Arully Beena sosok seorang gadis yang dilahirkan tanpa ayah. Ibunya korban kebejatan seorang laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab. Dia lahir dengan perekonomian yang begitu sulit sehingga ia terjebak dalam kelompok anak-anak punk di kotanya.
Bagaimana Beena bisa melewati kehidupan yang begitu keras sampai ia bisa menemukan jati dirinya melalui pertemuannya dengan sosok bocah cilik yang membawanya berhijrah dengan tulus.
Bagaimana pula kisah percintaannya dengan seorang laki-laki yang begitu sempurna di matanya dengan menikah paksa karena terjebak oleh situasi.
"Anggap pernikahan kita semalam tak pernah ada. Aku tidak pantas menjadi istrimu. Aku hanya gadis punk yang hanya singgah tanpa rencana. Terima kasih sudah menolongku." Arully Beena.
Ikuti kisahnya sampai selesai ya!
Tinggalkan jejakmu like, komen dan subcribe teman-teman!💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 Penangkapan Baron
Elzan sejak sore hari mengikuti aktivitas Baron di warung remang-remang, mengumpulkan informasi dan bukti penting yang tidak diketahui Baron.
Elzan menyamar sebagai anak dari pemilik warung yang baru pulang dari luar negeri sebagai TKI. Pemilik warung dibayar Elzan dengan jumlah yang tidak sedikit agar skenarionya berjalan dengan lancar.
Elzan memasang kamera tersembunyi yang tidak diketahui oleh siapa pun termasuk pemilik warung. Dia dibantu temannya yang bekerja sebagai intel dari kepolisian pusat. Kasus yang melibatkan istrinya bukanlah kasus biasa justru hal itu sangat meresahkan masyarakat setempat.
"Mas mana bapake?" Tanya Baron pada Elzan yang berkumis dan memakai baju kaos oblong.
"Bapak lagi ga ada Bang, dia pulang nemenin si emak sakit." Jawab Elzan sekenanya.
Baron manggut-manggut, seraya semakin mendekati Elzan.
"Ooo, kok aku baru lihat si Mas ya?" Tanya Baron yang baru melihat Elzan di warung tersebut sebagai pelayan .
"Ya maklum aja Bang aku kan selama ini kerja jadi TKI. Abis kontrak makanya bisa pulang."
"Memang engga dilanjut kontraknya?"
"Malas Bang. Mendingan di sini aja bisa lebih dekat dengan orang tua. Ya sambil bantu-bantu di warung ini." Elzan beralasan berharap Baron percaya.
"Kebetulan. Mas mau kerjaan yang menjanjikan tidak?" Baron mengedipkan matanya.
"Waah mau dong! Kerjaan apa aja yang penting menghasilkan Bang." Ujar Elzan dengan wajah berbinar.
Baron melihat sekeliling. Hanya ada Ucrit, Embul dan satu pembeli yang tidak diketahui namanya.
"Sini aku bisikin!" Ujar Baron dengan suara rendah.
Elzan mencondongkan tubuhnya ke depan. Seraya berharap kali ini kebusukan Baron tersingkap.
"Kerjaan menculik anak-anak." Bisik Baron.
Elzan kaget ternyata istrinya memang tidak bersalah. Baron memang sindikat penculikan anak-anak di bawah umur.
"Gimana mau engga?" Tanya Baron sumringah karena akan ada tenaga baru yang akan membantunya.
"Gajinya berapa Bang?" Tanya Elzan berbasa-basi.
"Gaji?" Baron tertawa lepas.
"Masalah gaji, pokoknya tidak akan mengecewakan." Ujar Baron mencoba untuk membuat Elzan tertarik.
"Satu anak bisa lima jutaan." Bisik Baron menjanjikan. Seraya mengedipkan matanya lagi.
"Wow gede juga ya, Bang. Oke aku terima." Elzan menyodorkan tangannya bersalaman dengan Baron.
"Kerjanya mulai kapan Bang?" Tanya Elzan antusias.
"Besok aja." Baron tersenyum
Kriiiing
Kriiiing
"Sebentar ada telepon dari anak buahku." Baron menjauh dari tempat Elzan berdiri.
"Oke...oke aku ke sana sekarang. Pastikan si Berry tetap berada di sana sampai aku datang!" Ujar Baron tegas pada anak buahnya yang berada di seberang sana.
