NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Molly Marco

Warning

Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.

Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.

Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.

Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maling Teriak Maling

Rindu mendengar percakapan suami yang sedang menelepon seseorang seolah orang itu adalah rekan kerjanya. Namun, Rindu cuek dan melewati Elang, lalu pergi ke kamar mandi.

Klik

Elang menyudahi percakapannya dengan Miskha. Kemudian mengejar Rindu yang sudah berlalu.

“Rin kamu sudah pulang?” tanyanya pada Rindu yang baru melangkahkan kaki ke dalam kamar mandi.

“Hm,” jawab Rindu cuek.

“Rindu tung…!” baru saja Elang ingin bicara, tiba-tiba pintu itu ditutup dari dalam oleh Rindu.

“Rin, aku ingin bicara. Kenapa langsung ditutup pintunya?” tanya Elang kesal.

Semakin hari, Rindu tidak lagi seperti istrinya yang dulu. Rindu terlihat dingin dan cuek. Bahkan diajak bicara pun, wanita itu memilih diam. Seperti saat ini, Rindu tak menjawab pertanyaan Elang.

“Rin,” panggil Elang lagi dari luar.

“Apa, Lang? Nanti saja, badanku lengket,” jawab Rindu dari dalam kamar mandi dengan sedikit berteriak, karena di sana ia sudah menyalakan shower.

Elang menarik nafasnya kasar. Ia menyerah dan memilih menjauh dari ruangan kecil yang berada di dalam kamarnya itu. Ia keluar dari kamar dan bertemu sang ibu.

Waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam. Sebelumnya, Rindu enggan pulang cepat, ia ingin pulang dalam keadaan larut malam, seperti yang sering suaminya lakukan. Tapi ternyata sang ibu mertua menelepon dan memintanya segera pulang.

untuk makan malam bersama. Jika sudah Bella yang meminta, Rindu bisa apa? wanita itu tidak akan pernah bisa menolak permintaan ibu mertuanya.

“Rindu tidak ikut turun denganmu?” tanya Bella ketika melihat putranya menuruni anak tangga.

“Rindu sedang mandi, Ma.”

Bella mengangguk. “Akhirnya, putri Mama pulang juga.”

Bella duduk didepan putranya yang baru saja menarik kursi dan mendaratkan tubuhnya di benda itu. “Apa Rindu akhir – akhir ini sibuk?” tanyanya lagi.

Elang mengangguk. “Ya.”

Bella menarik nafasnya kasar. “Terus kapan Mama punya cucu kalau kamu-nya sibuk, Rindu juga sibuk. Bukan kah sebelumnya, Rindu ingin resign dari kantor?”

Elang mengangguk. “Tadinya begitu, tapi sepertinya belum.”

Sebelum kejadian malam yang tak mengenakkan saat melayani suami dan berakhir sang suami memanggil nama wanita lain, terlintas dibenak Rindu untuk mengundurkan diri dari kantor bersamaan dengan pensiunnya Dirga. Rindu juga ingin benar – benar mengabdikan hidupnya pada keluarga dan fokus mendapatkan momongan. Selain itu, ia juga khawatir tidak mendapatkan bos yang sama seperti Dirga lagi.

Bella menatap putranya. “Kamu dan Rindu tidak sedang bertengkar ‘kan?”

Kepala Elang langsung menggeleng cepat. Pria itu paling takut dengan sang ibu, apalagi beberapa keuangan aset penting keluarganya masih dikelola oleh sang ibu.

“Tidak, Mama. Lagi pula apa yang membuat kami bertengkar?” Elang balik bertanya dan meyakinkan sang ibu bahwa rumah.

“Kamu itu, terlalu cuek dengan istrimu,” ujar Bella dengan kesal. “Kamu juga terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Jadi, Rindu juga memilih sibuk bekerja untuk menghilangkan kejenuhan berada di rumah sendiri.”

“Terus Mama menyalahkanku. Sebenarnya anak Mama siapa?” tanya Elang yang juga ikut kesal, pasalnya sang ibu selalu membela menantunya, bukan dirinya yang merupakan anak kandungnya.

Bella tak menjawab pertanyaan itu, karena ia yakin sang putra sudah mengetahui jawabannya. Wanita paruh baya itu malah memerintah sang putra. “Ya sudah, sekarang ke atas lagi. Panggil istrimu! Mama sudah menyiapkan makan malam.”

Elang masih belum beranjak. Tubuhnya masih menempel dengan kursi. Rasanya, malas jika harus menaikkan anak tangga lagi.

