NovelToon NovelToon
JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Elizabetgultom191100

Aqira yang awalnya merupakan seorang pelayan di sebuah rumah mewah yang dihuni oleh keluarga Charles, harus terjerat dalam pernikahan yang direncakan oleh Tuan dan Nyonya Charles.
Mereka berencana menikahkan Aqira, gadis belia sembilan belas tahun dengan putra sulung mereka, Brian Charles.

Brian yang notabenenya adalah pria dingin dan sombong harus menikahi seorang gadis yang merupakan pelayan di rumahnya. Bagaimanakah sikap Brian pada gadis pelayan itu? Apakah cinta mereka akan bersemi seiring berjalannya waktu.

Baca terus novel ini jika ingin tau kelanjutannya.


FOLLOW IG AUTHOR : Lisa_gultom

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elizabetgultom191100, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan pergi...

Happy reading

Like dulu sebelum baca ok😉

"Maksudku, apakah Brian sudah berangkat kerja?" tanya Aqira penasaran. Walaupun keceriaannya sudah kembali, jujur saja, Aqira masih takut jika harus bertemu dengan Brian.

"Sepertinya Tuan belum keluar sejak tadi Nona." jelas Bi Lusi.

Aqira mengernyitkan keningnya, "Bukankah jam segini dia sudah berangkat, ini sudah sangat terlambat."

"Maaf Nona. Selama Nona mengurung diri di kamar, Tuan Brian tidak pernah keluar rumah sama sekali.

Tuan Brian sangat khawatir dengan keadaan Nona, bahkan Tuan selalu meminta saya untuk memantau kondisi Nona." Aqira tertegun mendengar penuturan Bi Lusi.

Benarkah Brian mencemaskannya, pikirnya.

"Apakah Nona masih takut dengan Tuan Brian?" tanya Bi Lusi ketika melihat raut kebingungan di wajah Aqira.

"Mm.. jujur saja Bi, aku masih takut.

Aku memang mencintainya, tapi perbuatannya kemarin meninggalkan trauma dalam diriku, Bi." jawab Aqira dengan wajah sendu, dengan tatapan kosong.

"Saya mengerti Nona. Wajar saja Nona jika Nona masih trauma, tapi jika Nona melihat bagaimana betapa menyesalnya Tuan Brian akan perbuatannya, saya rasa Nona akan berubah pikiran."

Aqira menatap Bi Lusi dengan bingung, dan seakan tau arti dari tatapan Aqira, Bi Lusi melanjutkan ucapannya.

"Saya mengatakan seperti itu karena saya melihatnya sendiri Nona."Bi Lusi menghentikan kalimatnya sejenak.

"Apa Nona tau, makanan yang Nona makan beberapa hari ini adalah masakan Tuan Brian." senyuman kecil terselip di sudut bibir Bi Lusi, membayangkan bagaimana konyolnya Tuan Mudanya ketika memasak untuk Aqira tempo hari.

"Ma..mana mungkin Bi, Bi jangan bercanda." Aqira nampakknya tidak percaya akan ucapan Bi Lusi.

"Tidak Nona, saya tidak bercanda. Tanyakan saja pada pelayan lain. Bahkan saya sendiri yang membantu Tuan Brian memasak. Itupun saya hanya di suruh melihat dan mengarahkan cara memasak saja, dan tidak membiarkan kami menyentuh masakan itu."

Aqira terperangah seketika mendengar cerita Bi Lusi, Brian memasak untuknya? Pantas saja rasa makanan yang dimakannya kemarin berbeda dengan masakan Bi Lusi.

"Satu lagi nona, Tuan Brian selalu duduk menunggu di depan pintu kamar Nona, berharap Nona mau keluar dari kamar. Saya selalu membangunkan Tuan ketika tengah malam untuk kembali ke kamar sebelah." tutur Bi Lusi lagi.

•••

Aqira berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar yang Brian tempati, menunggu Brian keluar dari dalam sana.

Hampir dua puluh menit dia menunggu di sana, tapi Brian tidak kunjung keluar. Hal itu membuat Aqira menjadi cemas, sedang apa lelaki itu di dalam sana, apa terjadi sesuatu dengan suaminya itu?

Akhirnya Aqira memutuskan untuk mengetuk kamar itu, dengan ragu tangannya bergerak mengetuk pintu kayu itu.

Aqira menunggu beberapa saat, tapi pintu belum terbuka, Brian juga tidak menyahut.

Aqira memberanikan diri membuka kamar itu, untung saja pintunya tidak terkunci.

Mata bulat gadis itu menyusuri setiap sudut kamar itu, mencari-cari keberadaan Brian.

