NovelToon NovelToon
Obsesi Mr.Mafia

Obsesi Mr.Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?

Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.

Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.

Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.

Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.

Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OMM — BAB 31

PERMAINAN SESEORANG??

Silas tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertahan pada pintu yang telah tertutup, lalu perlahan beralih kepada Hana yang berdiri dengan napas sedikit memburu di ambang pintu.

"Kapan?" tanyanya singkat.

"Dua puluh jam yang lalu, Tuan. Informasi dari orang kita di sana. Polisi belum datang. Mereka masih menunggu keputusan dari keluarga."

Myra yang berdiri di belakang Silas mengeratkan pegangan pada sisi meja. Wajahnya pucat.

"Fernando..."

Silas menatap Hana kembali. "Panggil Kael. Siapkan mobil. Pikkey?"

Wanita bernama Hana itu mengangguk cepat.

"Pikkey sudah berangkat lebih dulu ke kediaman Bianco setelah mendapat kabar, Tuan. Ia menunggu di sana."

"Hm."

Silas berbalik. Ia berjalan melewati Myra tanpa menyentuhnya, langkahnya cepat dan tegas menuju ruang tengah. Myra mengikuti di belakangnya. Di ruang tengah, Kael baru saja masuk dengan jas yang masih setengah terpasang. Di belakangnya, suara roda kursi terdengar pelan.

Markie.

Wanita itu mendorong kursinya sendiri mendekati Silas. Wajahnya tegang, meski sorot matanya berusaha tetap tenang.

"Aku dengar," ucap Markie pelan. "Fernando meninggal?"

Silas berhenti tepat di depan pintu utama. Ia menoleh. "Ya."

"Aku ikut."

Pernyataan itu keluar tanpa jeda. Silas menatap wanita itu dalam diam selama beberapa detik.

"Tidak."

Markie mengerutkan alisnya. Tangannya mengepal di atas sandaran kursi roda.

"Silas, dia—"

"Kondisimu masih di atas kursi roda," potong Silas, suaranya rendah namun tajam. "Kau tidak akan bisa bergerak jika ada sesuatu terjadi di sana. Jika ada musuh, lukamu akan semakin parah."

Rahang Markie mengeras. Kata-kata itu menghantam tepat di dadanya. Amarah terlihat jelas di matanya, namun ia tidak bisa membantah. Kedua kakinya yang masih lemah menjadi kenyataan yang tidak bisa ia lawan. Ia terdiam, menatap lantai dengan napas yang tertahan.

Myra melihat itu. Ia melangkah maju.

"Kalau begitu biar aku saja yang ikut," katanya.

Silas menoleh kepada Myra. Tatapannya dingin. "Tidak. Kau tetap di rumah."

"Tapi di rumah juga tidak bisa menjamin keamanan," jawab Myra cepat. Suaranya tidak tinggi, namun penuh keteguhan. "Jika sesuatu terjadi di Bianco, siapa yang bisa menjamin tempat ini akan tetap aman? Aku lebih baik ikut denganmu daripada menunggu tanpa tahu apa-apa."

Silas menatap istrinya lekat. Emosi tampak bergejolak di matanya. Ia ingin marah, namun ia menahannya. Myra yang keras kepala itu menatapnya balik tanpa mundur.

Beberapa detik berlalu dalam ketegangan.

Akhirnya Silas menghela napas pendek dan beralih kepada dua orang kepercayaannya.

"HANA," perintahnya tegas. "Kau tetap di mansion. Jangan biarkan siapa pun keluar masuk tanpa izin dariku."

"Baik, Tuan," jawab Hana, menunduk.

"Kael," lanjut Silas. "Hubungi Pikkey. Suruh dia kembali. Aku ingin dia berjaga di rumah. Bukan di Bianco."

Kael sedikit terkejut, namun ia segera mengangguk. "Baik, Tuan."

Silas kembali menatap Markie dan Myra bergantian. Suaranya kini lebih berat dan final.

"Kalian tetap di rumah. Jangan ada yang keluar sampai aku kembali. Itu perintah."

Setelah mengatakan itu, ia melangkah pergi. Pintu utama tertutup dengan bunyi pelan namun meninggalkan gema yang berat di dalam ruangan.

Dari sudut ruang tengah, di balik tubuh Penelope yang berdiri sedikit jauh dari kerumunan orang dewasa, Elina mengintip. Rambutnya yang masih berantakan sedikit menyembul. Ia mendengar potongan-potongan percakapan tadi, meski tidak sepenuhnya mengerti.

"Penelope," bisik Elina pelan sambil menarik ujung seragam kepala pelayan itu. "Siapa yang meninggal?"