“Lang.” Bella gemas dan memanggil putranya dengan sedikit menaikkan nada.

“Iya, Mama.” Akhirnya, Elang bangkit dan mendekati tangga, lalu menaikinya.

Tak berapa lama kemudian, ia sampai di depan kamar dan membuka pintu itu perlahan. Di sana, ia melihat Rindu dengan handuk yang melilit di tubuhnya.

Grep

Elang memeluk sang istri dari belakang.

Rindu pun terkejut. Kepalanya langsung menoleh ke kepala Elang yang sedang mengecup bahu mulusnya yang terbuka.

“Lang.”

“Tubuhmu wangi, Rin.”

Rindu merasakan hembusan nafas Elang yang memburu.

“Sudah lama kita tidak melakukannya. Aku terlalu sibuk.”

Sungguh, perkataan itu menggelikan telinga Rindu.

“Lang.”

Rindu berusaha untuk melepas dari kungkungan itu, tapi justru pelukan Elang semakin erat.

“Aku menginginkanmu, Rin.”

“Lang, tapi di bawah ada Mama.” Rindu beralasan agar terbebas.

Sungguh, ia belum bisa melakukan itu, apalagi setelah melihat apa yang dilakukan Elang padanya tempo hari. Meski masih dalam pencarin bukti, tapi tetap saja untuk bercinta, Rindu sangat malas melakukannya.

“Eum.” Rindu menahan lenguhan saat Elang menggigit lehernya dengan lembut. Ia sengaja menggigit bibirnya agar lenguhan itu tak terdengar.

Meski ia juga menginginkan hal ini, tapi Rindu memiliki harga diri. Ia ingin menyelesaikan dahulu urusan tentang suaminya yang mencurigakan itu.

Kemudian, Elang membalikkan tubuh Rindu, lalu menghimpit tubuh Rindu pada lemari besar yang tadi wanita itu hadapan.

Elang semakin melancarkan aksinya. Ia sengaja tak memberi ruang Rindu untuk keluar dari kungkungan itu.

“Aku merindukanmu, Rin. Ayo kita bercinta!” Elang sudah memiringkan wajahnya dan hendak menempelkan bibirnya pada bibir Rindu.

Rindu tak kuasa. Ia sudah berusaha memberontak, tapi kekuatan Elang jauh lebih besar.

“Lang, lepas! Kasihan Mama menunggu kita di bawah.”

“Biarkan saja!” ujar Elang. “Mama pasti maklum kalau kita tidak turun. Lagi pula kegiatan yang kita lakukan itu untuk memenuhi keinginannya bukan? Aku ingin memberinya cucu.”

“Rindu, Elang, kenapa kalian lama sekali?” suara Bella bak pahlawan bagi Rindu, karena setelah suara itu memanggil, Elang pun melonggarkan kungkungan.

“Iya, Ma. Sepuluh menit lagi, kami keluar!” teriak Elang yang masih berada di delan Rindu

Namun, untuk memastikan sang ibu tidak menunggu, Elang menjauh dari tubuh sang istri dan membuka pintu kamar.

Kemudian, ia menjawab pertanyaan itu. “Sebentar lagi, kami akan keluar Ma,”

Mata Bella mendelik, melihat sang putra yang membuka pintu kamar itu lebar sehingga menampilkan menantunya yang hanya berbalut handuk saja.

“Sebentar lagi, kami turun, Ma. Maaf, Rindu pakai baju dulu.”

Senyum terbit dari bibir Bella. Melihat pasangan suami istri berada lama di kamar dan ketahuan Rindu yang sedang sexy, Bella pun setuju jika mereka tak keluar kamar.

Selang beberapa menit, Elang dan Rindu akhirnya menemui sang ibu di ruang makan untuk menikmati makan malam bersama.

Usai menikmati makan malam, Rindu pamit pada sang ibu dan meminta untuk istirahat lebih dulu. Beberapa menit kemudian, Elang pun ikut pamit dan hendak beristirahat juga.

Di kamar, Elang yang ingin mengajak istrinya bercinta sejak tadi, nyatanya ditinggal tidur oleh sang istri.

“Rin, kamu sudah tidur?” tanyanya saat mendekati Rindu dan mendapati sang istri yang sudah berbaring miring membelakangi dengan suara dengkuran yang halus.

Rencana Elang pun gagal. Akhirnya, ia memilih memeluk pinggang Rindu dari belakang setelah ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang itu dengan posisi yang sama seperti Rindu.

