Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika seorang wanita menjadi istri ke 2?
Seorang pelakor?
Seorang wanita perebut suami orang?
Lalu bagaimana jika pernikahan itu berlandas keterpaksaan, dari seorang gadis berparas cantik dan baik bernama Isna Happy Puspita berusia 22 tahun, yang harus memilih diantara kesulitan hidup yang dia jalani, dan menerima sebuah penawaran dari seorang wanita elegan dan dewasa bernama Kartika Ratu berusia 43 tahun, untuk menjadi istri ke 2 suaminya yang tampan dan kaya raya, Krisna Aditya berusia 34 tahun.
Bagaimana kehidupan selanjutnya gadis itu, yang malah membuat suaminya jatuh cinta padanya?
Akankah dia bahagia?
"Salahkah bila aku jatuh cinta lagi? dan dosakah ketika aku menghianati perasaanmu, yang jelas itu ku labuhkan pada wanita pilihanmu, yang kini jadi istriku?" Krisna
"Bolehkah aku juga menyukainya? mendapatkan cinta dan kasih sayang darinya? aku tidak merebutnya, tapi kau yang menawarkannya?" Isna
"Kau hanya boleh menyentuhnya dengan tubuhmu, tapi bukan hatimu. Bagaimanapun aku serakah apapun alasanku. Aku menginginkan semua cinta untukku sendiri, dan benci untuk berbagi." Kartika
follow IG @Syalayaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Memicu aksi
Happy Reading …
⛅⛅⛅
Deburan ombak saling bersahutan, saling mendahului memecah ke pantai, saling mengejar dan menghempaskan. Suaranya bergemuruh namun bagi Isna, itu menyenangkan.
Semilir angin sepoi-sepoi, menyibak rambut Isna hingga tergerai menutupi wajahnya. Dia masih saja asyik mengumpulkan bebatuan unik dan dia taruh di wadah berbentuk toples persegi panjang, yang dibawa Wisnu ditangannya.
Wisnu masih mengekor seperti itik yang mengikuti induknya. Mengikuti langkah Isna yang tak tentu arah. Mereka berada di tepian pantai.
“Kenapa dari tadi tidak penuh-penuh?” komentar Isna menatap sengit Wisnu yang segera berhenti melangkah.
“Anda menuduh saya?” balas Wisnu tak terima.
“Kau pasti membuang beberapa, kan? Wah … penghianat!” decak Isna merebut wadah itu, dan melangkah pulang menuju Resort , yang berjarak 200 meter dari posisinya.
“Apa anda tidak apa-apa semalam?” tanya Wisnu lirih terdengar canggung, namun tetap saja keluar dari mulutnya.
Sejenak Wisnu menyesal sudah bertanya. Dia memukul kepalanya gemas.
Sejak kapan otakku tidak berfungsi bagian filternya?
“Aku baik-baik saja. Kau tahu, Tuan Krisna itu tidur di sofa semalam,” jawab Isna menoleh sekilas disertai tawa kecil.
“Apa? Benarkah?” tanya Wisnu merasa terkejut.
“Ternyata dibalik sifat jeleknya, dia ada sisi baik,” tutur Isna masih melangkah.
“Bagaimana kalau seandainya Tuan krisna menyukai anda?” Wisnu melontarkan pertanyaan yang langsung membuat Isna berhenti dan menoleh padanya.
“Eh? Aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Dia hanya seperti laki-laki pada umumnya, yang penasaran pada wanita baru disampingnya,” kilah Isna berbalik melangkah lagi.
“Baiklah terserah, Anda saja. Maaf bertanya yang tidak-tidak.”
“Ayo, pulang,” ajak Isna segera mempercepat langkahnya.
Isna segera melanjutkan perjalanan melewati tanah berpasir dengan sandalnya.
Memandang ke depan, kearah Krisna yang nampak bercakap dengan salah seorang pengawal. Puluhan pria berseragam juga nampak berjajar di area pojok halaman. Krisna nampak berkharisma dengan tatapan dan mimik wajahnya.
Dia selalu berbeda di setiap waktu. Denganku dan dengan orang lain sikap dan sifatnya sangat berlawanan.
