Suatu hari, dunia berubah. Gerbang-gerbang misterius mulai terbuka, melepaskan monster-monster yang mengancam untuk memusnahkan umat manusia. Kini, satu-satunya cara bertahan hidup adalah memburu dan membasmi mereka sebelum semuanya terlambat.
Di tengah kekacauan itu, ada seorang pria yang dikenal dengan julukan "Swordsman Mage Terlemah", Zeha. Tak disangka, ia memperoleh kekuatan dari sebuah kristal aneh, membawanya pada misi untuk mengumpulkan sepuluh Fragments of Eternal Power demi menjadi yang terkuat.
Salah satu kekuatan itu, High-Demonic Eyes-warisan dari Immortal Demon yang tersegel di dalam Demon Crystal, secara tak sengaja terbangun dan menyatu dengannya. Sejak saat itu, Zeha berjalan di antara cahaya dan kegelapan, memegang kekuatan para dewa sekaligus iblis.
Dengan tekad yang tak tergoyahkan, ia bersumpah akan menjadi penyihir terkuat, melindungi manusia, dan mengakhiri bencana yang melanda dunia.
+
+
Karya Fantasi-Aksi pertama!
Ayo buruan bacaaa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivi Aulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 - DOMAIN KEGELAPAN
Zeha merasakan adanya kontak sihir yang sangat aneh dengan jantungnya. Sinkronisasi terasa sangat berbeda dengan pecahan sihir Litch. Yang dia rasakan sekarang begitu pekat dan menusuk.
"Ada apa, Zeha?"
Panggilan dari Klaus sukses menyentakkan lamunannya.
"T-tidak ada." Zeha langsung berlari kecil menyusul Klaus yang sudah masuk ke dalam ruangan.
Sinkronisasi sihirnya semakin kuat. Zeha mengernyit bingung melihat sikap Klaus yang tampak biasa-biasa saja, seolah dia tidak merasakan kontak apapun dari energi sihir yang dipancarkan.
"Mungkin dia sudah terbiasa dengan energi sihir di sini...?"
"Zeha, lihatlah."
Atensi Zeha sukses teralihkan. Matanya membelalak melihat berbagai macam artefak bergantung di dinding. Setiap senjata memancarkan energi sihir yang berbeda-beda. Hanya dengan melihatnya saja Zeha tahu bahwa semua artefak ini memiliki nilai yang begitu tinggi.
Salah satu artefak yang paling membuatnya penasaran adalah orb berwarna hitam yang terpajang rapi di sudut ruangan.
Tidak salah lagi, sinkronisasi sihir pekat dan aneh yang dia rasakan itu berasal dari orb tersebut.
"Apa ada sesuatu yang spesial dari orb itu? Kau terus memandanginya." Klaus menghampiri orb tersebut.
"Oh, tidak. Aku hanya sedikit...tertarik?"
"Hm? Tertarik?" Klaus mengangkat alisnya, bingung.
"Maksudku, orb itu seakan-akan memanggilku." Zeha terkekeh gugup. "Apa yang aku bicarakan sebenarnya...?!"
Anehnya, Klaus malah menyeringai dan menjulurkan kedua tangannya. "Aku mengerti. Kau ingin mengaktifkan orb ini?"
Kedua alis Zeha terangkat, ia terkejut. "Hah?"
"Orb ini tidak pernah diteliti selama bertahun-tahun. Tidak ada yang bisa menelitinya bahkan para petinggi dari Menara Sihir. Melihatmu tertarik pada orb ini, mungkin saja kau bisa melakukan sesuatu."
"Jadi belum ada yang tahu orb apa itu sebenarnya?"
"Benar."
Zeha terkejut. Ia sangat ingin menyerap energi sihir dari orb itu, namun entah kenapa dia merasakan sedikit kewaspadaan. Orb itu terlihat cukup berbeda dengan pecahan sihir Litch, warnanya sangat bertolak belakang.
"Jadi, apa yang ingin kau lakukan pada orb ini?"
