Pernikahan bukanlah akhir dari kebahagiaan. Tapi pernikahan, adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya.
Cinta tak selamanya indah, ketika apa yang di pertahankan dan di pertaruhkan kini menjadi alasan untuk di tinggalkan.
Bagaimana kisah kelanjutan pasangan muda mantan aktor ternama dengan seorang gadis yang selalu di manja oleh keluarganya.
Mampukah mereka menghadapi lika liku perjalanan rumah tangga yang sesungguhnya?
Ikuti terus kisah Batara dan Zefanya...
jangan lupa follow akun Noveltoon Mommy ya...
IG : Mommy_Ar29
Tiktok : Mommy_Ar95
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
...~Happy Reading~...
Hari demi hari berganti, sejak kepergian Ben dari kehidupan Batara dan juga Alvin, kini keseharian keduanya terasa sedikit berbeda. Kini, Alvin sudah tidak lagi menjabat sebagai security di rumah Batara, ia dengan terpaksa harus mengikuti Batara untuk bekerja di kantor sebagai asisten karena memang hanya Alvin lah yang paling mengerti tentang laki-laki tersebut.
Awalnya memang sulit bagi Alvin karena itu bukan di bidang nya. Akan tetapi, Batara terus memaksa agar ia bisa bekerja sambil belajar, hingga akhirnya mau tak mau Alvin terpaksa mengiyakan dan tentu saja dengan di bantu sekertaris Batara setiap harinya.
Itu juga yang menjadi satu alasan mengapa Batara lebih banyak menghabiskan waktu di kantor daripada di rumah. Karena ia masih harus mengajari Alvin banyak hal untuk benar benar bisa menjadi seperti yang ia mau ke depan nya.
Zefanya, ia juga cukup di sibukkan dengan kuliah nya. Sesekali ia akan datang ke kantor suami nya, akan tetapi ia lebih sering untuk datang ke rumah eyang Darmani untuk mengurangi rasa suntuk nya di banding harus ke kantor Batara.
“Zefa, lagi hujan kaya gini kenapa kamu malah minum dingin?” Eyang Darmani langsung menarik nafas nya dalam saat melihat cucu menantu nya yang baru datang sehabis kuliah dan langsung menghampiri dapur bukan dirinya.
Kondisi tubuh Zefanya masih sedikit basah lantaran hujan yang lumayan deras. Padahal, ia hanya kehujanan dari halaman hingga rumah saja, tapi sudah bisa membuat pakaian nya basah, sedikit heran tapi itulah Zefanya.
“Panas Eyang,” jawab Zefanya sambil menyeruput minuman dingin nya yang baru saja ia buat. Rasanya sangat menyegarkan, hingga membuat senyuman merekah langsung terbit menghiasi wajah nya.
“Dingin begini Zef!” Seketika itu, zefanya langsung menyengir lalu hendak memeluk wanita tua itu kalau saja tak segera di hindari, “Ganti pakaian kamu dulu Zef! Eyang dingin, jangan buat Eyang semakin kedinginan.”
“Dikit doang Eyang,” Zefanya memanyunkan bibir.
“Sedikit darimana? Astaga zefanya, kamu darimana sih kenapa bisa basah kuyup begitu. Apa kaca mobil mu di buka saat kamu di jalan?” tanya eyang Darmani yang langsung di balas gelengan kepala oleh zefanya, “Lalu kenapa bisa basah begitu?”
“Kan turun dari mobil ke sini Zefa jalan kaki Eyang, bukan ngilang. Dan juga Zefa gak punya payung, jadi—“
“Gak ada payung, tapi gak mungkin akan bisa sebasah ini zef!” Lagi lagi eyang Darmani menarik napas nya cukup dalam tak habis pikir dengan keadaan cucu menantu nya yang bisa sebasah kuyup itu hanya karena melewati beberapa langkah halaman rumah nya ke teras.
“Bisa Eyang! Ini buktinya!” kata Zefanya masih kekeuh, “Eyang lihat mobil Zefa yok!”
Wanita itu segera menarik tangan eyang Darmani dan mengajak nya untuk ke teras demi melihat dimana ia memarkirkan mobil. Dan tentu saja hal itu semakin membuat eyang Darmani tak habis pikir, entah apa yang ada di pikiran cucu menantu nya. Bagaimana bisa Zefanya memarkirkan mobil tepat di depan pintu gerbang yang jarak nya cukup jauh.
Padahal, bisa saja dia memarkirkan tepat di depan teras agar ia bisa segera berlari yang mana hanya beberapa langkah saja agar tidka basah.
“Terus juga tadi Zefa sengaja jalan nya pelan karena harus nyapa mereka dulu, jadinya basah,” keluh zefanya berikutnya membuat dahi eyang Darmani mengernyit.
“Mereka siapa?”
“Tanaman Eyang!” jawab Zefanya dengan begitu santai sambil meneguk sisa minuman nya hingga kandas, tanpa memperdulikan bagaimana ekspresi keterkejutan eyang Darmani yang sedikit speechless mendengar jawaban Zefanya.
Menyapa tanaman? Apakah cucu menantu nya sedikit geser atau miring? Untuk apa menyapa tanaman di kala hujan? Bukankah itu sama saja mencari penyakit? Dan pantas saja tubuh nya bisa basah kuyup karena harus menyempatkan menyapa tanaman dari jarak pintu gerbang sampai teras.
‘Ku pikir cucu ku sudah paling gila, ternyata istri cucu ku jauh lebih, ah sudahlah ... ‘ gumam eyang Darmani dalam hati.
...~To be continue .......
,/Grin//Grin/