[Time Travel]
Seorang wanita bernama Xia Xuan Yi, sang ahli pembuat senjata hebat dan ahli dalam jenis ilmu beladiri, mati karena tersandung batu kecil di taman yang berada tidak jauh dari rumahnya.
"Sungguh kasihan sekali nasibku, mati hanya karena tersandung batu kecil di taman. Lalu dengan mudah berpindah tempat ke dunia yang penuh dengan pakaian yang sangat menyulitkan ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xialin12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #31
Bruuuuk!
Seorang wanita tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri tepat di depan rumah Xuan Yi, dan beberapa orang yang melihatnya mengerumuni wanita yang tidak mereka kenali itu.
"Ada apa, apa yang sedang kalian lakukan di depan rumahku?" Ucap Xuan Yi yang datang dari arah belakang mereka.
"No... Nona Li, kami melihat ada seorang wanita yang jatuh dan tidak sadarkan diri disini. Jadi kami melihatnya." Ucap salah seorang wanita yang berada disana.
Xuan Yi mendekati tubuh wanita yang tak sadarkan diri di depan rumahnya itu, kemudian dia memeriksa wanita itu.
"Dia masih hidup, Huang Mei kau bawa ini dan buka pintu gerbangnya. Aku akan mengangkat wanita ini dan membawanya masuk." Ucap Xuan Yi.
"Biarkan saya saja yang melakukannya, nona."
"Tidak apa-apa, kau lakukan saja apa yang aku katakan."
"Baik nona."
Dengan segera Huang Mei mengetuk pintu gerbang rumah Xuan Yi, dan setelah pintu terbuka, Xuan Yi menggendong dan membawa wanita yang tak di kenali itu ke dalam rumahnya.
Sementara Orang-orang yang melihat itu hanya bisa saling berbisik.
Xuan Yi membawa tubuh wanita itu ke sebuah kamar kosong, yang dulu di tinggali oleh Xiu An. Dan dengan pelan Xuan Yi membaringkan wanita itu di atas tempat tidur.
"Nona, saya membawakan air dan kain. Saya akan membersihkan wajah dan juga tangan wanita itu." Ucap Huang Mei.
"Baiklah, aku akan meminta bibi Lun untuk membuatkan obat dan bubur."
"Baik, nona."
Xuan Yi keluar dari kamar itu dan berjalan menuju dapur. Sementara Huang Mei membersihkan wajah wanita itu dengan sangat hati-hati, dia juga membersihkan tangan wanita itu.
Klontang
Huang Mei menoleh ketika sebuah suara di dengarnya, dan dia melihat sebuah cincin yng terbuat dari giok jatuh dari bungkusan kain yang di bawa oleh wanita itu.
(Maaf suara cincin jatuhnya begitu, bingung mau pakai apa).
Dengan pelan Huang Mei mengambil cincin giok itu lalu melihatnya dengan seksama.
"Cincin ini terlihat seperti barang peninggalan, pasti ini milik nona itu dari orang tuanya. Aku akan memberikannya pada nona untuk menyimpannya sebelum nona ini sadarkan diri." Ucap Huang Mei.
Setelah itu Huang Mei kembali membersihkan wajah dan tangan wanita yang masih tak sadarkan diri itu, dan setelah selesai, Huang Mei keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.
"Nona, apa anda sedang membuat sesuatu?" Ucap Huang Mei yang melihat Xuan Yi di dapur.
"Benar, apakah wanita itu belum sadarkan diri?"
"Belum nona, wajahnya terlihat sangat kurus dan seperti mayat."
"Huang Mei, apa yang kau katakan?"
"Maaf nona, tetapi dia terlihat begitu pucat."
"Dia pasti kelelahan dan juga lapar."
Huang Mei mengangguk, "Ah benar. Nona, saya menemukan ini terjatuh dari bungkusan kain milik wanita itu."
Huang Mei memberikan cincin giok yang dia temukan pada Xuan Yi.
Xuan Yi menerima cincin itu lalu memperhatikannya, "Baiklah, aku akan menyimpannya. Dan setelah wanita itu sudah sadar, aku akan memberikan cincin ini padanya."
"Baik, nona."
"Kau tolong aku potong 5 buah bawang putih, dan jahe itu."
"Baik."
Di dalam dapur Xuan Yi dan Huang Mei sibuk dengan pekerjaan mereka, begitu juga dengan bibi Lun dan yang lainnya, yang sedang membuat obat juga bubur.
