NovelToon NovelToon
Istri Muda Sang Miliuner

Istri Muda Sang Miliuner

Status: tamat
Genre:Romansa / Konflik etika / Permainan Kematian / Crazy Rich/Konglomerat / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Tamat
Popularitas:53.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dela Tan

Kematian mendadak Gandawasa Natadharma, miliuner pemilik perusahaan game terbesar asal Indonesia yang bermukim di San Fransisco, Amerika Serikat, menimbulkan kecurigaan bahwa kematiannya tidak wajar.

Istrinya yang berbeda lima belas tahun lebih muda, Lily Kanissa Natadharma, tentu saja menjadi orang pertama yang paling dicurigai. Wanita yang pernah dikenal sebagai “Gadis Teh Botol”, sejak fotonya yang sedang minum teh botol di kelas ketika remaja, pernah viral. Gadis manis bermata indah dengan wajah polos bagai malaikat pada waktu itu, kini telah menjelma menjadi wanita yang luar biasa cantik menawan dan sangat berkelas.

Ketika digiring ke luar mansionnya yang mewah dengan tangan diborgol, para wartawan menghujani Lily dengan pertanyaan. Ia hanya melontarkan satu kata dengan wajah dingin, “Bodoh.” Lalu ia menundukkan kepala dan masuk ke mobil polisi tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Detektif Maxmillian Anderson diuji kemampuannya untuk menguak fakta, mencari bukti-bukti serta menyelidiki motif yang membuat janda miliuner itu melakukan tindakan kriminal. Demi harta? Atau karena orang ketiga?
Benarkah dia pembunuhnya, atau ada orang lain yang melakukannya?

Namun, yang lebih penting adalah, mampukah Max menepis daya tarik Lily, yang dengan keanggunannya yang dingin, justru telah membuat hati Max terbakar sejak matanya singgah di wajah wanita itu, bahkan dari jauh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dela Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Harga Diri Yang Terluka

Membuat sebuah film, apalagi fiksi ilmiah, tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berbeda dengan film drama romantis atau komedi, yang bahkan lokasinya tidak perlu di-setting, cukup mencari tempat yang sesuai.

Film fiksi ilmiah atau fantasi, adalah yang paling banyak melibatkan banyak tim. Mulai dari penulis naskah, ini yang terpenting, sebab sebagus apapun sebuah buku, jika skenarionya tidak bermutu, maka filmnya akan hancur.

Gandawasa sebagai pemilik modal tentu berperan sebagai produser eksekutif, dan Kenneth sebagai produser yang bertanggung jawab mengawasi dan mengatur seluruh proses produksi film.

Karena ini bidang baru baginya, Kenneth merekrut asisten produser yang lebih berpengalaman, untuk membantunya dalam perencanaan, koordinasi tim, administrasi, logistik, penyuntingan, pemilihan peralatan dan manajemen anggaran.

Orang berikutnya adalah sutradara dan asisten sutradara, yang berperan penting dalam menginterpretasikan naskah, memilih pemeran, dan membimbing serta mengarahkan para aktor.

Selanjutnya adalah penata kamera dan tim pencahayaan, lalu tim artistik yang terdiri dari penata rias, penata kostum, direktur seni dan efek khusus. Terakhir adalah tim pascaproduksi, termasuk di dalamnya adalah penyunting, penata suara dan dialog serta musik.

Tentu saja itu memakan waktu cukup panjang dan biaya yang tidak sedikit. Kenneth hampir setiap hari meeting dengan Gandawasa untuk melaporkan sejauh mana yang telah ia lakukan. Sampai sejauh ini, semuanya lancar. Gandawasa puas dengan kinerjanya dan tidak keberatan menggelontorkan uang yang dibutuhkan.

Sang miliuner sangat paham bahwa ini bisnis baru, tentu saja modalnya tidak sedikit sebab semuanya dimulai dari nol. Dia adalah seorang visioner, jadi memiliki wawasan ke depan, bukan mengharapkan sebuah hasil yang instan.

Setelah sekitar satu tahun persiapan, produksi film dimulai.

Kenneth sangat bergairah, membayangkan mimpi besarnya akan segera terwujud dan bisa ditonton pecinta fiksi ilmiah di seluruh dunia.

Ia tahu, sebuah film fiksi ilmiah, terkadang butuh waktu hingga berpuluh-puluh tahun. Untuk mempercepat dan memperpendek waktu produksi, ia telah merekrut lebih banyak orang dari seharusnya, penulis naskah sepuluh orang, tim efek khusus tiga puluh orang.

