✦ JERAT TIGA SISI ✦
"Pilih dengan bijak, Azira Anandya Gunawan. Menikahi CEO pilihan Papahmu, lari ke pelukan sahabat doktermu, atau kembali menjadi milikku seperti dulu?"
Azira terjebak di antara tiga pria yang memiliki cara berbeda untuk mengurungnya.
Sisi Pertama — Baskara Yudistira Prayoga. Pria berjas mahal yang angkuh. Ia memandang Azira sebagai kewajiban kontrak, namun tatapan matanya perlahan mulai menuntut hak yang lebih dari sekadar status.
Sisi Kedua — Farhan Nalendra. Pria berjas putih dengan senyum hangat yang selalu menyembuhkan luka Azira. Sosok yang kini berani melangkah keluar dari friendzone demi melindungiku.
Sisi Ketiga — Gavin Mantiez. Dan yang paling berbahaya... teman masa kecil Azira sekaligus mimpi buruk yang kembali dengan tatapan penuh kepemilikan gila.
Tiga pria, tiga cara mencintai yang ekstrem, dan satu hati milik Azira yang diperebutkan. Siapakah yang akhirnya akan mendampingi AZira di garis akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Dinasti dan Aliansi Beradarah Part 2
Pria muda itu menghentikan langkahnya, lalu menyunggingkan senyum tipis yang tampak begitu ramah dan menenangkan.
"Maaf atas kelancangan saya, Tante, Sendy. Perkenalkan, nama saya Gavin. Gavin Manzies. Teman masa kecil Azira."
Mendengar nama itu beserta seulas senyumnya, ingatan Tante Shafira mendadak berputar cepat ke malam pesta pertunangan Azira dan Baskara yang megah. Kilasan memori tentang seorang pria yang mendatangi mejanya dan membisikkan informasi krusial langsung terlintas jelas.
"Oh! Kamu... kamu pria yang waktu di pesta pertunangan Azira malam itu, kan?!" seru Tante Shafira, suaranya mendadak berubah drastis, kehilangan nada ketusnya.
Ia langsung berdiri dari sofa, wajahnya berubah sok akrab dengan binar mata yang membelalak. "Iya, saya ingat sekarang! Kamu pria baik yang waktu itu memberitahu kami kalau dokter miskin bernama Farhan itu datang mau merusak acara pertunangan Azira! Aduh, ternyata kamu toh!"
Gavin mengangguk pelan dengan gestur tubuh yang sangat sopan. "Benar, Tante. Senang karena Tante masih mengingat saya."
"Tentu saja saya ingat! Insting saya waktu malam itu sudah bilang kalau kamu ini bukan orang sembarangan," ujar Tante Shafira dengan nada sok kenal yang kental, mencoba mencairkan suasana kelam yang sempat menyelimuti ruang tamu mereka beberapa saat lalu.
Gavin tersenyum tipis, mengapresiasi sambutan hangat yang memang sudah ia prediksi akan terjadi. Ia mengambil tempat duduk di seberang mereka dengan gerakan yang sangat terukur.
"Tenang saja, Tante, Sendy. Kehadiran saya di tempat ini bukan untuk menonton pertunjukan kebangkrutan atau kehancuran finansial kalian. Saya datang ke sini membawa sebuah solusi nyata," tawar Gavin.
Nada suaranya dibuat sehalus, sehangat, dan selembut mungkin, memanipulasi keputusasaan dan ketakutan ekstrem di depan matanya dengan sangat cerdik.
"Saya memiliki likuiditas dana segar yang lebih dari cukup untuk menyuntikkan dana ratusan miliar ke Gunawan Group dalam hitungan jam saja. Saya juga bisa memulihkan nama baik serta kehormatan keluarga kalian di mata para kolega bisnis papan atas dalam semalam."
Tante Shafira tertegun seketika, mulutnya sedikit terbuka dengan napas tertahan. Ia seolah-olah sedang melihat sesosok malaikat penolong berwajah tampan yang turun langsung dari langit ke tengah-tengah neraka kemiskinan mereka.
"Kamu... kamu benar-benar mau membantu keuangan kami, Gavin?" tanya wanita paruh baya itu. Nada suaranya terdengar masih menyimpan sedikit kecurigaan pebisnis, namun sepasang matanya memancarkan binar keserakahan dan harapan besar yang tak bisa disembunyikan.
"Berapa persen bunga yang kamu minta dari pinjaman ini? Dan apa imbalan finansial atau konsesi saham yang kamu inginkan dari Gunawan Group, Gavin?"
Gavin tersenyum tipis, sebuah senyuman menawan yang tampak begitu tulus, lalu menggelengkan kepalanya perlahan dengan gestur tubuh yang sangat dermawan.
