Aku tersadar di sebuah ruangan serba putih dengan bau obat-obatan yang menusuk hidung.
"Aaarrgghhh, di mana ini?" rasa pening kembali melanda hingga membuatku tak berani membuka mata lagi.
Sekilas aku teringat akan pertengkaran dengan tunanganku sebelumnya yang membuatku kehilangan fokus saat berkendara, hingga terjadilah kecelakaan itu.
Tanganku reflek memijat kening.
"Hei, mommy sudah sadar," suara gadis kecil memaksaku untuk membuka mata.
Pandangan yang awalnya kabur lama-lama menjadi terang, hingga nampak jelas di depan mataku kedua bocah tampan dan cantik nan polos sedang menatapku.
"Hai mommy," sapa keduanya.
"Mommy?"
Beberapa waktu mengenal keluarga ini, tak disangka ternyata aku melihat wajah yang sangat mirip denganku.
Hingga dirinya berani mengajakku bertukar peran, yang membawaku terlibat semakin dalam.
Bisa kah aku lepas dan menjauh? Atau malah jatuh semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekretaris Bayangan
Kirana mencari celah.
Tapi para anak buah Maxime telah membuat pagar betis untuk mengelilingi tempat berdirinya Kirana.
"Ricky, bawa dia!" perintah Maxime.
Maxime berusaha jaga wibawa. Padahal dalam hati, Maxime merasa senang karena telah menemukan gadis yang membuatnya repot seharian ini.
'Pelarianku cuman bertahan sehari,' sesal Kirana.
Kirana dimasukkan mobil oleh Ricky.
"Sebaiknya anda menurut apa kata tuan saya, kalau tak mau berakhir di penjara," seru Ricky setelah memastikan Kirana duduk nyaman di dalam mobil.
Kirana diam.
Mobil yang ditumpangi Kirana mengikuti laju mobil di depannya.
'Gue harus siap-siap diinterogasi nih. Tak ada saksi dan bukti yang memihak padaku. Kirana...Kirana...ikutin saja kemana nasib akan membawamu pergi,' batin Kirana pasrah.
Mobil terus melaju.
"Apa ini akan membawa kita balik tuan?" Kirana memberanikan diri bertanya.
"Tidak tahu Nona. Terserah tuan. Kita hanya mengikuti mobil yang di depan," jelas pria pengemudi.
'Apa sebaiknya aku melarikan diri lagi?' tapi pikiran Kirana menemui jalan buntu untuk menemukan caranya melarikan diri lagi.
Kirana menggelengkan kepala.
Sepintar-pintarnya Kirana pergi, tuan Maxime terlalu hebat untuk menemukannya.
Maka akan sia-sia segala usaha yang dikerahkan oleh Kirana.
Mobil berbelok ke sebuah rumah mewah, tapi bukan rumah yang pernah didiami oleh Kirana.
"Bukannya aku mau dibawa ke kantor polisi?" gumam Kirana.
Pria berbaju rapi itu membukakan pintu buat Kirana dengan sopan.
'Penipu sepertiku diperlakukan sopan begini?' heran Kirana.
"Silahkan Nona," pria itu meminta Kirana untuk mengikuti kakinya melangkah.
"Duduk!" kata Maxime yang baru datang belakangan.
Kirana gugup.
"Duduk kataku!" ulang Maxime untuk menyuruh Kirana.
Kirana duduk di depan Maxime dengan wajah tertunduk bagai seorang penjahat pemula yang sedang diinterogasi.
"Sekarang ceritakan kronologi bagaimana kamu bisa masuk dan menyamar menjadi istriku?" tanya Maxime.
"Bukankah anda sudah tahu. Apa perlu saya mengulang untuk menjelaskan lagi," kata Kirana memberanikan diri.
Ini saatnya Kirana memperjelas semua.
"Untuk anda ketahui, tidak ada niat sedikitpun untuk menipu keluarga anda," sambung Kirana.
Maxime menyilangkan kaki dan tangannya bersamaan dan pandangan tak beralih sedikitpun dari Kirana.
"Oh ya? Aku punya bukti jika kamu memang penipu," bahas Maxime.
Maxime memutar rekaman cctv saat Kirani dan Kirana berbicara walau tak jelas apa yang mereka bicarakan.
"Dari awal saya sudah mengatakan semua tuan. Tapi anda tak mempercayainya saat itu," ulas Kirana.
"Dan kebetulan malam itu nyonya Kirani datang dan memergoki saya tidur dengan Nona muda. Saya terlalu takut dilaporkan ke polisi saat itu, makanya menuruti apa saja yang menjadi permintaan nyonya Kirani," terang Kirana.
"Apa itu artinya kamu mengkambinghitamkan istriku?" tak ada rasa marah di nada suara Maxime.
"Terserah penilaian anda tuan. Toh saya tak bisa membela diri," tukas Kirana pasrah.
Entah apa yang ada di pikiran Maxime, saat ini dia lebih percaya ucapan gadis di depannya ini.
"Kalau kamu tak bersalah, kenapa kamu lari?" tandas Maxime.
Kirana diam tak menjawab.
"Tanya pada hatimu tuan. Bukankah kita telah melakukan hal tak terpuji,' batin Kirana.
"Bahkan kamu menjual ponsel mahal yang telah aku beri dan menggunakan uangnya tanpa untuk melarikan diri," sambung Maxime.