Isna segera melangkah melewati mereka berdua bersama Wisnu. Mengabaikan keberadaan Krisna, yang sedang serius sedang memberikan pengarahan.
“Darimana saja kamu?” panggil Krisna menjentikkan jemarinya menyuruh Isna mendekat.
“Kenapa, Tuan,” jawab Isna berjalan mendekat.
“Wah … membuat telingaku sakit saja, kenapa masih memanggilku Tuan?” tanyanya meraih wadah Isna dan melihat isinya.
“Lalu, saya harus memanggil apa? Mas, Pak, Om?” eja Isna satu per-satu membuat pengawal di samping Krisna menahan tawa.
“Krisna, panggil saja begitu,” jawabnya canggung.
“Tidak! Usia anda sudah tua untuk dipanggil nama,” tolak Isna tidak setuju.
“Apa! Lalu Wisnu, kenapa memanggil langsung namanya?” protes Krisna tidak terima.
“Wisnu masih berusia 25 tahun. Dia masih muda seusia saya,” jawab Isna bersikap tenang.
“Kau mau mengatakan aku ini tua begitu?” suara Krisna terdengar tersinggung.
“Bukan … begitu saja marah. Urat di wajah anda tertarik semua tuh, apa tidak takut semakin keriput karena terlalu sering teriak?” komentar Isna sambil melenggang pergi dari hadapan Krisna.
Gadis itu benar-benar
“Hei jelek, tunggu!” teriaknya kesal dan meraih leher Isna hingga terhuyung kebelakang.
“Ah …!” ronta Isna merasa tubuhnya dipermainkan.
“Buatkan lagi aku gantungan kunci,” ucapnya masih melingkarkan lengannya dipundak Isna, melilit lehernya.
“Yang kemarin kemana?” tanya Isna masih berusaha menangkis lengan Krisna yang kokoh.
Isna harus berlari kecil untuk menyamakan langkah Krisna yang lebar, terseret-seret.
“Rusak, terinjak.”
“Apa! Wah, tidak bisa,” tolak Isna segera menunduk hingga tautan tangan itu terlepas.
“Jangan lupa, balas hutang nyawamu nanti malam,” tukas Krisna sambil tersenyum melambaikan tangan.
“Eh … tunggu!” teriak Isna, tapi langkah Krisna cepat sudah menghilang dibalik pintu, yang segera ditutup rapat para pengawal.
“Huh, aku lupa memberi kertas dari dokter itu,” runtuknya kesal dan segera melangkah menuju lantai atas kamarnya.
Langkah Isna semakin cepat saat menaiki beberapa tangga menuju terakhir, tapi langsung dihadang Kartika tepat di atasnya. Isna mundur satu langkah anak tangga.
“Nona,” sapa Isna ramah.
“Apa kau sedang mencoba melawanku? Mengabaikan apa yang pernah aku peringatkan padamu?” tanyanya dengan wajah gelap dan mata memicing penuh kemarahan.
“Mari berbicara dengan baik, Nona,” ajak Isna menatap Kartika dengan sorot mata bersahabat.
“Berhenti memberi sorotan mata sok suci, Isna!” decaknya merasa tak senang. Kedua tangannya terlipat ke depan.
“Lalu, mau anda apa, Nona?” tanya Isna menatap sekilas dan menggeser tubuhnya ingin lewat. Kartika mencegat lagi langkahnya.
“Aku tidak mau kau, menggoda suamiku, Krisna!” tegasnya dengan sorot mata tajam.
Gila ya? Dia memaksaku menikahi suaminya, sekarang dia menuduhku menggoda suaminya? Wah ... pembunuhan karakter ini namanya.
Isna mulai tersulut. Telinganya terasa panas mendengar ucapan Kartika. Dengan kesal dia segera merangsek dan berjalan melewati Kartika.
“Tunggu! Gadis tidak tahu diri!” hardiknya menarik rambut belakang Isna.
“Ahhh … lepas, sakit!” teriak Isna memegang tangan Kartika yang menarik rambutnya.
Isna merasa kesakitan dan pedih, namun dengan kasar Kartika semakin menarik dan menghempaskan tubuh Isna yang memang berpostur lebih kecil darinya. Isna menabrak tembok dibelakangnya.
