Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Rania mengepalkan tangannya, keluarga Ardi ini tidak henti-hentinya membuat masalah dengannya, tadi Ardi menuduhnya selingkuh padahal lelaki yang dia tunjuk adalah sahabatnya sendiri yang dia sendiri mengenalnya dan mempermalukan dirinya sekarang ibunya kembali membuat keributan dirumah sakit tempatnya bekerja dan kembali mempermalukan dirinya .
"Pak security tolong bawah ibu itu keluar dari rumah sakit pastikan dia tidak membuat keributan disini, saya tidak mau bertemu dengannya lagi". Ucapnya dengan tegas.
Dia menujuk kearah mertuanya itu dengan nafas memburu dan wajah memerah menahan amarah. Dia sudah malas berurusan dengan ibu mertuanya itu apalagi sebentar lagi dia ada operasi tapi pikirannya kini tengah kacau.
"Heh dasar menantu kurang ajar, berisi sekali kamu memperlakukan ibu mertuamu seperti itu, kamu itu dokter tapi tidak punya sopan santun". Teriaknya lagi.
Semua orang memperhatikan mereka karena teriakan ibu Ardi itu, Rania kembali menghela nafas berusaha meredam emosi yang bergemuruh dalam dadanya.
"Terserah apa kata ibu, saya sudah menjelaskan tadi jika saya ada operasi dalam beberapa menit lagi, tapi ibu tidak mau mengerti, kalau urusan pernikahan saya sama Ardi silahkan kita urus saja di pengadilan, saya tidak mau berurusan sama keluarga yang tidak tahu diri seperti kalian lagi apalagi ini rumah sakit, berhenti membuat keributan". Jawabnya penuh penekanan.
"Kurang ajar, jangan mentang-mentang kamu dokter kamu bisa seenaknya menghina ibu, ibu ini masih mertuamu, jangan keterlaluan kamu". Bentaknya.
Rania menggeleng pelan dan frustasi, dia begitu malas menghadapi manusia-manusia tidka tahu diri, mereka yang menindas orang sekalinya dibalas malah tidak terima.
"Sya tidak perduli apa yang ibu katakan, sejak tadi saya berusaha untuk sabar dan sopan menjawab ibu tapi seperti nya ibu ini tidak punya urat malu sampai membuat keributan dirumah sakit, pak tolong bawah dia kelaur dan pastikan dia masuk kesini hanya sebagai pasien bukan kunjungan keluarga karena saya tidak punya keluarga seperti ibu ini".
Rania berbalik kemudian melangkah tapi langkahnya terhenti karena ibu mertunya itu mencekal tasnya kemudian melayangkan tamparan padanya sehingga wajahnya terlempar kesamping.
Dia memegang pipinya yang terasa perih dan menyakitkan, matanya menyala penuh amarah menatap ibunda Ardi itu penuh kebencian
"Dasar menantu tidak tahu diri dan kurang ajar, menyesal saya merestui kamu menikah dengan putra saya". Teriaknya kemudian mengangkat kembali tangannya untuk menampar Rania.
Tangan itu langsung ditangkap baik oleh Rania kemudian dihempaskan dnegan kasar sehingga dia terhuyung dan terjerembab dilantai.
Rania kini berjalan mendekati ibu Ardi itu dnegan tatapan yang tidak pernah dilihat oleh ibu Ardi selama menjadi mertua Rania.
"Jangan buat kesabaranku habis bu, selama ini aku menghormati ibu dan membiarkan ibu bertindak seenaknya dirumah ku yang selalu anak ibu itu akui, aku membiayai semua keperluan rumah dan juga keluarga ibu karena bakti, ibu pikir aku tetap akan diam saja setelah smeua yang kalian lakukan padaku? ". Tanyanya dengan datar dan dingin
Ibunda Ardi itu menelan Salivanya bulat-bulat, segala umpatan dna keberaniannya tadi menguap entah kemana melihat tatapan Rania yang begitu menyeramkan baginya.
"Selama ini aku mengorbankan diriku untuk menjadi menantu yang baik untuk ibu, berusaha menjadi orang biasa saja dan selalu ibu hina tapi hari ini jika ibu kembali membuat masalah dna menghancurkan karier yang kubangun dengan susah payah maka aku akan buat ibu melihat bagaimana menantu yang selama ini ibu tindas itu bertindak".
