Ana, pengusaha muda penggila pesta yang dijuluki si "wanita casanova" itu, terjebak video skandal cinta satu malam bersama pria bernama Jaya dan tersebar di dunia maya. Karirnya hancur, dan sialnya Ana hamil.
Ana berusaha mencari keberadaan Jaya yang ternyata anak seorang raja, penguasa selatan di Pulau Garuda. Namun, Jaya mengalami mati suri akibat kiriman santet. Demi menjaga nama baik kerajaan, Ana tetap harus menikah dengan Jaya.
Tadinya, Ana berniat akan kabur setelah melahirkan nanti. Dia akan membawa harta yang akan dia kumpulkan dari Kerajaan Garuda. Akan tetapi, Jaya kembali dengan wujud pocong yang menghantui Ana. Jaya meminta Ana untuk memecahkan misteri yang menimpanya dan menghidupkannya kembali.
Apakah Ana mampu menjalani pernikahan dengan pocong tampan Jaya?
Mampukah Ana membantu Jaya menguak misteri yang menyerang Jaya dan keluarga kerajaan?
Lalu, akankah Ana tetap bertahan atau malah pergi?
cover : By Enka
note : Plagiat auto kutilan di muka seumur hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie Junaeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Ada Yang Mati
Bab 31 Dinikahi Pocong Tampan
Betapa terkejutnya ketika Jaya melihat sosok Laras di depan jendela kamar tengah berdiri mematung.
"Na, itu si Laras!" ucap Jaya.
"Hah? Laras? Mau ngapain?" Ana membuka tirai jendela.
Laras mengangkat kepalanya dan memperlihatkan wajah yang pucat.
"Laras, ngapain malam-malam begini di depan kamarku?" tanya Ana.
Laras hanya diam. Dia lalu berbalik dan melangkah pergi menuju ke arah taman kecil di seberang kamar Ana.
"Ras, mau ke mana?" panggil Ana.
Laras menoleh pada Ana seraya tersenyum. Ia lantas melambaikan tangan mungilnya seolah mengajak Ana untuk keluar.
"Kayaknya dia mau kamu ngikutin dia," ujar Jaya.
"Masa, sih? Aku takutnya dia bukan Laras asli, loh. Bisa aja dia setan," ucap Ana.
"Ya udah kalau gitu tutup jendelanya terus kamu tidur, gih!" ujar Jaya.
"Ummmm, tapi aku penasaran." Ana lantas memberanikan diri membuka pintu kamarnya. Lagi-lagi, Ana yang selalu saja dipenuhi rasa penasaran itu membuatnya mengikuti ajakan Laras.
Jaya terpaksa mengikuti Ana menyusul Laras.
“Ras, kita mau ke mana?” tanya Ana pada Laras ketika mereka sudah berjalan beriringan. Laras hanya tersenyum. Ana tetap mengikutinya sampai tiba di sebuah taman kecil dekat dengan hutan dan sebuah danau.
“Ras, ini sudah malam. Mau ngapain ke danau jam segini? Sebaiknya kita pulang nanti masuk angin, loh.” Ana menarik tangan Laras yang terasa dingin.
Tangan itu pucat sepucat wajahnya. Laras tampak seperti mayat. Terbersit di hati Ana pertanyaan mungkinkah Laras sudah meninggal? Namun, ia tetap mencoba membujuk Laras untuk pulang.
Anak perempuan berwajah pucat itu lalu menunjuk ke arah ranting pohon yang menjuntai bagai ayunan di taman. Laras naik dan mulai berayun di sana.
"Yeee, si Laras ngapain malah ngajak main ayunan di sini?" gumam Jaya.
Akan tetapi semakin diamati dengan saksama, Ana mendadak tersadar kala melihat kejanggalan pada diri Laras yang sedang berayun. Laras tidak menggunakan ayunan saat itu.
"Dia main ayunan pakai apa? Nggak ada ayunannya, Jaya," tukas Ana.
Perlahan Jaya jadi ikut mengamati dari ujung kaki sampai kepala Laras. Dan ia temukan seutas tali menjerat leher Laras.
Ana juga menyadari ada jeratan di lehernya Laras. Lidah anak perempuan itu terjulur dengan mata melotot menyeramkan. Tubuh Laras ternyata tengah tergantung. Ana dan Jaya baru menyadari kalau Laras bukanlah manusia. Gadis muda itu telah tewas gantung diri.
“Laras!" pekik Ana yang mencoba menghampiri Laras tetapi Jaya langsung menahannya.
"Ini TKP, Na! Jangan sentuh jasad Laras!" titah Jaya.
"Tapi Laras mati, Jay! Dia mati!" pekik Ana di pelukan Jaya.
"Berarti yang tadi kita ikuti itu setannya si Laras. Kamu harus lapor ke penjaga kalau Laras bunuh diri," ucap Jaya.
"Dia nggak bunuh diri aku yakin itu! Dia nggak mungkin bunuh diri. Ini pasti ada yang bunuh Laras," tukas Ana.
Dia merutuk diri sendiri kenapa sampai kecolongan hilang perhatiannya pada Laras. Kalau tahu nyawa Laras dalam bahagia, sudah dari tadi Ana akan meminta Laras tidur di kamarnya.
Dengan kaki gemetar, Jaya membawa Ana untuk melangkah mundur. Tiba-tiba, Laras muncul di samping jasadnya yang tengah tergantung. Laras memanggil Ana. Dia mengangkat kedua tangannya ke arah perempuan itu, menunjukknya.
