Nadira Keisha Azzura pertama kali co-ass di rumah sakit ternama, harus mengalami nasib buruk di mana Bapaknya masuk UGD tanpa sepengetahuannya akibat tabrakan, lalu tak lama meninggal dan sebelumnya harus mendengar ijab kabul mengatasnamakan dirinya di kamar Bapaknya di rawat sebelum meninggal. Pernikahan itu tanpa di saksikan olehnya sehingga dia tidak mengetahui pria tersebut.
Sedangkan dia hanya memiliki seorang Bapak hingga dewasa, dia tidak mengetahui keberadaan kakak dan Ibunya. Dia di bawa pergi oleh Bapaknya karena hanya sosok pria miskin dan mereka hanya menginginkan anak laki-laki untuk penerus.
Bagaimana nasib Nadira selanjutnya? akankah dia hidup bahagia bersama suaminya? akankah Nadira bisa menerima siapa suami dan siapa yang telah menabrak Bapaknya? Akankah dia bertemu dengan keluarganya?
Yu saksikan ceritanya hanya di novel 'Suami Misteriusku ternyata seorang Dokter'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dira.aza07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 ~ Administrasi
"Pak ..., eh–" Ucap Nadira yang memasuki ruangan Ken dengan santai sambil berucap, namun dia kembali keluar setelah mengatakan 'eh', karena merasa canggung dengan kondisinya. Di mana Oliya sedang menyentuh pipi Ken.
Ken menyadari ada Nadira memasuki ruangannya pun spontan melirik ke arah pintu dengan tubuh yang menjauhi tangan Oliya.
Lalu dengan cekatan mengambil Handphone yang terlegetak di atas mejanya.
"Nara ... mau ke mana? kembali ke ruangan saya!" tegas Ken yang sedikit kesal di dalam teleponnya, Ken merasa tidak nyaman bahkan merasa bersalah kepada Nadira akibat ulah Oliya.
"Tapi kan Pak ...,"
"Cepat ... saya tunggu kamu sekarang!" kembali Ken memerintah Nadira melalui selulernya dengan penuh emosi kemudian menutupnya begitu saja.
Orang aneh bukannya dia sedang bermesraan masa iya gue mesti ada di antara mereka. celetuk Nadira sambil berjalan kembali menuju ruangan Ken dengan berat hati.
"Ke luar kamu Oliya!" Ken mengusir Oliya dengan telunjuk mengarah ke arah pintu, dan bertepatan dengan Nadira yang telah datang di depan pintu.
"Tapi kan Mas ... saya magang di bagian administrasi, bisa bantuin Mas," paksa Oliya dengan menyentuh lengan bagian atas Ken.
"Lepas ... dan cepat keluar, jika tidak saya telepon security!" ancam Ken yang sudah muak dengan sikap Oliya yang berlebihan.
Oliya tidak kembali bersuara namun bibirnya tengah maju beberapa sentimeter, dengan menatap tajam ke arah Nadira sambil berjalan menuju pintu keluar dari ruangan Ken.
"Duduk!" titah Ken tanpa sedikit pun menatap Nadira. Nadira tanpa banyak tanya langsung menurut dengan mendaratkan bongkongnya tepat di hadapan Ken.
"Bantu gue periksa semua berkas ini!" titah Ken tegas tanpa menoleh ataupun melirik sedikitpun ke arah Nadira.
"Sudah ga usah bingung ambil dan masukkan data itu ke dalam komputer!" seru Ken seakan paham akan kebingungan Nadira.
Nadira tidak banyak bicara iya hanya menganggukkan kepalanya saja.
Dih kenapa jadi ngerjain beginian ya? padahal yang tadi magang bagian administrasi cocok banget ya. Aneh banget pak Ken ini. Batin Nadira menggerutu.
Setelah Ken menjelaskan apa yang mesti di kerjakan Nadira, keadaan di ruangan Ken Hening ... itulah yang terjadi karena mereka sibuk mengecek dan memasukkan data, sejam telah mereka lewati dengan berkas-berkas yang masih menumpuk di tangan mereka.
Tak lama kemudian datanglah seseorang ke ruangan Ken, dengan pintu yang sengaja terbuka akibat Ken berduaan dengan Nadira, membuat pria tersebut begitu mudah memasuki ruangan tersebut.
"Ehem," pria tersebut berdehem.
Membuat Ken dan Nadira menoleh ke arah suara tersebut. Sontak membuat Ken menampilkan muka yang kesal.
"Nadira tolong tinggalkan kami!, kembalilah ke mejamu, nanti jika saya membutuhkanmu akan saya hubungi!" jelas Ken panjang lebar agar tidak ada kesalahpahaman.
Nadira yang memahami maksud Ken karena ada bos besar pun beranjak pergi dan melewati Frederick dengan menundukkan kepalanya.
"Tolong tutup pintunya! terimakasih," sahut Ken sedikit berteriak kala Nadira hampir menuju pintu.
