Kisah Bianca Abraham dan Selome Josepin.
Kedua insan yang sudah berpacaran selama empat tahun dan memutuskan untuk menikah. Namun, ketika detik demi detik pernikahan itu terjadi, Selo berubah.
Dia seolah tidak menginginkan pernikahan ini membuat Bianca kebingungan. Namun, dengan segala ketulusan dan rasa cinta Bianca pada Selo, Bianca berhasil meyakinkan Sello untuk tetap bertahan hingga akhirnya pernikahan pun terjadi.
Setelah menikah, seiring berjalannya waktu, Bianca pikir, Sello akan kembali menghangat seperti semula. Tapi ternyata tidak. Hingga pada akhirnya, Bianca menemukan suatu fakta dan ia sadar, ia tidak akan bisa merubah Selo seperti dulu.
Pernikahan mereka begitu hambar, bahkan kehadiran sang buah hati tidak mampu merubah pernikahan mereka. Hingga suatu hari, tanpa sengaja Bianca bertemu lagi dengan Roland, teman kuliahnya dulu.
Roland mampu memberikan apa yang tak Bianca dapat dari Sello. Lalu haruskah Bianca menyerah dengan pernikahannya atau terus bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untuk apa Bertahan
“Bianca, apa kau akan terus seperti ini?” tanya Celine ketika Bianca sudah terbaring di berankar, dan siap untuk menerima suntikan obat tidur..
“Hanya sebentar lagi, Celine. Aku hanya tinggal bertahan sedikit lagi,” jawab Bianca dengan penuh putus asa, ada satu berkas lagi yang harus Bianca masukan dalam berkas perceraiannya.
”Lalu sekarang, bagaimana suamimu?” tanya Celine.
“Apa penyakit bipolar tidak bisa disembuhkan?” Alih-alih menjawab ucapan Celine, Bianca malah membahas hal lain. Sebenarnya Bianca lelah dengan semua ini.
Ia harus menjaga agar Moodnya tetap membaik. Tapi saat Sello kembali lagi ke apartemen, rasanya Bianca ingin sekali mencekik lelaki itu karena membuat moodnya berantakan. Hingga terkadang, ka ingin menangis, ingin menjerit atau melukai dirinya sendiri.
Celine tidak menjawab ucapan Bianca, karena jika ia menjawab, pasti Mood Bianca akan semakin memburuk. Ia pun bersiap untuk menyuntikkan cairan pada infus Bianca.
“Tidurlah, Bianca. Jangan banyak berpikir.”
10 menit kemudian, akhirnya Bianca memejamkan matanya. Celine menarik selimut kemudian menyelimuti tubuh Bianca.
Setelah itu, Celine merogoh saku kemudian mengambil ponsel. “Bianca ada di tempatku, Roland. Aku akan mengabarimu jika Bianca sudah terbangun!” kata Celine. Ternyata Celine, menghubungi Roland.
Sama seperti Bianca, Celin dan Roland adalah teman kuliah dan saat kuliah, ketiga begitu dekat.
Sebenarnya sedari kuliah, Celine sudah mengetahui bahwa Roland menyukai Bianca.
Hanya saja saat itu perbedaan agama membuat Roland tidak berani melangkah. Dan kemarin secara kebetulan, tanpa sengaja Roland bertemu dengan Celine dan mereka pun banyak bercerita.
Hingga pada akhirnya, Roland memberanikan diri untuk bertanya tentang Bianca dan Celine pun menceritakan semuanya, hingga Roland meminta Celine untuk mendekatkannya pada Bianca.
Sebab, Roland tahu betul, bagaimana Bianca. Semakin Bianca dikejar, Bianca akan semakin menjauh. Itu sebabnya, Roland mendekati Bianca seecara wajar dan tidak menggebu-gebu.
keesokan harinya
Bianca terbangun, ia mengerjap dan setelah membuka mata, Bianca melamun, ia menatap ke langit-langit. Seperti biasa, setelah ia terbangun, rasanya begitu asing. Ia datang pada Celine agar bisa tertidur, dan agar bisa sedikit meringankan bebannya. Tapi rasanya, rasa damai itu hanya sementara, karena setelah ia terbangun ia akan kembali merasa hampa, ia akan kembali merasa sedih.
“Kau sudah bangun Bi ....” Tiba-tiba Bianca menoleh ke arah kanan, di mana Roland sedang menunggunya. Ia sama sekali tidak menyadari kehadiran Roland dan ia bingung, kenapa Roland Adi di sini.
“Roland!” panggil Bianca. Roland bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung menghampiri Bianca. Ternyata, Rolland sudah menunggu sedari tadi, dan ketika Bianca bangun, ia sengaja membiarkan Bianca terlebih dahulu
“Roland kau membuatku malu!” Bianca menutup wajahnya dengan selimut, karena ia malu pada Roland, membuat Roland terkekeh.
“Aku akan memangilkan Celine terlebih dahulu!” kata Roland. Saat Roland berbalik, Bianca membuka selimutnya, kemudian mengintip. Ada desiran aneh saat melihat punggung Roland yang sedang berjalan, tiba-tiba Bianca memegang dadanya yang sangat berdegup kencang.
•••
“Roland, seharusnya kau tidak perlu repot-repot membawakan ini!” kata Bianca. Setelah ia bangkit berangkar dan sudah mencuci muka, ia menghampiri Roland yang duduk di sofa, dan ternyata Roland membawakan makanan untuknya.
Roland terkekeh, Ia membuka paper bag yang berisi makanan. Setelah itu, Roland menyiapkan makanan ke hadapan bianca, membuat hati Bianca menghangat, Roland benar-benar memperlakukannya secara istimewa.
“Aku ingat kau sering membeli ini saat kita kuliah. Jadi aku membelikannya untukmu.”
Mata Bianca membulat saat melihat apa yang dibawa oleh Bianca. “Kau mendapatkan ini dari restoran mana? setahuku sangat jarang yang menjual menjual ini.”
“Hmm, memang sulit. Aku mengantri dari pukul 03.00 pagi,” jawab Roland membuat Bianca
membulatkan matanya. Saat Bianca masih melamun, Roland mendekatkan makanan ke mulut Bianca, dan berniat menyuapi Bianca .... Seketika ....
Mulai Update rutin ya, yok bisa yok 200 komen jangan lupa Vote ya
klo ada pun, pemimpin nya bobrok!! apa lagi di jenjang elementary school... hadeeh