim diantara keduanya, menimbulkan sensasi panas yang meletup-letup di dadanya.
Tentu sulit baginya untuk tidak marah. Tak mudah untuk bersikap biasa saja. Disaat otaknya terlebih dahulu sudah menyusun opini-opini negatif di kepala.
Netra indahnya memejam sejenak. Sedikit menundukkan kepala menyerong ke arah kanan. Menghirup udara dalam-dalam agar paru-parunya dapat bekerja normal. Hirup dan hembuskan lagi. Seperti itu beberapa kali.
" Bantu? Bantu apa? " tanyanya dingin. Ia agak mendekat ke depan Angel yang masih membatu.Tangannya beralih memijit-mijiti tengkuk yang pegal.
Alina memerhatikan saja. Menunggu alasan apa yang akan dikatakan oleh pacar dan sepupu dari sahabatnya itu.
Malvino maju dua langkah. Menghadap ke arah Aira sepenuhnya. Tinggi badan Aira yang memang hanya sebatas dadanya itu, membuat ia harus menunduk.
" Biar aku yang jelasin, ya?! "tangannya menyentuh pundak sang pacar. Mengelusnya pelan dengan ibu jari.
Aira mendongak. Menatap tajam dengan sorot yang menuntut jawaban. Ia sibuk mereda api dalam hatinya. " Oke. Sepuluh menit dari sekarang! "
" Sepuluh menit? Singkat banget waktunya, sayang! Aku —"
" Sepuluh menit atau enggak sama sekali. " suara Aira menggeram. Urat-urat kecil muncul jelas di kulit wajahnya yang putih.
Malvino melenguh. " Iya, iya. Oke. Sepuluh menit cukup. " tergesa-gesa menarik lengan Aira saat gadis mungil itu hendak berbalik. Membawa arah tubuh sang pacar untuk berhadapan dengannya lagi.
Menghirup napasnya dalam-dalam. Malvino kembali membuka mulut. " Tadi itu ... aku disuruh sama kepala sekolah buat ngambil kursi-kursi atau meja yang udah rusak. Semuanya diambil dan akan dibawa ke lapangan. Supaya beliau tau, berapa jumlah atribut-atribut sekolah ini yang udah rusak, yang masih bisa dipake, atau yang masih baru. Makanya itu, aku ada disini. "
" Terus? Kenapa ada dia? "
Angel otomatis menunduk saat dirinya terang-terangan di tunjuk Aira.
" Aku juga disuruh sama pak — "
" Gue nggak nanya sama lo. " sarkas Aira sambil menjeling jijik.
Mata Malvino mengerjap cepat saat Angel menatapnya. Seperti memberi kode, ia memejam singkat sambil memiringkan kepalanya. Gerakan itu halus, ringan, sehingga Aira tak kentara. Tapi, itu semua tertangkap jelas di indera penglihatan Alina. Alisnya menukik penasaran. Itu kode kah?
Kecurigaan Alina bertambah saat dilihatnya Angel langsung menurut. Cewek berambut pirang tersebut diam kembali di tempat, walaupun terlihat seperti masih bergumam kesal.
" Sayang, udah! " Malvino menyela cepat. Mengambil alih kembali fokus Aira. " Sebelum aku masuk kesini, Angel udah ada duluan. Pas aku mau angkat kursi-kursi di pojok sana, aku lihat Angel hampir di timpa lemari itu. " tunjuk Malvino ke arah lemari lama yang terletak tak jauh dari mereka.
Alina bergerak dari tempat. " Sebentar! Kalo emang lemari itu tumbang, kenapa posisinya masih tegap disitu? Kenapa nggak tergeletak di lantai? " tanyanya tepat sasaran.
