Sequel dari PRIA 500 JUTA.
Alvaro, pria berusia 30 tahun ini kerap dijuluki DUREN MATENG yang berarti duda keren, mapan, dan ganteng. Pria ini memiliki seorang anak laki-laki yang berusia lima tahun, bernama Bima.
Tiba dimana Bima meminta kepada Alvaro untuk mencari wanita yang hendak dijadikan pengganti ibunya, terpaksa Alvaro pun berkencan dengan banyak wanita dan diberikan penilaian secara langsung oleh putranya sendiri.
Akankah Alvaro menemukan wanita yang cocok untuk dijadikan ibu untuk anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririn Puspitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Duda Gila
Alvaro keluar dari lift dengan sedikit pincang, akibat Rania menendangnya beberapa detik yang lalu. Pria tersebut terus mengumpat di dalam hatinya, memandangi pintu tetangganya yang sudah tertutup rapat.
"Niat hati ingin mempercepat keinginan Bima, tapi apa daya tendangan maut yang ku terima," keluh Alvaro sembari membuka pintunya.
Di waktu yang bersamaan, Rania menyenderkan tubuhnya di dinding. Gadis itu memegangi dadanya, jantungnya berdetak dengan kencang setelah mendengar ucapan dari Alvaro tadi.
"Ada apa denganku? Kenapa jantungku berdetak dengan kencang? Mungkin karena aku terlalu gugup saja. Tidak mungkin aku jatuh cinta pada duda gila itu," ucap Rania.
"Dasar pria tidak waras! Bisa-bisanya dia mengatakan hak tersebut setelah berkencan dengan wanita lain," gerutu Rania.
Gadis itu pun memilih menuju ke kamar mandi. Mencuci tangan serta wajahnya bersiap untuk tidur.
.....
Keesokan harinya, Rania tengah duduk di depan cermin rias. Gadis itu memoles wajahnya dengan make up, mengaplikasikan lipstik yang baru saja ia beli kemarin di bibirnya.
"Warnanya cantik, wajahku terlihat lebih segar dengan warna ini," gumam Rania merapikan lipstik yang sedikit keluar dari area bibirnya itu.
Setelah selesai merias dirinya, wanita tersebut langsung beranjak dari tempat duduknya. Mengambil sling bag yang tergeletak di atas kasurnya. Ia pun segera keluar dari ruangan tersebut.
Rania menatap ke arah dapur, ia melihat tidak ada apapun di dalam kulkasnya. "Jika tidak ada mama di rumah, pasti isi kulkasku kosong. Sepertinya pulang nanti aku harus berbelanja terlebih dahulu untuk mengisi kulkasku," ujar Rania sembari menutup kulkas tersebut.
Rania keluar dari rumah, ia melirik pintu Alvaro yang masih tertutup. "Apakah dia sudah berangkat?" gumam Rania.
Gadis itu mengendap-endap ke pintu Alvaro hanya untuk memastikan. Ia pun menempelkan telinganya ke pintu tersebut, mencoba mendengar suara dari dalam.
Saat Rania masih sibuk sisi kepalanya di pintu, tiba-tiba saja Alvaro membuka pintu tersebut. Membuat Rania terdorong dan terjatuh, untung saja dengan cepat Alvaro menangkap wanita itu.
Kepala Rania bersandar di dada bidang Alvaro, sementara pria tersebut memegang pinggang ramping gadis itu.
Deggg ... Deggg ....
Debaran jantung mereka tak karuan, keduanya berada di posisi yang se-intim ini. Rania berulang kali mengerjapkan matanya. Ia tertegun dan juga terkejut.
Tak lama kemudian, gadis itu pun mendorong tubuh Alvaro, menjauh dari pria tersebut. Alvaro terkejut, ia juga tak sengaja menangkap tubuh Rania dan membuat gadis tersebut jatuh ke dalam pelukannya.
"Dasar pria mesum!" ketus Rania sembari menyapu pakaiannya dengan tangannya, seolah Alvaro itu adalah manusia yang akan menyebarkan kuman ke tubuhnya.
"A-apa? Aku mesum? Bukan kah seharusnya aku yang berkata seperti itu. Apa yang kamu lakukan di depan pintuku? Apakah kamu ingin mengintipku?" tanya Alvaro yang tak mau kalah dari gadis yang ada di hadapannya.
"Mengintipmu? Haha ... kamu terlalu percaya diri akan hal itu!" seru Rania. Gadis itu lebih memilih untuk meninggalkan Alvaro demi menutupi rasa malunya. Bagaimana pun juga, memang salah Rania yang terlalu ingin tahu hingga menempelkan telinganya di depan pintu tetangganya itu.
Rania bergegas berjalan menuju lift, ia pun dengan cepat dan berulang kali menekan tombol di lift tersebut agar pintunya lebih cepat tertutup.
Namun, saat pintu belum benar-benar tertutup rapat, dengan cepat Alvaro menahan pintu tersebut dengan tangannya. Membuat Rania mengumpat kesal di dalam hatinya. Niatnya ingin menghindar dari pertanyaan yang akan dilayangkan oleh Alvaro pada dirinya, akan tetapi tampaknya situasi tersebut tak mendukungnya.
