Edrico Stevanus, pria single, belum pernah menikah, tiba-tiba harus menjadi hot daddy? Bagaimana bisa?
Ikuti yuk petualangan Rico—sang bodyguard dalam keribetannya mengurus seorang balita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 ~ Kehilangan
Senyum seringai terbit di bibir seorang pria yang tengah duduk di balik kemudi, saat menemukan Rico dalam keterpurukan. Matanya menatap remeh, binar kepuasan juga berpendar dari wajah pria itu.
Tak berapa lama, Rico beranjak. Tak ada seorang pun yang berusaha mencegahnya. Pikiran dan hatinya benar-benar kacau saat ini. Dengan kasar, Rico membuka pintu mobil dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi.
Selama 25 tahun, baru kali ini pria itu terlihat lemah. Tanpa merasa malu, air mata mengalir deras sedari tadi. Meski tangannya terus menyeka.
“Kamu ke mana, La?” tanya Rico yang tidak tahu mobilnya akan mengarah ke mana.
Tiba-tiba decitan rem memekakkan telinga ketika Rico menginjaknya dengan kuat. Sebuah mobil melintang menghalangi jalannya. Rico yang merasakan hatinya carut marut segera turun penuh emosi.
Kakinya melangkah panjang hingga kini berdiri di samping mobil yang menghalanginya. Tepatnya di samping jendela pengemudi.
“Keluar!” teriak Rico menggeram penuh amarah. Rahang kokohnya terlihat mengeras, matanya memerah karena tangis dan amarah yang menyatu.
“Keluar kamu, Brengsek!” pekik Rico lagi menendang pintu mobil tersebut sembari berkacak pinggang.
Dada bidang pria itu tampak bergerak dengan kasar, embusan napasnya bahkan tak beraturan.
Beberapa detik kemudian, seorang pria berpakaian rapi kini turun dari mobilnya. Berdiri tegap di hadapan Rico. Dua pasang mata itu saling bertautan erat dan memancarkan kemarahan.
“Apa maumu?” sentak Rico pada pria itu.
“Di mana istriku?” Satya balik bertanya dengan penuh penekanan.
“Cih! Istri? Apa selama ini kamu memperlakukannya sebagai seorang istri? Atau cuma sebatas media untuk meraup warisan? Dan aku ingatkan, kalian sudah resmi bercerai kalau kamu amnesia!” Rico mencebik dengan tatapan remeh.
“BUGH!”
Sebuah kepalan di tangan Satya melesat cepat di wajah Rico. “Kau tidak berhak ikut campur!” teriaknya menggelegar.
Rico menjulurkan lidah di sudut bibirnya yang berdarah. Memutar bola matanya hingga kembali menatap nyalang pria itu.
Tanpa banyak bicara, Rico mencengkeram kerah kemeja Satya, membenturkan punggung di mobil dan menghajarnya habis-habisan. Rico tak peduli lagi, ia menyalurkan semua kemarahan dalam dada pada pria itu. Sebuah sasaran yang tepat.
“Jangan pernah bermimpi menemukan Airin atau pun putranya!” tandas Rico setelah Satya tampak tak berdaya menerima serangan bertubi-tubi dari Rico. Bahkan Rico menendang tulang kering Satya yang sudah terkapar, sebagai tanda perpisahan
Rico membalikkan tubuhnya dengan cepat, masuk ke mobil dan segera meninggalkan pria itu seorang diri. Dia tak tahu ke mana arah dan tujuan. Rico benar-benar frustasi ketika sama sekali tak menemukan jejak apa pun dari kekasihnya.
...\=\=\=000\=\=\=\=...
Hari terus berganti, Rico sudah kehilangan jati dirinya. Ia yang dulunya banyak bercanda, ceria dan banyak tertawa, kini menjadi pendiam. Raut wajahnya selalu kusut, tampangnya tak terurus. Jambang dan kumis pun mulai tumbuh di wajahnya.