Zeha terdiam sejenak, merasa cukup ragu untuk memberitahu Klaus soal kemampuannya yang bisa menyerap sihir dari sebuah orb.
Meski begitu, Klaus adalah penanggung jawab orb ini, tidak bagus jika dia berbohong.
"Aku akan menyerap kekuatan sihir dari orb ini."
Klaus terkejut, seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak dapat dipercaya. "Menyerap kekuatan sihir...katamu?"
"Iya." Zeha sedikit gugup, ia tahu perkataannya ini sulit untuk dipercaya, bahkan bagi Klaus sendiri.
"Jadi orb ini memiliki kekuatan sihir, namun hanya beberapa orang yang bisa memilikinya?"
"Lebih tepatnya, hanya aku."
Klaus terkejut lagi. "Maksudmu orb ini memang dibuat untukmu?"
"Yah...begitulah." Zeha tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia juga tidak ingin mengungkapkan seluruh rahasia kekuatannya pada Klaus, terlebih dia juga belum sepenuhnya memecahkan misteri soal kekuatan yang ia miliki.
Klaus terdiam, berpikir sejenak.
"Y-yah, mungkin ini memang sulit dipercaya. Namun aku mengatakan yang sejujurnya..."
Klaus terkekeh. "Aku percaya padamu. Fakta bahwa tidak ada yang tahu soal orb ini sudah membuktikan bahwa orb ini memang diciptakan untuk orang-orang tertentu saja, contohnya dirimu."
"Yah, sebenarnya aku juga kurang yakin. Aku memang merasakan sedikit koneksi dengan orb ini, namun aku kurang yakin benar-benar bisa melakukan penyerapan sihir."
"Apakah sebelumnya kau sudah pernah melakukan penyerapan sihir?"
"Oh, iya..."
Klaus menghela napas. "Ternyata begitu."
Sekarang Klaus sudah menemukan alasan mengapa Zeha bisa tiba-tiba memiliki sihir. Namun tentu saja, penyerapan sihir itu adalah hal yang pertama kali terjadi di Akademi ataupun Kekaisaran. Belum ada kasus dimana seseorang mendapatkan kekuatan sihir dari sebuah orb.
"Sir Klaus, bisakah kita pindah ke tempat yang lebih luas? Untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu saat aku melakukan penyerapan sihir." Zeha bertanya.
"Tentu saja. Aku memiliki tempat yang sesuai untuk itu. Ikuti aku."
-
-
-
Mereka memasuki ruangan latihan pribadi di Akademi. Tempat latihan ini biasanya dipakai sebagai latih tanding antar Swordmans Mage terkuat di Kekaisaran, yaitu mereka yang disebut sebagai sepuluh swordmans mage terkuat.
"Tempat ini benar-benar luas..." Zeha melihat ke sekeliling. Dia sangat yakin kalau ketahanan dinding dan lantai tempat ini sangatlah kuat.
"Baiklah, kau bisa melakukannya di sini," ucap Klaus, menyilangkan kedua tangannya.
Zeha tersentak. "Oh, baik."
Zeha duduk bersila dan meletakkan orb hitam itu di depannya. Ia meletakkan kedua telapak tangannya pada orb itu, dan menutup mata.
Klaus memperhatikan dengan seksama bagaimana proses penyerapan sihir itu dilakukan. Orbnya tiba-tiba bereaksi, asap hitam mengepul di sekitarnya dan semakin bertambah disetiap detiknya.
Wajah Zeha meringis seolah menahan sakit. Energi yang kuat meluap dari dalam orb, memaksa masuk ke dalam tubuhnya.
Klaus terkejut merasakan gelombang sihir asing yang kuat menyelimuti tubuh Zeha. "Sihir ini...?!"
"Uukkh...!" Rahang Zeha mengeras, rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya, seolah sedang diterpa oleh angin yang sangat kuat.
Gelombang sihir semakin kuat, badai menyelimuti dirinya. Orb tiba-tiba pecah, kegelapan yang tadi tertahan kini keluar dan melahapnya.
