namaku seira Aurora artis ibu kota dengan imange seksi dan penuh dengan skandal.
ceritaku dimulai saat aku tidak sengaja bertabrakan dengan seorang Gus Hanif dan berciuman dengan dia.
sejak saat itu gus Hanif terus muncul dihadapan ku,mengikutiku.dengan alasan ingin mempertanggungjawabkan kejadian yang tanpa sengaja itu.
bahkan secara terang terangan ia mengatakan ingin menikahi ku, alasannya? membimbingku.
aku tertawa sumbang bagaimana mungkin artis dengan imange buruk sepertiku bisa menikah dengan anak seorang kiay.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaarumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab27
Seira mulai tidak nyaman dengan ketidak hadiran Gus Hanif didekatnya.
" Idihhhhh mungkin karna aku tidak bisa sendiri mengahadapi sikap dingin ummi.makanya aku ngak nyaman jika Gus Hanif tidak ada disini."gumamnya.
" Tapi rasanya aku bosan." Kesalnya.
" Hmmm kalau kak seira mau nyusul mas Hanif bisa kok kak.sawahnya dekat kok dari sini."
" Dekat."?
" Ia."
" Kak seira tinggal lewat pintu belakang pesantren saja,itu sudah langsung sawah."
" Haaaaaaa kok ngak bilang dari tadi."
" Mana nahla tahu kalau kak seira ingin menyusul mas Hanif.".
Dengan cepat seira berdiri langkahnya terlihat ringan,nahla mengeleng.
" Makan tuh gengsi."
Sesuai arahan nahla,seira berjalan dengan cepat kearah pintu belakang pesantren langkahnya terasa ringan,saat membuka pagar ia langsung disuguhi dengan hamparan sawah dengan gunung gunung yang menjulang tinggi.
Seira merasa takjub dengan ciptaan Allah yang maha sempurna ini.
Ia berjalan dipematangan sawah sambil terus mencari keberadaan Gus Hanif.
Hingga sosok yang ia cari kini tertangkap dalam netranya.
" Gus Hanif."
Gus Hanif yang sedang mencangkul, mendongak tersenyum ketika melihat seira menghampirinya.
" Lo kok kamu ada disni.?"
" Gus kok kesawah ngak bilang bilang?"
Bukannya mendapatkan jawaban,seira malah balik bertanya.
" Hmm kamu mulai rindu ya sama saya."
Dan pada akhirnya Gus haniflah yang menciptakan jawabannya sendiri.
" Idih apaan sih.saya tuh mau jalan jalan juga.bosan tinggal dipesantren,saya takut sama ummi kamu."
Gus Hanif hanya tersenyum.
Seira duduk dipematangan sawah sambil menatap Gus Hanif.
" Gus ini sawah siapa?"
" Sawah Almarhum Abi saya."
"Lalu kalau Gus dikota siapa yang garap sawah ini?"
" Biasanya mang Asep yang mengelola sawah sawah disini.jadi mumpung saya ada disini saya bantu bantu sedikit."
Seira tampak diam dengan usil Gus hanif menarik tangan seira hingga,seira terjatuh kesawah yang penuh dengan lumpur.
Hahhhhhhhahhha
" Gus kotor."
Merasa tidak terima seira menagambil lumpur disawah dengan tanganya,kemudian melempar kewajah Gus Hanif.
" Rasain."
" Awas kamu ya.,
Seira lari hingga kakinya terasa menginjak sesuatu.
" Auuuu."
" Seira."
" Gus kakiku."
Dengan penik Gus Hanif mengendong seira,darah segar terlihat bercucuran dari kaki seira.
" yaAllah seira kaki kamu."
Sambil mengendong seira Gus Hanif berlari sekencang mungkin.Dalam gendongan suaminya seira mendongak menatap wajah Gus Hanif yang terlihat begitu khawatir.
" Ummi tolong."
" Astagfirullah seira.dia kenapa Hanif."ucap ummi panik hingga seira merasa sedikit aneh dengan kepanikan ummi.
" Kakinya teriris seusuatu disawah ummi."
Dengan hati hati Gus Hanif memdudukan seira disofa.
" Ambil air dulu Hanif."
Dengan cepat Gus Hanif berlari,mengambil air dan kotak obat.
Dengan telaten ummi membasuh luka seira,seira terdiam rasa hangat menjalar kehatinya melihat perlakuan lembut dari ummi.
" Kamu tuh bagaimana sih Hanif kok bisa sih istri kamu terluka seperti ini."
" Ini semua salah Hanif ummi.haniflah yang menarik seira turun kesawah."
" Untung lukanya tidak dalam."
" Terimakasih ummi." Ucap seira pada akhirnya yang sedari tadi hanya terdiam melihat perlakuan lembut ummi Zaenab.
Ummi mendogah menatap seira, dengan cepat ia berdiri kembali memasang wajah dinginya.
" Ummi ada kerjaan didapur."ucapnya berlalu.
Seira menatap punggung dengan tersenyum.
" seira.kaki kamu tidak sakit lagi kan."
" sakit lah Gus,ini semua karna ulah Gus Hanif, ngapain sih pake iseng segala."
" maaf."ucapnya tertunduk lesu