Setelah semuanya selesai, salah satu pelayan Xuan Yi menyiapkan api.
"Baiklah, sisanya biar aku saja yang melakukannya." Ucap Xuan Yi.
"Baik, nona." Ucap Huang Mei.
Sudah lebih dari 2 bulan Xuan Yi hidup di dalam dunia kultivasi itu, dan dia merindukan beberapa makanan yang sering dia makan di dunianya dulu.
Dan dengan keahlian memasaknya, Xuan Yi mulai mengolah beberapa sayur dan juga daging yang telah di potong.
Huang Mei dan pelayan lainnya yang ada di dapur, sangat takjub melihat bagaimana Xuan Yi dengan cepat membuat semua bahan makanan yang mentah itu, menjadi makanan yang terlihat cukup lezat.
"Baiklah, bawa ke 3 piring ini ke kamar ku, dan yang 3 piring besar itu, kalian bisa mencobanya bersama." Ucap Xuan Yi.
"Baik, terima kasih nona." Ucap Huang Mei dan beberapa pelayan lainnya.
Huang Mei lalu membawa 3 piring yang di katakan tadi ke kamar Xuan Yi.
"Bubur dan obat, bawa ke kamar barat. Dan jika wanita yang ada di dalam kamar itu sudah sadar, bantu dia memakan bubur dan meminum obatnya." Ucap Xuan Yi.
"Baik, nona. Akan saya lakukan." Ucap salah seorang pelayan.
Xuan Yi mengangguk lalu berjalan keluar dari dapur.
...----------------...
Di tempat lain, Guan Lin yang masih membantu di tempat pendaftaran murid baru termenung. Dia mengingat putri Ying yang berbicara dengan Xuan Yi ketika dia belum datang menemui wanita itu.
"Apa hubungan dia dengan yang mulia putri?" Gumam Guan Lin.
"Ada apa? Kau terlihat melamun." Ucap Hao Min seraya menepuk bahu Guan Lin.
"Tidak apa-apa. Lebih baik kita berkemas sekarang, hari sudah siang. Dan orang-orang juga udah mulai berkurang."
"Kau benar, kita bisa melakukannya besok lagi."
Guan Lin mengangguk, lalu mulai membereskan barang-barang yang ada di tempat pendaftaran murid baru mereka.
Sementara Xiu An yang memperhatikan Guan Lin bertanya-tanya tentang Guan Lin yang tertarik pada Xuan Yi.
"Jelas-jelas aku lebih hebat dan juga lebih cantik dari pada wanita lemah itu, tetapi kenapa kak Guan Lin lebih tertarik padanya?"
Xiu An ikut membantu membereskan semuanya dengan perasaan kesal, karena Guan Lin sama sekali tidak pernah melihatnya. Bahkan menyapa ketika mereka berpapasan pun tidak.
Ling Hao Min yang melihat sikap Xiu An yang berbeda, menepuk bahu Guan Lin, "Sepertinya seseorang tidak suka ketika aku memberitahunya, jika kau tertarik kepada nona Li itu."
Guan Lin menatap Hao Min, "Kau memberitahu orang lain?"
"Iya, aku hanya tidak ingin ada wanita lain yang terus berharap kau akan melihatnya. Jadi aku memberitahu dia, siapa sangka reaksinya akan seperti itu."
Hao Min melihat ke arah Xiu An, yang tengah membereskan barang-barang dengan kesal dan sesekali marah pada adik seperguruannya.
"Bukankah dia adalah putri dari keluarga Yan?" Ucap Guan Lin.
"Benar."
"Aku dengar keluarga dari tuan Ma menyukainya, jadi untuk apa dia masih menyukai orang lain, jika dia akan menikah dengan seseorang?"
"Entahlah, tetapi aku memperhatikan dia selalu menatap mu secara diam-diam."
Guan Lin menepuk bahu Hao Min, "Yang mulia, berhentilah memperhatikan orang lain. Lihat di arah utara, seorang wanita sedang melihat padamu."
Ling Hao Min segera menoleh ke arah utara, dan seperti yang Guan Lin katakan. Disana ada seseorang yang tengah melihatnya, tetapi itu bukan seorang wanita cantik. Melainkan seorang laki-laki berparas cantik.
"Qin Guan Lin, beraninya kau!" Seru Hao Min.
Namun Guan Lin, orang yang sudah membohongi Hao Min telah pergi dengan menahan tawanya.