Sependapat, Aira semakin maju. Menatap lamat-lamat iris mata Malvino, menyelami sesuatu disana. " Alin benar, kenapa bisa? "
" Lemarinya aku tahan, sayang. Jadi, nggak sampai jatuh ke lantai. "
Aira semakin terkekeh geli. " Gimana caranya kamu nahan lemari itu? Sedangkan pas kami masuk, posisinya kamu lagi meluk dia. Kamu lagi nahan tubuh Angel, bukan lemari itu. "
Kalah telak, Malvino tergugu. Bibirnya terbuka kecil, beberapa kali ingin bersuara. Namun, satu kata pun tak bisa keluar dari sana. Rasa takut Aira akan salah paham padanya semakin besar.
" Cukup kak! Pertanyaan-pertanyaan dari kakak ini, seolah-olah nyudutin aku dan kak Malvino. Kenapa sih kak? " Angel bersuara kembali setelah beberapa saat berdiam diri.
Hazel menatapnya datar. " Lo, diem! Penjelasan lo nggak dibutuhkan disini. "
" Aku cuma mau meluruskan semuanya. Aku udah cape dituduh-tuduh gini. " ujarnya tegas, nadanya tinggi seperti berani menantang Aira.
" Kak Kaisa, tolong berhenti kekanakan! Bisa nggak lebih dewasa? Kenapa cuma karena masalah sepele gini, malah dibesar-besarin? Kak Malvino itu pacar kakak. Seharusnya, kakak itu percaya sama dia. "
Celoteh tak sopan menurut Aira itu, membangkitkan gelombang amarah di dadanya. Jantungnya berpacu cepat, seolah siap meledakkan api kemarahan kapan saja.
" Atas dasar apa, lo berani ngatain gue kekanakan? Emangnya lo siapa, Angelica Casanova? " tanyanya dengan emosi setengah tertahan.
Tak lagi menghadap Malvino, gadis cantik dengan julukan Primadona SMA Rajawali itu beralih mendekati Angel.
" Aku tau, aku bukan siapa-siapa. Aku cuma sebatas adik tiri kakak. Tapi, semua yang aku bilang tadi benar kok. Kak Kaisa, nggak pernah dewasa. Selalu mempermasalahkan hal kecil. "
Baiklah! Nampaknya Angel memang sedang menantang dirinya. Tak tahan lagi, Aira tendang kursi-kursi yang patah disekitarnya sampai membentur tulang kering Angel.
" Aw! " ringis Angel. Matanya membulat kaget akan tindakan Aira barusan. Ia terduduk dari tempatnya berdiri.
" AIRA! " teriak Malvino. Entah reflek atau apa, ia sudah berjongkok. Tangannya hendak menyentuh kaki Angel, tapi tiba-tiba tertahan. Baru sadar, ia berdiri secepat kilat.
" Ra ... Aku — "
Satu tangan terangkat di depan dada Aira membuatnya bungkam. Itu tanda, tanda jika Aira tak mahu mendengar apapun yang keluar dari mulutnya.
" Dua tahun. Dua tahun kamu nggak pernah meninggikan suara ke aku. Tapi, hari ini? Cuma karena dia, kamu — " Aira membuang muka. Kata-katanya seolah tersangkut di tenggorokan.
Kepalanya menggeleng tak percaya. " Karena dia — Kamu bentak aku, Malvino Algara. "
Malvino tersentak. Apa? Malvino Algara? Aira memanggilnya dengan nama lengkap? Wajahnya semakin pasi. Aira benar-benar marah padanya.
" Enggak, sayang. Nggak gitu! Maaf, aku cuma — "
" Cuma apa? Reflek? Atau ... Peduli? " cecarnya terang-terangan.
Malvino tertunduk. Matanya bergerak tak tenang. Seolah mencari bantuan dari benda-benda mati di ruangan itu.
" Maaf, aku minta maaf. Aku nggak sengaja, serius! Aku cuma nggak mau nanti kamu disalahin orang-orang kalo sampai ketahuan melukai Angel, Ra. " jelasnya, bicaranya masih terlihat panik.
Aira mendengus. " Omong kosong! Bilang aja kalo kamu emang mulai peduli sama dia. "
" Dua kali, dua kali dalam sehari ini kamu bikin aku kecewa. " ujarnya telak, menorehkan nyeri di ulu hati Malvino.