"Awalnya, saya memang berniat membantu kesulitan ini secara cuma-cuma, murni karena kedekatan hubungan masa lalu saya yang indah dengan Azira dan keluarga kalian. Saya bahkan tidak akan meminta sepeser pun uang ratusan miliar itu kembali ke kantong saya," ucap Gavin dengan nada mendayu, sengaja mengulur waktu dan membangun umpan manis yang tak mungkin ditolak agar targetnya benar-benar terjerat masuk ke dalam perangkapnya.
Mereka bertiga—Gavin, Tante Shafira, dan Sendy—berbincang cukup lama di ruang tamu mewah tersebut. Dengan kecerdikan manipulatifnya yang berada di level tertinggi, Gavin memamerkan kekuatan finansial global, aset tersembunyi, dan koneksi internasional yang ia miliki.
Hal itu sukses membuat ibu tiri dan adik tiri Azira semakin tergiur, silau oleh kekayaan, dan secara psikologis mulai bergantung sepenuhnya pada sosok Gavin.
Setelah obrolan panjang yang menguras emosi dan berhasil menguliti habis ego keluarga Gunawan yang ketakutan setengah mati akan bayang-bayang kemiskinan, Gavin akhirnya memutuskan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mengeluarkan kartu as miliknya.
Tatapan sepasang mata layu Gavin yang semula hangat, bersahabat, dan penuh belas kasihan mendadak berubah drastis dalam mikro-detik. Netra pria itu menggelap pekat, memancarkan aura dingin, tajam, kejam, dan penuh dengan obsesi gila yang mengerikan—sorot mata psikopat yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik topeng malaikatnya.
"Tapi tentu saja, tidak ada makan siang yang benar-benar gratis di dunia bisnis ini, Tante," bisik Gavin, memajukan tubuh tegapnya ke depan meja marmer, menatap langsung ke dalam manik mata Tante Shafira dengan intimidasi yang tak kasat mata.
Suasana di dalam ruang tamu mewah itu mendadak drop menjadi sangat dingin dan mencekam.
"Imbalan yang saya inginkan dari kalian berdua sebenarnya sangat sederhana dan mudah," lanjut Gavin dengan seulas senyum miring yang mengerikan di bibirnya.
"Bantu saya mendapatkan Azira kembali ke dalam pelukan saya sepenuhnya. Serahkan dia ke tangan saya, dan buat dia lepas selepas-lepasnya dari cengkeraman Baskara maupun dokter sialan bernama Farhan itu. Jika kalian berdua berhasil menjebak, menghancurkan mentalnya, dan membawa Azira kembali bersujud pada saya, Gunawan Group akan menjadi milik kalian sepenuhnya tanpa perlu kalian mengemis lagi pada Prayoga Group."
Mendengar syarat itu, sendi-sendi tubuh Sendy mendadak kaku. Di balik sofa tempatnya duduk, kedua tangannya meremas roknya sendiri dengan sangat erat hingga kuku-kukunya memutih.
Hati Sendy bergejolak hebat, didera pusaran rasa iri yang membakar dadanya kian panas. Kenapa harus Azira lagi? batinnya menjerit penuh kedengkian. Ia menatap Gavin yang begitu tampan, kaya raya, dan berwibawa, lalu teringat pada Baskara yang memiliki kekuasaan mutlak atas Prayoga Group, bahkan ingatan tentang Farhan sang dokter yang juga menaruh hati pada kakak tirinya itu.
Sendy merasa egonya diinjak-injak. Di matanya, Azira hanyalah wanita sastra yang membosankan dan naif. Sementara dirinya merasa jauh lebih menarik, lebih modis, dan tidak kalah cantik sedikit pun. Namun, kenapa semua pria hebat, berkuasa, dan bergelimang harta di kota ini selalu berlutut dan memperebutkan Azira seolah wanita itu adalah satu-satunya permata di dunia? Rasa tidak terima itu menyumbat tenggorokannya, membuat wajahnya sempat menggelap sesaat sebelum ia kembali dipaksa sadar oleh kenyataan pahit kebangkrutan yang mengancam di depan mata.
Ibu tiri Azira dan Sendy saling berpandangan selama beberapa detik dalam keheningan yang kaku. Di dalam kepala mereka yang penuh dengan keserakahan, Azira sama sekali bukanlah bagian dari anggota keluarga yang harus dilindungi; wanita sastra itu tak lebih dari sekadar barang komoditas berharga yang bisa dijual kepada penawar tertinggi.
Dan saat ini, penawaran dana segar dari Gavin jauh lebih menggiurkan dan menyelamatkan hidup mereka daripada ancaman kehancuran dari Baskara.