"Berry? Seperti nama yang pernah diucapkan Beena kemarin. Siapa dia?" Gumam Elzan dalam hati. Dia melirik pada temannya yang masih asik minum kopi sambil membaca koran.
Dengan tergesa Baron cs meninggalkan warung tersebut.Ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bertemu Berry.
Orang yang tengah asik minum kopi langsung menyeruput kopinya, tegukan terakhir sambil berdiri. Seraya memberi kode pada Elzan untuk segera mengikuti Baron.
Elzan segera menyambar kunci yang bergantung di atas kalender. Dengan cekatan dia memasukkan barang bukti yang masih menempel di sudut etalase rokok.
Elzan melepaskan kumis yang menempel di atas bibirnya. Temannya yang menyetir kendaraan roda empat membawanya dengan kecepatan penuh.
"Wooow mantap Bro. Kali ini tidak boleh gagal. Pertemuannya dengan orang yang bernama Berry itu mudah-mudahan membawa hasil." Ujar Elzan.
"Yap pasti. Kita jangan lengah." Timpal temannya.
Tidak lama kemudian mobil Elzan berhenti di depan stadion. Mereka memperhatikan 2 motor yang ditumpangi Baron Cs memasuki taman stadion.
"Kita ikuti saja. Kamu pantau dari kejauhan tapi jangan luput dari rekaman. Aku yang ke sana!" Ujar temannya yang kini merubah penampilannya menjadi tukang minuman keliling.
"Jangan lupa rekaman harus aktif juga ya!" Kata Elzan mengingatkan.
"Siap!" Ujar temannya mantap.
Intel tersebut menawarkan minuman pada beberapa wanita yang ada di belakang Berry. Wanita-wanita tersebut terlihat kelelahan setelah melawan preman-preman yang sudah lari tunggang lenggang.
"Terlihat lelah sekali, Mbak?" Tanya penjual minuman ingin tahu.
"Iya nih Bang. Bantuin Bang Berry menghajar preman kasihan enam banding satu." Menala memberi alasan.
"Emang Berry siapa?" Tanya penjual minuman.
"Waah si Babang ga tau, dia itu vokalis band lokal. Barusan tampil di konser Sleng." Jawab Menala.
"Widih keren juga Bang Berry itu." Ujar penjual minuman.
"Iya lah keren. Udah ganteng masih jomblo lagi." Ujar Brenda tertawa.
Tidak lama kemudian Intel yang menyamar sebagai penjual minuman mendekati Ucrit dan Embul untuk menawarkan minuman juga.
Pembicaraan Baron dengan Berry sudah direkam oleh penjual minuman yang tersenyum penuh arti. Tidak lama kemudian terdengar suara sirine mobil.
Ngiung...ngiung...ngiung...ngiung
Suara sirine mobil polisi memecah keheningan. Dua orang Polisi keluar dari mobil.
Baron berusaha lari sejauh mungkin. Dia tidak memperdulikan anak buahnya yang sudah tertangkap. Dia terus berlari menjauh dari kejaran polisi.
Elzan yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Baron segera turun dari mobilnya. Dia mengejar Baron, sementara Ucrit dan Embul sudah berhasil diringkus polisi.
Berry pun tidak mau tertinggal untuk mengejar preman kelas lele yang lumayan licin untuk ditangkap.
Berry berhasil menarik ujung kerah baju Baron, hampir terjengkang ke belakang.
"Kau terlalu meremehkanku Baron!"
Berry meninju perut Baron dengan emosi.
"Kamu memang remahan biskuit yang hampir terbuang Berry. Bahkan si Mbee pun tidak mau menerimamu sebagai kekasih." Baron tertawa puas.
"Kamu jangan sombong Baron sebentar lagi kamu akan kukirim ke neraka dunia. Dan kupastikan kamu akan mendekam di sana lebih lama." Ujar Berry geram.
"Oh ya? Dan itu tidak akan pernah terjadi. Bahkan aku sendiri yang akan mengirimmu ke neraka akhirat dan kau pantas berada di sana!" Baron tertawa mengejek. Baron langsung mengambil sebilah pisau dan menusukkannya ke perut Berry.
Jleb
ini mah mau masukin hotel prodeo lagi kan ktnya udah biasa......
hadooohh jadinyav kasian si beena alamat bakal di kekesek yeu mah sm ibunya elzan
Tapi dari sini kayaknya bakal susah dapat restu si Beena,Awal pertemuan dengan Mertua aja udah ada salah paham gitu..