NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16: Hadiah untuk Adi

"Jangan bawa-bawa Adi untuk pamer lagi," kata Doni dengan suara serak.

Ia mencoba berdiri, tetapi kursinya bergeser terlalu keras dan membuat semua orang melihat betapa tangannya gemetar. Sertifikat Menara Langit masih di tengah meja. Kunci Innova yang tadi ia jadikan piala kini tampak seperti mainan kecil.

Raka tidak menaikkan suara.

"Aku tidak pamer kepada Adi. Aku membayar hutang."

Adi langsung menggeleng. "Rak, kamu tidak punya hutang. Aku cuma beli makan siang waktu itu."

"Kamu membeli lebih dari makan siang. Kamu membeli satu hari ketika aku hampir percaya bahwa dipermalukan itu normal."

Rina menunduk makin dalam. Beberapa alumni yang dulu ikut tertawa mulai terlihat gelisah, seolah ingatan yang mereka anggap ringan tiba-tiba punya harga.

Doni memukul meja. "Cukup drama. Kalau kamu kaya, bagus. Tapi jangan sok suci. Semua orang juga pernah bercanda."

Raka menatapnya. "Bercanda itu kalau dua pihak tertawa. Yang kamu lakukan dulu dan malam ini namanya memilih target."

Fajar berdiri di dekat pintu, tidak ikut campur, tetapi posisinya memastikan Doni tidak mendekat seenaknya.

Pak Surono masuk membawa map lain. Ia menyerahkannya kepada Raka dengan kedua tangan.

"Dokumen yang Bapak minta sudah siap. Pak Bayu mengirim salinan digital dan notaris akan menindaklanjuti besok pagi."

Raka membuka map itu, lalu mendorongnya ke depan Adi.

Adi membaca halaman pertama. Wajahnya kosong.

"Ini apa?"

"Restoran Bunga Rampai. Mulai malam ini, operasional tetap berjalan. Pak Surono tetap manajer. Semua karyawan aman minimal enam bulan. Tapi lima belas persen kepemilikan dan posisi direktur operasional bertahap saya berikan kepada kamu, dengan syarat kamu belajar manajemen dan tidak meninggalkan standar dapur."

Adi menatap Raka seperti tidak memahami bahasa Indonesia.

"Aku? Direktur? Rak, aku cuma supervisor dapur."

"Karena kamu tahu dapur. Karena kamu tahu siapa karyawan yang benar-benar bekerja. Karena kamu tidak menjilat Doni saat dia duduk di meja utama."

Doni tertawa getir. "Jadi karena dulu traktir nasi, sekarang dapat restoran? Hebat. Kalau tahu, dulu aku traktir satu kantin."

Raka menoleh. "Kalau kamu traktir satu kantin untuk menolong orang, mungkin hidupmu juga berbeda. Tapi kamu menjatuhkan makanan orang untuk mendapat tawa. Jangan iri pada hasil dari kebaikan yang tidak pernah kamu lakukan."

Kalimat itu memukul lebih keras daripada sertifikat mana pun.

Rina tiba-tiba berkata pelan, "Raka, aku... maaf soal dulu. Aku ikut tertawa karena takut Doni."

Raka melihatnya. "Maaf diterima. Kedekatan tidak."

Wajah Rina memucat, tetapi ia tidak bisa membantah.

Adi menutup map dengan tangan gemetar. "Aku tidak bisa menerima sebanyak ini."

"Bisa. Tapi bukan sebagai hadiah kosong. Ini tanggung jawab. Kalau kamu gagal, Pak Surono lapor ke saya. Kalau kamu malas, Bayu tarik kembali. Kalau kamu berhasil, restoran ini jadi pijakanmu membuka cabang sendiri."

Pak Surono mengangguk. "Saya siap membimbing Pak Adi. Selama ini kerja beliau memang rapi."

Kata Pak Adi membuat mata Adi basah.

Ia berdiri, lalu memeluk Raka. Bukan pelukan dramatis yang lama. Hanya tekanan bahu dua laki-laki yang pernah berdiri di lantai kantin yang sama, tetapi keluar dengan jalan berbeda.

"Terima kasih," bisik Adi.

"Jangan terima kasih terlalu cepat. Besok kamu mulai belajar laporan keuangan."

Adi tertawa sambil menyeka mata. "Itu ancaman?"