"Semua akan kukembalikan tuan. Aku berjanji," seru Kirana.
"Apa jaminannya?" pancing Maxime.
"Setelah saya mendapatkan kerja, akan kucicil semua uang anda tuan," janji Kirana.
Maxime tersenyum sinis.
"Apa kamu tahu berapa harga ponsel itu?" tanya Maxime.
"Tentu saja aku tak tahu pasti tuan," jawab Kirana.
"Di atas seratus juta," seru Maxime.
"Berapa lama kamu akan membayar?" sambung Maxime.
Kirana diam dan berpikir.
Maxime menyodorkan selembar kertas yang sepertinya sebuah surat perjanjian kerjasama.
"Apa ini?" tanya Kirana saat memegang.
"Aku tak akan melaporkan kamu ke polisi, meski aku punya banyak bukti. Asalkan kamu mau menandatangani berkas ini," jelas Maxime.
Kirana membacanya perlahan.
"Apa ini artinya saya akan bekerja sebagai sekretaris anda?" tanya Kirana untuk memperjelas.
"Yap,"
"Dan tak boleh kamu langgar satupun. Jika kamu berani melanggarnya, maka aku tak segan untuk menjebloskan kamu ke balik bui," kata Maxime.
Kirana mengulangi pasal demi pasal.
"Kenapa saya merasa berat sebelah? Perjanjian ini banyak sekali menguntungkan anda," ujar Kirana.
Maxime tersenyum simpul, "Aku masih berbaik hati padamu,"
"Jika setuju maka tanda tangani. Tidak setuju, pergi ke kantor polisi," ujar Maxime.
"Kalau saya memilih ke kantor polisi?" tukas Kirana.
"Maka anak buahku dengan senang hati mengantarmu ke polisi," seru Maxime menimpali.
Kirana memikirkan ulang tawaran Maxime.
Disitu juga tertulis nominal gaji yang akan diterima Kirana per bulannya.
'Lumayan lah. Sekali gaji bisa buat bayar hutang aku ke tuan Axel dan biaya hidup sebulan,' batin Kirana.
'Aku sebaiknya aku terima saja tawaran ini?
Kirana meraih bolpoin yang disediakan Maxime.
Maxime menaikkan sudut bibirnya tanpa terlihat Kirana.
Dan mulai saat itu, Kirana menjadi sekretaris bayangan Maxime.
Kirana tak pernah pergi ke kantor perusahaan.
Kirana tetap tinggal di rumah mewah milik Maxime.
Maxime beralasan agar Kirana tak banyak keluar ongkos dan bisa menghemat sehingga hutang Kirana ke Maxime akan cepat terbayarkan.
Kirana hanya diberikan pekerjaan sesekali oleh Ricky asisten Maxime.
Hanya Ricky yang tahu jika semuanya hanya modus Maxime untuk menebus rasa bersalah pada gadis itu.
"Rick, apa Kirana menikmati kerjaannya?" telisik Maxime saat Ricky menemui di ruangannya.
"Apanya yang dinikmati tuan? Malah aku merasa kalau Nona Kirana hanya menikmati gaji buta," seru Ricky.
"Bahkan pagi ini karena tak ada kerjaan sama sekali, nona banyak sekali buat masakan. Dan beruntungnya aku, mendapatkan sedikit porsi masakan Nona Kirana," bilang Ricky.
Maxime beranjak.
"Mana?" tagih Maxime.
"Ini," Ricky mengeluarkan sekotak bekal dari dalam tas yang dijinjing.
Maxime merebut dengan cepat.
"Itu buatku tuan. Bukan buat anda," tolak Ricky.
Maxime merasa senang karena sukses merebut.
"Issshhh seperti anak kecil saja," olok Ricky.
Maxime tak peduli asal mendapatkannya.
Maxime menikmati makanan yang dibuat oleh Kirana.
"Hhhmmm, delicious," puji Maxime meski Kirana tak ada di sana.
"Percuma memuji, orangnya tak ada," olok Ricky.
Tedengar suara sepatu mendekati ruangan Maxime.
Pintu ruangan terbuka begitu saja tanpa ada ketukan.
"Hai sayang," sapa Kirani menghampiri Maxime.
Ricky keluar ruangan setelah mendapat kode dari Maxime.
"Sudah berapa hari tak pulang? Aku menunggu di rumah loh. Apa rapat di luar kota sampai menghabiskan waktu seminggu?" kata Kirani seolah sindiran.
Sejak kepergian Maxime pamit ke luar kota, seminggu Maxime tak pulang.
"Di rumah nenek terus mengomel padaku. Aku tak betah sayang," keluh Kirani.
'Apa dia beneran di rumah selama aku pergi?' batin Maxime bertanya.
'Tumben Kirani betah?'
Maxime sengaja tak pulang mansion. Beberapa kali nenek juga menelpon dan menyuruhnya pulang.
Maxime lebih memilih hotel untuk menenangkan pikiran.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
Kirana sudah mengandung lagi
Maxime & keluarga besar sudah bahagia
terima kasih thor🥰🥰🥰
harus bersedih atau bahagia ini😁
siapa yg telpon Maxime ?
kunci semua rahasia Kirana & Kirani ada di tangan Morgan ? ayo temukan Morgan segera Ricky
Fighting
yang lagi ngidam rujak cingur😄
suruhan Maxime atau Axel ?