Penelope segera berlutut dan mensejajarkan tinggi badannya dengan Elina. Ia tersenyum tipis, meski matanya menyimpan kegelisahan.

"Ini bukan urusanmu, Sayang," jawab Penelope lembut. "Ayo, kita masuk dan bermain lagi. Mereka sedang tidak bisa diganggu sekarang."

Elina mengerucutkan bibirnya, namun ia menurut.

Penelope menggandengnya masuk ke dalam, menjauh dari ruang tengah yang masih dipenuhi keheningan.

Myra menatap kepergian Silas hingga bayangannya hilang di balik pintu. Lalu ia menoleh kepada Markie yang masih diam, alisnya berkerut dalam, menatap kosong ke arah pintu yang sama.

"Siapa Fernando bagimu?" tanya Myra pelan.

Markie tidak langsung menjawab. Tangannya masih mengepal.

"Dia sudah seperti seorang kakek bagiku," ucapnya akhirnya, suaranya serak. "Ketika semua orang di keluarga itu membenciku, hanya dia yang masih mau memanggilku."

Myra terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.

Tidak lama kemudian, Hana masuk kembali dari arah lorong. Langkahnya tergesa. Markie langsung menatapnya tajam.

"Hana," panggil Markie. "Apa sungguh Fernando tewas karena dirinya sendiri? Bagaimana dengan Amber dan dua anaknya?"

Hana berhenti. Ia menatap Myra sejenak, lalu kembali kepada Markie. Wajahnya datar, namun ada keraguan di sorot matanya.

"Ya," jawab Hana. "Tapi belum sepenuhnya benar. Karena Fernando sendiri yang juga menginginkan kematian itu."

Kedua wanita itu terdiam mendengar jawaban tersebut.

Perjalanan menuju kediaman Bianco terasa panjang.

Tiga mobil hitam melaju beriringan membelah jalanan pagi. Di mobil paling depan, Kael mengemudi sementara Silas duduk di kursi belakang dengan tatapan lurus ke depan.

"Tuan," Kael membuka suara setelah beberapa lama diam. "Ada sedikit masalah di rumah pondok. Nyonya meronta ingin Anda datang."

Rahang Silas mengeras. Tangannya mengepal perlahan.

"Lakukan apa pun untuk membuatnya tenang," jawabnya dingin. "Lusa aku akan ke sana. Tapi kau pastikan tidak ada yang curiga saat aku ke sana. Karena Myra ikut perjalanan bisnis denganku."

"Dimengerti, Tuan," jawab Kael cepat.

Tidak ada lagi percakapan setelah itu. Mobil terus melaju hingga gerbang tinggi kediaman Bianco terlihat.

Di halaman depan, suasana terasa suram.

Peti mati kayu hitam milik Fernando telah diletakkan di tengah halaman, di bawah naungan pohon besar. Hanya ada beberapa orang di sana.

Amber berdiri dengan gaun hitam sederhana, wajahnya tanpa riasan. Oona berdiri di sampingnya dengan jubah tidur yang telah diganti dengan dress hitam. Pedro berdiri sedikit menjauh, dengan ekspresi berwibawa yang dibuat-buat. Beberapa anak buah berjaga di sekeliling.

Ketika mobil Silas berhenti, semua tatapan tertuju kepadanya.

Amber menatap sinis.

"Akhirnya kau datang juga," kata Amber ketus. "Kau datang untuk memastikan dia benar-benar mati, atau untuk merayakan kematiannya?"

Silas turun dari mobil dengan langkah tenang. Kael berada tepat di belakangnya.

"Aku datang karena Markie menganggapnya sebagai ayah," jawab Silas singkat. "Bukan karena undangan darimu."

Amber tersenyum miring.

"Tentu saja. Kau selalu punya alasan yang terdengar mulia. Padahal kau hanya ingin melihat keluarga ini hancur satu per satu."

"Aku tidak perlu melakukan apa pun," balas Silas datar. "Kalian sudah cukup ahli menghancurkan diri kalian sendiri dan aku yang menaburkan sedikit garam."

Ucapan itu membuat Amber terdiam. Bibirnya bergetar menahan amarah, namun ia tidak menemukan kata untuk membalas.

Di sisi lain, Oona tidak memperhatikan perdebatan itu. Tatapannya justru tertuju kepada Kael. Ia menyeringai kecil, sorot matanya penuh ketertarikan.

"Kau masih setia sekali, Kael," ujar Oona manja. "Kupikir kau sudah bosan menjadi bayangan."

