Fani nggak menyangka sebagai anak petani merantau ke Jakarta bisa merubah hidupnya dan juga hidup keluarganya walaupun harus merasakan sakit hati terlebih dulu.
Menjalani hidup dilandasi tanpa rasa cinta siapa sangka dia kini bisa menerima seseorang yang dulu sangat membencinya.
Ikuti kisah mereka hanya ada di noveltoon
jangan lupa, vote, coment, like dan tambah favorit kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Fani dan Dikta masih berpelukan menumpahkan kerinduan selama seminggu nggak ketemu, Pricilia tersenyum melihat keduanya begitu juga dengan Ayumi, ternyata Dikta bener-bener merindukan Fani.
Bu Rina menatap nggak suka sama sama pemandangan yang ada di depannya, Abimana yang melihat tatapan nggak suka dari mamahnya untuk Fani, hanya diem saja dia nggak mau menegur mamahnya di rumah sakit.
Fani melepaskan pelukan Dikta dia tersenyum melihat Dikta, begitu juga dengan Dikta rasanya dia sangat bahagia melihat Fani ada di depannya.
"Den Dikta kenapa, den Dikta jangan sakit lagi dong mba Fani jadi sedih lihatnya, den Dikta cepet sembuh yah." Ujarnya mengusap kepala Dikta dengan sayang.
"Dikta kangen sama mamah, mamah Fani kemana saja, jangan pergi lagi yah."
"Iya sayang, tapi Dikta harus sembuh yah kalau Dikta nggak sembuh-sembuh mba Fani nggak mau ketemu lagi sama Dikta." Jawabnya.
"Iya Dikta ingin segera sembuh biar bisa ketemu sama mamah Fani lagi." Jawabannya semangat.
"kalau Dikta mau cepat sembuh makan yang banyak dan jangan lupa minum obat yah."
Dikta menganggukkan kepalanya dia melihat kearah papahnya yang sedang tersenyum melihat dia bahagia setelah bertemu dengan Fani.
"Papah." Panggilannya.
"Iya sayang." Jawab Abimana.
Abimana mendekati anaknya yang mendengar dia memanggilnya, Abimana bersyukur Dikta sudah bisa tersenyum rasanya nggak tega setelah lama melihat anaknya terbaring lemah di rumah sakit.
"Dikta mau makan di suapin sama mamah Fani," Ucapnya.
"Iya sayang, boleh kamu makan di suapin sama mba Fani yah."
Fani tersenyum dia mengambil makan jatah dari rumah sakit dan menyuapi Dikta, bu Rina bener-bener menahan amarahnya melihat Fani yang terlalu dekat dengan cucunya.
Selsai menyuapi Dikta dan meminumkan obat yang di berikan sama dokternya, Dikta tertidur ponsel Fani berdering dan melihat nama orang yang memanggil, Abimana mengepalkan tangannya setelah membaca nama orang yang menghubungi Fani.
Fani berpamitan sama semua untuk menjawab telpon, Abimana mengikuti dia dari belakang tanpa sepengetahuan Fani.
"[Iya halo, pa.. " Ucapan Fani menggantung saat seseorang mengambil ponselnya.
Fani melihat Abimana yang sedang berdiri di belakangnya dan mengambil ponselnya, Fani menengadahkan tangannya sebagai bentuk meminta ponselnya dari Abimana.
"Balikin ponsel saya pak," Ucapnya.
"Nggak akan." Jawabnya.
"Sekali lagi saya katakan balikin ponsel saya," Ucap Fani lagi.
"Saya bilang nggak ya nggak." Abimana kembali menjawab yang sama seperti tadi.
"Terserah ambil saja tuh ponsel, saya harus pergi." Ujarnya.
Fani melangkah mau meninggalkan Abimana, tapi dia menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Abimana.
"Saya mau kita menikah." Ujarnya.
Fani terkejut mendengar ucapan Abimana, tapi dia nggak memperdulikan ucapan orang yang ada di belakangnya, di tetep melanjutkan langkahnya meninggalkan Abimana tapi lagi-lagi dia menghentikan langkahnya.
"Saya serius dengan ucapan saya, saya minta kita menikah." Ujarnya lagi.
...----------------...
Kevin mengengus kesal beraninya perempuan aneh itu mematikan panggilannya lagi, dia bener-bener kesel sama Fani, sudah pergi nggak bilang-bilang di telpon selalu di matiin.
Fani sudah berada di depan kantor Kevin setelah berdebat cukup panjang dengan Abimana yang membuat dirinya kesel dia buru-buru pergi untuk menemui Kevin di kantornya, Fani yakin kalau Kevin pasti belum pulang.
"Pak Kevin maaf." Ujar Fani yang langsung nyelonong masuk.
Kevin melihat Fani yang sudah ada di depannya, dia menatap tajam perempuan yang seharian sudah membuat dirinya kesel, dia mendekati Fani yang sedang berdiri dia mengguncang tangan Fani dengan cukup keras.
"Habis darimana saja kamu, di telpon selalu selalu sibuk kamu pikir kamu siapa, hah!" Teriaknya di depan wajah Fani.
"Maaf pak, tadi saya habis bertemu sama mantan anak asuh saya, kasian dia lagi sakit." jawabannya menunduk.
Kevin melihat Fani yang sedang menundukkan kepalanya, dia memegang dagu Fani sampai dia mendongakkan wajahnya melihat Kevin. Kevin mendekati Fani dan memegang tengkuk leher Fani.
Fani mendelikan matanya dia melihat Kevin yang sedang mendekati dan mau menciumnya.
"Kevin!" Teriak seseorang.
Bersambung..
Author ko jadi nggak semangat buat update yah, nggak ada yang mau dukung cerita ini, nggak tau jadinya mau di lanjutkan atau nggak, hayooo dong men teman like dan comment
maaf terlalu lebay ini