Disadari atau tidak, perdebatan itu membuat salah satu di antara mereka tertawa senang. Ini adalah awal, awal keretakan hubungan Malvino dan Aira yang harmonis.
Tak perlu usaha yang terlalu besar, kemenangan akan segera berpihak padanya. Dari pertengkaran itu, ia akan jadi salah satu pihak yang paling di untungkan disini.
" Hiks! Sakit, kaki aku sakit banget. " gumam Angel lirih, sambil meniup pelan luka lecet di tulang keringnya.
Perhatian ketiganya — Malvino, Aira, dan Alina, teralih. Mereka menatap Angel dengan berbagai reaksi.
Alina bersandar di dinding belakangnya. Menyorot muak ke arah parasit beracun yang masih betah duduk di lantai kotor itu. " Lebai! Mau caper ke Malvino kan lo? " Alisnya naik sebelah seiring melontarkan pertanyaan sarkas tersebut.
Tak peduli apapun selain Aira, Malvino kembali maju. Mempersempit jarak antara dirinya dan gadisnya.
Aira tak mundur, tapi juga tak maju. Ia tetap diam ditempat. Walaupun keinginan memeluk cowok ganteng di depannya ini begitu kuat, namun ia urungkan. Aroma parfum khas seorang Malvino Algara membelai indra penciumannya. Berkali-kali ia menahan nafas. Kali ini, ia tak boleh mudah luluh.
Bentakan Malvino masih terngiang-ngiang jelas di otaknya. Siapapun tahu, Aira Kaisara adalah gadis dengan ego yang tinggi. Ia pantang direndahkan, tak suka kekalahan. Dan perbuatan Malvino yang terang-terangan membentaknya di depan Angel—musuhnya tadi, adalah bentuk kekalahan dan penghinaan.
Benci, ia benci itu. Sangat.
Tubuhnya tersentak kecil. Merasakan sesuatu yang hangat menyentuh jemarinya. Menggenggam erat, kemudian mengelus lembut. Menyalurkan ketenangan untuk amarahnya.
" Maaf. Aku benar-benar minta maaf. " ujar Malvino pelan, tenang. Seakan takut intonasi bicaranya menyakiti perasaan Aira lagi.
Tak mahu larut dalam permintaan maaf itu, Aira menghentak kasar tangannya. Membuang arah pandang ke luar jendela. Menyerap udara segar untuk membersihkan gejolak amarah dalam paru-parunya.
" Kali ini aku nggak bisa cepat-cepat maafin kamu. Sebagian dalam diri aku menolak. Karena, kali ini aku benar-benar kecewa sama kamu. " Aira melirik Malvino sebentar, kemudian melaluinya begitu saja.
Alina berdecih. " Si pick me, sialan! " kakinya menyenggol kencang tepat di luka Angel. Melengos santai tanpa rasa bersalah.
" Aduh! " pekik Angel dibuat-buat.
Tak seperti tadi yang terlihat khawatir, kali ini Malvino hanya menatap datar ke gadis itu. Gerahamnya berderit, seperti besi yang bergesekan. Menimbulkan rasa ngilu di telinga Angel.
Angel mendongak, menatap lekat sosok Malvino yang sudah jauh meninggalkan pintu keluar. Tangannya mengepal di atas paha. Tapi, kekesalannya tak bertahan lama. Dalam beberapa menit, pipinya tertarik lebar ke samping. Tersenyum sinis dengan jutaan rahasia yang sulit di tebak.
...****...
Matahari mulai meninggi. Terik sinarnya menyelimuti penuh SMA Rajawali. Bel tanda pulang pun sudah berbunyi.
" Sekian untuk pelajaran kita hari ini. Jangan lupa, PR nya dikerjakan. Batas pengumpulan senin depan. Terimakasih, selamat siang semuanya. "
" Selamat siang, buk. "
Malvino melangkah tergesa-gesa. Bermaksud menyusul Aira yang sudah lebih dulu keluar. Sahabat-sahabatnya saling pandang di belakang. Mereka sudah tahu, apa yang sedang di alami ketuanya itu. Tadi, Malvino sudah menceritakan semuanya.