"Itu promosi. Biasanya lebih sakit dari ancaman."

Suasana meja berubah. Orang-orang yang tadi datang untuk melihat Raka dipermalukan kini melihat sesuatu yang lebih berbahaya daripada uang: kemampuan mengubah nasib orang yang dipilihnya.

Doni mengambil kunci mobilnya dan berjalan ke pintu.

"Aku tidak butuh tontonan ini."

Raka tidak menghentikan. "Doni."

Doni berhenti tanpa menoleh.

"Bayar vendor. Jangan tunggu mereka datang menagih ke pabrikmu di depan karyawan. Rasanya tidak enak dipermalukan di depan orang banyak. Percaya padaku."

Punggung Doni menegang, lalu ia keluar.

Misi sistem selesai tepat saat pintu tertutup.

[Misi Reuni Emas selesai.]

[Hadiah: 8.000 poin sistem. Ramuan Persepsi Menengah diperoleh.]

Raka menyimpan notifikasi itu. Ia belum tahu kapan ramuan itu dipakai, tetapi namanya saja sudah cukup memberi sinyal: musuh berikutnya tidak akan selalu berteriak seperti Doni. Ada yang datang dengan senyum.

Makan malam akhirnya benar-benar dimulai, tetapi nada bicaranya berubah. Beberapa alumni meminta maaf tanpa membuat adegan. Raka menerima seperlunya. Ia tidak perlu memeluk semua masa lalu hanya karena kini ia menang.

Menjelang pulang, Adi mengantar sampai depan restoran.

"Rak, aku takut mengecewakan kamu."

"Bagus. Orang yang takut mengecewakan biasanya masih bisa dipercaya."

"Kenapa kamu yakin padaku?"

Raka membuka pintu mobil, lalu berhenti.

"Karena waktu aku tidak punya apa-apa, kamu tidak melihatku sebagai beban. Sekarang aku punya terlalu banyak, aku butuh orang yang tidak berubah hanya karena melihat angka."

Adi mengangguk, matanya kembali merah.

Fajar menutup pintu setelah Raka masuk. Mobil baru bergerak ketika ponsel Raka berdering. Nomor tidak dikenal, tetapi Mimpi langsung menampilkan identifikasi.

[La Maison. Restoran Prancis premium. Catatan: reservasi Bibi Lestari dan Bintang ditolak oleh staf dengan alasan tidak menerima orang sembarangan.]

Raka mengangkat.

Suara perempuan di seberang dingin dan terlatih.

"Selamat malam. Apakah ini Pak Raka? Kami dari La Maison ingin mengonfirmasi bahwa permintaan reservasi keluarga Anda tidak dapat kami terima. Restoran kami menjaga standar tamu. Kami harap Bapak mengerti."

Fajar, yang duduk di depan, langsung melihat kaca spion.

Raka menatap lampu jalan yang lewat di kaca jendela.

"Fajar."

"Ya, Pak."

"Cari pemilik La Maison."

Fajar menghela napas kecil, setengah lelah setengah geli.

Di luar, sebelum masuk mobil, Raka sempat melihat Doni berdiri di parkiran, menelepon seseorang dengan suara tertahan. Kata vendor dan tempo terdengar samar. Doni tidak runtuh malam itu, tetapi retaknya sudah terlihat. Raka tidak mengejar. Ia bukan lagi anak kantin yang perlu melihat musuhnya tersungkur untuk merasa ada.

Rina mengirim pesan pendek beberapa menit kemudian: Aku benar-benar minta maaf. Raka tidak membalas. Beberapa pintu memang boleh ditutup tanpa dibanting.

Fajar memperhatikan dari spion. "Pak, Anda menahan banyak hal malam ini."

"Kalau semua orang saya hancurkan sampai habis, tidak ada yang belajar. Ada yang cukup dibuat diam. Ada yang harus dibuat berubah."

"Dan La Maison?"

Raka melihat nomor asing itu berdering lagi.

"Kita lihat mereka masuk kategori mana."

Pak Surono juga menyerahkan daftar staf dapur kepada Adi malam itu. Ia ingin Adi paham sejak awal bahwa promosi berarti kerja nyata. Adi menerima daftar itu dengan dua tangan. Keringat muncul di keningnya. Kali ini sumbernya jalan baru yang terbuka di depan mata.

"Bang, mau beli restoran lagi?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!