Tidak ada siapa-siapa di kamar ini, dan kamar mandi juga terlihat kosong. Dimana sebenarnya pria itu?

Saat Aqira ingin berbalik keluar dari kamar, Aqira melihat pintu balkon kamar itu sedikit terbuka, apakah Brian ada di sana, pikirnya.

Langkahnya terhenti ketika sampai di balkon dan betapa terkejutnya dia, mendapati sang suami duduk menyender di besi pembatas balkon itu.

Terdapat beberapa botol minuman alkohol yang sudah kosong berserakan di sekitar pria itu. Nampaknya pria itu mabuk semalaman ini.

Aqira seketika berjongkok di depan Brian, ketakutannya pada pria itu hilang begitu saja, ketika melihat Brian terkulai lemah seperti ini.

"Brian..." Aqira menepuk pelan wajah pucat Brian. Aqira menyentuh kening Brian menggunakan punggung tangannya, terasa panas sekali, "Panas sekali, dia demam."

Tanpa pikir panjang Aqira membopong tubuh besar Brian menuju kamar. Walaupun dengan susah payah, akhirnya Aqira berhasil merebahkan tubuh Brian di atas tempat tidur.

Aqira segera turun ke dapur mengambilkan air hangat untuk mengompres Brian.

Setelah beberapa saat Aqira kembali ke kamar dengan wadah berisi air hangat dan sebuah handuk kecil di tangannya.

Aqira meletakkan handuk yang sudah dibasahi itu dikening Brian dengan hati-hati.

Berulang-ulang membasahi handuk itu hingga demam pria itu mulai menurun.

"Huh..panasnya sudah mulai turun." Aqira menghela napas lega, setelah memeriksa suhu tubuh Brian yang sudah mulai normal.

Aqira duduk di pinggir ranjang di samping Brian, memandangi wajah lelaki itu lekat.

Wajah tampan yang dulu selalu melihatnya seakan merendahkan kini terlihat teduh dalam tidurnya.

"Sebenarnya mantra apa yang kau gunakan hingga membuatku tidak dapat membencimu, walau sudah berulang kali kau menyakitiku?" lirih Aqira yang masih memperhatikan Brian.

"Aku menjadi seperti gadis bodoh karena tetap mencintaimu. Ya, aku menjadi bodoh karena dirimu, karena cintaku begitu besar padamu.

Tapi kenapa, sekalipun kau tidak pernah melihat cintaku, apakah aku memang seburuk itu dalam pandanganmu?" Aqira menghela napas kasar.

"Mungkin setelah aku pergi, kau akan menyadari begitu berartinya keberadaanku untukmu." Aqira bangkit dari duduknya, melangkah keluar setelah beberapa saat memandang wajah Brian dengan sendu.

Langkahnya terhenti, ketika sesuatu mencekal tangannya.

"Ka..kau sudah bangun?" Aqira menjadi gugup saat mendapati Brian sudah bangun dan menatapnya dengan wajah sendu.

"Jangan pergi." lirih Brian penuh permohonan.

"A..aku.."

"Aqira kumohon." seakan terhipnotis saat Brian kembali memanggil namanya, Aqira langsung menganggukkan kepalanya.

Brian mencoba untuk bangkit dari tidurnya, dengan sigap Aqira membantu Brian untuk duduk menyandar di kepala ranjang.

"Terima kasih."

"Iya."

"Maafkan aku..." ucap Brian lembut.

"Aku sudah memaafkanmu." Aqira menundukkan kepalanya.

"Terima kasih telah memaafkanku. Aku benar-benar terbawa emosi saat itu."

"Tidak usah dibahas lagi, semuanya sudah berlalu." Aqira masih menundukkan kepalanya.

"Baiklah. Aku tidak membahasnya lagi."

Keheningan terjadi di antara kedua anak manusia itu hingga beberapa saat.

"Kau masih takut padaku?" Brian memecah keheningan di antara mereka.

"Ti..tidak." Aqira terbata-bata.

"Tapi kenapa kau selalu menundukkan kepalamu?"

"Lihat aku, aku tidak akan berbuat macam-macam lagi. Tenang saja." Brian berucap dengan lembut.

Aqira mengangkat kepalanya, melihat tatapan Brian yang memandangnya lembut.

"Maafkan aku atas semua kesalahanku selama ini. Aku berjanji mulai detik ini, aku tidak akan menyakitimu lagi." ucap Brian dengan sungguh-sungguh.

"Aku sudah memaafkan semuanya, tidak usah dipikirkan lagi."

"Terima kasih sayang." tubuh Aqira membeku ketika Brian memanggilnya seperti itu.