Nadira tanpa banyak berbicara pun mendengar teriakan Ken dan menutup pintu tersebut.
"Ada apa Dad? tidak lihat berkas banyak dan saya telah mengabaikan pasien?" sindir Ken yang kesal akan sikap Bapaknya yang telah menambah pekerjaannya padahal dia awalnya hanya merekap dan mengecek pasien melalui aplikasi yang datang ke rumah sakit itu. Namun kini masuk keluar pasien dia pun harus mengeceknya bahkan mendata riwayat penyakit yang di derita pasien per riwayat.
"Kenapa kamu bekerja dengan anak magangmu? itukan pekerjaan administrasi?" Frederick malah balik tanya karena awal masuk dia terhenyak kaget kala Ken meminta bantuannya kepada anak magangnya dan bukan kepada admin.
"Lalu saya harus meminta bantuan kepada magang admin gitu?" sindir Ken kembali.
"Iya tentu saja, lalu kenapa kamu malah meminta kepada anak magangmu yang jelas mengurus pasien, apa dia tidak akan kebingungan?" Frederick balik tanya kembali.
"Katakan saja ga usah basa basi Dad, Dad ingin aku berdua di ruangan ini dengan anak dari teman dad itu? yang kecentilan dan ah sudahlah jelas gue risih," protes Ken yang sudah menahan amarah dari tadi.
"Ken ... Oliya itu anak teman dekat Dady ... cobalah bersikap baik ..., Dan kenapa ga memilih dia untuk membantumu?, mungkin kerjaan admin begini akan segera selesai," ujar Frederick dengan berkata sedikit melembut karena melihat anaknya yang sudah mulai ketus.
"Oh ya? yakin akan itu? yang ada ga akan cepat selesai dady ... anak kecentilan begitu mana ada bisa fokus kerja mungkin hanya fokus pada muka gue dad ...," keluh Ken karena teringat tadi di mana Oliya sedang memegang pipinya lebih tepatnya menyusut pipinya juga keningnya yang menggunakan tisu seakan berkeringat juga kelelahan.
"Coba dululah, jangan langsung berpikir kejauhan," pinta Frederick sedikit memaksa.
"Jika dady hanya ingin membicarakan ini, aku mohon tinggalkan aku sendiri, karena pekerjaan ini tidak akan selesai dengan terus berbicara apalagi yang hal tidak penting begini," sahut Ken menimpali.
"Ok baiklah tapi ingat jangan lupa jam 4 sore ini kita makan bersama ya, Dady tunggu di cafetaria 1," ucap Frederick yang beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju pintu.
Ken hanya menatap Ayahnya dengan datar, Lalu ia kembali fokus dengan pekerjaannya, Ken sengaja tidak menghubungi Nadira di karenakan sebentar lagi jam istirahat.
Namun tak lama dari itu, kembali pintu ruangan Ken di ketuk. Ken pun bersuara mempersilahkan orang itu masuk.
"Kamu lagi ..., ngapain?" ketus Ken yang tidak suka dengan Oliya memasuki ruangannya.
"Bukannya Bapak yang suruh saya ke sini untuk bantu mengerjakan semuanya itu?" Oliya balik tanya karena heran kenapa Ken berkata seperti itu, sedangkan Frederick memerintah Oliya untuk ke ruangan Ken karena Ken yang meminta Frederick sambil lewat ke resepsionis.
"Saya? yang benar saja liya, saya sudah usir kamu bukan? ngapain juga saya memanggil kamu kembali, sekarang ... silahkan keluar!" ujar Ken dengan tegas.
"Tapi saya sudah jauh ke sini Pak, ga persilahkan saya duduk dulu gitu?, tega bener ...," protes Oliya yang merasa di rugikan karena dia berniat ke kantin malah ke ruangan Ken, dan ternyata dia baru sadar jika itu hanyalah akal-akalannya dari Frederick.
"Keluar atau saya hubungi keamanan?" ancam Ken yang sudah tidak ingin menimpali omongan Oliya.
Jangan harap gue ingin menimpali segala omongan lo Oliya, eneuk gue sama tingkah lo. Semakin gue kasih ruang semakin lo bertingkah. Batin Ken geram.
Oliya pun berdecak ...
Ngapain sih om Frederick ngasih tahu gue mesti ke ruangan si orang batu ini sia-sia kan gue ke sini, kalau ga ke sini udah kenyang perut gue dari tadi ... ish dasar manusia kutub. Geram Oliya sambil membanting pintu ruangan Ken.
Ken tersentak kaget kala mendengar pintu ruangannya tertutup dengan begitu kencang. Ken lalu menatap ke arah pintu lalu hanya mampu menggelengkan kepalanya.
Bisa-bisanya Dad jodohin gue sama cewek begitu. ngeri gue. gumannya sambil kembali menatap layar monitor.
Bersambung ...