“Permintaanmu terlalu banyak, Sam. Aku cuma minta tolong sekali ini loh.”

Elang mendengar suara manja Rindu yang biasanya hanya ditujukkan padanya. Kemudian, ia pun mendengar tawa Rindu yang renyah.

Pagi itu, lengannya yang semula melingkar di pinggang Rindu saat tidur, tak lagi terasa. Elang bangun dan mendapati pintu balkon terbuka.

“Ck. Gombal!” Rindu tertawa sambil memegang benda pintar miliknya yang menempel pada pipi.

“Ck. Ya udah kerjakan dulu tugas. Bye!” Rindu mematikan sambungan telepon, karena ketika dilayani, Sam akan menjadi-jadi.

Klik

Rindu mematikan sepihak telepon itu. Namun, dengan bibir yang masih tersenyum sembari menatap layar telepon.

“Ekhem.” Elang berdehem.

Rindu pun terkejut dan menoleh. Keterkejutan Rindu justru diartikan seperti seorang wanita yang kepergok selingkuh dengan bercengkerama ria pada pria yang bukan suaminya.

“Telepon dari siapa?” tanya Elang ketus sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana tidur berbahan kaos yang berwarna abu-abu muda “Hah! Apa?” tanya Rindu yang masih terkejut. ia terkejut bukan karena takut pada Elang tapi pada hantu atau makhluk tak kasat mata, yang tiba–tiba memanggilnya dari belakang.

“Oh, tadi? Dia itu Sam, anak It di kantor.” Rindu melanjutkan perkataannya.

“IT? Apa dia yang membuatmu berubah akhir–akhir ini? Dia juga ikut ke Jogja?” Elang memberondong pertanyaan.

Memang benar apa kata orang, jika orang itu selingkuh, maka ia akan posesif berlebih pada pasangannya karena mengira pasangannya sama dengannya.

“Maksudmu apa? Aku tidak mengerti?” Rindu balik bertanya karena ia memang benar–benar tidak mengerti dengan pertanyaan itu.

“Halah, pura–pura. Akhir–akhir ini sikapmu dingin padaku. Tidak biasanya. Apa pria yang kamu telepon tadi penyebabanya? Dia juga ikut ke Jogja dan kalian dekat selama tiga hari itu?”

Dahi Rindu semakin mengernyit. “Apa sih maksudmu, Mas? Aku ga ngerti.”

Rindu memilih pergi dari balkon. Namun, Elang mencekal pergelangan tangannya.

“Aku belum selesai bicara,” ucapnya.

“Apa? Bicara apa? Aku ga ngerti.”

“Kamu selingkuh dengan IT di kantormu?”

“Apa sih, Mas? kamu menuduh tanpa bukti,” jawab Rindu kesal.

“Buktinya, kamu berbeda setelah pulang dari Jogja.”

Kepala Rindu menggeleng. Ia tak ingin meladeni Elang dan memilih untuk keluar dari kamar. Namun, Elang kembali menahannya dengan sebuah teriakan.

“Mumpung di sini lagi ada Mama.”

“Terus, kenapa kalau ada Mama?” tanya Rindu kesal dengan tuduhan yang tak mendasar itu.

Hanya karena ia menerima telepon dari Sam, lalu dengan mudahnya Elang menuduh dirinya berselingkuh? Apa tidak salah?

“Maling teriak maling,” teriak Rindu dalam hati.

Matanya menatap nyalang Elang. Rindu memberi tatapan yang sulit diartikan.

1
Mawar
masih nyimak lnjut kak.
Mawar
itu sirindu tambah malu rayen.
Mawar
elang mmg gila sex bukannya taubat malh mkin menggila.
Mawar
rasain km elang,kepergik ma bella.
Mawar
kalau soal wanita bw agama klw soal hkum yg lain lp ma agama, yg km lakukan zina elang dosa besar.
Mawar
lnjut kak.
Mawar
apa yg akan tejadi sama rindu ya,😕😕
Mawar
cerai ja rindu km lebih baik sm rayen aja drpd sm elang udh celup sana sini.
Mawar
lnjut kak.rindu merasa bersalah sdangkan elang biasa ja tu.
Mawar
jijik lht kelakuan elng.
Mawar
gk ush maafin sielang rindu.
Mawar
itu pasti sielang mau ketemu simiskha jijik deh, kadihan rindu jngn mau diajk bercinta sama elang rindu.
Mawar
laki2 gak peka emang si elang itu meningan hempaskan ja rindu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!