Tanpa perlu berpikir panjang atau menimbang moral, senyum keserakahan yang menjijikkan kembali terukir lebar di wajah Tante Shafira dan Sendy.
"Setuju. Deal," bisik Tante Shafira dengan mata berbinar licik.
Kesepakatan rahasia yang mengerikan untuk menjebak dan mengorbankan Azira pun resmi terjalin di atas meja marmer itu, menjadi awal dari petaka dan jeratan baru yang jauh lebih gelap bagi hidup Azira ke depannya.
...****************...
Sementara itu, kembali ke jalanan ibu kota yang padat, sedan mewah milik Baskara terus melesat membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.
Awalnya, rute yang terpatri di kepala Baskara adalah membawa Azira menuju butik pengantin ternama untuk agenda fitting baju pernikahan mereka sesuai dengan jadwal yang telah disusun rapi.
Namun, dari sudut matanya yang tajam, Baskara menangkap setiap detail kehancuran di sampingnya. Tubuh Azira terlihat bergetar hebat, napasnya tidak teratur, dan tetesan air mata terus meluncur membasahi kulit pipinya yang lebam. Kondisi fisik dan mental wanita itu tampak begitu rapuh, seolah bisa hancur kapan saja berkeping-keping.
Melihat keadaan itu, ada secercah rasa tak tega yang berkelebat di hati Baskara, mengalahkan egonya yang kaku. Dengan satu gerakan tangan yang tegas dan cepat, Baskara langsung memutar kemudi, mengubah arah tujuannya secara drastis menuju penthouse pribadi miliknya yang eksklusif dan tersembunyi dari hiruk-pikuk luar.
Suara bentakan dan makian kasar dari Papah Azira yang sangat keras di telepon tadi bahkan bisa terdengar jelas oleh pendengaran tajam Baskara, tanpa perlu wanita itu menyalakan fitur loudspeaker kabin mobil.
Rahang sang CEO muda itu semakin mengeras kuat, memperlihatkan guratan otot yang tegang dan kaku di sepanjang lehernya. Cengkeraman kedua tangan kekarnya pada roda kemudi kian mengetat luar biasa hingga buku-buku jarinya memutih bersih.
Alih-alih merasa bersalah, cemas, atau menyesal karena telah menggilas korporasi keluarga Gunawan hingga hancur lebur dalam waktu semalam, Baskara justru merasa keputusan tegasnya sudah sangat tepat dan akurat.
Keluarga serakah itu tidak pernah layak mendapatkan Azira atau memanfaatkan nama besar Gunawan. Mereka memperlakukan Azira layaknya sebuah pion catur murah yang bisa ditukar kapan saja dengan selembar cek investasi modal.
Baskara sengaja memerintahkan pembekuan aset dan pembatalan posisi Komisaris semalam bukan untuk menyiksa atau membuat Azira sedih, melainkan untuk memotong habis tangan-tangan serakah keluarga Gunawan agar mereka tidak bisa lagi memanfaatkan status Azira sebagai barang dagangan politik korporat di masa depan.
Bagi seorang Baskara Yudhistira Prayoga, siapa pun yang berani merusak, menyentuh, atau menyakiti wanita yang kini berada di bawah radar kepemilikan dan hukum cincinnya, harus membayar harga yang sangat mahal dengan kehancuran hidup mereka. Azira sekarang berada di bawah perlindungan mutlak kekuasaannya—baik wanita naif itu menyukai cara kasarnya yang dominan ini atau tidak.
Di sisi lain, Azira sama sekali tidak menyadari perubahan arah mobil tersebut. Karena hatinya yang hancur, ia bahkan tidak memikirkan ke mana ia akan dibawa oleh pria di sebelahnya. Pandangan matanya kosong, menatap lurus keluar jendela tanpa benar-benar memperhatikan jalanan yang mereka lalui.
Pikiran Azira benar-benar terisolasi, bergelut hebat dalam pusaran masalah yang berkecamuk tanpa ampun di dalam benaknya. Untaian kalimat provokasi dari pesan panjang Gavin semalam terus berputar seperti kaset rusak, meracuni logika warasnya.
Ditambah lagi dengan gema suara bentakan serta tuduhan kejam dari sang Papah di telepon yang terus terngiang-ngiang, membuat kepala Azira terasa pening luar biasa. Semua beban mental itu menumpuk jadi satu, merenggut seluruh kesadaran ruangnya hingga ia hanya bisa pasrah ke mana pun roda mobil mewah ini akan membawanya pergi.
Suasana di dalam kabin mobil menjadi semakin hening dan mencekam seiring mobil memasuki area parkir privat gedung penthouse Baskara