Meidina kini telah resmi menjadi istri seorang Kapolsek, Nyonya Radit Al Farizi. Pria yang mencintai nya tulus tanpa, memandang status masa lalunya.
Derajat Meidina, kini terangkat setelah menikah dengan Radit. Pria yang mampu menutupi masa lalunya sebagai wanita malam, dan memberikan sebuah kebahagiaan yang selama ini dia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Herliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Hati
"Ibu sama Atau senang, lihat kalian berdua datang bersamaan." ucap Ibu Mira, saat Meidina dan Angga datang bersamaan.
"Nah, kalau begini kan cocok." ucap Pak Halim.
"Ayah, Ibu tujuan kami, ingin memberitahu pada kalian." ucap Angga berhenti.
"Katakan, apa yang kamu ingin sampai kan pada Ayah dan Ibu?" ucap Pak Halim.
"Ibu, Ayah maafkan Angga, kalau Angga tidak bisa membalas semua yang Ibu sama Ayah berikan, buat Angga. Tapi Angga janji, akan membalas nya dengan, yang lain nya. Bukan dengan menikah dengan istri Almarhum Bang Radit."
"Kamu tidak mau, di jodoh kan dengan Meidina?" tanya Pak Halim.
"Kamu, masih mau menikah dengan Arumi?" ucap Ibu Mira.
"Maafkan saya, maafkan kalau saya tidak bisa, memenuhi keinginan kalian."
"Ayah, Ibu. Tolong, jangan pisahkan Angga dah Arumi. Mereka saling mencintai, jangan membuat hubungan mereka pecah, jangan membuat mereka menangis. Saya juga berterima kasih, pada Ibu dan Ayah. Karena sudah mencarikan jodoh untuk saya, tapi maaf. Tidak akan ada yang bisa, menggantikan Bang Radit, dengan seorang pria lain. Walau itu pilihan, Ayah dan Ibu. Saya tidak akan, pergi jauh. Ayah dan Ibu, jangan takut saya akan melupakan, suami saya. Walau dia sudah meninggal dunia, saya akan tetap bertahan sendiri, dengan kisah cinta yang dia tinggalkan bersama calon bayi yang saya kandung." ucap Meidina.
"Tapi Mei, apa kamu kuat bertahan seperti ini?" tanya Pak Halim.
"Insya Allah saya bisa, insya Allah saya kuat. Ayah dan Ibu lupa ya, kalau dulu saya itu pernah, memiliki cobaan yang begitu sangat berat. Dan hingga sekarang, cobaan itu tetap ada. Bagaimana saya menghadapi nya, saya tetap tegar dan tidak manja. Ayah dan Ibu, tenang saja, tidak akan pernah saya lupakan Bang Radit, karena cinta sehidup semati saya adalah Bang Radit." ucap Meidina.
"Angga minta, sama Ayah dan Ibu jangan pisahkan saya dengan Arumi. Saya ingin pindah kesini itu, ingin dekat dengan Arumi, dan ingin menikahi nya." ucap Angga.
"Baik, kalau memang keputusan kalian seperti itu, Ayah dan Ibu tidak bisa memaksa kalian." ucap Pak Halim.
"Terima kasih Ayah, terima kasih Ibu." ucap Angga langsung mencium punggung tangan kedua orang tua angkat nya.
"Kapan, kamu ingin melamar Arumi?" tanya Ibu Mira.
"Saya akan kabari dulu Arumi, kalau Ayah dan Ibu akan datang, untuk melamar nya." jawab Angga dengan wajah bahagia nya.
Meidina tersenyum, saat melihat Angga tampak bahagia, bisa menikah dengan pilihan hati nya sendiri.
****
"Mba, makasih ya. Saya tidak bisa, berkata apa - apa. Dan saya, merasakan tenang sekarang." ucap Angga.
"Sama - sama, saya doakan semoga lancar sampai hari H."ucap Meidina.
" Amin ya Allah, semoga mba Mei juga terus bahagia ya."
"Amin..!! "
*****
"Abi sudah minum obat?" tanya Meidina, saat ke rumah Abi Mulia, Abi nya sedang sakit.
"Sudah nak, ini karena kecapean saja." jawab Abi Mulia.
"Kalau Abi punya istri, enak Abi bisa ada yang mengurus Abi. Kalau tidak ada kan, kadang anak tidak tahu."
"Abi kan dulu, pernah bilang ingin menikah dengan Mami Rosa, tapi sama Anisah tidak boleh. Bahkan Mami Rosa juga, dia tidak mau. Terus Abi, harus ta'aruf sama siapa?"
"Abi saja, suka sama siapa? kalau saya bisa bantu, nanti saya bantu Abi."