" Ra!! "
" Sayang! "
Aira semakin mempercepat langkahnya. Enggan menyahut, menoleh pun tidak. Ia sedang tidak ingin berinteraksi apapun dengan Malvino.
Derap kaki semakin dekat mengejarnya. Kenapa Malvino kakinya panjang banget, sih? Monolognya dalam hati.
Ia sudah sampai di mobilnya. Saat hendak masuk, pintunya kembali di tutup oleh tangan Malvino. Karena tenaga Malvino jauh lebih besar, Aira tak mampu menyingkirkannya.
" Apa lagi? " tanyanya setelah beberapa kali usaha untuk membuka pintu mobilnya gagal.
Malvino sedikit membungkuk. Mengunci tatapnya ke netra bening milik Aira. " Pulang bareng aku, ya! Mobilnya suruh Alina aja yang bawak! "
" Nggak mau. Lupa ya? Aku masih marah sama kamu. "
Menunduk, Mata Malvino sayu. " Maaf. "
Aira tak menggubris. Ia sekuat mungkin berusaha menyingkirkan tangan Malvino yang masih menekan kuat kaca mobilnya.
" Kalo nggak mau aku makin marah, minggir! " ancamnya.
Berhasil! Malvino melepas cengkramannya pada kaca mobil. Walaupun dengan raut terpaksa. Tapi, lebih parah lagi jika Aira akan benar-benar tambah marah padanya.
Mata tajamnya terus mengikuti gerakan Aira sampai kendaraan roda empat warna merah tersebut melesat jauh, meninggalkannya.
Melangkah gontai, Malvino menuju ke area parkir. Meraih helm lalu memakainya. Tanpa menunggu sahabat-sahabatnya seperti biasa, cowok jangkung itu ikut melesat cepat menunggang kuda besinya.
Sedan mahal warna merah milik Aira sudah terparkir di halaman rumahnya. Selang lima menit, mobil Odyssey kuning menyusul.
Bulu mata lentik Aira berkedip pelan saat memerhatikannya lewat spion. Sinar matahari memantul dari sana. Menampilkan semua gerak-gerik sosok berambut pirang di belakang dengan jelas.
Kekesalannya datang lagi. Wajah sok polos itu, benar-benar membuatnya muak. Belum genap satu bulan, tapi keberadaan gadis itu dan ibunya sudah menciptakan ketidaknyamanan dalam hidup Aira tanpa diminta.
Kaki Aira terjulur keluar, menapak santai di permukaan batu-batu berbentuk segi enam di parkiran. Sebelah tangan menggenggam ponsel mahal berlogo apel dimakan dengan silikon warna hitam.
Brak!
Pintu mobil terhempas kasar. Membuat Angel yang baru keluar dari Odyssey kuning di belakangnya terlonjak kaget. Benar-benar kaget. Ia sampai menekan kuat dadanya yang berdebar.
Mengabaikan keberadaan si adik tiri, Aira melangkah lebih dulu. Tak sabar bertemu dan berguling-guling ria dikasur empuk kesayangannya yang sudah hampir seharian ia tinggal.
Angel menjeling sinis. Menyusul masuk saat keberadaan Aira sudah tak terlihat.
...***...
Abimanyu meletakkan pelan gelas di meja. Alisnya berkerut tipis. Seperti ada yang kurang malam ini. Matanya memerhatikan putri kandungnya yang sejak tadi tak ada membuka suara. Angel pun begitu. Hanya terdengar bunyi dentingan sendok pada piring masing-masing.
Aira hanya fokus pada makanannya. Sesekali matanya melirik layar ponsel yang tak berhenti masuk notifikasi. Sementara, Angel terus mengunyah sambil sesekali meringis kecil.
Abimanyu dan sang istri saling pandang. Saras menggeleng kecil. Tak tahan dengan keterdiaman ini, Abimanyu berdeham. Suaranya tak kecil, tapi juga tak keras. Sedikit lantang sehingga dapat di dengar semua orang di meja makan.