“Awas ya! Kamu akan menyesal kalau kamu main-main denganku!” ancamnya berdiri mendekat.
Isna mengusap rambutnya yang terasa panas dengan jemari tangannya. Satu tangannya terkepal di samping tubuhnya.
“Siapa suruh, anda menawari saya menikahi suami anda? Siapa disini yang bodoh?” balas Isna segera berdiri lagi. Napas Isna menderu. Isna mencoba membela dirinya.
“Kau! Tau begitu, aku menyerahkan saja kau pada Tony biar ma*mpus tau rasa!” decak Kartika mendorong Isna lagi.
“Tidak mungkin Tony sampai membunuh saya! Saya terlalu berharga untuk di bunuh,” adu Isna melawan Kartika.
“Kau!”
Tangan Kartika berayun, Isna segera memejamkan matanya dan beringsut menempel tembok.
“Lepas!” hardik Kartika ketika pergelangan tangannya ditahan seseorang di belakangnya.
“Wisnu!” teriak Kartika dengan gigi gemertak geram.
Isna segera melirik dan membuka mata, terlihat Wisnu sudah menahan tangan Kartika dan segera menariknya paksa.
Beberapa pengawal berlari berdatangan, menuju ke lantai atas, disusul Krisna berlari kecil menaiki tangga dengan wajah menahan kekesalan.
“Kalian saling mengenal?” tanya Krisna yang nampak memandang Kartika dan Wisnu secara bergantian.
Wisnu menunduk, melepaskan tangan Kartika dan segera melangkah mendekati Isna.
“Jangan lagi menyentuh istriku selain aku!” tegas Krisna menoleh kearah Wisnu dengan tatapan tajam. Wisnu berhenti melangkah dan mundur.
Kartika terperanjat menatap Krisna yang sudah berdiri didepannya.
“Dan kau, Kartika. Berhenti membuat kekacauan, atau aku akan mengirimu pulang!”
Krisna segera mendekat, meraih tangan Isna. Krisna segera melangkah menarik tangan Isna agar mengikutinya. Mereka melangkah pergi ke arah kamar.
Terlihat suasana Resort menjadi gaduh. Semua penghuni Resort terlihat mencoba saling beradu argumen dan melihat kejadian itu.
Wisnu segera memberi isyarat untuk bubar.
Kartika dengan santai melenggang ke arah kamarnya. Deru napasnya kini sudah mulai tenang. Diraihnya ponsel dan segera terhubung.
“Aku mengirim file. Baca dan pecahkan sendiri kodenya. Aku akan terus membuat kekacauan dan mencoba keluar dari sini saat kau melancarkan aksimu.”
“Aku selalu menyukai gayamu, Ratu.”
“Ingat janjimu itu.”
“Apapun itu. Ini juga demi masa-depan kita berdua, bukan?”
Kartika memutuskan sambungan telepon.
🍀🍀🍀
Krisna mendudukkan Isna di atas kasur dan duduk disampingnya. Menarik kepala Isna ke dalam pelukannya. Mengusap pucuk kepala Isna yang terasa sangat panas dan perih.
“Sudah, saya tidak apa-apa, tidak perlu berlebihan,” tolak Isna dan menegakkan tubuh, menggeser tubuhnya ke samping.
“Apa sakit sekali?” tanya Krisna meraih dagu Isna agar menoleh padanya. Nampak mata Isna berkaca-kaca.
“Sakit ini tidak akan terasa, kalau saja anda tidak menikahi saya,” jawab Isna menoleh ke depan lagi lalu menunduk.
“Terserah, aku tidak menyesal menikahimu,” tegasnya ikut menunduk, kaki mereka berdua bersenggolan.
“Orang jahat memang jarang menyesal,” ejek Isna mencibir. Dia memainkan ibu jari kakinya yang menyentuh karpet berbulu tebal.
“Aku akan jahat bila bersamamu,” godanya sambil menggeser tubuhnya mendekati Isna.
Dada Isna berdesir, dan memandang selidik ke arah Krisna dan segera berdiri.