Aqira kembali menatap manik pria itu, Brian tengah tersenyum manis kepadanya.

Aqira terpesona, suaminya sangat tampan pagi ini, bahkan dalam keadaan sakit pun pesonanya tidak berkurang sedikitpun.

"Bolehkah aku memelukmu?" Brian bertanya dengan hati-hati.

Entah apa yang merasuki Aqira hingga kembali mengangguk menerima permintaan sang suami.

Brian tersenyum senang, ternyata Aqira sudah tidak takut lagi padanya.

Saat Aqira beringsut menggapai tubuh Brian yang terbuka lebar siap menyambut tubuhnya, tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar itu.

Aqira seketika menjauhkan tubuhnya dari Brian, kembali duduk di tempat semula dengan wajah yang sudah merah merona.

Sedangkan Brian terlihat salah tingkah memperbaiki posisi duduknya.

"Maaf Tuan, Nona. Sepertinya saya mengganggu. Saya hanya mengantar bubur yang Nona minta saya buatkan tadi." ternyata yang masuk adalah Bi Lusi yang datang dengan semangkok bubur di atas tangannya. Terselip senyum simpul di sudut bibir Bi Lusi, senang melihat kedua majikannya sudah berbaikan.

"Tidak apa-apa Bi." Aqira berjalan menghampiri Bi Lusi dengan salah tingkah. Mengambilalih bubur itu dari tangan Bi Lusi.

"Kalau begitu, saya permisi dulu Nona, Tuan."

pamit Bi Lusi yang langsung bergegas keluar dari kamar itu.

Setelah Bi Lusi pergi, keduanya terlihat canggung. Malu karena Bi Lusi telah memergoki mereka berdua.

"Mmm... ingin kusuapi?" tanya Aqira dengan ragu setelah duduk kembali di samping Brian.

Brian tersenyum sumrigah mendengar tawaran Aqira, "Boleh. Sepertinya tanganku sudah tidak bisa lagi digerakkan." Brian sedikit bercanda untuk mencairkan suasana di antara mereka.

"Jangan melebih-lebihkan." Aqira terkekeh.

Aqira menyuapi Brian dengan lembut, terkadang terdengar tawa di sela Aqira menyuapi pria itu.

Brian menghabiskan buburnya hingga tandas tak bersisa. "Sepertinya kau sangat kelaparan, mau kubuatkan makanan lagi?"

"Tidak usah, aku sudah kenyang." Brian menyentuh perutnya sebagai tanda kalau dia benar-benar kenyang.

"Kalau begitu tunggulah sebentar, aku akan menyimpan bekas mangkok ini dulu."

Aqira beranjak dari duduknya.

"Jangan pergi.."

"Iya, aku tidak pergi. Aku hanya ke dapur sebentar."

"Jangan pergi dari hidupku." Aqira terdiam begitu mendengar ucapan Brian.

Brian tidak ingin dia pergi dari sisinya? Apakah pria ini telah membuka hatinya?

Aqira tersenyum tipis, membayangkan Brian telah mencintainya. Ya Tuhan, semoga saja ini bukan mimpi.

.

.

.

.

Udah dulu yah, capek banget nulisnya.

Padahal vote kalian pada slow😥.

Vote yang banyak dunks, biar author makin semangat nulisnya.

.

.

.

.

.Love you all😘😗

.

.

.

.

.

1
Diana Resnawati
seru ceritanya
Diana Resnawati
mampir thor...
Marlina
buat cerai sama Bryan,biar dia tau arti kehilangan &dimarah habis2 an sama ortunya
MuhammadSatrya Ananami
yg no2 aku syuka 😍😍😍
MuhammadSatrya Ananami
keren Thor...lanjut😍😍😍
Enyzubaidah
masih sering salah tulis nama Brian dan hans
Siti Rukayah
yg prtma thor
Sri Susilowati
crtanya bagus alurnya rapi
Hasanah
yg kedua lebih pas
Ros Lina
update kelanjutannya thor
Nana Bati
akhirnya bahagia.... selamat thor 👍👍👍
Nana Bati
seruuuu .... mulai bucin Brian....
semangat thor👍👍👍
bunda dinda
kayaknya Brian lagi ekting
bunda dinda
salam kenal Thor aku baru baca...yang ke 2 lebih ok kyknya👍🤗😘
Zai Nuddin
hans tau bran
Zai Nuddin
bukanya hans
Jas Wati
udah tinggalin aja tu cowok meyeballan
Jas Wati
dasar pria kejam
Jas Wati
tuan muda yang kejam
Jas Wati
tuan muda yang munafik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!