" Princess ... Kamu, baik-baik aja? "
Aira mengangkat pandang. Mengangguk. " Iya. Baik-baik aja, pa. " tangan mungilnya gesit mengupas kulit udang.
Mengangguk paham, Abimanyu beralih menatap Angel. " Kalo kamu, kamu baik-baik aja, Angel? "
" Hah? I-iya, om. Angel baik-baik aja. "
Berbanding terbalik dengan perkataannya, tangan Angel mengelus pelan tulang kering dibawah meja. Seiring meringis ringan. Seolah kakinya cedera parah.
" Loh? Itu kakinya kenapa? " Abimanyu bertanya gesit.
" Sayang, kaki kamu cedera? Kapan? Kok mama nggak tau? " sahut Saras. Wajahnya sangat panik.
Angel tak langsung menjawab. Ekor matanya melirik beberapa detik ke arah Aira, kemudian melabuhkan pandang pada kedua tangannya yang saling meremas gugup di atas meja.
Setiap ibu, pasti paling mengerti dan memahami anaknya. Begitu juga Saras. Raut wajahnya berubah melihat gerak-gerik sang putri.
Decit kursi berbunyi nyaring. Aira telah selesai makan. Tangan kanannya membawa piring dan gelas kotor, hendak melangkah ke dapur. Sudah menjadi kebiasaan, ia selalu membereskan bekas makananannya sendiri. Meskipun ada ART dirumah mereka.
" Kali ini, apa lagi yang kamu lakuin ke Angel, Aira? "
Kepala Aira memutar. Serentak dengan keterkejutan papanya. Abimanyu menatap penuh tanda tanya ke arah Saras. Apa maksudnya?
" Tanya ke anak kamu, mas! Kaki Angel yang cedera ini, pasti ulah dia. " ujar Saras.
Abimanyu masih bungkam. Wajahnya terlihat penuh kebingungan. Matanya tak berhenti melirik Aira dan Saras bergantian.
" Nggak usah nuduh kalo nggak tau apa-apa. " sarkas Aira dingin.
Saras mendecih sinis. " Memangnya siapa lagi? Dirumah ini, yang benci sama saya dan Angel itu cuma kamu. "
Memang dasarnya dua parasit ini jago akting. Belum ada beberapa menit, air mata Saras sudah berjatuhan seperti air terjun. Menanam iba pada hati Abimanyu.
" Kamu boleh benci sama tante. Tapi, jangan rundung Angel. Dia adalah anak tante satu-satunya, Aira. Kamu — " Saras tak melanjutkan ucapannya. Bibirnya bergetar seakan tak bisa berkata lagi.
Abimanyu berdiri kemudian menghampiri sang istri. Mengusap pelan pundak untuk menenangkannya.
" Sweety ... Apa benar, kamu melukai Angel lagi, hm? " tanya Abimanyu lembut. Mengontrol dirinya agar tak salah bersikap.
Aira menggeleng. " Enggak, papa. Bukan Aira. " jawabnya tenang. Matanya terus menyorot Angel tajam. Tatapan itu seperti pisau yang menembus jantung.
" Kalo ada kesalahpahaman, bisa dibicarakan baik-baik, sayang. Jangan sedikit-sedikit harus pakai kekerasan, apalagi sampai ke tahap membuat orang lain cedera. Angel ini, udah termasuk ke dalam bagian keluarga kita, princess. "
Lagi. Masih saja. Aira kira, Abimanyu lebih percaya pada dirinya. Putri kandungnya sendiri. Seperti dahulu, kehidupan mereka yang harmonis sebelum kedatangan Angel dan Saras. Tapi, sekarang apa? Ucapan sang papa barusan terdengar ikut menyalahkan dirinya, menghakimi dirinya, dan lebih mempercayai dua orang itu daripada dirinya. Aira benci sekali.
Menghembus napas kasar, Aira letakkan kembali piring dan gelas kotor yang hendak di antar nya ke dapur tadi.