Rania melangkah mendekati ibu mertuanya itu, denagn refleks ibu Ardi memundurkan langkahnya karena terintimidasi oleh tatapan Rania.
"Pergilah selagi aku masih bicara Baik-baik, jangan sampai aku membawa semua ini ke jalur hukum dan membuat ibu hidup didalam penjara dan menghabiskan usia ibu disana, disini banyak CCTV-nya jadi silahkan buat keputusan".
Rania melipat kedua tangannya menatap mertuanya yang kini ketakutan setengah mati, dia sudah tidak peduli jika semua orang menyaksikan hal ini, dia harus membersihkan namanya sendiri sebelum berita lainnya menyebar tidak terkendali.
Security itu langsung menarik kasar ibu Ardi itu dengan kasar, melihat tatapan Rania yang tidak ramah sama sekali.
"Bawah ibu itu pak, pastikan dia tidak kembali membuat keributan dan jangan biarkan dia masuk untuk menemui saya".
Dia melangkahkan kakinya menjauh dari sana, dia tidak mau kembali menjadi bahan tontonan semua ornag dirumah sakit. Sedangkan ibu Ardi sejak tadi tidak berhenti mengumpat karena sangat marah dipermalukan seperti ini oleh Rania padahal dirinya lah yang mencari gara-gara.
Suster yang melihat dan mendengar semua pertengkaran itu kini saling memandang, pantas saja dokter Rania kemarin mengatakan tidak ingin bertemu dengan suaminya ternyata mereka memperlakukan dokter itu dengan sangat tidak manusiawi.
"Pantas saja dokter Rania tidak mau bertemu dengan pak Ardi, ternyata keluarganya semua gila yah, mereka memperlakukan dokter dengan tidak manusiawi". Bisiknya pada rekan kerjanya disebelahnya itu.
"Iya, amit-amit punya keluarga benalu seperti itu apalagi mertuanya tidak punya malu dan tidak tahu tempat seperti itu". Bisiknya sambil membalas perkataan sahabatnya itu
Rania yang tengah berjalan mendengar hal itu kemudian menghentikan langkahnya kemudian menatap keduanya dengan tenang tanpa emosi
"Lebih baik kalian bekerja saja, banyak orang yang perlu kalian urus, tidak usah urus urusan yang bukan urusan kalian karena itu tidak penting". Ucapnya kemudian kembali melangkah kedalam ruangannya.
Kedua perawat itu langsung diam seribu bahasa karena mendapatkan teguran seperti itu, mereka mengedarkan pandangannya melihat banyak orang yang tengah mengantri.
Benar kata dokter Rania, harusnya mereka fokus bekerja karena mereka banyak pekerjaan bukan malah berbisik-bisik mengurusi urusan orang.
Ibunda Arman yang tengah ditarik paksa oleh kedua security itu terus berteriak mengeluarkan sumpah serapahnya kepada Rania, nafasnya memburu karena emosi.
"Dasar perempuan mandul, percuma dokter tapi tidak bisa memberikan anak saya anak, dasar tidak berguna". Umpatnya lagi.
Security yang kini berjaga hanya diam saja tapi tetap memastikan dirinya tidak masuk kedalam untuk membuat keributan kembali.
"Pergi nyonya sebelum kami memanggilnya polisi untuk menyeret anda ketahanan dengan tuduhan membuat keributan ditengah fasilitas umum dan kekerasan kepada dokter Rania". Ucap mereka sambil menahan emosi.
Mereka sejak tadi berusaha berprilaku sopan tapi ibu mertua dokter Rania ini memang tidak bisa die beritahu pelan-pelan karena terus membuat keributan.
Mendengar kata polisi dari pihak keamanan itu nyali ibunda Ardi itu langsung menciut. Dia tidak mau menghabiskan sisa hidupnya didalam penjara.
Tanpa mengatakan apapun dia melangkah menjauh dari sana dengan sangat kesal,
"Awas saja kamu Rania ini belum selesai, ibu tidak Terima semua ini".