Kenneth yakin, itu adalah langkah yang tepat. Meskipun ketika menyodorkan daftar nama yang telah direkrut pada Gandawasa, kening miliuner itu berkerut melihatnya.

“Apakah ini tidak melibatkan terlalu banyak orang? Aku pikir tidak perlu sebanyak ini. Mereka harus bekerja sebagai satu kesatuan. Satu visi dan satu ide, apakah kau yakin mereka di level yang sama?”

“Ini untuk memperpendek waktu produksi. Jangan sampai film ini baru selesai setelah sepuluh tahun.” Kenneth menjelaskan.

“Apakah kau yakin?” Gandawasa menatapnya, “Ingat, kau bertanggung jawab penuh atas keberhasilan proyek ini.”

“Ya, aku yakin. Percayalah padaku. Ini impian besarku, aku tidak akan menghancurkannya.” Kenneth berkata dengan keyakinan penuh.

“Baiklah, aku ingin melihat hasilnya setelah dua puluh persen produksi, agar jika ada sesuatu yang melenceng, bisa segera diperbaiki.”

“Baik, silakan Anda datang kapan saja.”

Gandawasa memonitor kemajuan produksi ketika telah mencapai dua puluh persen. Tetapi karena itu masih sangat mentah, belum melalui proses penyuntingan, apalagi diberi efek khusus, tentu saja semuanya terlihat baik-baik saja.

Kenneth mempersilakan miliuner itu kembali setelah produksi mencapai empat puluh persen, dan itu masih tampak mentah, sehingga Gandawasa tidak bisa terlalu banyak berkomentar, hanya mengatakan, “Jika kau yakin, aku akan memberi kesempatan padamu.”

Setelah dua tahun produksi, film itu akhirnya selesai. Telah disunting dan menjadi satu kesatuan cerita, tetapi masih belum diberi efek khusus.

Kenneth mengundang Gandawasa untuk melihatnya. Yang menonton hanya seluruh tim yang terlibat.

Gandawasa mengajak Lily ikut menonton film itu dan untuk memberikan pendapat.

Semakin panjang film diputar, Kenneth menoleh pada miliuner itu dari waktu ke waktu. Berkali-kali ia menyaksikan Lily berbisik di telinga suaminya, dan wajah Gandawasa semakin tidak enak dilihat.

Hatinya mulai merasa khawatir, tetapi ia sudah siap dengan alasan, bahwa itu belum sempurna karena belum diberi efek khusus yang akan membuat film itu fenomenal.

Efek khusus biayanya sangat mahal, sehingga jika ada adegan di film yang harus dibuang atau direkam ulang, harus dilakukan sebelum efek khusus dan musik.

Namun, setelah film itu berakhir, wajah Gandawasa telah merah padam.

“Ikut aku,” Gandawasa berkata pada Kenneth, dan mendahuluinya masuk ke kantornya. Kenneth mengikuti tanpa mengatakan apa-apa.

“Itu sampah!” Begitu pintu ditutup, Gandawasa langsung meradang. “Bagaimana satu adegan demi satu adegan tidak saling terhubung? Apakah itu benar-benar buku yang telah memenuhi pikiranmu berpuluh-puluh tahun? Jalan ceritanya telah melenceng jauh. Bahkan aku dan istriku yang hanya membaca satu kali bisa melihatnya. Dan kau tidak? Apakah matamu buta?!”

Kenneth menahan diri, ia tidak biasa mendengar kata-kata kasar, “Itu karena penulis skenario ada sepuluh. Dan itu belum diberi efek khusus, sehingga…”

“Justru karena penulis skenario ada sepuluh, maka itu menjadi cerita yang terlepas. Sudah kukatakan mereka harus memiliki ide dan berada di level yang sama. Kau tidak mengerti bahasa sesederhana itu?”

“Aku tidak menanamkan modal untuk memproduksi sebuah sampah. Kau sudah kuberi kesempatan karena aku memberi jalan untuk mimpi besarmu. Tapi kau menyia-nyiakannya.”

“Akan kuperbaiki, beri aku satu kesempatan lagi.”

Sambil menekan emosi karena merasa direndahkan, Kenneth masih meminta satu kesempatan. Ini adalah mimpinya sejak lama, tidak boleh ada yang merenggutnya darinya.

Gandawasa mengempaskan tubuhnya di kursi, mengembuskan napas. Kenneth masih berdiri di depan mejanya, menunggu apa yang akan dikatakan miliuner itu.