Kaki mungilnya mendekati Abimanyu. Menatapnya dalam lamat-lamat. Memberitahu dari tatapan itu, bahwa ia tidak berbohong.
" Papa nggak percaya sama Aira? " tanyanya datar. Dadanya bergerak kecil naik turun. Meredam api yang mulai berkobar di dalam sana.
Abimanyu berkedip dua kali. Sensasi perih di hatinya merebak saat melihat netra redup milik putri kandungnya itu. " Enggak. Bukan begitu, sayang. Papa percaya sama kamu. "
" Tapi ucapan papa tadi itu beda. Aira udah bilang, bukan Aira yang buat dia cedera. Bahkan Aira nggak tau, cedera itu datang dari mana. " Aira bersidekap dada. Menghadap tepat pada Angel. " Gue tau, ini cuma akal-akalan lo supaya dapat jatuhin gue di depan bokap gue sendiri. Emang dasarnya, lo itu nggak punya urat malu. Cara lo, terlalu murahan! " ucapnya lantang.
Abimanyu melotot. " AIRA!!! Kenapa kamu ngomong gitu? "
" Kenapa emangnya, pa? Salah? "
" Jelas salah. Nggak baik ngomong begitu ke adikmu. "
" Dia orang asing. DIA BUKAN ADIK AKU! " sarkas Aira menggebu.
Ciiit!
" Kak Kaisa cukup! Jangan bentak om Abim. Beliau papa kandung kakak, loh. " sahut Angel. Matanya yang tadi ketakutan, berubah jadi menantang.
Bukannya terkejut, Aira malah tertawa keras. Bertepuk tangan sampai suaranya menggema di setiap sudut.
" Waw. Lagi cari muka, ya? Atau, cari perhatian? Dari dulu, lo selalu gunain banyak cara buat rebut apa yang gue punya. Kayak sekarang, salut sih gue. "
Abimanyu menarik lengan Aira, saat gadis itu hendak menghampiri Angel. " Sayang, udah! "
Aira tak terganggu. Meskipun sesekali tubuhnya tertarik ke belakang, tapi ia tetap memaksa langkah dengan pongah. " Ternyata, gini ya cara main lo? Sanggup ngelukain kaki sendiri, untuk memfitnah gue. " Aira menggeleng tak percaya. Menatap luka sayatan di tulang kering Angel. " Oke. Memang gue yang marah-marahin lo tadi di sekolah. Tapi, itu karena ada penyebabnya. Gue bukan orang gila, yang tiba-tiba merundung orang tanpa ada alasan. "
Wajah Angel memucat seketika. Ia bergerak tak nyaman di tempat.
" Aira ngaku kalo tadi disekolah marah-marah sama orang ini, pa. Karena terlalu kesal, Aira juga sempat nendang tepi meja sampai kebentur di kakinya. " Aira mengelilingi Angel. Mengintimidasinya dalam-dalam sampai gadis itu tak berkutik.
" Kenapa? Kenapa kamu memarahi dia? Jelas-jelas itu perundungan, sayang ".
Aira berdeham. Menyahut remeh. " Karena, dia udah berani dekatin Alvin. Tadi, Aira dan Alina mergokin dia, lagi peluk- pelukan sama Alvin. Dia yang udah bikin Aira sama Alvin berantem besar hari ini. Jadi, sekarang giliran, coba papa tanya! Apa maksud dia? Kebetulan aja? Atau emang ngincer cowok aku? Satu lagi, biasanya kalo kena benturan sesuatu pasti cuma lebam atau bengkak aja. Tapi, kenapa luka dia kayak habis di sayat pisau? Apa papa nggak kepikiran kalo dia sengaja nyayat kulitnya sendiri? Bodohnya, dia ngelakuinnya tepat di tempat yang bekas kebentur meja itu, tentunya buat nutupin bekas lebam itu. Iya nggak sih, pa?" bibir Aira tersungging sinis. Sebelum kemudian, ia beranjak meninggalkan mereka.
...****...
Pas aku ngetik, mati data.
Jadi, nggak ke save deh.