Rico tetap menjalankan pekerjaannya seperti sedia kala. Menjadi bodyguard untuk Jihan dan Cheryl.
Genap tiga bulan, Lala menghilang bak ditelan bumi. Bahkan Tiger sendiri kehilangan jejak wanita itu. tidak seperti rencana awal, Jihan memberikan apartemennya di Paris untuk Lala tinggali. Karena mereka dulu pernah tinggal bersama di sana selama satu tahun. Dan Jihan meminta Lala kembali ke Indonesia, ketika dia sudah benar-benar tenang.
Akan tetapi, setelah tiga bulan lamanya, Lala justru tidak bisa dihubungi. Tempat tinggal di Paris pun kosong tak berpenghuni, ketika para anak buah Tiger menggeledahnya. Mereka, benar-benar kehilangan Lala.
...\=\=\=\=000\=\=\=\=...
“Ayah!” teriak Rain berlari mengambur ke pelukan Rico, ketika pria itu baru saja masuk ke apartemen.
“Hai, Tampan!” sahut Rico menggendongnya. Berjalan masuk ke meja makan.
Rico sama sekali tidak bisa marah pada anak itu. Setiap kali melihat Rain, Rico selalu teringat akan pesan terakhir Lala. ‘Jangan sampai pengorbananku sia-sia.’ Untaian kalimat itu yang selalu menguatkannya untuk menjaga Rain dengan baik. Meski hati kecilnya terus menjerit ingin menemukannya.
“Aku sudah tidak minum obat lagi," adu Rain setelah duduk di kursi yang melingkar di meja makan.
“Oh ya?” tanya Rico duduk di sebelahnya, menggulung lengan panjang itu sampai ke siku. Rain tampak mengangguk bersemangat.
Kemudian Rico beralih pada Airin yang sibuk menata makan malam mereka. “Benar begitu?” tanya Rico.
“Iya, Tuan. Dokter bilang, kondisinya cukup baik. Obat-obatan sementara dihentikan. Karena bisa mengganggu tumbuh kembangnya. Tetapi, terapi masih harus dilakukan,” sahut Airin tidak pernah berani menatap pria itu.
Dia takut, jatuh dalam pesona lelaki yang telah menyelamatkan hidupnya dan juga putranya. Dia sendiri masih trauma dengan pernikahannya dulu.
Tetapi lelaki bak malaikat itu, membuatnya sadar, tidak semua laki-laki sama seperti Satya. Bahkan sampai saat ini masih menjaga kesetiaannya pada kekasihnya dulu. Seringkali ia menemukan sang bos melamun di balkon, terkadang memergokinya tengah menangis saat mengigau menyebut nama Lala.
Airin menepis pemikirannya jauh-jauh. Sadar dengan posisinya yang hanya beban Rico. Entah dengan cara apa lagi Airin membalasnya, mengingat ia sama sekali tidak ada sanak saudara lagi.
Selama ini, Airin tidak pernah mengambil gajinya walaupun setiap bulan Rico selalu mentransfernya. Menurut wanita itu, mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga tanpa digaji sekali pun, tetap tidak bisa membayar kebaikan Rico.
“Baguslah!” sahut Rico singkat mulai menyuap makan malamnya.
Baru beberapa suap, terdengar bunyi bel apartemen menggema. Airin buru-buru beranjak dan segera membukanya.
Bersambung~
Seperti biasa, yang selalu ngikutin karya aku pasti hapal kan? selalu ada angin ribut, halilintar, badai. Harus ada tanjakan, tikungan dan turunan dulu sblm capai garis finish🤭 waktu dan tempat dipersilakan untuk kalian para anu tercintakuu 💖
sambil nunggu Up Lagi. Mampir karya temen aku dulu ya... judulnya Gerbang Perselingkuhan Karya Aisy Arbia. Cusss ke sana 🤗
lanjutkan perjuanganku utknya...
bahagiakan Dia... kok jadi nyayi sih aku 😅