"Zeha!" Klaus berteriak panik, dan dengan cepat menghampirinya. Namun ia langsung terpental jauh ketika hendak menyentuhnya.
Refleks yang cepat berhasil membuatnya tetap berdiri tanpa terjatuh. "Sial... sihirnya sangat tidak biasa."
________________
"Litch! Sir Klaus! Kalian ada di mana?!"
Zeha terjebak di dalam kegelapan yang tidak berujung. Meski dia terus berlari, dia tetap tidak menemukan ujungnya, hanya menyisakan napas yang terengah.
"Apa-apaan ini...? Di mana aku?"
Zeha memperhatikan ke sekelilingnya, tidak ada apa-apa, hanya kegelapan.
"Ini adalah kegelapan."
Suara seorang pria tiba-tiba mengejutkannya. Zeha berbalik, dan mendapati seorang pria yang berdiri cukup jauh darinya. Ia tidak bisa mengenali sosok itu karena setengah dari tubuhnya tertutup oleh kegelapan.
Zeha berlari, berusaha menghampiri pria itu, namun dia tidak bisa menutupi jarak di antara mereka. Seolah-olah dia berlari di tempat.
"Domain ini belum sempurna karena kau hanya memiliki setengah dari kekuatan Mata Iblis. Kita terhubung karena aku juga memiliki setengah dari kekuatan itu."
Zeha membeku, terkejut bukan main. "Apa yang kau katakan?! Mata Iblis?! Sebenarnya apa itu?!"
"Kau akan mengetahuinya nanti."
"Sebenarnya kau siapa?!"
Pria itu terdiam selama beberapa saat. "Cepat atau lambat, kita akan bertemu. Saat itu, salah satu dari kita akan mati."
Sosok pria itu perlahan menghilang bak ditelan oleh kegelapan.
"Tunggu! Hei!"
Zeha tersentak kaget, dan ketika membuka mata, dia sudah kembali di ruangan latihan Akademi, duduk bersila seperti posisi awal. Terkejut, ia langsung berdiri dan melihat ke sekeliling, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi padanya barusan.
"Sudah selesai?"
Zeha tersentak kaget, melihat Klaus bersandar di dinding sambil menyilangkan kedua tangannya, menatapnya tajam.
"Sir Klaus...apakah tadi terjadi sesuatu padaku?"
"Hm...sesuatu, ya?" Klaus beranjak dari tempatnya, melangkah pelan mendekati Zeha. "Itu lebih disebut sebagai keanehan, atau mungkin keganjilan."
Zeha terkejut.
"Apa kau mengalami sesuatu dibawah alam sadarmu?" tanya Klaus.
"Oh...benar."
Klaus berpikir. "Memang proses penyerapan sihir yang kau lakukan tadi sedikit mengejutkan. Aku belum pernah melihat proses penyerapan sihir, jadi mungkin itu adalah hal yang biasa. Namun sihir yang aku rasakan tadi...sungguh ganjil."
"Apa maksudmu?"
"Dark Mage."
Zeha terkejut.
"Sihir yang kau serap tadi sangat mirip seperti sihir Dark Mage. Aku pernah bertarung dengan mereka, jadi aku tahu bagaimana bentuk sihir mereka. Namun tetap saja, ada perbedaan antara sihir yang kau serap dengan sihir mereka."
Zeha diselimuti oleh dilema yang cukup kuat. Ia ragu apakah dia harus menceritakan yang sebenarnya tentang 'Mata Iblis' atau tetap menyembunyikannya.
"Apapun itu, selamat karena sudah mendapatkan kekuatan sihir yang baru."
"O-oh, terima kasih atas orbnya, Sir Klaus."
Klaus tersenyum. "Itu bukan masalah. Aku senang kalau artefak yang menganggur selama bertahun-tahun itu akhirnya memiliki kegunaan."
Zeha terkekeh gugup, entah kenapa dia tiba-tiba merasa seperti diwaspadai.
"Baiklah, ayo kembali ke ruanganku. Ada beberapa hal yang harus kita bahas." Klaus berbalik, dan melangkah keluar dari ruangan latihan.
"Baik."