Alvaro melangkah masuk ke dalam lift tersebut. Ia menatap Rania dengan seksama, seakan mencari tahu tujuan wanita tersebut berada di depan pintunya tadi. Rania tak berani menatap Alvaro. Ia sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan pria tersebut.
"Ada apa? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ku? Dan kenapa kamu tidak berani menatapku?" tanya Alvaro sembari bersedekap.
"Si-siapa juga yang tak berani menatapmu!" tantang Rania. Gadis itu pun berjalan mendekat ke Alvaro, menatap wajah pria tersebut dengan seksama.
Mata keduanya tampak saling bertemu, jarak mereka pun yang berdekatan membuat Alvaro merasa tercekik.
Mata indah milik Rania dengan bulu mata yang lentik, hindungnya yang mancung serta bibirnya yang ....
Arggh!! Tentunya membuat Alvaro menggila karena bibirnya yang terlihat begitu menggoda. Di ruangan sempit ini, Alvaro merasa tercekat. Ia seolah kehabisan napas dan takut jika ia tak bisa mengendalikan dirinya.
Dengan cepat, Alvaro mendorong kening Rania dengan jari telunjuknya, membuat gadis itu mundur beberapa langkah dari tempatnya.
Tingg ...
Pintu lift terbuka, dengan cepat Alvaro melangkah pergi meninggalkan Rania yang masih mematung di dalam lift. Ia memilih untuk melupakan pertanyaannya. Menyeka keringat yang ada di keningnya akibat ulah Rania yang membuatnya sedikit terbakar.
"Perona merah di wajahnya, serta warna bibirnya membuat aku sedikit merasa terganggu," keluh Alvaro berjalan menuju ke mobilnya.
Rania keluar dari lift, wanita tersebut mengibaskan wajahnya dengan sepuluh jarinya. "Apa itu? Bagaimana bisa aku seberani itu padanya? Astaga! Tatapannya tadi membuat aku serasa gila dan tak bisa berpikir dengan jernih," gumam Rania yang juga masuk ke dalam mobilnya.
.....
Alvaro tiba di rumah utama. Pria tersebut menjemput anaknya. Saat Alvaro turun dari mobil, Bima pun langsung berlari ke arahnya.
"Jangan lari, Nak. Nanti kamu terjatuh," tegur Alvaro.
Bima menghambur ke pelukan Alvaro. Alvaro pun menggendong anaknya.
"Kenapa Papa tidak menginap di rumah nenek?" tanya Bima.
"Papa masih ada urusan di rumah, makanya tidak menginap di sini," timpal Alvaro sekenanya.
"Kita berangkat?" tanya Alvaro.
Bima pun menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, ayo kita pamitan dulu sama Kakek, Nenek, dan Tante Vira," ucap Alvaro.
Bima kembali menganggukkan kepala. Alvaro pun langsung membawa anaknya itu berjalan menghampiri keluarganya.
Bima menyalami Fahri, lalu beralih ke Arumi, dan kemudian Alvira. "Kakek, Nenek, Tante, Bima berangkat sekolah dulu ya," ujarnya dengan nada yang begitu menggemaskan.
Alvira mencubit pelan pipi Bima karena merasa gemas dengan anak dari saudara kembarnya itu. "Nanti malam tidur sama Tante lagi ya," tawar Alvira.
Bima langsung menggelengkan kepalanya. "Maafkan Bima, Tante. Bima tidak bisa, kasihan dengan papa," ucap pria kecil tersebut.
Arumi tersenyum mendengar jawaban dari Bima. "Cucu nenek memang yang terbaik," ujar Arumi sembari mengusap rambut ikal Bima.
"Ya sudah, berangkatlah! Nanti Bima terlambat. Hati-hati di jalan ya," celetuk Fahri sembari melambaikan tangannya.
Bima pun membalas lambaian tangan tersebut. Alvaro membawa anaknya untuk masuk ke dalam mobil, melajukan kendaraan roda empat itu menuju ke jalanan.
"Papa, kenapa semalam Tante menangis?" tanya Bima membuka suara.
"Menangis?"
"Iya, Pa. Tante semalam tidur dengan Bima. Bima lihat, Tante Vira sedang menangis. Bima pura-pura tidur, tante juga tidur di samping Bima sembari mengusap rambut Bima," jelas pria kecil tersebut.
Alvaro hanya menanggapi ucapan anaknya dengan tersenyum simpul. "Tante lagi terkena flu, Sayang. Kalau demam, Tante memang sering menangis. Tapi pagi tadi Tante tidak menangis lagi kan?" tanya Alvaro mencoba memberi jawaban yang bijak, menutupi masalah keluarga pada anaknya.
Bima menganggukkan kepalanya menimpali ucapan Alvaro.
"Nah, itu tandanya Tante sudah sembuh dari demamnya. Bima juga begitu kan, kalau demam sering menangis," ucap Alvaro.
" Iya, Pa. Berarti Tante Vira sama seperti Bima."
Alvaro mengangguk, ia kembali menatap ke arah depan, "Suatu saat nanti kamu akan mengerti, Nak. Setelah kamu dewasa. Kelak papa akan mengajarkanmu bagaimana cara menghargai seorang wanita," batin Alvaro.
Bersambung ....
Bagiku👉 Semua boleh pergi, asal jgn ibu🙌