Kebencian yang melekat erat pada diri Xiao Feng Ni, telah membuat dirinya mendirikan sebuah kerajaan maha adi kuasa. Di bawah kepemimpinannya, para kaum wanita tidak tertindas lagi. Apakah penyebab dari kebencian itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jasmine murni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Beberapa hari kemudian, naga emas kembali dengan wibawa tegasnya sewaktu mereka dipertemukan.
Sikap yang tidak buat Feng Ni takut hingga menjauh ke ujung dunia lain.
"Kolamnya kok belum jadi?" tanya naga emas berterbang melayang di atas kerukan tanah.
"Akan saya percepat lagi," jawab Feng Ni mengeluarkan bola energi tenaga dalamnya.
"Habis ini latihan di air!" titah naga emas dan pergi melayang, entah kemana lagi.
Sempat hati Feng Ni memberontak untuk nurutin perintah naga dalam bentuk kecil.
Air di laut biarpun tidak membeku dan tertutup balutan salju tebal, akan tetapi akan tetap dingin temperatur airnya di musim sedingin itu.
"Hufff.....Saya tidak boleh gampang mengeluh dan menyerah," ujar Feng Ni menghembus nafas bersuhu dingin.
Dari hembusan nafasnya terlihat uap dingin keluar. Dengan tekad yang gigih, dia berjalan sampai ke bibir laut, lalu mengulurkan perlahan ujung kaki hingga penuh menapak pada daratan yang dipenuhi air dingin itu.
"Ehhh..... Dinginnya beda," gumam heran Feng Ni dengan suhu temperatur air laut yang dikira pasti akan langsung menusuk tulang dan membekukan langsung.
Perlahan ia berjalan makin jauh dan dalam sampai air menutup dirinya.
Pertapaan dalam air pun dimulai setelah Feng Ni menempatkan posisinya duduk bersila dalam air.
Ubur-ubur yang terpikat aura hangat yang memapar keluar dari tubuhnya, berusaha mendekati untuk rasakan kehangatan di 3 musim lain.
Begitu juga biota laut yang tidak tinggal pada dasar laut, mereka berbondong-bondong mendekat untuk dapat kehangatan dalam proses perkembang biakan.
Seakan muncul matahari baru dalam laut, memberi kehidupan lain di dalamnya.
Saat beberapa naga pertapaan yang ada pada dasar samudera tak bertepi merasakan energi positif, mereka pun ingin mengetahui siapa manusia yang bisa menggoyahkan masa pertapaan mereka.
Sampai juga naga-naga pertapaan itu ke asal aura yang menghangatkan air laut itu.
Tubuh Feng Ni yang terbungkus energi yang berbentuk bola besar, telah menghalau siapapun untuk lebih dekat menyentuh langsung dirinya.
"Kultivasinya sangat drastis, tapi dia masih belum bisa kontrol," ucap naga berkepala dua.
"Iya. Sepertinya siapa pun makhluk pelindung yang ngikutin pasti tidak akan sia-sia," tambah naga bertanduk satu.
"Kebetulan sekali, majikanku yang dulu telah menjadi dewa, jadi aku bersedia untuk jadi penjaganya," sahut naga bertanduk dua dan sekujur tubuh dipenuhi 5 warna kemilau.
Naga-naga pertapaan yang beberapa telah ditinggal pergi oleh pendekarnya dalam suatu alasan, memang membutuhkan lagi majikan baru untuk bantu tingkatkan hasil pertapaan mereka.
Saat beberapa naga berembuk untuk coba jalinan jodoh takdir, naga emas penjaga Feng Ni menampakkan dirinya.
"Wahai para tetua, aku adalah penjaganya. Harap para tetua untuk kembali bertapa tanpa terpancing," ucap naga emas dengan sopan menutupi keangkuhan bangga telah naik level seperti senior di depannya.
"Oh kamu Sen Long. Pantas saja kamu sudah punya tanduk," ujar naga bertanduk satu dengan tatapan sakartis.
"Jika kamu tidak bisa mampu membimbing dia naik level, biarkan aku yang gantikan," sahut naga bertanduk dua dan badan penuh warna.
"Kami bersedia untuk menjaga dia," tambah naga merah.
"Hahaha.... Baiklah. Jika aku tidak sanggup lagi, pasti akan kabari tetua sekalian," jawab garing naga emas yang masih 1 level di bawah naga pertapaan tanpa pendekar.
Dari pada ribut tak jelas,naga emas membawa naik Feng Ni yang masih duduk bersila.
Beberapa jam kemudian, Feng Ni membuka mata dengan pemandangan dan rasa tempat berbeda.
