Bermodal paras cantik dan tubuh yang indah. Gendhis, bukan nama aslinya. Bertahan hidup dengan bekerja sebagai koki di sebuah hotel bintang lima. Namun, sesuatu hal yang tak terduga terjadi padanya, hingga Gendhis bertekad untuk mengambil pekerjaan sampingan sebagai "teman kencan semalam" tamu-tamu VIP hotel Pacifik.
Narendra Arjuna Guinandra, pengusaha di bidang perhotelan dan pariwisata yang terobsesi untuk menyewa jasa Gendhis. Berapa pun budget yang dia keluarkan, dia tidak perduli. Asalkan gadis itu tetap berada dalam genggaman dan menuruti segala perintahnya.
Sebuah fakta terungkap, membuat Narendra terperosok semakin jauh ke dalam dendam dan kebencian atas kejadian yang tidak pernah dilakukan oleh Gendhis. Hingga gadis itu harus berjuang untuk sebuah kepercayaan yang menyakinkan hati seorang Narendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najwa Camelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bernegosiasi
Happy reading..
Kini Sadewa dan Nayaka tinggal mereka berdua dalam kamar mewah yang bernuansa biru khas anak laki banget. Kamar yang dihuni oleh Narendra semasa kecil hingga beranjak dewasa, meninggalkan banyak kenangan di dalamnya.
Lelah memberontak, Nayaka akhirnya pasrah. Wanita itu, kini duduk bersandar di kepala ranjang dengan tetap memeluk guling dengan erat. 'Ibu.. Naya rindu Ibu. Naya ingin peluk Ibu, berlindung dibalik punggung Ibu,' tatapan Nayaka masih kosong. Dia hanya duduk dengan diamnya. Hingga pria yang berprofesi sebagai dokter itu mendekat kembali pada Nayaka.
"Nayaka," panggil Sadewa lembut.
Hingga ke tiga kali suara panggilan itu menyebut namanya, perlahan wanita itu berpaling ke arah seorang pria yang memanggilnya.
Hanya beberapa detik Nayaka menatap ke wajah Sadewa yang menyunggingkan senyum cerah ke arahnya. Tapi kemudian Nayaka memalingkan kembali wajahnya ke arah dinding yang dingin menjadi penontonnya saat ini.
Meskipun hanya sepersekian detik wanita itu mau menatap ke arah wajahnya, Sadewa sudah cukup lega di hatinya. Bukan berarti Sadewa sudah berhasil melakukan interaksi dengan Nayaka. Ia harus lebih sabar dan lembut, juga sangat berhati-hati berkomunikasi dengan pasien yang sedang terganggu psikis nya.
"Pergilah! Jangan ganggu aku! Semua pria di dunia ini sama saja!" Nayaka mengusir Sadewa tanpa melihat ke arahnya.
Sadewa bergeming. Dia hanya duduk tanpa ada pergerakan lain mau pun bersuara. Dia hanya ingin mendengarkan suara Nayaka.
"Dasar tuli!" kesal Nayaka pada pria yang tetap pada duduknya, tidak ingin pergi dari kamar itu.
Manik coklat muda milik Nayaka melihat sekilas pada benda bundar yang menjadi hiasan dinding kamar, telah bergerak lima menit. Tapi pria yang duduk sambil memangku dagu lancipnya dengan kedua tangan tidak juga beranjak pergi dari posisinya.
Nayaka menghela napas dalam. Lalu berkata, "Kalau kamu tidak mau pergi juga, lebih baik aku saja yang pergi dari sini!" Nayaka beranjak dari duduknya.
Dengan sigap Sadewa menarik pergelangan Nayaka dan terduduk kembali.
"Lepaskan!" pekik Nayaka memberontak dan akhirnya mengigit lengan Sadewa.
"Aduuh.. Mama tolong," jerit Sadewa pura-pura kesakitan di depan Nayaka.
Melihat reaksi pria yang digigitnya, bibir Nayaka mencibir sinis. "Laki cengeng! Badan gede tapi minta tolong ke Mama!"
"Biarin, aku hanya punya Mama. Ya minta tolong Mama lah," ujar Sadewa sambil mengusap lengannya yang habis digigit Nayaka masih menyisakan rasa ngilu.
"Kamu, Narendra dan pria semuanya sama saja! Sukanya memaksa!" cetus Nayaka.
Otak Sadewa bekerja cepat untuk mencari bahan perbincangan dengan Nayaka agar wanita itu bisa bercerita tentang masa lalunya yang memenjarakan pikiran dan batinnya.
