Sebuah kecelakaan pesawat Jet terjadi dan Alika adalah seorang pramugari satu-satunya yang selamat dalam penerbangan tersebut, namun kecelakaan itu membuat Alika buta.
Ryan Aditama sang CEO, rasa bersalah atas meninggalnya seluruh tim 1 membuatnya tak bisa mengabaikan Alika, dia putuskan untuk jadi pelayan gadis buta tersebut dengan identitas yang lain, Erlan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Ciuman Kecil
Malam harinya Alika tidak bisa tertidur, ada rasa cemas di dalam hatinya mengenai operasi besok.
Erlan bahkan berulang kali menjelaskan padanya bahwa operasi itu tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya sekitar 30 sampai 45 menit saja.
Tapi tetap saja semua penjelasan itu tidak mengurangi sedikitpun rasa cemas yang ada di dalam hati Alika.
Selalu saja ada ketakutan yang mengatakan bahwa operasinya bisa saja gagal.
"Al, kenapa belum tidur juga? bukankah dokter memintamu untuk banyak istirahat sebelum besok menjalani operasi?" tanya bi Santi. Mereka memang tidur berdua di dalam kamar Alika.
mendengar pertanyaan itu Alika tersenyum kikuk ...
"Aku takut Bi," jujur Alika.
Kedua tangannya bahkan saling menggenggam di atas perutnya, berulang kali terus meremat-remat.
"Bismillah, percaya saja bahwa Allah akan selalu melindungi kamu. Berdoa, semoga semuanya berjalan dengan baik," jawab Bi Santi.
Alika terdiam, hanya bisa meresapi apa yang diucapkan oleh bi Santi. Selama hidupnya Alika selalu menyalahkan Tuhan, namun bersama dengan bi Santi dan Erlan dia terus dibuka pikirannya.
Terus dibuat tenang hatinya dengan selalu mengingat Tuhan.
Bahkan tanpa campur tangan Tuhan pun, Alika tidak akan pernah merasakan hangatnya keluarga dari bi Santi dan Erlan.
Malam itu akhirnya Alika coba memejamkan matanya, sampai dia sendiri tidak sadar di jam berapa akhirnya dia terlelap.
Pagi datang.
Hari ini adalah hari yang paling mendebarkan bagi Alika dan Erlan.
Operasi itu dijadwalkan jam 10 pagi namun Alika harus berada di rumah sakit pukul 8.
Erlan dengan setia terus mendampingi sang kekasih, sementara di Santi hanya ikut mengantar namun ketika sudah tiba di ruang perawatan di Santi memutuskan untuk pulang.
"Er," panggil Alika, saat dia merasa sepi mulai mendera. padahal Erlan baru turun dari atas ranjang belum ada 3 menit, dia hanya sedang mengambil ponselnya yang ada di atas meja ruangan itu.
Selalu melihatnya sebentar dan mendengar Alika sudah memanggil.
"Iya sayang, aku masih disini," jawab Ryan, dia akhirnya kembali berjalan mendekati ranjang tersebut, kembali duduk di tepian.
Tangan Alika meraba untuk menyentuh tangan Erlan, dan Ryan pun menyentuhnya lebih dulu.
"Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja. Dokter Aresha itu dokter yang hebat," ucap Ryan. ingin menenangkan sang kekasih.
Satu tangannya bahkan terangkat untuk membelai lembut wajah Alika.
"Kamu jangan kemana-mana ya, temani aku terus," pinta Alika, untuk pertama kalinya akhirnya dia mengajukan sebuah permintaan kepada Erlan.
Dan mendengar ucapan itu, Ryan pun tersenyum. Percayalah selama ini dia selalu menunggu Alika bergantung pada dirinya seperti ini.
Tapi Alika yang kelewat mandiri membuatnya seperti tidak berarti.
"Tentu saja, aku akan selalu ada di dekatmu. Mana mungkin aku meninggalkan wanita yang aku cintai," balas Ryan, penuh dengan rayuan.
Alika semakin menggenggam eret tangan Erlan. Tangan yang bagi Ryan terasa begitu dingin.
"Al," panggil Ryan.
Suaranya terdengar serak, Alika tidak bisa menebak apa yang akan diucapkan oleh Erlan selanjutnya.
"Apa?" tanya Alika.
"Apa kamu tidak memiliki perasaan apapun padaku?" tanya Ryan. Selama ini selalu dia yang menyatakan tentang cinta, tapi Alika tidak.
Dan Deg! mendapati pertanyaan seperti itu, seketika jantung Alika jadi berdebar.
Dia tidak pandai berkata-kata tentang cinta seperti Erlan, lidahnya selalu kaku untuk mengucap hal yang sama.
Alika jadi takut Erlan berpikir yang bukan bukan, berpikir bahwa dia tidak membalas perasaannya.
di antara kegamangan itu, Alika melepaskan genggaman tangannya pada Erlan, kedua tangannya bergerak naik untuk menangkup wajah pria ini.
Sampai akhirnya Alika bergerak untuk mengikis jarak dan mengecup pipi Erlan sekilas.
Cup!
Kedua mata Ryan mendelik, jantungnya sudah berdegup tidak karuan.
Itu hanya sebuah ciuman kecil, namun mempengaruhi dirinya begitu banyak.