Tanpa pikir panjang, Krisna menarik Isna ke dalam pangkuannya dan membelitnya dengan lengannya yang kokoh.
Isna bahkan bisa mendengar deru napas Krisna yang memburu.
Dia begini lagi? Bisakah aku lolos kali ini?
Isna menahan dada Krisna dengan tangannya. Krisna masih memandang lekat Isna, menatap sejenak bibir mungilnya.
“Aku hanya akan menciummu, boleh ya?” ucapnya meminta ijin.
Isna masih membisu tidak menjawab. Menahan tangan Krisna yang seakan ingin bergerilya bebas ditubuhnya.
“Hanya ciuman?” tanya Isna masih menahan tangan Krisna.
“Aku akan menunggumu, bisa menerimaku, aku tidak akan memaksamu melayaniku,” jawabnya serius memandang manik indah dari gadis dipangkuannya.
Aku akan berusaha menahan perasaanku, asal kau tidak memancingku berbuat jauh karena membuatku marah.
“Aku belum siap, aku minta maaf,” jawab Isna menatap Krisna polos.
Krisna tertawa kecil. "Kau kaku sekali, katanya pacarmu lima? Sudah pernah 'itu' kenapa bisa kaku begini?"
Kenapa dia mengungkit itu?
“Cium aku, aku akan melepaskanmu,” pintanya dengan wajah tersenyum.
“Tutup matamu kalau begitu,” jawab Isna menawar.
“Kau mau membodohiku? Aku berpengalaman dalam hal ini, aku akan memimpinmu, paham?” desis Krisna mencibir Isna.
“Sebentar, aku baru ingat!” seru Isna mencoba berdiri dan menarik tubuhnya.
“Ada apa?” tanya Krisna kesal.
“Pesan dari dokter Juna untuk Anda.”
“Bicara santai lagi, jangan kaku begitu bahasamu!” decak Krisna membiarkan Isna lepas dari pangkuannya.
Isna segera berlari kecil ke arah meja dan menarik laci, mengambil amplop berwarna putih dengan stempel rumah sakit.
“Apa ini?”
Krisna meraih amplop dan segera membukanya. Membelalak menatap Isna yang berdiri di depannya. Isna langsung mundur beberapa langkah sambil menunduk senyum.
“Apa maksudmu? Aku harus menahan diri selama lebih dari dua minggu? Begitu? istri kurang ajar kamu ya? Sini! Aku minta jatah sekarang!” ucapnya menjentikkan jemarinya.
“Anda bilang tadi, setelah saya beri ijin?” protes Isna sambil bersungut dan melangkah menjauh.
“Diam disitu!” perintah Krisna menunjuk dengan telunjuknya.
Tapi Isna tak menggubris dan terus saja mundur dan meraih daun pintu.
“Isna?!” panggil Krisna dengan nada mengintimidasi.
“Ikuti petunjuk dokter, Tuan. Itu bagus untuk kesehatan anda,” ucap Isna tertawa, sambil menutup pintu dan berlari kecil kearah balkon. Isna ingin menghirup udara segar.
“Syukur aku bisa bebas,” gumamnya dalam hati mendekati balkon.
Sore ternyata sudah mulai menjelang. Terlihat dari jauh pemandangan pesawat kecil nampak turun di landasan udara.
Isna nampak berpikir untuk hidupnya ke depan setelah ini. Memandang aktifitas dari atas sini, ternyata menyenangkan.
Semilir angin membelai wajahnya, terlihat poni dan rambut yang tergerai tersibak menutupi sebagian wajahnya.
"Aku ingin berteriak. Seperti di film-film hollywood pasti keren," gumamnya berbicara sendiri menahan tawa.
“Hoooooiiii ...!” teriak Isna memandang ke bawah. Nampak beberapa orang di bawah menatap ke atas bangunan Resort mendengar teriakannya.
Hah ... memalukan.
Isna merutuki dirinya, segera jongkok dengan mata terpejam, menghindari tatapan aneh dari orang-orang yang mendongak kepala dari halaman Resort.
“Kenapa selalu menumpahkan kekesalan dengan cara yang aneh-aneh?”
Suara Wisnu kembali terdengar, dengan wajah datar andalannya. Isna berjingkat dan menoleh kebelakang.
