Bagaimana jika seorang pemuda yang setiap harinya hanya menjadi anak seorang supir didalam keluarga kaya dan dia harus menerima untuk dinikahkan dengan Nona Muda mereka yang tidak bisa bicara.
"Nak, Ibu dan Bapak ingin berbicara serius dengan kamu" ucap Pak Budi pada putranya.
"Bicara apa Pak? Bicara saja" tanya Adji yang sudah duduk dihadapan kedua orang tuanya.
"Begini nak, tadi siang Bapak dan Ibu diundang kerumah Tuan Nadi dan kami disana membahas masalah perjodohan untuk kamu. Bapak tidak bisa memutuskan nya sendiri, karena Bapak tidak mungkin memutuskan. Bapak ingin membicarakan ini dengan kamu dan jika kamu menerimanya, Bapak dan Ibu akan membalasnya lebih dalam lagi dengan keluarga beliau" jelas Pak Budi dengan panjang lebar.
Penasaran apa jawaban Adji pada kedua orang tuanya???
Yuk baca dan ramaikan setiap babnya dengan like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Jangan lupa subscribe juga pollow akun Othor ya...
Terimakasih dan selamat membaca 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atikah syarif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu banyak berjanji
"Jika kamu kemari hanya untuk menjelek-jelekan Nona Clarissa, sebaiknya kamu pergi saja. Mau saya menikah dengan Nona Clarissa atau tidaknya, bukan urusan kamu dan saya tegaskan sekali lagi. Saya sama sekali tidak tertarik pada anda Nona Lakisha Putri. Maaf" ucap Adji dengan tegas dan segera meninggalkan wanita itu sendiri didalam kantin.
"Sial-sial!! Kenapa dia sama sekali tidak mau melirik dan menyukaiku? Jangankan menyukai, menatapku saja dia tidak mau. Apa sih yang dia lihat dari Clarissa? Cantik juga biasa saja, kalo bisu iya. Huh, aku harus menggunakan cara apa lagi supaya dia mau dengan ku" gumamnya yang menahan kesal dan berencana untuk memiliki Adji.
.
Sedangkan Adji hanya menghela nafasnya berulang-ulang saat dia merasa jika ini sudah tidak benar. Apa lagi Lakisha adalah wanita terpandang juga bisa dibilang sebanding dengan Clarissa.
Tapi dia tidak suka kalau ada seorang wanita menjelek-jelekan wanita lainnya dihadapan wajahnya sendiri.
"Kenapa aku tidak melihat Nona Clarissa sejak tadi? Biasanya dia akan meminta sesuatu padaku disaat jam-jam seperti ini" gumam Adji yang melihat jam dipergelangan tangan nya.
Dia menuju ruangan Clarissa dan ternyata tidak ada siapa-siapa didalamnya. Ruangan yang selalu rapih dan tidak ada kekacauan sedikitpun juga.
"Dia kemana? Apa dia sudah pulang? Tapi tidak biasanya dia pulang dijam segini" gumamnya lagi sambil menutup kembali pintu ruangan Clarissa.
Adji bingung dengan keberadaan Clarissa sekarang. Dia mencoba fokus pada pekerjaan nya kembali, tapi fikiran nya tidak bisa fokus. Fikiran nya bercabang, antara memikirkan dimana Clarissa berada dan bagaimana caranya dia menjelaskan pada Fania. Jika dia akan segera menikah beberapa hari lagi dengan Clarissa.
"Apa yang harus aku katakan padanya? Aku sungguh sangat bodohh! Kenapa aku tidak mengatakan nya langsung padanya. Tapi, pernikahan ini tidak akan berlangsung lama. Satu tahun, satu tahun bukan waktu yang lama, aku akan mengatakan yang sebenarnya setelah semuanya selesai dengan Nona Clarissa" gumam Adji yang memejamkan matanya sejenak sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya.
Sedangkan Clarissa, dia sedang berada ditempat yang sangat asing dan juga terlihat masih asri pemandangan nya. Bahkan tidak henti-hentinya dia berdecak kagum akan tempat yang Varaz tunjukan untuknya. Dia selalu tersenyum dan membuat hati Varaz seperti tersayat melihat senyuman yang mungkin tidak akan pernah dia lihat kembali setelah ini.
'Kamu akan menikah dalam beberapa hari kedepan Cla. Apa aku sanggup melihat kamu bersanding dengan pria lain? Sungguh Cla, aku sangat sedih mengetahui ini semua. Aku hanya bisa menunggu dengan diam sampai kamu benar-benar bisa aku miliki seutuhnya' ucap Varaz dalam hati sambil terus menatap Clarissa yang sedang menikmati alam yang segar.
"AL, makasih ya. Kamu sudah ngajakin aku kemari, ini adalah tempat yang paling bagus dan sangat indah yang pernah aku lihat dan aku kunjungi. Terimakasih banyak" ucap Clarissa yang menghampiri Varaz dan memeluknya dengan erat.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Varaz saat Clarissa memeluknya dan dia merasa tegang dan bingung. Membalas pelukan nya atau tidak.