"Abi kan bilang, sama Mami kamu, tapi Mami kamu kan tidak mau. Masa Abi, paksa."
"Abi sudah tengok Anisah di rumah sakit?" tanya Meidina, mengalihkan pembicaraan.
"Sudah waktu lusa kemarin, tapi karena Abi tidak enak badan belum ke rumah sakit lagi."
"Saya semakin perihatin, dengan kondisi Anisah. Apalagi, terlihat semakin parah. Dan di saat seperti ini, Anisah malah semakin menjadi, ingin menyakiti saya."
"Maafkan Abi nak, mungkin Abi yang salah, hingga membuat Anisah begitu membenci kamu."
"Bukan Abi, Abi tidak pernah salah."
*****
Praaaaangg
Praaaaangg
Hahahahaha...
"Dia mengambil anak saya, kurang ajar kamu..!! " teriak Anisah.
Bagas hanya bisa melihat istri nya, tengah mengamuk. Hati nya sedih, saat melihat Anisah semakin hari semakin parah.
"Dokter, apa istri saya selama nya akan gila?" tanya Bagas.
"Dilihat dari kondisi pasien, seperti nya seperti itu. Tapi kami berusaha, agar pasien bisa sembuh."
"Saya sedih dok, melihat istri saya seperti ini. Saya sebagai suami nya, merasa bingung harus bagaimana lagi, agar dia bisa normal lagi."
"Sabar Pak, bapak sudah berusaha. Tapi usaha Pah Bagas, masih terus untuk berjuang agar istri bapak sembuh."
Bagas tidak sanggup lagi, melihat kondisi istri nya, yang terus mengamuk. Bagas langsung pergi meninggalkan rumah sakit, karena tidak tahan melihat Anisah seperti itu.
"Abang, mau kemana?" tanya Meidina.
"Abang mau pulang, kamu mau melihat kondisi Anisah?" jawab Bagas, kembali bertanya.
"Iya Bang, bagaimana dia?"
"Dia semakin parah, Anisah sedang mengamuk. Abang tidak muat, lihat kondisi nya semakin parah."
"Bang, jangan pergi disaat Anisah membutuhkan Abang. Anisah itu istri Abang, jangan pergi Bang, walau kondisi dia sekarang seperti itu, Abang secara tidak langsung, tidak mau menerima kenyataan."
"Bukan Abang, ingin meninggal kan nya. Tapi Abang tidak kuat, melihat Anisah semakin gila. Abang ingin dia sembuh, selama dia sakit, Abang tidak pernah meninggalkan nya, hanya baru sekarang, karena Abang tidak kuat, melihat dia seperti itu."
"Kita kesana lagi Bang, temani saya. Kasih support pada dia, saya kesini juga, untuk memberikan support, kalau kita tetap ada untuk dia."
*****
Terlihat Anisah sudah tenang, dan terlihat tertidur. Anisah terus menenangkan Bagas, dan memberikan dukungan agar tetap sabar.
"Abang harus yakin, kalau Anisah pasti sembuh."
"Amin, lihat kondisi dia seperti itu, tubuh kurus, Abang semakin sedih, ingin rasanya Abang memeluk dia, tapi setiap melihat orang asing pasti akan mengamuk. Bahkan dokter dan perawat pun merasakan sulit, karena Anisah sering berontak." ucap Bagas.
"Jangan kan Abang, saya pun ingin memeluk nya, sebagai saudara kandung. Saya juga rindu, rindu Anisah yang dulu."
****
"Kamu mau cari cincin model apa?" tanya Meidina sambil mencari cincin bersama Angga di toko perhiasan.
"Model yang cantik, terus pas di tangan mba Meidina." Jawab Angga.
"Kalau yang ini gimana?" tunjuk Meidina.
"Bagus ini, coba mba cincin yang mba di sebelah saya tunjuk." ucap Bagas.
Pelayan toko perhiasan, mengambil cincin yang di maksud. Dan Meidina, mencoba cincin tersebut, di jari manis nya.
"Gimana?" tanya Meidina sambil menunjukan kelima jari nya
"Bagus - bagus, mba bungkus yang ini ya." ucap Angga.
"Baik Pak, saya proses ya."
"Kalau nanti kekecilan, jangan salah kan saya." ucap Meidina.
.
.
.
.
.
7 bln & 8bln sudh dlam kandungan ku bawa kmna2 tp dia lbh senang memilih Allah,.
tunggu mamah disana ya 2bidadari kecilku
perempuan itu tipe nya setia jika di tinggal meninggal suaminya. Jika di sakiti lelaki jangan memikirkan cari pasangan baru. karena anak lebih penting dari cari suami baru.