Kael tidak menjawab. Ia tetap berdiri tegak di belakang Silas, wajahnya tanpa ekspresi dma rahangnya mengeras.

Pedro akhirnya angkat bicara. Ia melangkah maju dengan dada membusung.

"Silas," katanya dengan suara berat. "Terima kasih sudah datang. Setidaknya masih ada satu orang waras yang menghormati kepergian kakek. Kita akan lakukan pemakaman malam ini secara tertutup."

Silas menatap peti mati itu. Lalu menatap Pedro.

"Pintu terkunci dari dalam, katanya?" tanya Silas.

Pedro mengangguk. "Ya. Aku yang menemukannya. Pukul lima pagi."

"Dan pistol di atas meja," lanjut Silas pelan. "Siapa yang meletakkan kain putih di atasnya?"

Pertanyaan itu membuat Pedro terdiam sepersekian detik.

"Amber," jawabnya kemudian. "Dia tidak ingin Oona melihatnya."

Silas mengangguk pelan, seolah mengerti. Namun tatapannya tidak lepas dari Pedro.

"Bagus," ucapnya. "Karena polisi akan sangat tertarik dengan kain putih itu. Sidik jari biasanya bertahan lama di kain."

Wajah Pedro sama sekali tegang, meski ia berusaha tetap terlihat sombong.

Amber memotong cepat.

"Cukup, Silas. Ini bukan tempat untuk interogasi. Ayah mertuaku baru saja meninggal. Jika kau datang hanya untuk menuduh, lebih baik kau pergi."

Silas menatap Amber sekilas, lalu kembali kepada peti mati Fernando. Ia berjalan mendekat, berdiri tepat di sampingnya. Tidak ada yang berani mencegahnya.

Ia menunduk, menatap wajah pucat lelaki tua itu untuk terakhir kalinya.

"Selamat jalan, Fernando," gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

Hanya Kael yang mendengarnya.

1
Kinara Widya
waduh...s Pedro bodoh
vnablu
lanjut up thorrr
vnablu
hehhh Pedro emang nyaa kamu pikir nanti Silas tidak akan memiliki anak suatu saat walaupun Elion bukan anak kandungnya tapii alasan kamu itu agakk anehh awas aja yaa kamu
Tiara Bella
pedro ternyata yg bunuh elion....tega bngt anak kecil pdhal....serakah dasar
vnablu
Pastii diaa punya rencana sesuatu 🤔
Four.: iya... mengejar Kael 😌
total 1 replies
vnablu
hadehhh kok akuu tegang yaaa takuttt banget pas inget kejadian Elion.... semoga Elinaaa baik-baik ajaa dehh jangan smpee terjadi apa-apa yaa Thor
Four.: santai saja... gak terjadi apa-apa kok /Chuckle/
total 1 replies
Tiara Bella
Bibi Oona lg pedekate sm kael Elina....
Four.: tau aja /Proud/
total 1 replies
vnablu
ayooo lanjut thorrr😄
Four.: wokayyyy uyy
total 1 replies
vnablu
masihhh ajaaa mauu buat masalah emang yaaa ini orang harus nyaa dihapuskan dari dunia
Four.: ho,oh
total 1 replies
Kinara Widya
lanjut kak
Four.: wokehhh
total 1 replies
Tiara Bella
mimpi aja km Pedro.....
Four.: GPP mimpi dulu😁
total 1 replies
vnablu
kiraa-kiraaa kalau emang Lynda masihh hidup di manaa yaa dia bersembunyi 🤔🤔
Four.: di rumahku lohh/Chuckle/
total 1 replies
vnablu
akuu yakinn kalau Lynda masihh hidup Dann Silas tahuu semua ituu
Four.: yap mungkin aja 😌
total 1 replies
Kinara Widya
karena kematiannya misterius...mungkin benar masih hidup
Four.: mungkin aja loh😌
total 1 replies
Tiara Bella
benarkah Lynda wolf msh hidup.....
Four.: ho,oh
total 1 replies
Kinara Widya
aduh...semoga bulan orang jahat
Four.: semoga aja 😌
total 1 replies
Tiara Bella
siapa yg dtng ya penasaran aku.....
Tiara Bella: eeehhhhh....masuk pak eko🤭😄🤣
total 2 replies
Tiara Bella
wkwkkwkw ..myra myra setelah smlm bercinta ko ngemengnya begitu....
Tiara Bella: hooh ya ....
total 2 replies
Eci Rahmayati
🤣🤣 kaliannnn lucuuu ya
Four.: couple yang cocok kann ternyata /Grin/
total 1 replies
Kinara Widya
lanjut kak...🥰
Four.: wokayyyy
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!