“Mengagetkan saja,” gerutu Isna sambil berdiri dan berposisi santai.
“Saya dari tadi disini,” jawab Wisnu datar, masih setia di posisinya tanpa beranjak.
“Oya? Kenapa Diam saja?” desis Isna kesal.
“Bukankah anda yang mengabaikan saya?” jawabnya wisnu tersenyum.
Wisnu segera mendekat dan mengambil tempat di samping Isna dan memandang jauh ke depan. Raut wajahnya seperti memikirkan sesuatu. Isna hanya bisa melirik dan mengamati ekspresinya dengan kening berkerut.
“Wajah saya akan berlubang, kalau terus ditatap seperti itu,” selorohnya tanpa menoleh Isna.
Dan hati saya juga, Nona.
“Haaiiissht … kenapa dengan wajahmu itu? Memikirkan sesuatu?”
Isna segera memperbaiki posisinya berdiri dan ikut memandang ke depan, sejauh mata bisa menangkap visual jarak jauh.
“Saya mengingat, keluarga saya,” jawabnya sendu.
“Kau merindukan mereka? Berikan jari kelingkingmu,” pinta Isna menggantung jemarinya di udara.
“Untuk apa, Nona?” tanyanya dengan menggantung jemarinya di udara.
“Kita sama-sama sebatang kara, anggap saja begitu setelah ibuku membuangku. Jadi, anggap saja kita keluarga. anggap aku kakakmu, bagaimana?” tawar Isna tersenyum ke arah Wisnu.
Isna mendekatkan jemarinya sambil menjentikkan jari kelingking. Wisnu sejenak menatap Isna dan jemarinya bergantian.
“Tanganku pegal, mau tidak?” tawarnya lagi.
Wisnu segera menautkan jari kelingkingnya dengan embusan napas ringan.
“Kau seharusnya senang dapat keluarga baru, malah menghela napas,” komentar Isna menarik tangannya.
Wisnu masih bertahan dengan tautan jemarinya. Isna hingga terhenyak menatapnya.
“Kenapa memilih menjadi kakak?” protes Wisnu masih menahan tautan jemari.
“Apa kau yang mau jadi kakaknya?” sahut Isna mengalihkan pandangannya.
“Saya yang akan jadi kakaknya,”jawab Wisnu melepas jemari itu.
“Tersenyumlah, kau punya adik baru,” cicitnya memberi semangat.
Wisnu memandang Isna dengan senyuman samar, dan mengusap pucuk kepala gadis yang tingginya hanya sebatas dadanya itu, mengacak rambutnya gemas.
“Berhenti! Rasanya masih sakit tau,” desis Isna mengibas tangan Wisnu.
Wisnu tergelak dan melepaskan, pandangannya kembali ke depan.
“Itu resiko menjadi istri kedua,” ejeknya terdengar menertawai.
“Kau tidak sopan!” hardik Isna menoleh dan menampakkan raut wajah kesal.
“Saya sedang bersikap sebagai kakak,” jawab Wisnu membela diri, menahan tawanya.
“Kau sedang melakukan penyalahgunaan posisi,” ejek Isna tertawa kecil. Wisnu membalas tawa.
Mereka berdua segera menatap kembali jauh ke arah pemandangan sore yang nampak semakin menggelap. Dari jauh, masih saja mereka bisa menatap beberapa pesawat kecil meninggalkan landasan pacu.
Mereka sesekali saling melempar pandangan diiringi tawa.
Ceklak!!
Sebuah pistol terasa menempel dibelakang kepala Wisnu. Dengan pelan dia berbalik diikuti kedua tangannya yang reflek terangkat ke atas kepalanya.
Begitu juga Isna, dengan mata membulat, penuh keterkejutan, memutar tubuhnya dengan wajah pucat pasi.
🍁🍁🍁
Bersambung …
Hai Readers …
Semoga masih setia membaca novelku dan sabar menunggu up.
Like dan kometar kalian selalu aku nantikan.
Baca juga novel kaya sahabat baikku yang seru abis, okey
Sehat selalu dan jangan lupa bahagia.
With Love ~ Syala Yaya 🌹🌹