"Apa kau mau mendengar kabar gembira dariku?" tanya Sadewa dengan wajah yang memelas pada Nayaka.
"Malas!" tolak langsung Nayaka.
"Yaa.. Sedih dong aku. Tidak bisa berbagi kabar bahagia ini dengan kamu," timpal Sadewa menarik kedua sudut bibirnya ke bawah dengan wajah yang ditekuk, seolah dia bersedih dengan penolakan Nayaka. "Padahal kabar ini juga bisa buat kamu bahagia."
Kepala Nayaka berputar dengan cepat ke arah Sadewa yang tertunduk.
"Kau mau membohongiku?" Nayaka tidak langsung percaya.
"Untungnya apa padaku untuk bohongi kamu," Sadewa berdiri dari duduknya dan memasukkan tangannya ke saku celana sambil menoleh pada Nayaka.
Hati Nayaka tidak langsung mempercayai perkataan pria yang sedang berdiri di depannya dan hendak pergi dari kamar itu. Karena yang Nayaka tahu, pria itu adalah Dokter pribadi Narendra, yang berarti bahwa dia juga salah satu orang kepercayaan Narendra.
"Aku tidak juga lagi bernegosiasi dengan kamu. Jadi lebih baik aku pergi saja dari sini, dari pada tidak bisa berbagi kabar gembira yang aku punya denganmu," Sadewa menoleh lagi pada Nayaka sebelum benar-benar melangkahkan kakinya.
"Kau pikir aku mau mendengarnya!" sarkas Nayaka.
"Hmm..," Sadewa mengangkat kedua pundaknya, lantas memutar lututnya dan hendak mengayunkan langkah nya.
Nayaka diam sambil berpikir. Kabar gembira apa yang akan dibagikan dengannya, hingga pria itu kecewa padanya, di saat keinginannya ditolak mentah-mentah. Dari beberapa hari yang lalu Nayaka juga mengetahui antara Tuan mudanya dengan pria yang berprofesi dokter itu memiliki hubungan yang cukup baik dari semenjak mereka sama-sama menimbah ilmu, meski terkadang keluar kata-kata ejekan dan sindiran dari mulut keduanya yang terdengar ketus dan mengesalkan.
Tapi baru saja, Sadewa menggerakkan kakinya sebelah. Terdengar suara yang terlontar dari bibir mungil Nayaka.
"Baiklah, aku bersedia mendengar kabar gembira darimu," ujar Nayaka yang disambut senyum lebar oleh Sadewa ketika dia membalikkan tubuhnya ke arah Nayaka.
Sadewa menyeret kembali langkahnya menghampiri Nayaka yang masih duduk di atas ranjang empuk dan bersandar di kepala ranjang.
"Stop! Cukup duduk dengan baik di pinggir ranjang saja, tidak perlu dekat denganku!" setelah mengatakan itu, Nayaka tersenyum tipis.
Refleks Sadewa mengerutkan alis sambil mengusap dagu yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. "Okay, aku menurut denganmu kali ini," Sadewa menaik turunkan alisnya menggoda Nayaka.
"Jelek tau!" Nayaka melempar gulingnya ke muka Sadewa. "Oh, iya tapi aku boleh bertanya satu hal padamu?"
"Apa yang ingin kau tanyakan padaku dan tentang hal apa atau siapa?"
"Santai saja, tidak perlu tegang begitu, dokter," ucap Nayaka pada Sadewa yang membuat dirinya tersenyum dalam kebingungan.
'Yang dokter di sini aku apa Nayaka? Kenapa jadi aku yang diminta santai oleh Nayaka?' gumam Sadewa terkekeh dalam batinnya melihat kekonyolan Nayaka. 'Sikap polosmu ini lah yang membuat jatuh cinta seorang Narendra Arjuna Guinandra, gadis manis yang telah memporak porandakan benteng Mr. Gelato!' monolog Sadewa.
☘️☘️☘️☘️
dan semoga nayaka berbahagia dengan ...... tuan gapian . yesss 😍
ganbatte, nay 💪💪💪
di novel aja ada judulnya tuh
CINTA DAN DENDAM
atau
CINTA DI ANTARA DENDAM
atau
MENIKAH KARENA DENDAM
awalnya mah dendam, nay.... eehhhh ujung ujung nya duit ...ehhh salah 😅
ujung ujungnya cinta lahhh
kaya miskin
cantik jelek
....... bukanlah suatu patokan akan hadirnya cinta dan kemana cinta akan bermuara .
jadi .... jangan pesimis, nay ..... 💪😁