"Putri Ana… ayo ikut denganku!"
Laras memanggil Ana dengan suara parau yang memilukan. Ketika Ana dan Jaya menoleh, wajah Laras berubah menjadi tengkorak dengan sisa-sisa rambut yang menempel pada tempurung kepalanya. Sontak saja, Ana dan Jaya berteriak keras sambil berlari pulang.
Ana tak peduli ketika berlari melintasi apa pun, yang jelas dia ketakutan sampai berlari ke segala arah. Jaya berusaha menyusul Ana untuk menghentikannya agar lebih tenang padahal dia sendiri juga takut. Mereka lari terbirit-birit.
Niatnya Ana untuk menuju kamarnya tetapi langkah wanita itu malah mengarah ke arah tepi hutan. Ana menggigil ketakutan. Angin malam seakan menusuk ke tulang, tetapi dia tak peduli.
Bagaimana bisa Laras yang tergantung tak bernyawa tetapi sempat muncul dalam balutan hanya tengkorak saja itu. Bahkan Laras mengajak Ana untuk ikut bersamanya.
Rasa ngilu dan badan yang semakin dingin terus Ana rasakan. Anehnya lagi, dia merasa bagian dadanya semakin sesak. Ana mencengkeram pakaiannya kuat-kuat seraya sesekali menepuk pada bagian dada karena tak tahan rasanya.
Tiba-tiba, kaki Ana terasa ada yang menarik. Tangan-tangan itu keluar dari bawah tanah di balik daun-daun kering yang berserakan itu.
"ANA!" pekik Jaya.
Rasa panik langsung menyerang kala Ana mencoba menarik kakinya dari cengkraman tangan berkuku tajam itu. Jaya berusaha membantu Ana dengan menarik kakinya.
Tiba-tiba, ada kain hitam koyak-koyak yang menutupi wajah Ana sampai ia susah bernapas. Asupan oksigen itu terasa susah ia raup. Sayup-sayup, Jaya melihat sosok berjubah hitam di kejauhan. Jaya ingin mengejarnya, tetapi Ana lebih penting.
Jaya mengerahkan semua tenaganya bahkan menggigit tangan-tangan yang mencengkram kaki Ana. Rasa pahit dan menjijikkan terasa di lidah Jaya. Namun, ia tak peduli. Dia ingin Ana bebas.
Setelah cengkeraman itu terlepas, kini Jaya harus melepas kain hitam dari wajah Ana. Dia berhasil melakukannya. Ana menangis memeluk Jaya. Dia sangat ketakutan.
"Kita harus pergi dari sini. Bunyikan kentungan penanda bahaya!" titah Jaya.
Ana mengangguk. Dia ditemani Jaya berjalan terseok-seok menuju ke arah pos penjaga. Seorang penjaga tengah terlelap. Dia langsung kaget ketika kentungan itu Ana pukul.
...***...
Di aula kerajaan, Ana ditemani Risa tengah menangis. Risa berusaha menenangkan sahabatnya setelah menceritakan apa yang dia alami di tepi hutan. Raja Sumarjo dan Ratu Melati tampak gusar dan meminta beberapa pengawal beserta Panji untuk memeriksa tepi Danau tempat jasad Laras tergantung.
Benar saja, sosok Laras tengah tergantung di sana. Ia diduga mengakhiri hidupnya sendiri karena tak ada tanda-tanda pembunuhan yang dilakukan oleh orang lain. Namun, penyebab Laras nekat menghabisi nyawanya sendiri belum ada yang tahu.
Risa dan Laras saling bertatapan ketika keluarga Patih Gundul datang. Ana lantas bangkit dan menunjuk ke arah Ibu Dewi.
"Kau, kau yang bunuh Laras, kan?!" pekik Ana menunjuk Dewi.
"Jaga ucapanmu! Mana mungkin aku menghabisi nyawa anakku sendiri," sanggahnya.
"Dia bukan anakmu! Dia hanya anak tirimu, kan?!" seru Ana lagi.
"Dia memang anak tiri ku, tetapi aku tak mungkin menghabisinya. Dia bunuh diri!" seru Dewi.
"Kau bahkan memiliki klinik aborsi bayi dan menjualnya sebagai sup, iya kan?" tuding Ana.
"Jaga bicaramu, Putri Ana!" giliran Patih Gundul yang berseru.
"Apa-apaan ini? Tuduhan macam apa ini?" Raja Sumardjo terlihat gusar.
Ratu Melati berusaha menenangkan suaminya.
"Laras tadinya mau memberitahukan pada saya tentang kejahatan ibunya. Tapi, kini bukti kuat itu telah tiada," ucap Ana.
"Laras mati bunuh diri, Putri Ana!" sahut Ratu Melati.
"Kalau pun Laras bunuh diri aku yakin karena ulah ibunya, Yang Mulia Ratu!" Ana menoleh kembali pada Dewi dengan menatapnya tajam.
"Ini keterlaluan! Sebaiknya Anda didik mantu Anda agar menjadi calon putri yang beradab!" Dewi lantas meninggalkan aula menunggu jasad Laras dibawa pulang.
Ana kini berhadapan dengan semua pasang mata yang tertuju ke arahnya.
...******...
...Bersambung dulu, ya....
Salam Asli Sabahan.Malaysia😘😘😘