“Satu saja,” akhirnya Gandawasa berkata. “Perbaiki. Tapi jabatanmu sebagai produser dicopot.”

“Terima kasih, Anda tidak akan kecewa.” Kenneth segera berbalik.

Dalam enam bulan berikutnya, Kenneth meminta seluruh tim berusaha memperbaiki di sana sini, menyunting dan merekam ulang. Setelah merasa puas dengan hasilnya, ia membiarkan tim pascaproduksi menggarap film itu.

Kini, ia merasa film itu telah siap untuk dipertontonkan. Tanpa meminta persetujuan Gandawasa, ia mengundang beberapa orang kritikus film dan surat kabar, menonton pemutaran perdana untuk kalangan terbatas.

Itulah kesalahan terbesarnya. Kesalahan yang sangat fatal. Ia terlalu bernafsu ingin membuat nama bagi dirinya sendiri.

Semua yang hadir menonton terpaku di kursinya. Tetapi bukan karena sangat terkesan. Beberapa mengkritik dengan halus, beberapa sangat terang-terangan.

“Yah… sangat imajinatif, cerita yang bagus, tapi…”

“Wow, karya luar biasa, pasti menghabiskan modal besar, hanya saja…”

“Ehm… maaf, tapi aku seperti melihat presentasi power point, bukan sebuah film fiksi ilmiah yang hebat.”

Pendeknya, itu dianggap sebagai karya yang buruk.

Di kantor, Gandawasa mengamuk, melemparkan cangkir teh padanya, melontarkan kata-kata paling brutal yang belum pernah didengar siapa pun selama mereka bekerja di Silver Fox Game, Inc.

Dan berakhir dengan, “Kau dipecat!”

Setelah enam bulan bertahan meskipun jabatannya diturunkan, kini Kenneth dipecat dengan tidak hormat, menanggung malu luar biasa karena suara Gandawasa bisa didengar di seantero lantai.

Bahkan karyawan paling rendah di kantor ini belum pernah diperlakukan seperti itu.

Kenneth menahan amarah yang menggelegak. Orang Jepang sangat menjunjung tinggi kehormatan dan harga diri. Itulah yang mendasari tindakan harakiri para samurai di zaman dulu. Bunuh diri dengan merobek perutnya sendiri, adalah demi mempertahankan kehormatan dan mengembalikan nama baik.

Tidak, ia tidak berniat bunuh diri. Kenneth bukan orang yang biasa melampiaskan kemarahan. Ia pendiam, cenderung menyimpan semuanya.

Ia melangkah ke luar dari ruangan Gandawasa dengan wajah merah padam, tanpa mengatakan apa-apa.

Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang mengawasinya.

Dan ketika Kenneth membanting pintu kantornya sendiri, sepasang mata itu tetap memperhatikannya.

1
Kustri
apa. max msh mengagumi lily, stlh melihat lily tdk sempurna🤔
Kustri
keren BGT karyamu!
Kustri
nha bener to lila iri👻
Kustri
pasti lila iri dgn kehidupan lily
Kustri
semakin penasaran
Kustri
omg max... apa yg kau lakukan🤭😁 bersolo ria
Kustri
eh, mati🤔
mgkin ada yg dendam lbh parah dr ken, tp knp ken dibunuh
misal ada yg dendam, kan enak dia gk susah" turun tangan
apa lily jg patut dicurigai yaa🤔
Kustri
jd bener kenet yg membunuh

klu kau yg membunuh ganda, pasti kau akan ketangkep✌
Kustri
jodohkan andrea sm brian😁
Kustri
semangat max
Kustri
lanjut sajaa
Kustri
kasian klu jd korban salah sasaran, tp tubuh ganda sblm'a sdh ada racun🤔
Kustri
qu skip pas baca kekayaan lily✌
Kustri
koq lgsg jd tersangka to, biasa'a introgasi dll🤭
wiwik
cerita yg bagus sangat bagus top markotop..smoga ada bonchap'y
Leila Karmila
/Rose//Good/
adi_nata
good job author .. terima kasih banyak untuk karyanya. ditunggu cerita penyidikan selanjutnya.
adi_nata
endingnya terkesan dikebut. dan apakah memang Lily benar2 bersih ?
adi_nata
bapaknya masih hidup tenyata /Facepalm/
adi_nata
aku bertanya tanya. bapak mereka masih hidup atau tidak sih ? hadeehhh .. biarpun dibawa mantan istri, setidaknya tetap cari tau kabar anakmu.
Kustri: msh, kan mendampingi lily saat sidang to
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!