"Sangat, aku sangat menyukainya" jawab Clarissa dengan pandangan berbinar dan dia selalu tersenyum lepas dihadapan Varaz.
"Jika kamu menyukainya, aku akan selalu mengajak kamu kemari jika kamu ada waktu luang" ucap Varaz yang mengusap pipi Clarissa dengan lembut dan dia tersenyum lembut penuh dengan luka dalam hatinya.
"Benarkah? Janji dulu, aku akan percaya jika kamu memang akan benar-benar mengajak aku kemari. Janji?" tanya Clarissa dengan tatapan yang sangat teduh dan membuat Varaz tidak bisa berfikir jernih lagi saat menatap manik coklat Clarissa.
"Aku berjanji padamu Cla, aku akan selalu mengajak kamu kemari. Bila perlu aku akan membuat rumah disini untuk kamu dan untuk kita berdua. Aku akan melakukan nya" jawab Varaz sambil menatap lurus manik Clarissa dan itu membuat Clarissa merasa sangat bersalah juga ingin bersikap egois lagi untuk bisa selalu bersama dengan Varaz. Orang yang dia cintai.
"Place, kamu jangan mengatakan seperti itu. Kesan nya aku sangat jahat pada kamu, aku tahu untuk saat ini kita tidak akan bisa bersama-sama dan bisa menjalin kasih. Aku ingin kita selalu seperti ini walau aku sudah menikah nantinya. Karena pernihakan aku ini hanya formalitas saja. Please, jangan tinggalkan aku, apapun yang terjadi nanti. Berjanjilah padaku AL" ucap Clarissa yang memegang pipi Varaz dan dia kembali meneteskan air matanya.
"Aku sudah banyak berjanji Cla, apa lagi yang perlu aku janjikan lagi padamu? Aku takut, aku takut tidak bisa memenuhi janji ku nantinya. Tolong jangan memintaku untuk berjanji, aku akan selalu melakukan apa yang ku anggap benar saja. Jadi, kita jalani seperti ini dan jangan pernah meminta janji" ucap Varaz yang melepaskan tangan Clarissa padanya pipinya. Lalu dia berjalan sedikit menjauh dari Clarissa.
Hatinya benar-benar terasa hancur berkeping-keping. Dia tidak tahu apa yang dia katakan itu benar atau salah. Yang jelas, dia tidak ingin melepaskan apa yang dia inginkan dan dia cintai.
"Maafkan aku, aku tidak akan pernah meminta apapun lagi dari kamu. Cukup dengan seperti ini saja aku sudah sangat bahagia. Tolong jangan pernah meninggalkan aku" ucap Clarissa yang memeluk punggung Varaz dengan sangat erat.
Tangan nya berada didada Varaz dan itu semakin membuatnya terasa sakit juga sesak. Dia memegang tangan Clarissa dan mengusapnya. Varaz berbalik dan mendekap tubuh wanita yang sangat dia cintai.
"Tidak akan, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. I love you so much my beautiful friend" ucap Varaz sambil mengusap punggung Clarissa dan menciumi pucuk kepalanya dengan lembut.
"I love you too my friend" jawab Clarissa yang mendongakan kepalanya menatap wajah Varaz.
Satu kecupan mesra mendarat dipermukaan bibir Clarissa. Mereka hanya saling berciumann mesra saja dan tidak lebih dari itu. Mereka berdua menikmati waktu terakhir mereka menjelang pernihakan Clarissa. Sebenarnya Varaz ingin sekali melakukan lebih pada Clarissa. Tapi dia masih berfikiran waras, dia tidak ingin merusak kehormatan Clarissa.
Sekuat tenaga Varaz menahan gejolak dalam tubuhnya. Begitu juga dengan Clarissa, karena keduanya sudah sama-sama dewasa dan mengerti akan hubungan yang seperti itu. Bahkan Varaz berkali-kali menghembuskan nafasnya sedikit kasar untuk menetralkan gejolak dalam dirinya yang lain.
'Sial!! Kenapa loe pake acara bangun segala sih boy? Gimana loe mau terpisahkan dengan nya, jika dia saja belum jadi milik loe sepenuhnya. Berdo'a saja, jika nanti yang akan menjadi suaminya kagak bakalan nyentuh milik loe itu' Ucap Varaz dalam hati.
'Kejam banget nggak sih gue? Masa gue do'ain suaminya kagak nyentuh Clarissa. Tapi, siapa tahu do'a orang teraniaya terkabulkan. Hehehe' gumamnya lagi yang malah tersenyum meringis dalam hatinya. Karena bibirnya masih bertaut dengan bibir Clarissa yang sangat manis menurutnya.
dan semoga sehat selalu buat penulis nya❤️
gk tahu krn sikapmu membuat ortumu khawatir n km jg jd menderita di luar sana
ortu mu pasti akan mengerti keputusan mu