"Sen Long eh salah. Maksud saya Kim Long," ucap Feng Ni terbata-bata.
"Kamu mau tau kenapa ada di sinikan?" jawab naga emas membaringkan tubuhnya di atas bongkahan es membantu.
Feng Ni ngangguk dan cukup bagi naga emas bentuk kecil itu menjelaskan secara singkat dan padat.
Cukup berbunga tersanjung hati Feng Ni dengan penjelasan naga emas itu. Tidak disangka dirinya jadi rebutan untuk dijaga naga-naga senior.
"Konsen saja pada latihan. Jangan berharap mereka jadi pelindungmu," celetuk Ketus naga emas.
Wajah Feng Ni berkerut kaget, tidak menyangka bahasa hatinya bisa dideteksi naga emas.
Feng Ni kembali melanjutkan latihan setelah meneguk air dalam botol khusus. Air yang mensterilkan aura negatif, dan menahan rasa haus berjam-jam lamanya.
**
Musim dingin segera berlalu dalam beberapa hari lagi, setelah 2 bulan lebih lamanya. Kemampuan tenaga dalam Feng Ni mulai meningkat banyak dengan latihan keras di musim dingin.
"Setelah musim dingin ini, kamu lanjut mulai isi air ke dalam kolam!" titah naga emas wujud kecil berliuk lincah di atas bongkahan salju yang akan segera berakhir. "Tapi pakai tangan!" lanjutnya tegas.
Feng Ni cukup tercengang dengan perintah naga itu. Mau pakai ember saja butuh berbulan-bulan untuk sampai penuh. Apalagi hanya pakai telapak tangan, mungkin 1 tahun, 10 tahun atau seumur hidupnya.
Memberi perintah tanpa alasan, itu tidak mungkin dilakukan sang naga. Setiap latihan yang diperintahkan punya visi misi tujuan tertentu untuk kedepannya.
***
Beberapa hari kemudian....
Ketebalan salju mulai menipis dengan cairnya bongkahan salju terpapar sinar cerah matahari setiap hari.
Latihan yang diwajibkan juga mulai dilakukan Feng Ni dengan kobaran semangat.
"Ingat ! Hanya pakai tangan," naga emas kembali menegaskan aturan latihan.
"Siap," jawab lugas Feng Ni, mengulurkan dua telapak tangan mengambil air di bibir laut.
Masih lumayan dingin suhu air langsung disentuh.
Awal musim dingin yang cerah secerah semangat mengawali kegigihan Feng Ni.
Air dalam tampungan telapak tangan tidaklah sebanyak sewaktu dia tampung.
Air yang tertampung menetes jatuh dari celah-celah jari yang tidak merapat.
"Ayo semangat!!" monolognya menyemangati hanya dapat beberapa tetes tampungan air tersisa di telapak tangannya.
Beda dengan naga emas yang duduk nyantai nikmati sekeranjang buah hutan pemberian dewa bumi.
"Gak ada buah alam dewa, alam manusia pun jadi," ucapnya mengigit buah kesemek.
Nyam...Nyam....
Naga emas mengunyah gigitan buah yang dimakan.
Sambil nyantai, sang naga tertawa cekikikan lihat kegiatan Feng Ni yang kalang kabut sulit menampung air utuh dalam telapak tangannya.
Wkwkwk....
Tawanya sampai jungkir balik seperti dapat tontonan lawak sepanjang perjalanan pertulangannya.
"Manusia memang mahkluk lemah.Lupa gunakan akal pikiran dalam keadaan dibutuhkan," oceh naga emas mengambil buah anggur hijau.
Saat buah sebesar guli berwajah hijau masuk ke mulut sang naga, naga itu merem melek merasakan asemnya buah anggur tersebut.
"Begini kehidupan manusia..." keluh naga membuang jauh sisa anggur hijau yang ada.
***
Sejak Feng Ni latihan mengisi kolam buatannya dengan air, sudah beberapa hari berlalu. Hari-hari dimana Feng Ni tidak menyerah tanpa istirahat.
Jika diukur dengan ember, maka air yang berhasil ditampung Feng Ni hanya 1/32 bagian saja. Tapi jika dilihat langsung dengan mata kepala, kolam buatan Feng Ni belum terisi air sama sekali.
Sesekali naga emas tiduran dalam kolam lembab itu, seakan sedang mengolok Feng Ni yang jauh dari kata berhasil.
ketinggian gak ya, 3 meter
itu lumayan tinggi pakai banget lo
pada kata jepit
dalam situasi terjepit kayaknya lebih tepat ya daripada kejepit enak hahaha
itu mungkin sudah bekal manusia dari alam kelahiran ya,
kalau gak memahami memang bikin pusing